Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Kenyataan Yang Angga Ketahui


__ADS_3

"Ayah dan ibu lihat sendiri kan tadi bagaimana Kak Daniya yang kalian akui sebagai anak memperlakukan kalian begitu jahatnya, Arda tidak suka."


Begitu sampai di rumah Arda langsung mengatakan perasaannya tentang Kakak yang baru dia ketahui dan temui, dia merasa tersinggung ketika Daniya terus saja berbicara tentang bagaimana kekecewaannya di buang oleh orang tua kandung, meskipun sudah di jelaskan berulang kali bahwa dia tidak di buang melainkan karena alasan tidak ada biaya, tapi Daniya tetap pada argumennya tidak mau percaya pada keterangan yang orang tuanya berikan.


Tadi sebenarnya Arda sudah ingin memaki Daniya, tapi Ayah dan ibunya menahannya memegang lengannya dan memintanya untuk tidak mengatakan apapun meski dia tadi sudah sangat siap untuk bertengkar dengan wanita yang terus memancarkan sorot mata sinis dan penuh dendam.


"Kakakmu tidak salah Arda, Ayah merasa sangat wajar kalau dia bersikap seperti itu, itu bentuk kekecewaan terhadap kami yang sudah memberikannya pada orang lain," ucap sang Ayah yang menampakan wajah lelah dan sedih bersamaan.


Mata Arda membesar mendengar perkataan Ayahnya, bagaimana bisa Ayahnya itu mewajarkan sikap Daniya yang sudah sangat keterlaluan, menurut Arda kalau memang tidak mau bertemu dengan orang tua kandungnya ya sudah jangan ditemui daripada menemui tapi malah dengan sengaja mengobarkan api permusuhan.


"Kakakmu itu sakit-sakitan sejak bayi," jelas sang ibu menimpali perkataan suaminya, seperti meminta Arda untuk tidak membalas membenci Daniya, kebencian di balas kebencian malah akan memperumit masalah.


"Terus salah kita kalau dia sakit-sakitan, salah Ayah dan ibu karena tidak mempunyai uang untuk merawatnya sampai sembuh, salah Ayah dan Ibu memberikan dia pada orang lain yang kalian percaya akan bisa membuat Daniya sembuh," Arda berdecih sinis dan membuang pandangan keluar jendela rumah kontrakan yang kini hanya mereka tempati bertiga.


"Harusnya dia berterimakasih sama Ayah dan ibu, karena memberikan dia pada orang kaya yang akhirnya dia sembuh dari sakitnya, bahkan bisa hidup enak tanpa memikirkan kapan bisa bayar uang sekolah yang menunggak kalau seperti itu Arda juga mau, dia itu tidak akan pernah memikirkan apakah besok masih ada uang untuk makan, bahkan Kak Ralen merelakan keinginannya untuk kuliah karena harus mengalah pada kebutuhan yang setiap harinya selalu kekurangan," Arda berkata tentang kehidupan Daniya dan mereka yang sangat jauh berbeda mengingatkan orang tuanya bahwa seorang Daniya tidak pantas di kasihani atau dibaikin, sudah sangat keterlaluan.


"Sabar Arda, biar bagaimanapun dia juga Kakakmu," pinta sang Ibu yang tadi mendengarkan pembicaraan anaknya yang memang ada benarnya, tapi yang namanya anak tetaplah anak apalagi ini anak yang tidak mereka rawat dan perjuangkan, seharusnya sebagai orang tua mereka berjuang untuk kesembuhan anaknya bukannya malah menyerah lalu memberikannya pada orang lain.


"Kakaknya Arda cuma Kak Ralen, Kak Ralen yang mati-matian cari uang siang malam untuk kita, bukannya wanita jahat itu yang malah mengusir kita dengan begitu sombongnya, Arda pikir sebenarnya itu dia takut kalau kita sampai meminta uang dengannya," tutur Arda tentang pemikirannya terhadap Daniya.


"Kenapa kamu berpikiran begitu Arda," ucap Ayahnya menatap sang anak.


Arda mengedikkan bahu, "orang picik seperti itu akan selalu berpikiran buruh terhadap orang lain kan?" Arda balik bertanya dengan raut wajah yang masih terlihat begitu marah.


