
Keduanya saling menatap dengan kondisi tubuh masih bertemu dengan semua yang dilakukan baru saja selesai tapi mereka seperti enggan mengurai kedekatan itu, terutama sang pria yang sejak tadi tampak tidak bergeser dari atas sang wanita.
Mata serta napas masih terus saling beradu menyelami pikiran mereka tentang bagaimana bisa kejadian ini terulang kembali, Ipul sepertinya sudah berubah menjadi sosok bajingan yang bisa meniduri seorang wanita tanpa menikahinya lebih dulu.
"Ada yang datang," suara Ralen terdengar cukup keras saat mengatakan hal itu hingga Ipul terpaksa menutup mulutnya dengan tangan.
Mereka berdua mendengar suara pintu yang terbuka di luar sana serta telinga Ipul pun menangkap derap-derap langkah yang sepertinya tidak hanya satu orang tapi kemungkinan dua orang.
Ipul segera menyingkir dari tubuh Ralen, "Ke kamar mandi," perintahnya pada Ralen yang segera memunguti pakaiannya lalu pergi ke kamar mandi.
Sedangkan Ipul segera memakai semua pakaian miliknya yang berhamburan di sekitar tempat tidur, memakainya dengan cepat.
"Nggak ada siapa-siapa Mbak," kata Safiq yang menemani Ratu mencari Ralen.
Dia mendapat kabar dari Safiq kalau Ralen tidak bekerja padahal dia sendiri tadi melihat dengan mata kepalanya kalau Ralen masuk ke dalam gedung kantor dan tidak melihat Ralen keluar lagi lagipula tadi dia sempat memeriksa motor Ralen dan motor itu masih ada di parkiran.
"Anaknya bos Irman udah nggak di ruangan ini lagi kan?" tanya Ratu memastikan.
"Iyalah kan udah pindah ke lantai 5," sahut Safiq yakin.
"Terus itu laptop siapa? lalu ini punya.."
"Punya saya," Ipul mengagetkan dua orang yang berjengit karena kemunculannya dari dalam ruangan yang tadi tertutup, mengambil jas yang ada di tangan Ratu yang tadi dia lepaskan begitu saja di lantai.
"Kalian ngapain disini?" tanya Ipul memakai kembali jas nya dengan wajah yang tenang.
"Cuma mau lihat-lihat saja," sahut Safiq asal.
"Ini jam kerja mana boleh seenaknya, lagipula ini perusahaan bukan museum ataupun mall yang bisa di lihat-lihat, sebaiknya kalian lanjutkan pekerjaan kalian," perintah Ipul dengan memasang wajah tegas agar kedua karyawannya itu takut.
"Maaf Pak," ucap Ratu dan Safiq bersamaan.
"Sudah sana keluar," usir Ipul tak ingin keduanya terlalu lama di dalam ruangan itu.
Ipul segera menutup pintu dibelakangnya ketika Ratu malah tengah mencoba mengintip ke dalam ruangan yang tadi menjadi saksi apa yang sudah dia dan Ralen lakukan dengan sangat sadar tanpa adanya paksaan dari salah satu pihak.
"Ayo Mbak." Safiq dengan paksa menarik Ratu agar keluar dari ruangan ketimbang mereka mendapat masalah nantinya karena berani melawan perintah atasan.
"Lo lihat nggak tadi?" tanya Ratu ketika Safiq baru menutup pintu.
"Lihat apa?" kata Safiq sambil berjalan menuju pantry.
"Masa Lo nggak lihat sih Fiq," Ratu tampak kesal.
"Mana bisa lihat, orang bos aja diri di depan pintu begitu!" Safiq terlihat lebih nyolot tak mau kalah dengan Ratu.
"Memangnya Mbak lihat apa sih?" tanyanya lagi.
"Itu Pak Bos bajunya kusut terus pas gue intip ke dalam ruangan itu kasur berantakan banget masa bantal adanya di lantai," jelas Ratu tentang apa yang dia lihat.
Meski Ipul berusaha menghalangi tapi ternyata Ratu sudah lebih dulu melihat apa yang ada di dalam ruangan istirahat itu.
"Paling Bos abis tidur wajar aja kali kalau berantakan," celetuk Safiq.
"Tidur macam apa yang semua isi ranjang berhamburan di lantai? itu tidur apa perang? Lo pikir dah!" Ratu menyentak kesal lalu meninggalkan Safiq yang memang masih sangat tidak mengerti dengan yang sedang di bicarakan oleh Ratu.
