
Daniya bangun tidur dengan wajah yang berseri setelah semalam dia bisa tidur dengan sangat nyenyak karena terbantu oleh perasaannya yang tengah membaik.
Tidak, bukan hanya membaik namun sepertinya dia sedang mendapatkan kegembiraan yang entah apa, hanya dia dan tuhan sajalah yang tahu.
Wanita itu meregangkan otot-otot tubuhnya dengan bibir yang menyunggingkan senyum luar biasa lebar.
"Sepertinya nasib baik sudah mulai berpihak padamu Dani." membatin dengan kesenangan yang luar biasa, tidak ada satupun yang bisa menghentikan senyum yang tengah dia pamerkan.
Tidak tahu sebenarnya Daniya ini jenis makhluk macam apa, terkadang perilakunya sangat tak masuk akal.
Wanita itu bergerak untuk membuka jendela yang sekarang memperlihatkan pemandangan yang sangat menjengkelkan baginya.
"Lihat saja seberapa besar pengorbananku sekarang karena setiap hari harus melihat orang yang sedang membakar sampah, bahkan asapnya sudah membuat napas ku tidak benar," sungutnya menatap jenuh pada kumpulan asap dari hasil pembakaran daun kering di samping kontrakan.
Dia ini sebenarnya sangat muak tapi dia harus memaksakan diri untuk bertahan.
"Tidak akan lama Dani, sebentar lagi Adik tercintamu akan di tendang oleh suaminya, dan kamu akan menggantikan posisi." Daniya terdiam sebentar memikirkan kata yang benar.
"Lebih tepatnya mengambil kembali apa yang semestinya menjadi milikku, Adik kurang ajar itu yang telah merebut semua milikku!" dengusnya dengan tatapan nyalang dan penuh dendam layaknya api pembakaran yang tengah menyala dipandanganya, bahkan kobaran api itu terlihat memantul di kedua matanya yang sarat akan keculasan.
"Kamu sudah bangun Dani?"
Suara yang sontak membuat Daniya memutar tubuhnya lalu tersenyum sumringah menyambut kedatangan wanita yang sudah berhasil dia hasut dan sekarang sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Apapun yang dia ingin dan katakan selalu di dengar oleh wanita itu, meskipun semua yang dia minta belum bisa terwujud tapi dia tetap senang karena akhirnya ibunya berpihak penuh padanya.
Daniya mengangguk, "nanti siang Dani mau bertemu teman ya Bu?" entah meminta ijin atau hanya memberitahu saja yang jelas saat dia berkata semua orang harus mengangguk setuju.
Sang ibu pun mengangguk tanpa banyak bertanya, menurutnya memang akan lebih jika Daniya banyak keluar rumah melakukan kegiatan atau bertemu dengan teman-temannya agar tidak selalu memikirkan hal-hal aneh termasuk menyakiti dirinya sendiri seperti yang sudah pernah anaknya itu lakukan.
Jujur saja dia akan sangat sedih dan benar-benar bersalah andai saat itu Daniya tidak selamat, dia akan terus menyalahkan dirinya sendiri maka dari itu Arni sudah berjanji untuk memberikan kebahagiaan bagi sang anak yang sudah lama dia rindukan.
"Ya sudah sekarang lebih baik mandi, ibu sudah buatkan nasi goreng untuk sarapan," kata Arni seraya bergerak untuk merapikan tempat tidur yang berantakan.
Dulu saat kamar ini ditempati Ralen dia tidak pernah sekalipun menyentuh tempat tidur, tidak pernah merapikannya karena Ralen akan dengan cepat membereskan tempat tidurnya setelah bangun.
Tapi sekarang lihat saja apa yang dia harus lakukan setiap hari?
Membereskan bekas tidur anak pertama yang dia gadang-gadang sangat menderita dan keinginannya harus dipenuhi, mengepel lantai kamar bahkan menyiapkan air panas saat Daniya mandi terlalu malam.
Dia jelas tidak akan bisa mengeluh pada siapapun termasuk Arda, karena anak laki-lakinya itu akan langsung mengomel panjang lebar dan berakhir memintanya untuk tidak lagi mau mengurus Daniya.
"Dia itu sudah tua, bukan anak kecil yang apa-apa masih bergantung sama orang tuanya, tangannya itu tidak lumpuh! suruh saja dia mengerjakan apa yang seharusnya dia kerjakan." itu yang tempo hari Arda katakan saat tak sengaja ibunya mengeluh tangannya sakit.