"Beruntung sekarang Kak Ralen sudah menikah dengan pria kaya tapi berhati baik, semua kebutuhan kita dia yang menanggung bahkan Kak Ralen juga di kuliahkan, bukankah itu adalah berkah karena selama ini Kak Ralen selalu melakukan kewajibannya sebagai anak dan juga Kakak dengan sangat baik, jadi Tuhan memberikannya balasan yang sangat setimpal," papar Arda yang kini membanggakan Ralen, Kakaknya yang selama ini memang sudah sangat berkorban untuk mereka, bekerja tidak kenal lelah hanya agar mereka tidak kekurangan, mengambil semua tanggung jawab di pundaknya, sungguh dia akui Kakaknya itu adalah wanita kuat yang ada dalam hidupnya.


Di saat ini Arda menyuarakan protes dan ketidaksukaannya terhadap Daniya, dan itu sangat disadari oleh Arni dan Samsul.

__ADS_1


Pasangan suami istri itu terlihat tidak lagi membalas pembicaraan putra satu-satunya karena memang semua yang putranya itu katakan adalah benar, selama ini memang Ralen lah yang menjadi tulang punggung mereka, anak keduanya itu banting tulang siang malam untuk mereka mereka juga tidak akan melupakan itu, tapi disisi lain Daniya juga anak mereka darah daging mereka bukankah Daniya itu pasti juga menginginkan kasih sayang dari mereka, orang tua kandungnya, mereka pun membernarkan tudingan Daniya dan tidak mau menyalahkan Daniya kalau saat ini Daniya tidak mau menerima mereka, cukup tahu diri atas kesalahan memberikan anak kandung sendiri pada orang lain.


*****


"Daniya," panggil Dayna pada wanita yang sejak kecil dia asuh, wanita yang dia besarkan dengan penuh kasih sayang menganggap dia sebagai anaknya sendiri menyembuhkannya dari penyakit yang dia derita hingga memberikan semua yang wanita itu inginkan baik diminta ataupun tidak.


Daniya yang sejak kepergiaan keluarga kandungnya dan juga Angga hanya diam berdiri di dekat jendela menoleh saat suara yang bertahun-tahun mengisi telinganya dari dia masih bayi hingga dewasa, suara itulah yang setia masuk ke indera pendengarannya, suara itulah yang selalu mengajaknya bercanda dan kadang bernyanyi untuk menghiburnya saat dia kecil dulu.


Wanita yang sudah mulai menua itulah yang akan selalu menjadi satu-satunya keluarganya, wanita itulah yang sepanjang hidup sampai akhir hayatnya akan dia panggil Mama, bukan wanita lain apalagi wanita yang sudah dengan tega membuangnya.


Membuang? sampai hari inipun Daniya masih menganggap dan akan terus beranggapan kalau dia di buang dan tidak diinginkan oleh keluarga kandungannya sendiri.


"Mereka jahat Mama, mereka tidak berhak muncul di hadapan Daniya," ucap Daniya saat Mamanya melangkah menghampiri lalu memeluknya dengan kasih sayang serta kerinduan yang teramat besar, sebab setelah bertahun-tahun akhirnya anaknya itu kembali lagi dan bisa dia peluk.


"Tapi mereka keluarga kandungmu Dani," ucap Dayna.


Wanita tua itu sejak tadi memang berusaha untuk menasehati Daniya agar mau memaafkan Ayah dan Ibunya, jika memang tidak mau kembali pada mereka tidak apa-apa karena baginya Daniya tetaplah anaknya sendiri sampai kapanpun.


"Mereka tidak membuang mu sayang, saat itu mereka hanya tidak punya pilihan, tidak ada uang untuk membawa mu ke rumah sakit." sejak tadi Dayna berusaha untuk membantu Arni dan Slamet meyakinkan Daniya tapi itu tidaklah mudah, semuanya terasa sulit apa yang dia bicarakan untuk membantu Arni dan Slamet masih tidak membuahkan hasil.


"Mereka bisa berusaha, sebagai orang tua bukankah seharusnya itu yang mereka lakukan bukannya angkat tangan lalu menyerah sedangkan anak kandung mereka sangat membutuhkan kasih sayang mereka, lalu sekarang mereka datang, untuk apa? untuk meminta maaf atau agar bisa hidup enak bersama ku!" desis Daniya.


Nyatanya yang dipikirkan Arda adalah benar, Daniya berpikir bahwa keluarganya itu hanya ingin memanfaatkan dirinya saja, ingin menumpang hidup pada dirinya yang sekarang apapun bisa dia dapatkan dengan mudah, dia cerdas dan juga memiliki banyak uang bahkan semua kekayaan yang dimiliki oleh keluarga Adrew Garcia, suami dari Dayna memang berdarah Inggris meninggalkan kekayaan yang tidak bisa di bilang sedikit.


