
"Kamu harus makan Daniya." Arni tengah membujuk Daniya, wanita yang sudah seharian mogok makan dan juga minum.
Obat yang diberikan pun di lempar dengan kekuatan penuh ke arah pintu dan mendarat di lantai yang sudah banyak diinjak oleh berbagai jenis alas kaki.
Sudah tentu obat itu akan kotor dan tidak layak untuk di konsumsi lagi.
Daniya membuang muka, tidak ingin melihat sendok berisi bubur yang diarahkan pada mulutnya, bibir atas bawahnya seolah terkunci rapat dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain saling menempel erat dan rekat.
Berulang kali bahkan dia berusaha untuk menepisnya agar menjauh namun tetap saja wanita yang dengan setia dan penuh kasih sayang itu kembali menyodorkannya.
Wanita satu-satunya menjadi orang yang paling memperhatikan dirinya semenjak di rawat, wanita yang menjaganya siang malam tanpa ada seorang pun yang menggantikannya, sungguh seharusnya Daniya merasa tersentuh akan tetapi hatinya itu sudah menjadi batu karang keras dan rasanya sulit untuk dihancurkan.
Rasanya batu karang pun lambat-laun akan terkikis oleh air.
"Mama benar-benar sudah membuangku, dia sudah tidak peduli, kenapa orang-orang yang aku sayangi seolah pergi menjauh? salahku apa?" mempertanyakan kesalahannya menjadi tidak sadar diri akan kesalahan apa yang sudah dia perbuat hingga orang yang sejak kecil dia panggil Mama pun pergi dan tidak lagi mau peduli tentang dirinya.
"Mama mu hanya sedang tidak enak hati saja, dengan usianya yang tak lagi muda akan membuatnya lebih sensitif, tidak usah terlalu memikirkan toh Mama mu masih menunjukkan kasih sayangnya terhadap kamu." Arni memberikan nasehat agar pikiran anaknya itu terbuka.
"Uang bukan bukti kasih sayang karena aku juga bisa mendapatkan uang sendiri tanpa harus mengharapkan dari Mama apalagi sampai menadahkan tangan!" Daniya menyentak dengan mata yang menajam.
"Yang aku, Dani butuhkan adalah kasih sayang kebahagiaan yang selama ini tidak Dani dapatkan," ujar wanita yang tangannya masih terpasang jarum infus.
"Kalian semua seolah mengkhianati aku, meninggalkan aku seolah sangat senang melihat bagaimana aku menjadi terpuruk," deru napas yang tadinya tenang kembali tampak dengan jelas menyiratkan kecewa yang bercampur dengan amarah.
"Tidak ada yang mengkhianat dan dikhianati, semua akan berjalan baik saja, kamu akan sembuh dan bahagia percaya sama ibu," tutur Arni masih mempertahankan sikap lembut terhadap anak pertamanya yang wajahnya masih sangat pucat.
Daniya mendengus menatap dengan sorot mata tak terbaca, hanya dia dan tuhan lah yang mengerti arti dari sorot matanya itu.
"Bagaimana dengan Awan? apa ibu yakin Ralen mau membiarkan Awan bersama Dani?" pertanyaan yang langsung membuat Arni terdiam.
Sendok serta mangkok yang masih berisi bubur utuh itupun sedikit bergetar di tangannya, pertanyaan yang diapun bingung dan ragu dengan jawaban yang harus dia berikan sebab sampai hari inipun Ralen belum memberikan kepastian.
Ralen belum menghubungi dirinya sejak pertama dan terakhir kali anaknya itu datang, itupun karena dia yang memaksa.
Diamnya sang ibu sudah bisa ditebak apa jawaban yang akan dia dapat, membuat darah dengan cepat naik ke atas kepalanya membuat dia mendidih layaknya air yang di sedang di masak.
"Kalau begitu Dani tidak akan mau makan apapun sampai Ralen memberikan Awan!" putus Daniya.
Ini ancaman yang sekian kalinya, ancaman yang jelas tidak ingin didengar oleh ibu manapun.
"Jangan bicara begitu Daniya, kamu harus yakin dengan adikmu, ibu sangat mengenal seperti apa adikmu itu, dia selalu menurut bahkan tidak pernah sekalipun mengecewakan apalagi marah pada ibu."
Perkataan Arni malah menyulut api, Daniya tidak senang mendengarnya sungguh dia merasa tersinggung, tersindir dengan yang ibunya bicarakan.
"Sangat berbeda dengan Daniya bukan?" berdecih dengan senyum miris namun terlihat sekali kesinisan yang mendominasi.