Daniya mengambil handuk lalu melenggang ke belakang masuk ke kamar mandi dengan bibir yang masih terus tersenyum bahkan sesekali ada suara nyanyian yang terdengar dari dalam kamar mandi.
Arda mengernyit curiga, "tuh orang tumben banget nyanyi-nyanyi, biasanya kan ngedumel," gumam Arda yang tak sengaja mendengar suara senandung dari dalam kamar mandi.
Arda kembali ke ruang depan, dia sudah memakai seragam sekolah dan sebentar lagi akan berangkat, namun sebelum berangkat dia akan sarapan lebih dulu agar tidak lapar nantinya karena dia akan pulang sore untuk melakukan kerja kelompok lebih dulu.
Saat sedang asik menyantap nasi goreng buatan sang ibu tak lama Daniya keluar dari kamar dan ikut bergabung dengan ketiga orang yang sudah lebih dulu sarapan.
Ibunya pun dengan sigap mengambilkan nasi untuk Daniya dan itu membuat Arda memutar bola mata tak suka melihat ibunya seolah sangat meratukan Daniya.
Dalam hati Arda mengumpat mengatakan apa saja terlebih lagi saat Daniya sok bersikap ramah dan menunjukkan wajah yang sumringah membuat Arda makin curiga.
Dia habis melakukan apa?
Batin Arda bertanya-tanya namun dia tidak akan mungkin menemukan jawabannya hanya dengan menatap Daniya saja.
__ADS_1
****
Mama Riska bergerak tak bisa diam, wajahnya terlihat kusut dengan kelopak mata yang sedikit menghitam dan mata yang juga merah menandakan dia tidak tidur semalaman.
Bagaimana dia bisa tidur ketika menantunya ternyata tidak juga pulang bahkan saat hari menjelang siang membuat dia tak tahan dan rasanya ingin marah.
Dia sudah meminta supir untuk mencari sang menantu dimana saja juga mendatangi kampus tempat menantunya kuliah, akan tetapi dia tidak mendapatkan apapun, menantunya tidak masuk kuliah sejak kemarin.
"Ipul!" Mama Riska kembali mengubungi sang anak.
"Ipul pulang sekarang!" katanya dengan cepat padahal sang Mama baru saja menyebut namanya belum mengatakan apapun lagi tapi dia sudah tahu harus bagaimana.
Pria itu langsung mematikan handphonenya.
Dia sudah tahu istrinya yang tidak juga pulang dan juga tidak ada di kampus, tentu saja itu membuatnya jadi makin panik setelah kemarin terus berusaha untuk bisa tenang.
Ipul menyerahkan semua pekerjaan pada Om Damar.
Om Damar tentu saja tidak akan menolak setelah dia tahu apa yang sedang terjadi, istri dari tuan mudanya tidak pulang dari kemarin membuat dia juga ikut khawatir.
Ipul berjalan cepat di lobby hotel hendak menuju mobil yang memang sudah menunggunya.
"Hanna." terhenyak kaget saat dia malah melihat Hanna yang sedang berdiri di pintu kaca dengan membawa tas.
"Mas." Hanna menolah lalu sedikit memberikan senyum.
"Kamu mau kemana?"
Saat istrinya hilang dia masih sempat-sempatnya menanyakan wanita lain? sebaiknya kita lihat apa yang sebentar lagi akan dilakukan oleh Saipul Gunawan.
"Kembali ke Jakarta."
"Ah iya," baru ingat kalau kemarin Hanna sudah mengatakannya.
Semalam dia tidur sangat nyenyak, tidur yang sangat berkualitas setelah selama ini dia tidur dalam kegelisahan.
Dia tidak mengerti apa karena dia yang bertemu dengan mantan tunangannya dan bercerita semua yang dia rasakan atau memang Tuhan sudah mengembalikan ketenangan dirinya yang selama ini terenggut karena suami yang kerap kali berselingkuh bahkan melakukan kekerasan terhadap dirinya, yang jelas dia benar-benar menikmati tidurnya tadi malam.
"Aku sedang memesan ulang tiket.."
"Kamu bisa ikut denganku." sambar Ipul cepat.
