
Ralen terbengong ketika sudah berada di dalam kamar hotel.
"Ini hotel dan yang tadi juga hotel," tutur Ralen entah polos atau memang dia sedang menyindir suaminya.
"Berisik kamu!" sentak Ipul tak suka mendengar suara istrinya, pria itu sambil membuka kancing lengan kemejanya lalu di gulung hingga siku.
Ralen pun segera mengatupkan bibirnya rapat tak berani mengeluarkan suara kala pria yang bersamanya ketika sadar bahwa pria itu mungkin akan benar-benar berubah menjadi singa liar si raja hutan.
Ipul melihat Ralen yang duduk di tepi tempat tidur sedangkan dia berdiri di dekat jendela yang terbuka, menatap wanita yang tengah memainkan bibirnya tanpa tahu apakah wanita itu masih berani bicara apa tidak setelah di bentak tadi.
"Kemarikan handphone kamu," pinta Ipul kepada Ralen yang mengangkat wajah guna melihatnya.
"Buat apa?" tanya Ralen tidak mengerti untuk apa suaminya meminta handphone miliknya, kan pria itu tidak memiliki urusan dengan handphonenya, jadi buat apa adalah pertanyaan tepat yang Ralen ajukan.
"Ck!" Ipul berdecak lalu memberikan tatapan mengintimidasi, ganas sangar tajam dan panas semuanya bercampur menjadi satu dan tersirat jelas dari sorot matanya.
Melihat itu Ralen pun segera mengeluarkan handphone dari dalam tas tangannya lalu memberikannya kepada si pria yang mengambilnya dengan kasar.
"Diam disini!" mencekal tangan Ralen agar tidak pergi darinya.
Ralen pun berdiam diri melihat Ipul tengah mengutak-atik handphonenya yang padahal di kunci tapi pria itu bisa membuka kuncinya.
"Kok kamu tahu kata sandinya?" tanya Ralen menatap curiga.
Ipul mendengus dingin tidak menjawab pertanyaan dari sang istri karena dia lebih memilih untuk memeriksa handphone milik istrinya.
Melihat daftar blokir dan terlihat lega saat mendapati nama Angga masih ada dalam daftar blokir, lalu pria itu beralih untuk mengecek nama-nama lainnya di daftar kontak sang istri.
Ralen mengerucutkan bibirnya karena pria di depannya itu sibuk sendiri sedangkan pertanyaannya tidak di jawab.
Selesai dengan handphone milik Ralen Ipul pun langsung menatap wanita di depannya dengan handphone yang bukan miliknya dia masukkan ke dalam kantong celana.
"Berapa kali sudah aku bilang jangan berhubungan apalagi berdekatan dengan pria bernama Angga itu, susah sekali!" cecar Ipul seolah menyalahkan Ralen atas pertemuan tidak sengajanya dengan Angga.
"Kamu lihat sendiri nomornya saja masih di blokir bagaimana bisa kami berhubungan, lagian sudah aku bilang tadi itu tidak sengaja, masih saja menuduh yang tidak-tidak!" seru Ralen tak mau kalah, enak saja mau menyalahkan sedangkan dia memang tidak melakukan kesalahan yang harus disalahkan.
"Kamu bisa menghindar, bukan malah dengan sengaja berdekatan dengannya bahkan tadi pun kamu diam saja saat dia begitu dekat dengan kamu! aku ini bukan pria bodoh yang tidak tahu kalau dia menyukaimu Ralen!" sentak Ipul keras, sepertinya dia sedang meluapkan rasa cemburunya tanpa sengaja.
__ADS_1
"Aku tahu," Ralen malah menjawab dengan tenang tidak mengerti kalau jawabannya itu membuat suaminya murka dan kelabakan karena terserang panas membara.
"Bahkan kamu pun tahu dia suka tapi tetap membiarkannya bertindak seperti tadi?!" Ipul menggeram kasar dengan rahang yang mengeras.
"Kan dia yang bilang sendiri kalau dia suka sama aku."
Astaga Ralen malah dengan polosnya mengakui apa yang telah dikatakan oleh Angga saat mereka bertemu di mall, apa dia memang sengaja untuk mengundang singa liar untuk mengamuk? padahal tadi saat di dalam mobil dia takut singa itu mengamuk tapi kenapa sekarang malah seperti menantang.
"Sialan panas gue!" oceh Ipul merasakan panas yang mengepung tubuhnya semakin menggila ketika mengetahui ada pria lain yang mengatakan suka pada istrinya.
Ipul mencengkeram kedua bahu Ralen membuat mereka berhadapan, "katakan sekali lagi kamu bilang apa barusan?" tanya Ipul dengan suara geram yang begitu mendominasi.
"Dia bilang kalau dia suka sama aku," ulang Ralen.
Dan dalam sekejap Ipul mendorong tubuh Ralen hingga terjerembab di tempat tidur lalu menindihnya dengan deru napas yang memanas, habislah Ralen malam ini singa liar sudah benar-benar menjadi sangat buas dan siapapun tidak akan bisa mengendalikannya termasuk wanita yang dadanya naik turun menarik napas yang tak terkendali.
"Jangan di robek jangan di robek," kata Ralen dengan panik saat melihat kedua tangan suaminya sudah bersiap akan merobek gaun pesta yang dia pakai.
Tapi bukannya menuruti permintaan sang istri, Ipul malah tersenyum miring lalu menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi menantang.
Kepanikan yang tercetak jelas di wajah istrinya malah membuatnya semakin semangat untuk merobek, merusak sekaligus memusnahkan gaun sialan yang membuat istrinya jadi pusat perhatian, sampai akhirnya..
