
"Sekarang bagaimana Mas?"
Ipul menyipitkan matanya menatap sang istri, mereka ini baru saja keluar dari ruangan dokter yang memeriksa istrinya dan sekarang istrinya malah mengajukan pertanyaan? tentu Ipul akan menganggap sinis pertanyaan tak berguna yang dilontarkan oleh istrinya barusan.
"Bagaimana bagaimana maksudmu!?"
Ralen malah jadi garuk kepala mendengar perkataan yang begitu ribet dari suaminya, bagaimana bagaimana? membuatnya pusing saja.
"Aku hamil," tutur Ralen dengan suara bahkan mungkin serupa dengan cicitan anak tikus yang ekornya terinjak.
"Lalu?"
Ralen mendengus, "kenapa Mas Sai senang sekali mengeluarkan kata LALU?!" protes Ralen merasa telinganya sudah sangat bosan mendengar kalimat tanya dengan kata lalu itu.
"Lalu kenapa? kalau kamu hamil memangnya kenapa? ada masalah? kamu tidak senang? ingin buat drama seolah kamu istri yang tertindas? seolah kamu bersuamikan pria jahat yang akan menyusahkan kamu? hei harusnya aku yang protes kamu hamil tapi aku yang harus mual pusing badan pada sakit!"
"Kenapa jadi ngomel panjang lebar," gerutu Ralen mendengarkan ocehan suaminya yang berentet bagaikan kereta.
"Otakmu ini agak lengser atau bagaimana? hamil ya hamil mau diapakan lagi toh kamu punya suami, pertanyaan mu tadi seperti orang tak.."
Belum selesai suaminya mengoceh Ralen sudah berjalan cepat meninggalkan, tak tahan lama-lama mendengarkan mulut bawal sang suami yang tidak kenal waktu mengoceh di tempat umum padahal tadi dia hanya berbicara sedikit akan tetapi suaminya malah membalas dengan begitu banyaknya.
"Mulai saat ini aku peringatkan kamu untuk tidak lagi bertingkah seenaknya, tidak lagi grasak-grusuk tak jelas karena di dalam perutmu itu ada anakku! awas saja kalau sampai dia kenapa-kenapa!" Ipul berkata tegas tajam dan sarat akan peringatan serta ultimatum yang tidak boleh di bantah, memberi peringatan pada istrinya yang memang sangat pecicilan tak bisa diam agar mulai sekarang berhati-hati dalam melakukan segala apapun yang berkaitan dengan kondisi perutnya.
"Kalau begitu Mas Sai juga jangan berbuat kasar padaku." Ralen balik memberi peringatan.
"Memangnya selama ini aku kasar?" Ipul memundurkan kepalanya.
Keduanya sudah berada di dalam mobil siap untuk kembali pulang namun masih menyempatkan diri untuk melakukan perdebatan.
"Kasar, setiap malam bahkan dua jam yang lalu," desis Ralen mengingatkan andai suaminya itu lupa apa yang tadi suaminya itu lakukan terhadapnya.
"Itu hanya variasi saja Jelita," aku Ipul membela diri.
"Variasi macam apa yang harus membolak-balikkan tubuhku seolah aku ini ikan yang sedang di bakar! bahkan Mas Sai juga.."
"Sudah cukup!" Ipul memotong perkataan sang istri, "kamu itu kalau sudah bicara pedas sekali ternyata," tambahnya seraya mendecih.
Ralen tersenyum tipis dan sinis, "seenaknya melarang segala tingkah ku yang memang sudah sejak lahir tidak bisa diam," Ralen bersungut seolah tidak terima dengan segala tudingan suaminya itu terhadap dirinya.
Ipul mendelik seram, dia itu masih belum puas memberi peringatan pada sang istri namun istrinya ternyata malah lebih pintar bicara, malah lebih pintar melakukan serangan balik padanya.
Mobil sudah keluar dari parkiran rumah sakit melaju dengan tenang seperti berlawanan dengan suasana hati sang pengemudi yang masih dongkol pada wanita di sampingnya yang kini mengerucutkan bibir sambil membuang pandangan ke arah jalan di sampingnya.
"Aku mau jalan-jalan." tiba-tiba saat sudah tiba di rumah Ralen malah bersuara dan kata yang terdengar itu membuat pria di sampingnya menatap tak percaya.
"Kalau ingin jalan kenapa tidak bilang sejak tadi! kenapa baru saat sudah akan sampai bibirmu itu mengoceh ingin jalan?!" mengomel tak terima.
Lihat saja rumah mereka bahkan sudah ada di depan mata hanya tinggal membuka pagar tingginya saja.
"Aku maunya mendadak, terus aku salah?" aku Ralen menyandarkan kepala.
"Maunya mendadak atau memang baru kepikiran untuk mengerjai aku?!" melirik sinis penuh curiga.
Wanita seperti istrinya itu tentu tidak akan merasa puas jika tidak mengerjai dirinya apalagi sejak tadi wanita itu mencari masalah dengannya.
"Aku bahkan tidak berpikiran untuk mengerjai kamu, mungkin saja ini ulah anak kamu yang tiba-tiba ingin jalan," sekarang dia seperti mempunyai tameng untuk menyelamatkan diri.
"Teruslah membawa anak yang tidak tahu menahu apapun." tidak terima anaknya dijadikan alasan.
"Loh kan biasanya orang hamil itu akan mengidam mungkin sekarang aku sedang mengalami ngidam."
Ipul tertawa miring, "kamu tidak dengar apa yang tadi dikatakan oleh dokter? selama kehamilan mu aku yang akan mengidam jadi jangan mengada-ada!" mengingatkan apa yang dokter sampaikan.
