
Ini hari kedua dimana Ralen harus benar-benar sudah menyelesaikan tugasnya sebelum besok lantai 9 akan mulai ditempati.
"Len," panggilan dari orang yang tetiba saja masuk ke ruangan yang sedang Ralen bersihkan membuatnya berhenti.
"Iya Bu Dita," sahutnya begitu mendapati sosok sang supervisor sudah melangkahkan kakinya melewati pintu.
"Tinggal ruangan ini?" tanyanya dengan mata yang meneliti hasil pekerjaan anak buahnya.
"Sama pantry, terus sama tinggal ngelap-ngelap kaca sekali lagi."
"Lah masih banyak itu mah," kelakar Dita.
"Lumayan, hehe," Ralen mengangguk sambil terkekeh.
"Ini sudah jam 5 lewat loh," kata Bu Dita memperlihatkan jam yang menghias pergelangan tangannya.
"Ya nggak apa-apa Bu, paling juga lembur sampai selesai," jawab Ralen ringan tidak menunjukkan ekspresi ragu sebab harus bekerja lembur guna menyelesaikan tugasnya.
"Nggak ada yang bisa bantuin nggak apa?"
"Ya ampun Bu, dari kemarin juga kan Ralen bilang nggak apa-apa, Ralen bisa sendiri cuma lembur doang apa susahnya, lagian tanggung jawab Ralen juga kan," kata Ralen.
Ralen sedikit kesal dengan supervisor nya itu yang sejak kemarin terus saja mengatakan hal yang sama, padahal dirinya sudah mengatakan tidak apa-apa meski tidak ada yang bisa membantu, tapi supervisor dengan anak dua itu seperti sangat mencemaskan atau mungkin bahkan malah meragukan pekerjaannya?
"Ya sudah, ya sudah," ucap wanita yang mengenakan setelan kemeja serta rok di bawah lutut itu.
"Besok kamu nggak akan kerja sendiri kok disini, jadi nggak terlalu capek banget," tambah Bu Dita.
Mata Ralen berbinar senang.
Benar! dari pada terus meributkan karena tidak ada yang bisa membantunya membersihkan lantai 9 ini, pemberitahuan tentang akan ada yang menemaninya bekerja di lantai 9 justru lebih terdengar menyenangkan baginya, karena itu artinya dia mempunyai teman ngobrol juga bercerita.
Ah Ralen tidak sabar untuk berkenalan dengan orang itu.
"Anak baru juga kayak Ralen apa sudah lama Bu?" tanya Ralen.
"OB baru jadi nanti kamu nggak perlu repot nyiapin minuman buat anak bos atau tamunya," terang Bu Dita seraya bergerak memindai satu pintu yang ada di ruangan itu.
"Nih tempat apa?" tanyanya sambil tangannya bergerak menyentuh handel hendak membuka pintu kayu dengan ukiran di depannya.
"Ruang istirahat Bu," jelas Ralen karena sebelumnya dia sudah sempat memasuki ruangan itu dan membersihkannya, memang ada tempat tidur berukuran Quinn serta toilet di dalamnya, tentunya dengan perabotan seperti itu sudah jelas itu adalah tempat untuk merebahkan tubuh atau istirahat, kan?
"Lebih luas ya, daripada ruangan pemilik perusahaannya," cerocos Bu Dita yang memang sering memasuki ruangan sang CEO perusahaan itu ketika harus membahas para pekerja di bawah naungannya.
__ADS_1
"Biasanya seorang anak akan mendapat fasilitas yang lebih dari Ayahnya sih Bu," tutur Ralen mengedikkan bahunya, "yang sering Ralen dengar sih gitu," tambahnya.
"Ya iya sih orang nanti juga ini perusahaan bakal jatuh ke anaknya juga, lagian itu anaknya juga tadinya tinggal di luar negeri Len, tapi ya namanya orang tua kan ingin dekat dengan anaknya jadi ya gitu deh langsung di paksa tuh anak buat pulang dan ngurus perusahaan, lagian saya bingung wong Bapaknya kaya masih aja kerja di tempat orang, kalau saya mah udah saya nikmatin dengan senang hati kekayaan orang tua saya, rebahan di rumah saja duit ngalir terus," kelakar Bu Dita membayangkan bagaimana seandainya dia anak orang kaya.
"Kok Bu Dita tahu?" tanya Ralen mendengar cerita yang Bu Dita lontarkan.
"Yah Len, grup WhatsApp kantor tuh apa sih yang nggak mereka tahu dan omongin, sampai jam KW yang di pakai sama Pak Egi aja di bahas," seloroh Bu Dita mengingat pembahasan tentang jam tangan KW yang di pakai oleh salah satu staf senior di perusahaan.
"Wah jadi grupnya selalu menyuguhkan berita yang up to date ya Bu, hihi," Ralen cekikikan seraya tangannya kembali mengelap meja.