Dayna menggelengkan kepalanya, "Mama rasa pikiran mu salah Dani, Mama kenal benar siapa Ayah dan Ibu mu itu, bagaimana sifat mereka Mama tahu dengan jelas, bahkan mereka tidak mengambil uang sepeser pun yang saat itu Mama dan Papa ingin berikan, mereka menolak," papar Dayna mengelus rambut sang anak hanya sebatas bahu saja.


Daniya berdecih, "bisakah Mama tidak lagi membicarakan tentang mereka? Dani sangat muak mendengarnya," protes Daniya menatap kelam wanita di depannya yang di wajahnya kini sudah banyak sekali kerutan menghiasi, sangat jauh berbeda dengan bertahun-tahun yang lalu.

__ADS_1


Dayna menghela napas panjang lalu berucap, "kalau begitu mari kita bicarakan tentang pria yang kamu temui, bahkan kamu menomor duakan Mama hanya untuk pria itu," ujar Dayna menuntut penjelasan.


Putrinya itu datang ke Indonesia tapi tidak langsung menemui dirinya, malah pergi ke kota lain untuk bertemu dengan pria yang tidak dia kenal hanya pernah melihat dari foto saja.


"Memangnya Angga tidak mengatakan apapun pada Mama?" tanya Daniya kini malah bertanya tentang mantan kekasihnya yang tadi sempat berbicara dengannya berdua.


Dayna menggeleng kepala, Angga memang tidak mengatakan apapun tentang pria yang ditemui oleh Daniya.


Daniya mengepalkan tangan, sungguh mendengar ini dia makin berpikir bahwa Angga memang sedang merencanakan sesuatu untuknya, tapi entah rencana seperti apa dia tidak tahu.


Mantan kekasihnya itu bahkan tahu kalau pria yang dia suka sudah menikah, memiliki istri yang bahkan wajahnya sangat mirip dengannya, tapi Angga tidak mengatakan hal yang lainnya, sungguh membuat dia bertanya-tanya dalam hatinya, otaknya dia paksa untuk berpikir tapi otaknya yang cerdas itu tetap tidak mendapatkan jawaban.


*****


Angga tengah duduk di dalam kamarnya yang sedikit gelap, sengaja mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu meja saja, menatap pada gambar yang sekarang ada di tangannya.


"Jadi kalian menyukai laki-laki yang sama?" gumam Angga terdengar ragu tapi gambar yang ada di tangannya bahkan sudah memberinya jawaban.


Sebuah foto yang memperlihatkan dua orang, wanita dan laki-laki yang sedang melakukan ijab kabul dengan begitu sederhana bahkan di samping seorang pria yang di tubuhnya terpasang alat-alat medis, membuat dia cukup terkejut kalau wanita yang dia sukai malah sudah menikah, menikah dengan laki-laki yang juga di sukai oleh Daniya.


Dia mendapatkan foto itu tak sengaja, tadi saat dia mendatangi rumah Ralen karena Arni dan Slamet yang memintanya untuk menemani mereka bertemu dengan Daniya, Angga melihat album foto di dekat kasur lantai tempat Slamet tidur, dengan rasa ingin tahu akhirnya dia mengambil album foto itu lalu melihat-lihat isinya, seperti memang ada yang memaksanya karena ingin menunjukkan sesuatu dan akhirnya dia mengambil foto yang membuatnya cemburu, panas dalam tubuhnya sampai tidak meminta izin dari si pemilik rumah mencuri foto milik mereka.


"Kehidupan macam apa yang sedang aku jalani saat ini," Angga meremas foto di tangannya hingga tidak berbentuk, terkepal di tangannya yang begitu erat.


Sejak tadi hatinya terus bergemuruh tak karuan, mencoba menerima tapi tetap saja tidak mungkin, Ralen wanita yang sudah membuatnya kembali membuka hati dan melupakan kecewa yang dia terima tapi wanita itu malah sudah dimiliki oleh pria lain, apa dia bisa dengan rela melupakan perasaannya terhadap Ralen?


Angga merasa sulit terlebih lagi dia tidak mudah menyukai seseorang dan dia juga tidak mau kecewa untuk yang kedua kali meski sebenarnya saat inipun dia sudah sangat kecewa tentang kenyataan yang dia ketahui mengenai wanita yang dia suka.

__ADS_1


Angga melemparkan foto yang sudah tidak mulus itu ke sudut lemari lalu menyandarkan punggungnya di sofa dengan kedua tangan yang memegang kepala, menampilkan kegundahan yang mengelilingi hati serta pikiran.


****


__ADS_2