Robek sudah gaun itu dari bagian dada sampai di bagian paling bawah, robek panjang hingga terbelah dan Ipul dengan sengaja membentangkan gaun yang sudah berubah menjadi kain tidak berguna itu membuat tubuh istrinya terekspos dengan jelas di matanya.
Mata Ralen membuka sangat lebar tidak mengira bahwa suaminya malah melakukan apa yang dia larang, "dasar gila!" mendorong tubuh sang suami hingga terduduk dan dia menarik gaun terbelah itu menutupi tubuhnya.
"Nanti aku belikan lagi yang lebih baik dari itu, baju itu sama sekali tidak berguna," sindir Ipul menatap istrinya yang menggerutu kesal karena ulahnya.
"Bukan masalah beli atau tidak, nanti aku pulang pakai apa!?" seru Ralen dengan bibirnya yang dia majukan sekian centi, sungguh dia tidak masalah mau di robek seperti apa juga baju yang dia pakai itu toh baju mahal itu bukan dia yang beli, tapi yang dia pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya dia pulang kalau pakaiannya saja di buat robek begini.
Ralen melirik sadis pada suaminya yang malah bersikap santai dan tenang seolah tidak melakukan kesalahan apapun, jahat sekali pria itu, batin Ralen mengutuk perbuatan sang suami, mulutnya masih terus mengoceh mengomeli suaminya yang tanpa perasaan malah seperti menunjukkan seringaian, dasar memang singa liar!
Suasana kamar yang didominasi dengan suara Ralen akhirnya beradu dengan bunyi dering handphone milik Ipul.
Pria itu merogoh kantong celananya tapi yang dia dapatkan malah handphone milik sang istri yang tadi dia sita membuat dia memasukkan tangan satunya ke dalam kantong sebelah dimana handphonenya berada.
Nomor tidak di kenal langsung terpampang di layar yang menyala membuat dia tidak berminat sama sekali untuk menjawabnya sampai akhirnya dia abaikan panggilan itu begitu saja.
__ADS_1
Ralen yang jelas-jelas masih sangat dongkol dengan pria di depannya pun berniat untuk membalas dendam, enak saja pakaiannya sudah tidak berbentuk begini di buat suaminya jadi dia berpikir untuk membuat kemeja suaminya juga rusak tak bisa digunakan.
Bruk!
Ralen mendorong tubuh suaminya yang sedang memeriksa handphone hingga terlentang ke atas tempat tidur, pria itu sedang lengah membuat dia bisa dengan mudah di dorong oleh Ralen yang sekarang menaiki tubuhnya.
Kedua tangan Ipul terbentang ke sisi kiri kanan, "mau apa?" tanya Ipul melihat Ralen yang duduk di atas perutnya tapi Ralen tidak menjawab hanya tangannya yang bergerak menarik kemeja ke sisi kiri dan kanan sama seperti yang tadi di lakukan olehnya.
Breet!
Semua kancing kemeja yang Ipul gunakan lepas dan terpental entah kemana membuat kemeja itu mengalami nasib yang sama dengan milik Ralen.
Tapi ekspresi yang Ipul tunjukkan sangat berbeda dengan Ralen, pria itu begitu tenang seakan tidak terjadi apapun bahkan dia tidak melirik sama sekali kemeja yang sudah rusak itu.
"Curang!" omel Ralen ketika melihat masih ada kaos yang menutupi tubuh atas suaminya.
Ipul tertawa samar melihat istrinya yang begitu kecewa, lalu dengan santai dia malah meletakkan lengannya di bawah kepala menjadikannya bantal.
"Salahmu sendiri kenapa tidak memakai lapisan dalam agar saat baju luar di buka tidak langsung memamerkan pakaian dalam mu!" cibir Ipul melirik tubuh Ralen yang hanya tertutupi atas dan bawahnya saja.
"Besar ya," kata Ipul begitu mesum dengan matanya yang melihat dua gundukan di depannya, jaraknya sangat dekat membuat matanya begitu terhibur dengan dua gundukan yang masih sangat kencang dan besar itu.
Wajah Ralen dalam sekejap memerah layaknya di panggang, sungguh dia sangat malu sampai tidak berani menatap pria yang baru saja berkata mesum kepadanya.
Ralen berniat turun tapi pinggulnya di tahan oleh sebelah tangan sang suami.
"Kita selesaikan dengan baik," bisik Ipul membuat Ralen ingin kabur saja rasanya dari muka bumi.
Brak!
Ipul menatap Ralen yang sedang tertidur begitu pulas setelah dia serang tanpa ampun beberapa jam yang lalu, sedangkan dia setelah selesai malah tidak bisa tidur karena terganggu dengan suara telepon masuk di handphonenya.
Dia tidak tahu siapa yang menghubunginya sebab nomor itu tanpa nama, tapi telepon itu tetap saja menghubunginya tanpa henti seolah itu adalah telepon yang sangat penting.
Baru beberapa menit berhenti lalu kemudian handphone itu kembali mengeluarkan deringannya membuat Ipul akhirnya bermaksud untuk menjawabnya mana tahu itu memang telepon yang sangat-sangat darurat, "aku jawab telepon dulu, cup." bicara pada Ralen yang tidur lalu mengecup bahunya lalu membenarkan selimut yang untuk menutupi semua bagian tubuh istrinya yang terbuka.
Ipul berjalan ke dekat jendela lalu menggeser tombol hijau guna menjawab panggilan dari nomor tidak di kenal yang sedari tadi menghubungi dirinya saat dia dan sang istri tengah berbagi peluh dengan tarikan napas yang terdengar sangat lelah namun nyatanya penuh kesenangan.
__ADS_1
"Ini aku."
******