
Ipul yang tak tahu skema cinta macam apa yang sudah tuhan tentukan untuknya, pria itu hanya sedang menjalani sambil berusaha mencari yang terbaik untuk hidupnya, tidak di pungkiri kalau saat ini dia merasa iri dengan kehidupan rumah tangga yang sedang di jalani oleh Abang sepupunya dengan sang teman, yang dia tahu adalah hidup mereka sudah jauh lebih baik dan hidup yang bertambah sempurna dengan hadirnya seorang bayi laki-laki bernama Achnaf Athaya yang sekarang berumur dua bulan lebih satu Minggu.
Bayi kecil itu tampak nyaman saat Ipul menimangnya padahal tangan Ipul belum cukup luwes bahkan terkesan kaku serta takut karena bayi yang masih sangat kecil itu tentunya memiliki tubuh yang sangat rentan.
Sore ini Ipul sudah mendatangi kediaman Davi dan juga Zara bersama dengan Riska yang tak juga mau ketinggalan mengekori sang anak, di tambah lagi wanita itu kini menghubungi Tante Andini guna mencari teman untuk mengobrol, huft memangnya siapa yang suruh wanita itu ikut? rasanya Ipul tidak mengajaknya.
"Udah cocok Pul," goda Zara yang membawa nampan berisi minuman serta cemilan untuk ia hidangkan ke atas meja.
"Jangan panggil Ipul Zara, teman mu itu sudah ketularan orang-orang bule ingin di panggil dengan nama yang lebih keren," Riska menyambar bagaikan bensin tersulut oleh api, mengoceh tak terkira membuat Ipul berecakan dengan Achnaf di tangannya.
"Lah."
Zara melihat tak mengerti lalu melemparkan senyuman yang membuat Ipul kesal.
"Senyum lu ngeselin!" Ipul menyentak dengan dengusan memanas.
"Uncle Awan sensitif sekali, ckckck." Zara malah menggoda pria yang di matanya memang sangat berbeda dengan saat mereka sekolah dulu.
Sekarang Ipul tidak hanya manis tapi juga wajahnya memiliki ketampanan yang lebih berkualitas dan aw sedikit menggemaskan.
Berkualitas? jadi menurut Zara dulu Ipul tidak berkualitas sama sekali kah? astaga Zara seandainya Ipul tahu isi hatimu kemungkinan kamu sudah mendengarkan mulut Ipul mendendangkan sumpah serapahnya.
"Assalamu'alaikum."
Suara dari pintu menginterupsi pembicaraan yang sebentar lagi akan jadi perdebatan jika tidak ada yang menyela.
"Wa'alaikumsalam."
Menjawab bersamaan seraya menatap pada pintu yang langsung memunculkan wajah Andini dengan cengiran nya yang lebar.
"Sepertinya Mama mengganggu kalian," kata Andini pada sang menanti.
"Tante justru menyelamatkan Awan dari godaan durjana dua orang wanita itu!" sahut Ipul dengan lirikan tajam pada Mamanya dan juga Zara yang mengatupkan bibir.
__ADS_1
"Awan? Awan apa yang Tante selamatkan?" tanyanya tak mengerti yang mengundang cekikikan menantu juga iparnya.
"Itu keponakan Mama yang minta di panggil Awan," celetuk Zara dengan tawa yang tak juga pudar dari mulutnya.
Mata Wanita yang membawa tentengan di tangannya itu sejenak membola lebar.
"Keponakanmu terlalu sering bergaul dengan bule Mbak jadinya ya gitu ngikutin orang-orang sana biar keren kali, padahal Ipul kan udah yang paling keren ya."
Riska menimpali tak peduli dengan tatapan mata dari anaknya yang seperti akan memakannya hidup-hidup.
"Hahaha, dasar Saipul Gunawan," Andini terkekeh seraya memberikan tentengan berisi kue yang ia bawa pada sang menantu.
"Jangan dengarkan wanita-wanita tua itu, mereka memang menyebalkan," bisik Ipul pada bayi yang matanya mengerjap tak mengerti apa yang tengah dia bicarakan.
Sambil tertawa Zara melenggang ke dapur lalu kembali lagi dengan membawa kue yang tadi mertuanya berikan dengan menatanya ke atas piring besar.
Andini dan Riska sedang mengobrol serius sambil sesekali diselingi dengan tawa mereka, tidak tahu keduanya tengah menceritakan hal lucu apa hingga membuat ruangan tamu di rumah itu terdengar sangat ramai padahal hanya karena tawa dari dua orang wanita itu saja.
"Terus?" tanya Andini.
Kedua ipar itu tampak sangat akur dengan larut dalam perbincangan yang ternyata membicarakan pria yang sedang berbincang dengan Davi yang baru saja pulang dari kantor.
"Mbak tahu sendiri kan si Ipul itu.."
