
Ralen sedang beristirahat saat Mama Riska mengajak anaknya berbicara hanya berdua saja ada sesuatu yang sangat ingin dia tanyakan tentang wanita bernama Daniya yang kemarin datang menemui dirinya.
Dia tahu dan sangat mengenal anaknya sendiri, rasanya memang tidak mungkin kalau anaknya itu berhubungan dengan wanita tapi tidak pernah memberitahu dirinya, dengan Hanna saja baru berhubungan satu Minggu sudah langsung membawa wanita itu ke rumah untuk berkenalan dengannya.
"Terlalu lama di Inggris membuat Mama tidak mengenal kamu lagi," gerutu wanita yang biasanya berwajah ramah kini malah terlihat ketus apalagi terhadap anaknya.
Ipul yang sedari tadi duduk di dekatnya malah mengerutkan kening, dia belum mengerti Mamanya itu sedang membicarakan apa, bahkan dia seperti tidak sadar.
"Mama ngomongin siapa?" dengan bodohnya mungkin karena terlalu banyak menghabiskan malam bersama istrinya jadi sedikit tidak nyambung.
Mama Riska berdecih lalu menaikkan sudut alisnya, "sekarang hanya ada kita berdua, dan yang sempat tinggal di Inggris itu hanya kamu saja Saipul! menurut kamu Mama harus membicarakan siapa kalau bukan kamu!" oceh Riska menggelengkan kepala dengan kelakuan sang anak.
Ipul menggaruk tengkuknya bingung bercampur bodoh malah membaur jadi satu membuat wanita di sampingnya itu makin geram dan langsung menarik telinganya dengan kencang.
"Astaga ya ampun Mama, kenapa selalu telinga Ipul yang dijadikan sasaran, kemarin Jelita sudah menariknya sampai telinga Ipul kebas lalu sekarang malah Mama kenapa tidak sekalian di potong saja ini telinga, sepertinya Ipul akan lebih aman tanpa telinga!" protes Ipul dengan kepalanya yang ikut tertarik karena telinga yang tengah di jepit oleh kedua jari Mamanya dengan sangat kuat.
Wanita yang jarinya tetap setia mencapit daun telinga pria yang tengah protes pun hanya mendengus lalu memberikan tatapan yang sangat tajam.
"Daniya itu siapa?"
Mata Ipul membelalak lebar lalu dengan gerakan cepat melepaskan jari tangan sang Mama dari telinga dan menjauhkan kepalanya agar tidak dapat di jangkau oleh wanita yang mungkin sudah menyimpan geram sejak kemarin.
"Mama tahu dari mana?" bertanya dengan raut wajah panik tegang takut semuanya campur aduk di wajahnya, orang pun akan bingung ketika melihat raut wajahnya yang tak jelas itu.
"Orangnya langsung yang kasih tahu!" di saat begini seorang Riska menjadi lebih bersemangat karena luapan emosi yang ingin dia salurkan.
Pengakuan sang Mama jelas makin membuat Ipul tidak mengerti, orangnya langsung? Namanya itu tidak sengaja bertemu kah? atau..
Ipul tidak mampu lagi memberikan jawaban untuk pertanyaan yang dia ajukan sendiri di dalam kepalanya.
"Wanita itu kemarin datang ke sini dan menanyakan kamu, Saipul Gunawan!" selalu akan memanggil anaknya dengan nama lengkap apabila sudah sangat gemas dan kesal dengan tingkah anaknya itu.
__ADS_1
"Ngapain dia kesini?" dengan kerutan di dahinya.
Mama Riska langsung menoyor kesal dengan pertanyaan dari sang anak, "kamu ini tuli ya! Mama kan tadi sudah bilang dia itu menanyakan kamu! menanyakan kapan kamu pulang dari Batam!" sikapnya sudah menjadi lebih ketus lagi terhadap anak yang sudah dewasa tapi tingkahnya kadang selalu saja menguji kesabaran dirinya.
Ipul mengerucutkan bibirnya, walaupun seorang pria dewasa dan sudah menikah tapi jika harus berhadapan dengan wanita yang telah mengandungnya selam sembilan bulan dan melahirkannya dengan bertaruh nyawa, seorang Saipul Gunawan akan berubah menjadi begitu manja seperti anak kecil yang sedang tumbuh, anak kecil yang membutuhkan kasih sayang dari orang tuanya dan Mama Riska sangat memaklumi sifat anaknya itu.
"Ipul nggak ada hubungan sama dia Mah, berani suer dah." mengangkat kedua jari membentuk huruf v.
