
Ralen mematut dirinya di depan kaca meja rias yang sudah buram, bahkan wajahnya tidak terlihat jelas di pantulan kaca itu.
"Ini kenapa bisa ketat banget sih?!" oceh Ralen merasakan baju yang membuat dadanya malah sangat menonjol.
Entah sebenarnya baju itu yang size nya kekecilan atau memang dadanya yang besar, seperti tidak sebanding dengan ukuran tubuhnya yang hanya memiliki berat 49 kilo saja.
"Tapi yang lainnya sih pas," tutur Ralen lagi memutar tubuhnya dan tidak ada hal aneh selain bagian dadanya itu.
Gaun dengan lengan model balon yang panjangnya sampai pergelangan tangan itu terlihat sangat cantik dengan warna yang kalem, dan juga cukup sopan hanya saja Ralen terganggu dengan ukuran dadanya sendiri membuatnya berdecakan menatap tubuh atasnya sendiri.
"Loh kamu mau kemana Len?" tanya sang ibu yang mendadak masuk ke dalam kamar dan melihat anaknya memakai pakaian yang sama sekali belum pernah dia lihat.
"Cantik banget anak ibu," tambahnya lagi saat menyadari wajah sang anak memakai makeup tipis tapi meski begitu membuat berbeda dari biasanya di tambah dengan gaun semata kaki yang membentuk tubuh sang anak.
Wanita berdaster batik itu mendekati putrinya yang malah tengah mengerucutkan bibirnya, cemberut.
"Lah kok malah cemberut?" tanya ibunya mendapati raut wajah Ralen yang malah tidak semangat padahal pakaian serta dandannya seharusnya diimbangi dengan wajah yang berseri.
"Lihat aja ini Bu," Ralen menunjukkan apa yang menjadi masalah baginya.
Sejenak ibunya diam lalu kemudian malah tertawa membuat Ralen kesal lalu bersungut-sungut.
"Malah di ketawain!" sentak Ralen lalu menjatuhkan tubuhnya di tepi tempat tidur yang keras.
"Ya abis mau gimana? udah pemberian Tuhan Len, nggak usah protes," tutur ibunya dengan tawa yang kini berubah menjadi senyum.
"Ini kamu mau kemana memangnya?" ibunya mengulang pertanyaan kembali yang memang belum Ralen jawab.
Rasanya ini pertama kalinya dia melihat anaknya itu berdandan di usianya yang ke 20 tahun, dulu Ralen hanya akan berdandan secantik ini saat ada acara tari-tarian untuk merayakan hari kemerdekaan, tentunya saat dia masih usia 12an tahun, masih sangat kecil dan kecantikannya pun belum terlihat jelas, tapi sekarang anaknya itu terlihat begitu cantik.
Meski dia tahu Ralen tidak pandai berdandan tapi rasanya penampilannya sekarang sangat membuatnya berbeda.
"Ada acara Bu," sahut Ralen singkat, sepertinya dia tidak berminat untuk memberitahukan ibunya kemana dan dengan siapa dia akan pergi, karena dia yakin sebentar lagi ibunya juga akan tahu sendiri ketika Ipul datang menjemput.
Iya, kedua orang tuanya bahkan Ardan sudah tahu kalau Ipul adalah atasannya di kantor, anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja lebih tepatnya tapi tetap saja pria itu juga pemilik perusahaan bukan?
"Assalamu'alaikum."
Dan suara salam dari luar membuat sang ibu mengintip sedangkan Ralen menarik napas lalu membenarkan pakaiannya.
Saat ini aliran darahnya mendadak mengalir dengan cepat serta jantung yang berdenyut membuatnya jadi gusar dan tak bisa diam, dia kalau sudah cemas akan bergerak ke sana kemari layaknya setrikaan yang sedang melicinkan pakaian, mondar-mandir maju mundur dengan harus lurus.
"Wa'alaikumsalam," sahut sang ibu berbarengan dengan suara Ayahnya yang kegiatan sehari-harinya memang berada di ruang tamu.
Memangnya apa yang mau dilakukan oleh pria yang sudah tidak bisa menggerakkan kakinya itu, hanya duduk dan sesekali membantu istrinya melipat cucian atau menyiangi sayuran yang akan mereka masak.
"Baru jam setengah tujuh, kok udah datang," sungut Ralen melihat jam di layar handphonenya.
Dari dalam kamar Ralen bisa mendengar kalau Ipul tengah meminta izin pada Ayah dan ibunya untuk membawanya.
"Pencitraan, padahal mah aslinya mesum," desis Ralen kala Ipul begitu sopan saat berbicara dengan orang tuanya.
Ralen kembali menatap wajahnya di cermin menaikkan kerah gaunnya yang berbentuk v, sungguh gaun itu seperti sengaja memamerkan aset berharganya itu.
__ADS_1
"Mau berangkat sekarang apa nggak usah?!" tanya Ralen ketus sambil menuju ruang depan dimana sekarang Ipul yang sedang duduk berhadapan dengan orang tuanya menatap dirinya tanpa berkedip.
Dari sorot matanya tampak jelas kalau pria itu tengah terpukau dengan wanita yang baru saja keluar, wanita yang sedang dia tunggu menunjukkan penampilan yang sangat berbeda dari yang biasa dia lihat, juga bagian yang menonjol turut serta menjadi perhatian pria yang dijuluki mesum oleh Ralen sejak tadi pagi.
