
"Kita sudah dari tadi pagi sampai sekarang sudah sore, mau sampai kapan kita berada disini? sejak tadi berjalan dan bermain wahana apa kamu belum puas juga?!"
Ipul mulai mengajukan protes dan kekesalannya terhadap sang istri yang menurutnya sudah tidak ingat waktu.
Tadi pagi akhirnya dia memang mengajak istrinya itu untuk pergi jalan-jalan menepati janjinya yang sudah dia ingkari beberapa hari, meski harus dengan susah payah dia membujuk karena tadi pun wanita hamil itu sok jual mahal dulu tapi akhirnya dengan malu-malu mau mengangguk setuju untuk berjalan-jalan hingga Ipul pun tidak jadi pergi ke kantor dan istrinya juga bolos kuliah.
Andai sang Mama tidak memaksa dirinya mungkin seorang Saipul Gunawan akan tetap pergi ke kantor mengurus semua pekerjaannya lalu masa bodo dengan istrinya yang marah padanya, dia itu sudah sangat terbiasa menghadapi Jelitanya, Ipul berpikir nanti saja bujuknya ketika dia sedang ingin belaian tapi berhubung sang Mama turun tangan mau tidak mau diapun bergerak untuk membujuk istrinya itu.
Dasar suami tak berotak memang!
Kebutuhannya saja yang dia pikirkan, tanpa peduli seperti apa perasaan seorang wanita hamil yang bahkan mengandung anaknya itu, kan wanita hamil tidak boleh stres eh ini bukan hanya di buat stres tapi juga dibuat ngambek terus.
"Aku masih mau bermain Mas Sai," kata Ralen dengan suara yang merajuk manja tidak seperti dia yang biasanya galak, mungkin karena pengaruh janin yang ada di dalam kandungannya yang membuat dia seperti itu.
Ipul melihat Arloji yang ada di pergelangan tangannya, "ini sudah sangat sore Jelita, kita bisa kembali lain waktu," ujar pria yang menyingsingkan lengan kemeja yang dia kenakan.
Pria itu sudah melepas jas serta dasi yang tadi pagi dia pakai, karena tadinya dia memang akan pergi ke kantor dan sekarang dia menyingsingkan lengan kemejanya sampai ke siku serta membuka satu kancing bagian atas kemeja dna menggunakan celana bahan serta sepatu pantofel berwarna hitam dengan brand ternama, berusaha tampil santai akan tetapi tempat dia kunjungi bersama istrinya ini kebanyakan prianya memakai kaos serta jaket dan celana jeans dipadu dengan sepatu kets atau sneakers.
Sebenarnya tadi itu dia ingin berganti pakaian dulu tapi sang Mama malah melarang, takut Ralen keburu makin susah dibujuk katanya.
Ralen mengerucutkan bibirnya, "susah payah aku ngambek agar Mas Sai menepati janji, tapi baru sore sudah ngajak udahan, lagian kan belum tentu kita bisa jalan-jalan seperti ini lagi nantinya.."
"Memangnya kenapa kita tidak bisa jalan-jalan lagi?" aneh dengan perkataan yang dilontarkan oleh wanita hamil yang masih dengan nyamannya memakai celana jeans serta kaos kebesaran miliknya.
Tidak tahu kenapa Ralen menjadi sangat hobi memakai barang-barang milik sang suami, dari mulai kemeja, kaos, parfum, sampo serta tidak jarang wanita itu memakai boxer suaminya, tentu saja suaminya tidak protes apalagi melarang, Ipul malah sangat menikmati semua yang dia punya di pakai oleh sang Jelita.
"Kamu kan suka ingkar janji dan juga aku merasa kalau ini seperti akan jadi yang pertama dan terakhir.."
Ipul yang sedang berjalan pun menghentikan langkah dan menyorot tajam penuh selidik pada wanita di sampingnya yang sedang memakai kembang gula dengan cara mencuilnya sedikit demi sedikit, makanan yang biasa disukai oleh anak kecil itu terlihat begitu dinikmati oleh istrinya.
"Kenapa? kok berhenti?" menatap polos seraya ikut menghentikan langkah.