Safiq mengedikkan bahu sebab dia sungguh tidak paham dengan maksud pembicaraan wanita di sampingnya ini.
Ipul mengunci pintu ruangannya agar tidak ada siapapun yang bisa masuk lagi lalu menghela napas lega karena tadi perbuatannya hampir saja ketahuan untunglah dia dan Ralen mendengar kedatangan Ratu dan Safiq, jika tidak mereka akan tertangkap dalam keadaan saling menindih dan tidak mengenakan apapun, dan bisa dipastikan Ralen akan langsung dianggap wanita murahan yang tidur dengan atasannya sendiri padahal tadi dirinyalah yang begitu bernafsu hingga tidak terkendali dan memberikan buaian sampai akhirnya Ralen pun ikut larut dengan dirinya.
Ralen mondar-mandir di dalam ruangan tidak berani keluar padahal dia tahu di luar hanya ada Ipul seorang.
Ralen bingung bagaimana menunjukkan wajahnya saat ini setelah apa yang mereka lakukan tadi, ini kedua kalinya dan dia tidak dalam keadaan mabuk itu artinya dia sadar saat melakukannya, sadar saat membiarkan sang pria kembali merasakan dirinya dan sangat sadar saat dia merasakan betapa tubuhnya melayang merasakan sentuhan demi sentuhan juga sadar kala pria itu mengeluarkannya di dalam..
__ADS_1
Mata Ralen melebar memikirkan artinya ini sudah dua kali pria itu mengeluarkan di dalam, lalu dalam sekejap hawa dingin menyergap dirinya membayangkan hal yang tidak dia inginkan terjadi.
"Bagaimana kalau nanti hamil?" Ralen menggigit bibirnya bingung harus bagaimana dia menghadapi orang tuanya kalau dia keburu hamil sebelum Ipul menikahinya.
Sedangkan di luar Ipul sedang berbicara dengan seseorang melalui handphone, "gue di kantor kenapa memangnya?" bertanya pada orang yang bertanya tentang dirinya.
"Sekarang juga? nanti aja pulang kerja." bisa-bisanya beralasan kerja padahal yang dia lakukan adalah ngerjain anak orang.
"Ya udah sekarang! tapi gue mandi dulu." Ipul meninju meja karena mulutnya keceplosan bicara membuat lawan bicaranya yang sangat pintar dalam berpikir pun langsung curiga terhadap dirinya.
Ipul segera mematikan sambungan telepon kala suara wanita di seberang sana melengking tinggi mendengar apa yang dia katakan.
Mengaku di kantor tapi di jam setengah sepuluh malah mengatakan ingin mandi bukankah ini sangat tidak wajar?
"Mampus gue! Zara nggak bakal percaya kalau gue bilang gerah, di kantor ini ada AC!" Ipul mengeratkan rahangnya sebab sebentar lagi dia akan di caci maki oleh temannya itu.
******
Zara sudah sangat menunggu dengan gemas kedatangan Ipul beserta dengan Ralen, tadi dia juga meminta Ipul untuk mengajak serta wanita yang tadi dia bicarakan dengan Tante Riska.
Dia memesan private room di sebuah restoran di pusat ibukota.
Saat pintu ruangan di buka Zara langsung berdiri melangkah cepat membawa tasnya menuju orang yang sudah dia tunggu.
Buk!
Buk!
Tanpa basa-basi melayangkan tas nya ke tubuh sang pria yang mengaduh serta berusaha melindungi diri dari serangan mendadak yang Zara lancarkan.
Sedangkan seorang wanita yang datang bersama si pria hanya diam tak bergerak menyaksikan kejadian yang terjadi begitu cepat di depan matanya, dia begitu syok tapi tak juga bisa membuatnya membantu pria yang kewalahan dengan serangan-serangan bersenjatakan tas.
"Lo tuh gila! nggak punya otak! pikiran tuh nggak ada, kesel banget gue sama elo Saipul Gunawan!"
"Maaf Za Maaf, gue khilaf," aku Ipul membuat Ralen menatap padanya.
Wanita itu tak mengerti kenapa Ipul harus meminta maaf dan dia juga rasanya tidak asing dengan wajah wanita yang sekarang sedang memukuli pria di sampingnya ini, apa jangan-jangan wanita ini kekasihnya? otak Ralen mulai menerka membuat dia menguatkan diri jika kenyataan itulah yang sebenarnya.
Ditiduri oleh pria yang sudah memiliki kekasih bahkan tadi pun mereka baru saja mengulangi hal yang sama, ah Ralen merasa menjadi wanita jahat yang sudah merebut kekasih orang.