"Awan," Andini mengingatkan tentang nama panggilan yang keponakannya inginkan.
"Ah bagiku dia tetap Ipul, sampai kapanpun akan tetap menjadi Ipul. seenaknya saja dia mau mengganti nama panggilan yang sudah tersemat indah sejak dia lahir," protes Riska tak peduli pada keinginan konyol sang anak yang pulang-pulang sudah mengutarakan keinginan tak jelas tentang panggilannya itu.
Andini meringis kecil lalu dengan tawa yang tersungging samar.
Obrolan kedua wanita itu terus mengalir tak mau kalah dengan perbincangan ketiga orang beda generasi yang terlihat begitu larut ketika membicarakan masa-masa mereka sekolah mereka dulu.
*****
__ADS_1
"Kerjaan apa lagi sih Len?" tanya Antika.
Sepagi ini Ralen sudah mendatangi rumah kontrakannya dan langsung memberondongnya dengan pertanyaan tentang pekerjaan, menurutnya temannya itu sudah terlalu banyak mengambil pekerjaan beberapa hari ini, mulai dari mengantar anak sekolah di pagi hari, lalu siangnya sekitar pukul 10an harus bekerja di tempat catering dan pergi lagi untuk mengantarkan semua pesanan itu pada yang memesan dan sore hari sampai malam temannya itu menjadi ojek online dengan setelah beberapa hari lalu mendaftarkan diri di salah satu aplikasi ojol itu.
Antika merasa sangat heran apa temannya itu tidak merasa lelah sedikitpun? apa temannya itu merasa seorang yang berkekuatan super hingga tidak memikirkan kalau tenaganya akan habis terkuras jika dalam sehari saja sibuk mencari uang lebih dari waktu normal ketika manusia bekerja.
Ralen menghela napasnya sangat menyesakkan dada, sungguh dia benar-benar merasa sangat berat menjalani hidupnya akhir-akhir ini, semua yang tentang uang seakan menghimpit kepalanya sampai terasa mau pecah.
"Lo ini cari uang udah kayak nggak ada besok aja tahu nggak sih Len, terlalu memforsir tenaga bisa-bisa nyawa Lo bosen nemenin badan Lo!" omel Antika menggeleng kepala dengan tatapan gemas kesal kasihan yang bercampur menjadi satu.
"Kebutuhan gue banyak banget Tik, bahkan uang yang gue pinjam dari Lo aja nggak tahu kapan bisa gue ganti," sahut Ralen dengan suara lemah tak bergairah memikirkan hutangnya pada sang teman.
"Nggak usah mikirin uang gue, Lo mau balikin kapan aja nggak apa-apa Ralensi Jelita! Lo tuh kenapa ya pikirannya nggak pernah bisa terbuka dikit aja." menoyor kening wanita berhidung mancung hingga kepalanya mundur kebelakang.
"Pikiran gue udah sangat terbuka Tik makanya gue pusing banget ini gimana nutupnya biar gue nggak pusing mikirin uang terus, ah rasanya gue mau nangis," keluh Ralen menghempaskan tubuhnya pada karpet bulu yang sedari tadi mereka duduki.
"Nangis tinggal nangis, Lo ini perempuan wajar kalau nangis! lagian gue sih aneh sangat elo Len, kok bisa sih Lo nggak pernah nangis padahal gue yang temen Lo aja rasanya benar-benar cape ngeliat Lo tiap hari kerja dari pagi sampai malem, gue kalau jadi elo nih udah nangis teriak-teriak gegerungan, guling-guling di tanah kalau bisa buat ngelampiasin apa yang gue rasa."
"Lo pikir gue kucing guling-guling di tanah!" sentak Ralen dengan pernyataan konyol dari sang teman.
"Ya udah makanya nangis Len, nangis! Lo lampiasin semuanya siapa tahu setelah nangis hati Lo jadi lega," kata Antika mengajari.
"Iya nangis bisa bikin hati lega tapi nggak bisa bikin uang datang kan?" sudut bibir Ralen terangkat menimpali ucapan Antika.
Antika tampak berdiam memikirkan jawaban yang Ralen berikan tapi sesaat kemudian wanita berambut sebahu itu menjawab, "bisa aja uang datang kalau Lo nangisnya di depan Om-om tajir."
"Sialan Lo!" Ralen menggeplak kepala Antika yang langsung meringis sambil mengelus kepalanya yang lumayan terasa sakit.
"Dasar cewek preman," dengus Antika karena memang tenaga Ralen yang tidak main-main saat menggeplaknya.
"Gue mau siap-siap," lanjut Antika melenggang ke belakang karena dia yang memang harus bekerja di sebuah mall membiarkan Ralen sendiri di ruang tamu tanpa mendapatkan solusi atas permasalahannya, tadi dia meminta pekerjaan tapi malah berakhir tanpa mendapatkan apa yang dia inginkan.
******
__ADS_1