"Kamu yang kenapa?" Ipul menaikkan dagu bertanya.
Menurutnya sejak tadi istrinya itu berbicara tak karuan pembicaraan tak jelas arahnya dan terkesan melantur dan juga menyebalkan.
Mereka suami istri tinggal di rumah yang sama, mau jalan-jalan atau pergi kapan saja kan juga bisa, dia tak segera menepati janji juga kan karena dia benar-benar sangat malas, tubuhnya itu seolah tidak ingin pergi kemanapun ketika sudah berada di rumah ataupun tidak bekerja, istrinya hamil dan dia yang ngidam sudah jelas moodnya juga ikut naik turun karena gejala hamil yang harus dia tanggung.
Ralen mengedikkan bahu lalu kembali menikmati kembang gula dengan warna merah muda.
"Sudah hampir gelap sebaiknya kita pulang sekarang," menahan tangan sang istri yang hendak menjauh.
__ADS_1
Dari arahnya berjalan Ipul sudah bisa menebak kemana tujuan istrinya itu.
Sebuah wahana permainan kora-kora yang terlihat sangat mengerikan bagi seorang Ipul.
"Aku mau naik Mas Sai." wanita hamil itu berkata merajuk dengan bibir yang mengerucut.
Ipul menggeleng memberikan penolakan, "bahaya!" tegasnya.
"Nggak akan bahaya, itu akan kok," cetus Ralen tak mau kalah, dia jika sudah menginginkan sesuatu apa bisa dilarang? rasanya tidak.
"Kamu mungkin aman, tapi anakku tidak aman! nggak ada naik-naik gituan!" makin tegas memperingatkan.
Jujur saja dia tidak mau anak pertamanya yang bahkan masih belum berbentuk itu harus terguncang-guncang akibat wahana yang ingin dinaiki oleh istrinya.
"Jadi Mas Sai cuma mikirin dia doang?" Ralen menyentuh perutnya sendiri, sepertinya sekarang dia merasa tak suka suaminya mengabaikan dirinya.
Ipul bisa menangkap cara bicara Ralen yang terkesan sedang cemburu dengan anaknya sendiri, hingga akhirnya dengan cepat Ipul memberikan penjelasan agar wanitanya tidak makin marah nantinya.
"Tentu saja kamu juga dan kamu yang utama maka dari itu aku larang kamu buat naik permainan menyeramkan begitu." Ipul mencuil kembang gula lalu dia suapkan kepada istrinya yang refleks membuka mulut membuat dia tersenyum.
"Kita pulang saja ya sekarang, kita sudah kelamaan mainnya nanti Mama tungguin," kembali membujuk untuk pulang seraya mengusap rambut sebahu sang istri yang dengan terpaksa mengangguk.
Ipul bernapas lega, kepalanya sejak tadi pusing dan benar-benar ingin rebahan di atas tempat tidur akhirnya sebentar lagi dia akan bisa mewujudkan keinginannya itu.
Di dalam mobil yang sudah melaju Ralen pun bertanya seolah ajakan pulang dari suaminya dia anggap hanya sekedar bualan.
"Hm."
Cukup malas untuk menjawab hingga hanya mengeluarkan sebuah deheman saja untuk pertanyaan yang diajukan oleh wanita di sampingnya.
Ralen menatap pada wajah suaminya yang tengah fokus pada laju mobil, menatap penuh kagum bahkan sampai tidak sempat untuk berkedip, seolah sangat menikmati keindahan yang sudah dengan baiknya Tuhan beri untuknya.
Saipul Gunawan adalah anugerah yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya, pria itu benar-benar sempurna dengan segala pemberian sang maha pemilik semesta.
Dari wajah yang rupawan, kekayaan dan juga sifat baik yang tidak pernah memandang seseorang dari apa yang mereka miliki, bahkan dia yang hanya seorang wanita miskin pun dengan mudahnya dijadikan istri, bukankah dia patut bersyukur?
"Sepertinya sebentar lagi wajahku ini akan meleleh karena terus dipandangi." sarkas Ipul tanpa menoleh pada sang istri yang sepasang matanya langsung berkedip dengan cepat mendengar apa yang dia katakan.
