
Pagi hari Ipul sudah berpamitan pada Mamanya untuk ke kantor, memenuhi apa yang sudah dia katakan pada Zara kemarin sekaligus mengisi rapat pemegang saham yang mengharuskan dirinya datang ke kantor, entah ini memang sudah Ipul rencanakan atau memang hanya kebetulan semata, yang jelas dia memang akan menemui Ralen hari ini.
Menemui wanita yang mungkin sudah berprasangka buruk terhadapnya, prasangka kalau dirinya adalah seorang pengecut yang akan lari setelah melakukan kesalahan.
Sebelum menjalankan mobilnya Ipul mencoba menghubungi Ralen melalui handphone baru yang semalam Damar berikan padanya.
"Gue di blokir? lagi?" katanya sesaat setelah tak juga bisa menghubungi nomor Ralen.
Giginya langsung beradu dengan rahang yang mengeras dan memukul kemudi mobil berwarna hitam, mobil kesayangannya yang dijadikan taruhan bersama Davi.
Dan sepertinya mobil kesayangannya itu terancam raib dari tangannya hanya tinggal menunggu waktu saja.
Pria yang sebenarnya harus segera pergi ke kantor untuk rapat itu malah melarutkan pikirannya dalam kekesalan sebelum akhirnya menyalakan mesin mobil dan menjalankan kendaraan roda empat itu keluar dari halaman rumah sakit karena dia memang masih harus melihat keadaan Papanya yang sekarang ditemani oleh Mama serta Ibu mertua Zara, yang adalah tantenya.
Mobil Ipul yang tadinya meluncur dengan tenang saat berada di jalanan perumahan, tidak tahu kenapa dia mengambil jalan ini karena biasanya dia mengambil jalan yang satunya mungkin untuk menghemat waktu karena jalur ini memang menjadi pilihan para pengendara lain jika tidak ingin terjebak macet di jalanan utama.
Pikirannya sudah mulai tenang sampai akhirnya kedua matanya melihat sosok yang dia kenal dari arah berlawanan tidak tahu siapa yang salah jalan, lalu entah bagaimana ceritanya kini dia malah memindahkan mobilnya ke jalur sebelah melawan arah, langsung menghentikannya dengan mendadak lalu menatap wanita yang duduk di atas motor yang juga menghentikan motornya tak jauh dari mobilnya.
Kedua kendaraan itu saling berhadapan seperti seperti tengah saling menantang untuk berduel.
Di posisi ini Ralen bisa melihat sosok di balik kemudi yang menatapnya dengan tajam seperti memberi peringatan terhadapnya.
Sampai ketika pria di dalam mobil itu membuka pintu lalu keluar dari mobil dan menutup pintu dengan sangat keras memperdengarkan suara yang begitu menusuk telinga.
__ADS_1
Mata Ralen tetap melihat gerakan sang pria yang sekarang hendak melangkah, Ralen tahu dengan jelas kalau pria itu ingin menghampirinya hingga tanpa berkata apapun Ralen menarik gas motornya mengambil jalan di samping melewati mobil yang terdiam tak berdaya.
Mata Ipul membelalak tak percaya saat Ralen malah mengabaikan dirinya, bertindak seakan mereka tidak saling mengenal.
"Argh!" menggeram marah lalu menendang mobilnya sendiri.
Bugh!
Kembali masuk ke dalam mobil lalu menjalankannya dengan kencang menuju kantor, tadi dia melihat Ralen memakai baju kerja itu artinya wanita itu memang akan bekerja dan jelas dia akan menemui wanita itu di sana.
Ralen terus mengendarai motornya tanpa menoleh kebelakang, wajahnya yang tadi tenang berganti tegang dengan jantung yang berdebar tanpa kendali, ingin meragukan apa yang dia lihat tapi kenyataannya dia tidak sedang berhalusinasi, seorang yang tadi menghadangnya memang sosok nyata, pria yang memberi janji tapi tidak ditepati membuat dirinya yang tidak lagi ada harganya di mata pria lain semakin terluka.
Ingin berkonsentrasi pada motor yang tengah melaju namun nyatanya tidak bisa, semua pikirannya berpusat pada satu orang yang menggoreskan luka.
Sejak awal pertemuan mereka memang tidak baik, lalu kenapa harus berakhir dengan tidak baik juga? dosa apa yang sudah Ralen lakukan hingga tuhan memberikan ujian yang seberat ini?
Sejak semalam Ralen memikirkan apa yang terjadi selanjutnya, dia bisa menyembunyikan yang terjadi pada keluarganya, tapi dalam sekejap ada bisikan pertanyaan yang mengusik batinnya.
Hamil? hingga akhirnya Ralen menepis bisikan yang entah darimana datangannya itu dan membuangnya jauh-jauh dari dalam pikirannya.
Motor masih melaju membawanya tiba di gedung tinggi tempatnya bekerja saat ini, sempat terlintas dipikirannya untuk resign tapi kebutuhan hidup memaksanya harus bertahan di tengah ketidak nyamanan yang menerpa.
Wanita itu gegas memarkirkan motornya tapi terlihat ragu ketika akan turun dari motor, tatapannya terarah pada paper bag yang tadi dia bawa dari rumah.
__ADS_1
Paper bag berisi barang-barang yang sempat Ipul berikan padanya, tadinya dia berniat untuk menitipkannya pada resepsionis atau mungkin pada asisten sang pria yang memang selalu bertemu dengannya, tidak tahu kenapa asisten bernama Damar itu kerap kali mondar-mandir di lantai 9 padahal atasannya saja sudah tidak menempati ruangan di lantai 9 itu.
Ralen mengulurkan tangan meraih paper bag lalu membawanya masuk ke dalam gedung, menentengnya dengan tangan kanan lalu berhenti di meja resepsionis yang masih kosong.
"Tumben belum datang?" katanya tidak mendapati si resepsionis yang dia kenal, bahkan resepsionis itu jugalah yang dulu membantunya memberitahu kalau di kantor itu sedang ada lowongan pekerjaan.
Menunggu beberapa menit namun yang di tunggu tak kunjung datang membuat Ralen memutuskan untuk naik ke lantai 9.
Di dalam lift karyawan dia hanya seorang diri membuatnya harus kembali melamun sampai akhirnya suara lift yang menandakan dia sudah sampai di lantai yang dia tuju membuatnya kembali tersadar.
Kakinya melangkah perlahan keluar dari dalam lift terlihat helaan napas berulang kali keluar dari mulutnya.
Paper bag di tangannya makin dia genggam dengan erat ketika sekarang berdiri di depan ruangan yang pintunya tertutup, tampak mematung di depan sana sampai kemudian pintu bergerak terbuka memperlihatkan seraut wajah yang kerap mondar-mandir di lantai 9, membuat Ralen tidak lagi terkejut.
"Maaf Pak saya mau menitipkan ini," Ralen mengangkat paper bag di tangannya.
"Apa itu?" tanya Damar menyipitkan matanya.
"Milik Pak Gunawan," sahut Ralen berharap pria di depannya segera mengambil paper bag di tangannya agar dia bisa segera pergi.
Tapi nyatanya sang asisten seperti menolak paper bag itu hingga hanya melihatnya saja, sampai akhirnya.
Sret!
__ADS_1
Dari arah belakang ada yang merampas dengan kasar paper bag dari Ralen, membuat Ralen terkejut begitu juga Damar, pria itu menatap sosok yang sekarang berdiri di samping Ralen dengan rahang mengencang menunjukkan kalau saat ini ada kemarahan yang di tahan
*******