"Maksudnya?" wanita yang selalu memakai dress sebatas betis itupun bertanya bingung.
"Aku juga akan kembali ke Jakarta, jadi kamu bisa ikut bersamaku." jelas Ipul tentu dia tidak perlu memesan tiket atau antri masuk ke dalam pesawat.
"Apa tidak merepotkan?" Hanna terlihat tidak enak mau menolak tapi dia memang sudah harus kembali ke Jakarta karena malam nanti dia harus kembali bekerja, tapi kalau langsung menerima tawaran itu akan sangat terlihat memalukan baginya.
Mereka ini dua orang yang pernah bersama akan terasa aneh dan canggung ketika harus berada di dalam ruangan yang sama meskipun kemarin pun mereka sudah melewatkan waktu berjam-jam untuk mengobrol.
"Ayo," ajak Ipul yang mulai tidak bisa lagi menunggu.
Hanna termangu saat melihat Ipul sudah membukakan pintu untuknya hingga mau tak mau diapun masuk ke dalam mobil dan dia bergerak menempel pada pintu mobil kala Ipul masuk dan duduk di sampingnya, tadi dia mengira pria itu akan duduk di depan bersama dengan sopir tapi ternyata dengan tenangnya duduk di kursi belakang bersamanya.
"Bagaimana kabar Mama dan Papa?"
Hanna memulai percakapan, kemarin dia belum sempat menanyakan keadaan mantan calon mertuanya itu, dia sudah terbiasa memanggil orang tua mantan tunangannya itu dengan sebutan Mama dan Papa karena mereka sendiri lah yang meminta.
"Mama baik sedangkan Papa.." Ipul terdiam sesaat membuat Hanna menunggu.
__ADS_1
"Papa sudah meninggal."
Hanna langsung menutup mulut dia tidak menyangka dengan apa yang baru saja dia dengar, meski tenang dia bisa melihat kesedihan yang ada di kedua mata pria di sampingnya.
"Kapan?" bibir Hanna terasa kaku bahkan bergerak sangat lambat.
"Beberapa bulan yang lalu," jawab pria yang membenarkan duduknya, entah kenapa dia merasa tidak nyaman.
"Aku turut berduka, Papa orang baik."
Ipul mengatupkan bibirnya seraya mengangguk, Papanya memang orang baik dan dia sangat yakin sekarang Papanya sudah tenang.
"Bagaimana dengan Zara?"
Hanna bertanya ragu, tampak sekali dari caranya yang menatap dalam pada pria di sampingnya yang memilih untuk tetap melihat ke arah depan.
Hanna masih ingat dengan jelas apa yang pernah terjadi dulu, wanita bernama Zara yang dulu dicintai oleh pria di sampingnya, dia tidak tahu hati sang mantannya ini apakah masih sama seperti yang dulu atau sudah berubah.
"Diapun baik sudah memiliki satu orang anak dengan Abang."
Mulut Hanna membulat lalu memberikan senyum, "mereka pasti sangat bahagia sekarang," suara Hanna terdengar lirih.
"Anaknya laki-laki," kata Ipul tanpa di tanya.
Hanna mencelos sedih, membicarakan tentang anak membuat dia ingin menangis, anaknya yang masih sangat pergi malah sudah lebih dulu meninggalkan dirinya hingga dia tidak sadar sudah meneteskan air mata.
Ipul menoleh lalu dengan refleks entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini sampai dia dengan tenangnya mengulurkan tangan untuk menyeka air mata yang ada di pipi sang wanita.
"Setelah ini kamu akan mendapatkan kebahagiaan mu Hanna, aku yakin kamu akan menemukan pria yang akan dengan sungguh-sungguh memberikan kamu kebahagiaan."
"Tapi aku tidak berniat untuk menikah lagi," sahut Hanna cepat lalu membuang muka ke samping.
Ipul melihat trauma yang mendalam di sepasang netra Hanna, wanita manapun tentu akan mengalami trauma saat pernikahan yang diharapkan membawa kebahagiaan malah memberikan duka bahkan menyakiti fisik serta batin.
__ADS_1
Ipul menghela napas berat lalu kembali menatap pada jalanan yang sedang mereka lalui membiarkan wanita di sampingnya larut dalam pikirannya sendiri, dia tidak ingin mengganggu meski hanya sekedar sepatah kata saja.
****