Dia tidak senang siapapun memuji Ralen, menjadikan Ralen lebih unggul darinya hanya akan membuat dia makin tidak terima dan makin merasa dikalahkan.
Sejak dulu dia selalu jadi yang utama dan pertama juga satu-satunya, tidak pernah senang andai ada orang yang mengalahkan dirinya dalam segi apapun.
Dia terbiasa menjadi nomor satu dan satu-satunya jadi jangan salahkan dia andai dia menjadi seperti ini sekarang.
Arni menggelengkan kepala tidak setuju dengan yang dikatakan oleh Daniya.
__ADS_1
"Kamu juga anak ibu yang manis, kasih sayang ibu untuk kalian akan sama rata tidak akan pernah ibu pilih kasih." wanita itu meletakkan mangkok yang isinya sepertinya memang tidak akan berkurang karena Daniya yang terus menolak untuk makan.
"Selama ini Ralen sudah puas mendapatkan kasih sayang ibu dan Ayah jadi aku harap saat ini ibu bertindak adil, berikan dan buktikan kasih sayang seperti apa yang ibu punya untuk Dani, agar Dani percaya bahwa kalian sungguh menyayangi Dani sepenuh hati," ucap Daniya.
Tersirat jelas kalau dia tengah mendesak ibunya untuk segera menekan Ralen agar mau memberikan Awan padanya, pria yang sudah membuatnya rela sampai minum racun bahkan melukai tangannya sendiri.
Dia hanya menggertak namun kenyataannya malah kebablasan sendiri, sungguh dia mengutuk sikapnya itu namun terus bersikap dia menjadi orang yang paling tersakiti, tidak sadar bahwa dialah yang menyakiti.
Arni terdiam, untuk kesekian kalinya dia tidak mampu berkata-kata membalas perkataan dari sang anak.
"Bu!" Daniya bahkan menyentak dan bersuara tinggi kala dia merasa diabaikan.
Arni terkesiap lalu mencoba memasang senyum di wajah yang terlihat bingung.
Bimbang disaat dia berada diantara dua anak yang sama-sama dia sayangi.
****
Ralen berlari ketika mendengar suara mobil berhenti di garasi rumah, suaminya baru saja pulang saat jam sudah berada di angka 7 lewat itu artinya dua jam lebih suaminya terlambat pulang dan dia harus segera bertanya kemana pria itu pergi.
Wanita hamil itu sudah tidak lagi berlari namun diganti dengan langkah yang lebar menuju pintu ruang makan yang terhubung dengan garasi.
"Kenapa Mas baru pulang?" suara Ralen terdengar manja dan merajuk ketika melihat suaminya hendak membuka pintu, bahkan kaki suaminya saja belum terlihat namun sudah disambut dengan pertanyaan darinya.
Ipul tak menjawab entah dia yang tidak mendengar atau dia yang malah memberikan jawaban karena menyimpan kesal.
Pria itu membanting pintu dengan keras untuk menutup mobil membuat Ralen terjengkit kaget di tambah dengan mata yang mengerjap panik.
Ipul mengabaikan pertanyaan serta keterkejutan dari wanita yang berdiri diambang pintu, melewati begitu saja dengan wajah lebam sekaligus cemberutnya.
Pria itu sepertinya benar-benar mengasah ilmu seperti yang sudah dia katakan pada Gerry, wajah lebam menjadi bukti dia benar melakukannya.
Pertanyaannya sekarang siapa yang ilmunya paling kuat?
Ralen kebingungan sendiri melihat sikap sang suami, ditanya tidak menjawab bahkan mengabaikan dirinya seolah dia hanya sekedar bayangan yang tak terlihat.
"Mas!" tak tahan akhirnya berjalan mengejar lalu memanggil dengan suara yang keras, mumpung di rumah ini hanya ada mereka berdua tidak ada sang mertua juga Bi Sumi, sedangkan penjaga ada di pos jaga sana kemungkinan tidak akan mendengar suaranya.
"Apa?!" Ipul berhenti lalu memutar badan dan bertanya ketus.
Ralen mendekat dengan mata yang memicing memperhatikan wajah suaminya.
"Kenapa baru pulang? lalu kenapa dengan wajah Mas, kenapa lebam seperti ini?" menangkup pipi suaminya lalu menggerakkannya memeriksa wajah bagian kiri dan kanan bergantian.
Ipul bergerak mencoba menjauhkan tangan istrinya, menghindar agar wajahnya tidak lagi diperiksa.
"Ribut dengan dosen kesayanganmu." menjawab ketus dengan mata yang kesal.
