
"Pinjem motor Lo Bang."
Langit sudah mulai menggelap saat Ipul masih saja betah berada di rumah Abang sepupunya sedangkan sang Mama dan juga Tantenya sudah pulang sejak tadi sore, dan sekarang pria itu sudah sangat gatal untuk berkeliling kota Jakarta setelah sekian lama berada di Inggris dengan menodong motor sport milik sang Abang yang tadi siang sudah dia incar.
"Mau kemana?" tanya Davi yang sibuk dengan berkas-berkas yang dia bawa pulang.
Yah sepertinya pria itu sudah punya kebiasaan membawa pulang pekerjaan padahal seharusnya saat di rumah dia menikmati waktu dengan keluarga kecilnya.
"Ketemu sama gebetan," sahut Ipul dengan cengiran memamerkan deretan giginya yang tertata rapi.
"Gebetan? siapa namanya? kenalin dong," Zara yang datang setelah menidurkan Achnaf di kamarnya terlihat begitu antusias saat tak sengaja mendengar pembicaraan dua orang pria yang dia sayangi itu.
Ipul memutar bola matanya melihat tingkah Zara yang tampak lebih bersemangat ketimbang dirinya.
"Asal ngomong doang gue," jawab Ipul, "mana kuncinya Bang?" meminta kunci motor pada sang pemilik kendaraan yang segera menunjuk pada tempat biasanya dia menempatkan kunci kendaraannya.
Davi membiarkan Ipul meminjam motor yang sudah mulai jarang dia kendarai karena sekarang pria itu lebih memilih memakai mobilnya saat pergi ke kantor.
Kendaraan roda dua dengan dulu begitu sangat Davi banggakan dan sering menjadi temannya kala menerima tantangan lawan untuk berlintasan di jalur liar masih terlihat begitu apik saat Ipul mulai mendudukinya.
"Memang Ipul lagi deketin siapa sih Mas?" tanya Zara yang rasa penasarannya belum juga terobati saat tubuh motor yang membawa Ipul sudah menghilang di balik tikungan.
__ADS_1
Davi mengedikkan bahu, "nggak tahu Za, dia nggak ngomong atau nyebutin nama cuma bilang gebetan aja," sahut Davi seraya merangkul pinggang sang istri masuk ke dalam rumah.
******
Langit sudah benar-benar menjadi gelap saat Ipul masih sangat menikmati suasana malam di negara kelahirannya, laju motornya pun terbilang lambat tentu karena dia yang memang ingin lebih menghayati pemandangan langit dari negara yang sudah beberapa bulan dia tinggalkan.
Jaket yang Ipul gunakan sepertinya mampu menghalau rasa dingin dari hembusan angin yang lumayan kencang, hingga satu persatu tetesan air mulai menjatuhi tubuh dan menyentuh punggung tangannya yang tidak tertutup apapun.
"Sial! kenapa gue bisa lupa kalau malam hari di Jakarta akan hujan," merutuk kebodohannya yang melupakan kalau supir dari sang Papa sempat memberitahunya bahwa hampir setiap malam Jakarta akan di guyur hujan.
Tetesan yang semakin banyak membuat Ipul mau tak mau harus segera mencari tempat berteduh dari guyuran air yang jatuh dari langit.
"Hujan lagi, hujan lagi," keluh Ralen berdiri di sebuah halte yang sangat sepi sepertinya hujan sudah membuat para makhluk hidup lainnya lebih memilih untuk mencari tempat yang nyaman ketimbang harus menghadapi hujan yang setiap malam selalu turun membasahi bumi menyisakan jalanan yang tergenang keesokan harinya.
"Mana dari tadi baru dapet satu penumpang doang lagi." semakin mengeluh mengingat dia yang dari sore sudah berkeliaran ke setiap titik yang dia rasa akan mudah mendapatkan penumpang tapi nyatanya nihil, hanya sekedar harapannya saja sebab handphonenya benar-benar tidak bersuara sama sekali setelah dia menyelesaikan satu orderan.
Ralen kembali duduk setelah menggeser motornya lebih ke pinggir lagi, wanita itupun duduk dengan tatapan tertuju pada air hujan setelah menimpa atap halte.
Saat hujan sudah semakin deras Ralen melihat ada sinar lampu dari satu kendaraan yang menepi di halte yang ia tempati, tapi wanita itu tidak ada niat untuk mengangkat wajahnya sebab saat ini memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang untuk hari ini di saat derasnya hujan yang makin membuat tubuhnya terasa sangat dingin hingga memaksanya mendekap tubuhnya sendiri yang terlindung oleh jaket agar tidak terkena hujan yang mungkin nantinya hanya akan membuatnya sakit.
Cahaya motor sudah meredup dan Ralen pun bisa mendengar derap langkah di halte itu, wanita itu tidak berniat untuk mengangkat wajah hanya perasaannya sedikit tenang sebab akhirnya dia tidak sendirian di halte yang gelap serta sepi itu.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian telinga Ralen menangkap suara dari orang di sebelahnya yang sedang berbicara dengan seseorang melalui handphone.
Rasa penasaran mulai mengusik hingga Ralen mengangkat wajahnya perlahan demi perlahan gerakan lambat sampai akhirnya bola matanya mencuat mendapati apa yang terlihat, wajah seseorang yang berdiri tak jauh darinya, sungguh Ralen masih sangat mengenali wajah pria itu meski hanya dari samping dengan bantuan kilat yang tiba-tiba menyambar membuat wajah itu terlihat dengan jelas.
Wanita itu gegas memalingkan wajahnya menghindari pria yang juga menoleh padanya.
"Oh Tuhan kenapa takdir ku sangat buruk!" keluh Ralen karena untuk ketiga kalinya harus bertemu pria songong yang sama.
"Takdir gue yang buruk karena lagi-lagi harus berurusan dengan elo, siniin dompet gue!"
Ipul tak mau kalah dengan wanita di depannya berkata sengit seraya menyimpan kembali handphone ke dalam saku setelah selesai mengabari Mamanya bahwa dia terjebak hujan dan harus berteduh.
Tadi saat melihat ada halte Ipul langsung menepikan motornya berniat untuk berteduh tapi tanpa di sangka dia melihat motor dengan plat yang dia kenali apalagi begitu melihat si pemilik motor yang juga sedang berteduh, sesaat dia menahan naluri marahnya pada wanita yang dia yakin menemukan dompet yang tak sengaja dia lupakan karena harus mengabari sang Mama.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*