"Yang namanya khilaf itu cuma sekali Pul, kalau sampai Lo ulangin lagi itu namanya Lo doyan!" cerca wanita berwajah cantik namun terlihat galak di saat yang bersamaan.
Ralen seakan tidak ingin berlama-lama di tempat itu, dia ingin pergi tidak mau menyaksikan pertengkaran sepasang kekasih.
"Mau kemana?" Ipul menahan tangannya saat dia hendak melangkah.
"Pulang, gue nggak ada urusan disini," sahut Ralen.
Zara menghentikan pukulannya lalu menatap wanita yang masih memakai seragam kerja yang sejak tadi berdiri di samping Ipul.
Zara menghela napas lalu merapikan pakaiannya, "kita perlu bicara bertiga," kata Zara akhirnya lalu meraih tangan Ralen dan mengajaknya duduk.
Sekarang mereka sedang duduk bertiga Ipul dengan Ralen sedangkan Zara duduk di bangku depan keduanya bagaikan seorang penyidik yang sedang menginterogasi dua tersangka.
Ketiganya tampak serius dan disini akhirnya Ralen tahu kalau wanita di depannya ini adalah istri dari Kakak sepupu Ipul, membuatnya menjadi sangat lega karena tidak merebut siapapun.
Ipul tengah mengurut pangkal hidungnya, sungguh dia harus berpikir keras dengan saran yang Zara berikan.
"Gue nggak bisa Za kalau nikah tanpa Papa, sejak dulu Papa selalu bilang kalau dia ingin menyaksikan pernikahan gue karena gue ini anak satu-satunya," ujar Ipul tidak setuju dengan permintaan Zara.
__ADS_1
"Tapi Mama Lo udah setuju Pul, dia nggak apa-apa kalau Lo nikahin Ralen secepatnya," kata Zara lagi terus meyakinkan Saipul yang kadang memang menyebalkan.
Ipul menggeleng lemah tanpa peduli bahwa ada wanita yang melihat serta mendengar semua jawabannya itu merasa kecewa.
"Kalau Papa Lo nggak sadar untuk waktu yang lama bagaimana?" cecar Zara menunjukkan tatapan mata menusuk.
"Gue akan tetap menunggu, gue nggak akan nikah." tegas Ipul.
Sudah dipastikan sekarang seperti apa perasaan Ralen, kedua matanya bahkan sudah bergetar dan mulai mengembun.
Plak!
Zara memukul kepala Ipul dengan kencang sampai tangannya sendiri terasa panas.
"Lo nggak mikir kalau dia hamil? Lo mau punya anak tanpa nikah!" serbu Zara menampilkan emosi.
Ipul tersentak menatap Zara lalu beralih pada Ralen yang saat ini menunjuk seraya meremas jari-jari tangannya.
"Lo harus tanggung jawab Pul, Om Irman juga bakalan ngerti, sebagai orang tua dia malah akan jauh lebih senang kalau lo bertanggung jawab atas perbuatan yang sudah Lo lakukan, dan siapa tahu setelah Lo nikah Om Irman akan sadar," ucap Zara membujuk pria di depan yang terus menatap wanita di sampingnya itu.
"Gue masih tahan buat nggak ngomong semuanya sama Tante Riska, tapi kalau Lo udah benar-benar susah buat di bilangin, gue nggak akan segan buat aduin apa yang udah Lo lakuin sama Ralen, biar Lo lihat sendiri bagaimana kecewanya Tante Riska sama Lo, kecewanya Tante Riska tentang kelakukan anak satu-satunya yang selalu dia banggakan." Zara benar-benar menjadi sangat kesal tak terhingga dengan Ipul hingga berniat untuk meninggalkan tempat itu yang sejak tadi terasa sangat panas.
"Oke, gue bakal nikahin Ralen secepatnya," kata Ipul akhirnya yang membuat Zara menarik napas lega.
"Dua hari lagi," tegas Zara.
Mata Ipul membelalak, "nggak kecepatan?"
"Itu malah terlalu lama, karena gue udah nggak percaya sama elo, gue yakin Lo bakalan ngaku khilaf terus nantinya kalau nggak segera nikah!" ketus Zara membuat Ipul merasa sangat tertohok dengan ucapannya itu.
Dan kali ini Ipul membiarkan Ralen dan Zara berbicara berdua, berbicara antar wanita dan dari hati ke hati, sedangkan dia sibuk membalas pesan dari Damar yang tadi mengirimkan email penting tentang perusahaan.
__ADS_1
*****