"Mas.."
Lagi, Ralen memanggil suaminya dengan suara pelan namun kali ini dengan wajah yang menunduk tidak tahu kenapa.
__ADS_1
"Kenapa sayaang?" sekarang memberi respon dengan suara yang terdengar gemas, istrinya itu sejak tadi terus saja memanggil padahal jika ingin bicara ya tinggal bicara saja, jarak mereka cukup dekat untuk bisa saling mendengarkan.
Ipul melirik ke arah pangkal paha ketika dia merasakan ada yang menyentuh dan mendapati jari-jari lentik istrinya tengah bergerak dan perlahan merayap ke area berbahaya.
"Kamu tidak sedang mabok, Jelita! aku ingat dengan jelas hanya memberikan kamu air mineral," cakap pria yang telinganya kini berubah menjadi merah.
"Ya kan memang aku tidak mabok," jawab Ralen tanpa memindahkan atau menghentikan apa yang sedang dilakukan oleh tangannya.
"Biasanya kamu akan menjadi agresif dan berubah menjadi singa betina saat kamu mabuk."
Ralen menaikkan sudut bibirnya, "jadi kalau aku tidak mabuk aku tidak boleh begini sama suami ku sendiri?!" Ralen terdengar tersinggung.
"Bukan tidak boleh, hanya saja aku sedang berkendara akan sangat bahaya jika aku sampai naik karena perbuatan kamu," memberi penjelasan.
Dia memang tidak menolak dengan apa yang dilakukan istrinya tapi saat ini dia sedang berkendara di jalanan yang begitu ramai dengan kendaraan bermotor yang kadang melaju dengan sangat kencang, akan sangat bahaya untuk mereka karena gerakan tangan sang istri itu akan membuatnya jadi tidak fokus.
Ipul bisa bernapas lega saat istrinya menghentikan gerakan tangannya yang sudah benar-benar berada ditempat berbahaya.
"Padahal aku sedang sangat ingin," Ralen berkata kecewa dengan wajah yang dia alihkan keluar kaca pintu mobil.
Ipul mengerutkan kening lalu perlahan laju kendaraannya melambat membuat kendaraan yang berada di belakangnya pun membunyikan klakson dengan sangat keras akan teyapi Ipul tidak ambil pusing, dia itu sedang kaget dan jadi heran kenapa wanita hamil ada saja yang diinginkan dan tidak tahu tempat juga waktu.
"Kita sedang di jalan, tunggu sampai rumah baru aku kasih," kata Ipul akhirnya meminta sang istri untuk bersabar.
Ralen makin membuang muka enggan untuk menoleh, "inginnya sekarang masa harus tunggu sampai rumah dulu baru di kasih!" bersungut tak terima.
"Kita sedang berada di tol sekarang Jelita, mana bisa kamu mengatakan ingin dan aku memberikannya disini." Ipul berkata dengan intonasi yang sedikit tidak biasa.
"Kalau di rumah tidak mau!" Ralen pun menghentak kaki.
"Oke kita cari hotel!" putus Ipul akhirnya.
Sudahlah ketimbang jadi ribut lebih baik mengambil tindakan dengan menuruti apa yang Ralen inginkan, toh yang Ralen inginkan juga itu hal yang menyenangkan untuk dirinya disaat kepalanya juga sedang sangat pusing karena dibawa berkeliling di tempat hiburan dan harus menaiki berbagai macam wahana yang bahkan sempat membuatnya mual muntah parah.
"Hotelnya yang dekat," ujar Ralen dengan wajah merah menahan malu.
Dia juga tidak mengerti kenapa dia mendadak sangat ingin padahal biasanya tidak begitu, dia tidak pernah meminta duluan apalagi saat mereka sedang dalam perjalanan, sungguh sangat tidak mungkin tapi sekarang hal itu dia lakukan, tadi tangannya bahkan sangat gatal ingin bergerak dan menyentuh..
Ralen jadi malu sendiri dengan tingkahnya yang tidak biasa itu.
Apa ini keinginan bayi yang dia kandung? atau memang dia yang sudah jadi kecanduan karena suaminya?
__ADS_1
****