"Hah?" kening Ralen mengerut tidak mengerti apa yang sedang suaminya bicarakan.
"Dosen kesayangan?" bertanya bingung tak mengerti.
Ipul mendengus sinis, ketika ini hatinya terasa tidak tenang terlebih lagi ketika dia mendengar apa yang Angga katakan tadi saat dia mendatangi.
__ADS_1
Perkataan Angga tentang istrinya yang sedang ada masalah membuat Ipul meradang, dia tersinggung kenapa dia yang sebagai suaminya malah tidak tahu kalau istrinya sedang ada masalah.
"Aku tidak dianggap sebagai suami ya?" aku orang lain? sampai kamu lebih nyaman cerita sama dosen mu itu." sindir Ipul menjauhkan tangan Ralen yang masih memegang pipinya.
"Mas ada masalah dengan Angga?" mulai mencerna apa yang terjadi.
Ralen cukup sadar diri untuk tidak menyebut Angga Kakak di depan suaminya, pria itu sedang marah jadi jangan menambah masalah.
"Kamu yang bermasalah!" Ipul menjadi semakin ketus.
"Aku.."
Ralen menjadi bingung harus mengatakan apa, dari sikap yang ditunjukkan oleh sang suami dia mengerti bahwa Angga belum mengatakan apapun tentang masalah yang dia hadapi pada suaminya.
Ipul melipat tangannya di depan badan, menatap penuh ingin tahu apa yang terjadi tapi dia tidak ingin bertanya, menanti istrinya sendiri yang memberitahu.
Ralen tetap membisu, bimbang antara jujur atau terus diam menyembunyikan apa yang sedang membuatnya kalut.
Ipul menganggukkan kepala lalu mengumbar senyum palsu yang terkesan mencibir.
"Terus rahasiakan masalahmu dariku! anggap aku bukan siapa-siapa," kata Ipul menyerah, tidak mau memaksa, mendesak istrinya berbicara.
Pria itu tentu marah dan tak suka bahkan dia sudah melangkah cepat dan lebar untuk pergi dari hadapan istrinya, wanita yang menampilkan keraguan dan kecemasan dari wajah dan gerak tubuhnya.
"Daniya masih terus meminta Mas Sai dariku!" kata Ralen akhirnya membuat langkah Ipul terhenti.
"Wanita itu tidak waras, dia aneh! Mas Sai bukan barang, Mas Sai suamiku tapi dia meminta Mas Sai, memaksa aku untuk memberikan Mas Sai." Ralen berkata dengan suara yang bergetar tapi mencoba untuk memberikan senyum.
Tampak sangat jelas mencoba untuk bersikap tenang menganggap apa yang Daniya lakukan adalah sebuah lelucon.
Lelucon tak lucu dan tak masuk akal karena meminta suaminya.
Tatapan mata Ipul yang tadi marah pun mulai meredup, berubah menjadi teduh dengan kaki yang bergerak turun kembali dari anak tangga yang sudah dia tapaki.
"Wanita itu tidak lucu Mas," tutur Ralen lagi dengan lengkungan senyum yang kini berubah menjadi lengkungan kesedihan.
Kedua bibirnya tertarik karena menahan isak tangis, bukan lagi menampilkan senyum penuh paksaan.
"Sssttttt." Ipul gegas memeluk dan berusaha untuk menenangkan.
Sebagai suami dia tidak akan suka melihat istrinya menangis terlebih lagi saat ini istrinya itu sedang mengandung anaknya, tentu anak di dalam perut sana turut serta merasakan apa yang ibunya rasakan.
Ralen menangis mengeluarkan sesak yang sejak kemarin dia simpan, membaginya dengan sang suami.
"Lain kali bicara denganku, jangan bicara dengan orang lain apalagi itu laki-laki." Ipul berkata lembut tidak lagi galak seperti saat pulang tadi, "aku suamimu biar bagaimanapun masalahmu juga masalahku apalagi ini menyangkut diriku." ucapnya lagi dengan tarikan napas yang berat.
"Aku hamil tapi wanita gila itu malah meminta ayah dari anakku," kata Ralen seolah sedang mengadu.
Kehamilan benar-benar membuatnya menjadi lebih sensitif dalam menanggapi semua yang terjadi.
Ipul mengangguk, "iya dia memang gila, tidak usah dipikirkan, aku akan terus bersamamu jadi tidak usah memikirkan perkataan wanita itu," tutur Ipul mengecup puncak kepala sang istri yang menenggelamkan wajahnya di dada.
****
__ADS_1