Mata sang Mama lantas mendelik sangar akan tetapi anaknya itu malah cengengesan tak jelas padahal saat ini dia merasa pembicaraan mereka seharusnya menjadi sangat serius mengingat ada seorang wanita yang datang dan mencari putranya itu di saat sang putra sudah memiliki istri, bukankah ini akan menjadi hal yang sangat sensitif dan akan mengundang masalah nantinya.
"Damar sudah mengatakan itu tadi!" sentak Mama Riska memukul lengan sang anak.
Ipul memutar bola mata lalu sudut bibirnya terangkat dan berkata, "kalau sudah tahu dari Om Damar kenapa masih juga bertanya," sangat pelan bahkan seperti orang yang sedang menggerutukan wanita di sampingnya.
"Mama kasih tahu Ralen kamu ya?!" kesal akhirnya memberikan ancaman.
Ipul dengan santainya terkekeh lalu menyandarkan punggungnya di sofa dengan sebelah kaki yang naik ke kaki lainnya lalu menggoyangkan kaki yang hanya memakai celana pendek sebatas lutut.
"Jelita sudah tahu bahkan sudah sempat bertemu dengan Daniya," sahut Ipul merasa menang, karena memang saat di Batam kedua wanita itu sudah pernah bertemu lalu apalagi yang harus dia khawatirkan?
Mendengar itu gerakan kaki Ipul sontak terhenti dengan sempurna tidak bergerak sama sekali layaknya di kutuk jadi batu mendadak kaku.
Wajah yang tadi sangat tenang pun berangsur berubah menjadi cemas lalu berganti panik, "Mama jangan ngomong apa-apa sama Jelita, awas aja kalau sampai ngadu!"
Kali ini gantian Riska lah yang tersenyum dengan kemenangan, "kamu ngancam Mama?" menampilkan raut wajah yang di buat terkejut, "wow Mama takut sekali," suaranya terdengar sangat mengejek membuat Ipul mendengus.
"Maaa.." yang tadinya songong berubah jadi merengek layaknya anak kecil minta mainan, wajahnya jadi memelas takut kalau Mamanya itu akan benar-benar memberitahu istrinya tentang Daniya yang sampai datang ke rumah.
"Tadi sangat sombong kenapa sekarang malah jadi ayam sayur begini?" cibir sang Mama dengan senyuman yang menyebalkan.
__ADS_1
"Waktu di Batam Ipul sudah bertengkar dengan Jelita karena Daniya, masa sekarang harus bertengkar lagi, pusing Ma, Jelita itu sangat menyeramkan kalau sudah marah," adu Ipul tentang pertengkarannya dengan sang istri ketika berada di Batam.
"Jadi sekarang kamu takut Jelita mu itu marah? sudah bucin akut kah?" bertanya dengan tampilan wajah yang menggoda.
"Mobil kesayangan Ipul sudah melayang ke tangan Abang! jadi jangan membicarakan soal bucin lagi! gedeg rasanya dengar kata bucin!" oceh nya yang menjadi sangat kesal kala telinganya mendengar kata bucin karena kata itulah yang membuat dia kehilangan mobil mahalnya, sialan memang tahu begini dia tidak akan mau mempertaruhkan mobilnya itu.
Mulut sang Mama membuka lebar, menganga mendengar pengakuan dari anaknya itu, "jadi mobil kamu di ambil sama Davi karena kamu kalah taruhan?" Mama Riska sangat terkejut.
Saat Davi mengambil mobil milik anaknya itu dia memang tidak banyak bertanya, hanya berpikir mungkin Davi sedang ingin meminjamnya saja, tapi setelah mendengar apa yang anaknya katakan sungguh dia jadi geleng-geleng kepala lalu sedetik kemudian pun tertawa girang.
"Taruhan lagi saja Pul, taruhkan perusahaan atau rumah ini, Mama yakin kamu akan jatuh miskin!"
Ipul menatap tajam pada wanita yang malah tertawa bahagia padahal anaknya itu baru saja kehilangan mobil kesayangan yang harganya mahal juga biaya yang tidak sedikit untuk memodifnya, dan sekarang mobil itu jatuh ke tangan sang Abang hanya karena taruhan.
"Ini gara-gara Jelita!" sungut Ipul tetap saja menyalahkan istrinya padahal dia yang melakukan taruhan dengan sadar tanpa di paksa oleh siapapun.
"Taruhan Apa?"
__ADS_1
\*\*\*\*\*