"Yah untuk gosip selalu up to date, tapi kalau soal gajian pada diem-diem aja, soalnya pada nggak mau gantian traktir, pada curang tuh anak-anak," sungut Bu Dita mengingat kelakuan sesama pekerja di perusahaan itu.
Saat tidak punya uang teriak minta di traktir nah giliran sudah gajian pada mingkem semua bahkan basa-basi aja tidak.
Ralen tersenyum saja mendengar keluhan sang supervisor yang sudah kembali keluar dari ruangan dengan interior teduh seolah memang di persiapkan agar siapapun yang berada di dalamnya bisa nyaman lalu beristirahat dan tanpa sadar akan memejamkan mata.
"Lah kenapa kita jadi ngegosip Len?" bingung Bu Dita.
"Ya mana Ralen tahu Bu, lah Ibu cerita ya Ralen dengerin," sahut Ralen tak mau disalahkan.
*****
"Kamu mau kemana? udah malam loh ini?" cecar sang ibu mengikuti anaknya yang sudah menenteng helm kesayangannya.
"Nanti hujan Pul."
Selalu saja hujan yang menjadi andalan wanita itu untuk menghentikan anaknya pergi.
"Cerah Bu, cerah, lihat di luar bintang sama bulan lagi pada fashion show," jawab Ipul asal.
Riska menggeleng kepalanya dengan jawaban yang keluar dari mulut sang anak.
"Ya sudah jangan lama-lama tapi," katanya akhirnya menyerah.
Entahlah dia selalu merasa khawatir apabila anaknya itu keluar malam dengan cuaca yang kadang tidak menentu, sedikit berlebihan memang hanya saja Ipul yang anak semata wayangnya benar-benar tempatnya mencurahkan kasih sayang dengan segenap jiwa.
"Iyaaa," kata Ipul seraya mendorong motor miliknya yang tadi sore sudah dia panaskan bahkan sudah dia cek kondisinya karena sudah terlalu lama tidak dia gunakan.
Ipul memacu kendaraannya membelah jalanan malam yang disinari oleh bulan dan bintang, dua obyek langit nan indah yang akan selalu menghiasi gelapnya malam kala hujan tidak turun.
Deru motornya yang tadi begitu terdengar perlahan suaranya mengecil lalu menghilang ketika sekarang sudah berada di salah satu gedung tinggi di pusat Jakarta itu.
Seorang security datang mendekat begitu melihat ada yang datang.
__ADS_1
Ipul membuka helm lalu tanpa basa-basi memberikannya pada sang security yang untungnya sudah mengenal dirinya sebab dulu sebelum memutuskan tinggal di Inggris Ipul memang sempat juga datang berkunjung di kantor sang Papa.
Sebenarnya dulu pun dia sempat memegang anak cabang perusahaan milik Papanya itu yang berada di Jakarta Selatan.
Kantor yang juga menjadi kenangannya saat menjalin hubungan dengan Hanna, kantor itu menjadi saksi betapa Hanna adalah seorang gadis yang tulus dengan dirinya karena selalu dengan senang hati meluangkan waktu mengantarkan makan siang untuknya di tengah kesibukannya itu.
Mungkin hal itulah yang membuat Ipul enggan untuk kembali menangani perusahaan Papanya yang di Jakarta Selatan, dia tidak mau mengingat apapun lagi tentang wanita yang sudah dia kecewakan dan sudah bahagia dengan keluarganya itu.
"Masih ada orang?" tanya Ipul tanpa melihat sang security dengan nama Dariludin.
"Masih ada petugas kebersihan Tuan muda," sahut pria itu sopan.
"Petugas kebersihan ya." Ipul berkata pelan dengan sebelah tangannya yang memainkan kunci motor.
"Saya masuk kalau begitu, mau lihat ruangan saya sudah siap ditempati atau tidak besok," kata Ipul akhirnya melemparkan kunci motor pada security yang harus bergerak cepat untuk menangkapnya.
Ralen sedang bersenandung menyanyikan lagu dan begitu menghayatinya meski terkadang lirik yang dia ucapkan banyak yang salah.
"Gimana kerjaan mau cepat selesai kalau kerja sambil nyanyi!"
Astaga!
Deg!
Jantung Ralen hampir saja lompat dari tempatnya mendengar suara yang tiba-tiba saja terdengar di belakangnya.
"Astaghfirullah!" seru Ralen memutar tubuhnya dan kedua matanya pun membelalak sempurna bahkan melebihi kapasitas.
"Lo?! nga ngapain disini?" tanya Ralen panik serta bingung melihat wajah pria yang malah tengah tersenyum mengejek.
"Gue mau lihat tempat kerja gue!" sahut Ipul.
"Oh jadi Lo OB barunya."
*******
__ADS_1