Wanita yang biasanya berpenampilan tomboi dengan celana jeans robeknya pun membuat Ipul makin terpana.
Polesan di wajahnya tidak terlalu menor atau mencolok tapi tetap memperlihatkan kecantikan yang tidak pernah dia sangka sebelumnya.
Jujur, walau tanpa berdandan saja Ralen sudah cantik lalu bagaimana sekarang? bukankah akan bertambah cantik lagi.
Keduanya sudah berada di dalam mobil, tanpa suara tanpa perbincangan hanya terdengar deru mobil serta napas mereka yang mungkin mendominasi suasana di dalam kendaraan roda empat itu.
Di tengah keheningan itu Ipul memperlambat laju mobilnya lalu tak lama menepikannya membuat Ralen bertanya tanpa suara hanya melalui sorot mata saja.
Ipul seakan abai sebab pria itu kini mengulurkan tangannya ke kursi belakang mengambil paper bag dengan brand yang sama seperti yang tadi pagi diberikan pada Ralen.
"Tadi pagi Mama lupa kasih," katanya meletakkan paper bag ke atas pangkuan Ralen.
"Ini apa?" Ralen bersuara kebingungan.
"Tinggal buka terus lihat kan bisa."
Jawaban ketus dari pria di sampingnya membuat Ralen mendengus lalu melirik kesal dengan tangannya yang kemudian mulai membuka paper bag agar tahu apa yang ada di dalamnya.
Sebuah tas tangan kini berada di tangan Ralen, "buat?" tanyanya melihat sang pria yang berdecak.
Wajah sudah cantik tapi mulutnya masih saja bawel, batin Ipul.
"Di pakai, masa mau Lo buat tatakan duduk, tuh handphone Lo masukin," jawab Ipul judes dan galak.
Ralen pusing kenapa orang kaya seperti mereka tidak pernah berpikir lebih dulu sebelum melakukan sesuatu, membuang-buang uang seperti ini bukankah sangat mubazir?
Merasa gemas dengan Ralen Ipul pun mengambil tas tangan serta handphone milik wanita itu, lalu memasukkan handphone ke dalam tas tangan dan mengembalikannya sekaligus mengambil paper bag kemudian melemparkannya dengan kasar ke kursi belakang, masa bodo ketika Ralen melihat apa yang dia lakukan.
Kembali mobil melaju menembus jalanan ibukota yang masih saja ramai menuju hotel tempat pesta di adakan.
Mata Ralen menatap gedung tinggi ketika mobil sudah memasuki halaman hotel yang begitu luas menuju lobby dimana para tamu undangan sedang di periksa sebelum di persilahkan masuk ke dalam.
Jantung Ralen berdebar keras karena dia tahu di dalam sana hanya akan ada tamu-tamu kaya dengan segala kemewahan yang menempel di tubuhnya, sejenak dia merasa beruntung karena calon mertuanya memberikannya gaun dan juga tas tangan agar penampilannya tidak memalukan.
Calon mertua? Ralen merasa malu memikirkan itu tidak sengaja menganggap orang tua dari pria songong di sampingnya itu sebagai calon mertuanya.
"Mama sama Papa Lo datang?" tanya Ralen ketika berdiri di samping Ipul.
__ADS_1
Keduanya sedang menuju pintu masuk dengan kartu udangan di tangan Ipul, siap menunjukkan pada petugas yang memeriksa.
"Kalau mereka datang terus ngapain gue datang? gue disini wakilin mereka," sahut Ipul sambil menyerahkan kartu yang dia bawa.
Tidak perlu lama karena mereka langsung di persilahkan untuk masuk.
"Jangan jauh-jauh," katanya ketika Ralen malah beberapa langkah di belakangnya, entah apa yang wanita itu perhatikan hingga tertinggal.
Ralen pun setengah berlari untuk mensejajarkan diri dengan pria yang selalu akan tampil sempurna dengan setelan formalnya.
"Jangan minum itu, jangan minum itu itu dan itu," kata Ipul memperingatkan ketika melewati deretan meja dengan berbagai jenis warna minuman.
"Terus gue minum apa?" tanya Ralen kebingungan, hampir semua minuman yang dia lihat di larang oleh Ipul.
"Itu, minum yang di pojokan sana," kata Ipul menunjuk dengan dagunya.
"Pesta ulang tahun macam apa yang menyediakan minuman-minuman itu," gumam Ipul menggelengkan kepala.
"Gue ke sana sebentar," katanya pada wanita yang kini menunjukkan wajah melongo melihat banyaknya wanita berpakaian seksi serta terbuka.
"Iya," sahut Ralen mengangguk.
"Jangan kemana-mana," kata Ipul sekali lagi sebelum pergi.
"Iyaaa, gue bukan anak kecil," cerocos Ralen.
__ADS_1
Setelahnya Ralen sudah tidak melihat Ipul lagi, mungkin pria itu menemui temannya atau si pemilik acara, entahlah Ralen tak tahu karena yang sekarang menarik perhatiannya adalah doa harus mengambil minuman karena mulai merasa haus.
*******