__ADS_1
Ralen terdiam memutar otak untuk kembali menjawab, "tapi kan bukan berarti aku juga tidak akan mengidam."
"Benar! tapi apa selama dua bulan ini kamu merasakan ngidam? merasakan mual? merasakan seluruh badanmu sakit? tidak kan?" Ipul mendecih dengan senyum kemenangan ketika apa yang dia ucapkan mampu membungkam mulut bawel Istrinya.
"Aku mau tidur!" sentak Ipul menjalankan mobil ketika pagar rumah sudah di buka lebar oleh penjaga.
"Dasar suami jahat, ngajak istrinya jalan pun tidak mau," sungut Ralen.
"Kalau mau jalan-jalan besok pagi saja, hari ini aku benar-benar lelah dan ingin istirahat," menjawab sungutan istrinya seraya memijat kepala ketika rasa pusing kembali menyertai.
"Bagaimana? apa kata dokter?"
Baru saja melangkahkan kaki menuju pintu namun Ralen dan Ipul sudah langsung diberondong pertanyaan dari wanita yang berdiri di depan pintu seolah menyambut kedatangan mereka.
"Ralen?" tatapan lembut namun sarat akan rasa penasaran pun beralih pada sang menantu.
Ralen mengangguk sambil memberikan senyum penuh arti.
Mata Mama Riska membola lebar disertai dengan binar kebahagiaan yang tidak lagi bisa dia sembunyikan, kebahagiaan yang memang sudah sangat dia nantikan sejak anaknya itu menikah.
"Ralen hamil, Pul!" berseru pada sang anak yang melenggang masuk ke dalam rumah dan menolehkan kepala.
"Alhamdulillah," Mama Riska mengucap syukur memeluk erat sang menantu lalu menuntunnya masuk ke dalam rumah.
Tanpa di sangat Ipul masih berdiri di anak tangga paling bawah menatap pada dua wanita yang ada dalam hidupnya.
"Jelita tidak bisa diam, jadi tolong Mama ajarkan dia untuk merubah perilakunya," ucap Ipul lalu setelah selesai berbicara pada sang Mama dia melanjutkan langkah menaiki tangga.
"Kamu tenang saja!" seru sang Mama senang.
Di dalam kamar Ipul membanting tubuhnya ke atas tempat tidur menatap langit-langit lalu mengulaskan senyum yang sangat lebar pada bibirnya.
"Gue bakal jadi Ayah?" sungguh dia masih tidak percaya ketika dokter memberitahu bahwa Ralen hamil.
Kali ini dia tidak lagi bisa menyembunyikan kebahagiaannya, dia makin melebarkan senyum lalu mulai membayangkan dirinya yang akan segera menggendong bayi kecil.
__ADS_1
"Itu artinya Ipul sangat mencintai kamu Ralen," kata sang mertua ketika mendengar aduan dari menantunya tentang perkataan dokter bahwa suaminya lah yang mengalami gejala kehamilan.
Kehamilan simpatik, begitu kata dokter tadi.
"Tapi Mas Sai marah-marah terus," kata Ralen mengeluhkan sikap suaminya.
"Marah karena dia sayang sama kamu, tidak mau terjadi apa-apa dengan istri cantiknya ini," jelas Mama Riska mengelus perut sang menantu yang belum terlihat besar.
"Sudah tidak perlu dipikirkan, yang penting sekarang kamu harus menjaga kehamilan mu ini dengan baik, minum susu hamil karena itu sangat membantu untuk pertumbuhan janin, nanti biar Mama minta Mas Sai mu untuk membelikannya," kata wanita yang sejak tadi terus saja menyunggingkan senyum.
Sungguh Ralen makin merasa beruntung karena sudah dianugerahi mertua yang sangat baik ini, mertua yang bahkan tidak memandang status mereka yang jelas sangat berbeda jauh, mertua yang selalu membela dirinya ketika kerap kali beradu mulut dengan sang suami, wanita yang selalu berkata lembut dan bijak padanya bahkan tak jarang membuatnya tertawa senang mendengarkan celotehannya, mertua yang mungkin kasih sayangnya melebih ibu kandungnya, mungkin?
Kenapa Ralen merasa setelah kedatangan Daniya, ibunya sudah sangat jarang menghubungi dirinya, ibunya juga tidak bertanya lagi tentang bagaimana keadaannya, apa ibunya sudah lupa padanya?
"Ibu bisa berbicara dengan Ralen!" Daniya menatap wanita yang duduk di depannya.
Wanita, ibu kandungnya yang untuk sekian kali datang padanya dan mengatakan kata yang sama yaitu meminta maaf.
"Tapi bagaimana mungkin ibu bisa.."
"Kalau memang ibu bersungguh-sungguh meminta maaf dan ingin aku maafkan tentu ibu akan melakukan apa yang aku minta, itu juga kalau ibu sayang sama aku."
"Ibu sayang Daniya, ibu sangat sayang kepada kamu."
"Kalau begitu turuti apa yang Daniya mau." ucap Daniya dengan wajah yang dingin dan terkesan kejam.
Wanita di depannya menunduk, terlihat bingung tapi kemudian berkata, "baiklah ibu akan coba bicara dengan Ralen."
Daniya tersenyum lalu tanpa di duga memeluk wanita yang memang sudah lama merindukan pelukan dari anak pertamanya, pelukan yang membuat ibunya tersenyum haru hingga tak terasa meneteskan air mata lalu membalas pelukan sang anak.
"Ibu akan bicara dengan Ralen."
***
__ADS_1