
Ralen kembali tersentak bangun di tengah malam dengan napas yang terengah dan keringat yang membasahi keningnya, untuk kali kedua dia bangun di tengah malam setelah mengalami mimpi yang sama seperti kemarin malam.
Mimpi itu dimana dia melihat suaminya dengan wanita yang mempunyai wajah yang sama dengannya, mimpi itu kembali berulang malam ini, sungguh membuat Ralen membuka mata dan menatap langit-langit kamar dengan raut wajah yang tidak mengerti.
"Kenapa terasa sangat nyata," gumam Ralen menyentuh dadanya yang berdebar hebat ketika dia harus membayangkan kembali apa yang dia lihat dalam mimpinya barusan.
"Kenapa dia mengatakan aku sudah merebut semua yang menjadi miliknya, dia juga bilang akulah yang sudah membuat dia menderita," Ralen kembali mengingat apa yang wanita itu katakan dalam mimpinya.
Sekarang semua tubuhnya menjadi sangat dingin tak terkendali ketika bayangan wanita itu yang tengah memeluk suaminya malah kembali hadir dalam ingatan dan seolah itu adalah sebuah kenyataan.
Ralen terdiam memikirkan sudah dua kali dia bermimpi hal yang sama menjadikan dia takut untuk tidur kembali, takut kalau mimpi itu akan kembali datang saat dia memejamkan mata.
Wanita itu akhirnya mengambil bingkai photo di atas meja yang menampilkan photo suaminya yang diambil saat pria itu masih berusia belasan tahun.
"Kamu tidak mungkin jahat sama aku kan?" sekarang dia memilih untuk berbicara pada photo yang bahkan hanya bisa menatapnya saja tanpa bisa menjawab pertanyaannya.
Ralen kemudian memicingkan mata menatap sorot mata sang pria yang seolah sedang membalas tatapannya, "kalau sampai kamu berani macam-macam dengan wanita lain, seumur hidup aku tidak akan memaafkan kamu! dengar itu baik-baik ya!" ancam Ralen sambil jarinya menunjuk tepat pada hidung photo sang suami.
Ancaman yang terlontar begitu saja dari bibirnya tapi begitu membekas dalam hati siapapun yang akan mendengarnya, sungguh dia tidak sengaja mengatakan hal seperti itu bibirnya refleks mengatakan itu hanya untuk memberi peringatan pada pria yang jelas tidak akan mendengar ataupun mengetahui ancaman yang baru saja dia lontarkan.
Ralen pun benar-benar tidak mau tidur kembali, matanya terus terjaga sampai pagi menjelang dan matahari mulai menampakkan sinarnya, wanita itu tidak peduli dengan kelopak matanya menjadi gelap karena kurang tidur, ini lebih baik ketimbang dia harus kembali bermimpi tentang suaminya yang berpelukan dengan wanita lain, sungguh sangat menyesakkan dada dan membuat dia menangis tanpa sadar.
Ralen mengusap kedua matanya agar air mata yang sudah menggenang tidak turun membasahi kedua pipinya, dia turun dari tempat tidur lalu menyingkap gorden berwarna peach agar sinar matahari pagi bisa masuk ke dalam kamar yang selama beberapa hari ini begitu sepi dan kelabu tanpa kehadiran seorang pria yang saat ini Ralen rindukan.
Sebenarnya setelah mimpi semalam membuat Ralen malas untuk pergi ke kampus, dia menjadi tidak semangat ketika harus membagi pikirannya antara kuliah dengan pertanyaan tentang wanita dalam mimpi, tapi dia tidak mungkin bolos kuliah saat dia baru saja masuk, sampai akhirnya diapun memaksakan dirinya untuk masuk kuliah.
******
Angga menatap rumah mewah yang dulu sering dia datangi saat masih berhubungan dengan Daniya, wanita yang memilih pergi darinya meninggalkan luka yang membekas tapi saat pertemuannya dengan Ralen perlahan luka itu menjadi samar hingga akhirnya benar-benar tak lagi membekas di dalam hatinya.
Apa itu artinya Ralen sudah menjadi pengobat bagi luka hatinya yang ditinggalkan Daniya? Angga tahu dengan jelas bagaimana perasaan hatinya saat ini.
Pria itu menekan bel di samping pintu kayu besar untuk memberitahukan pada si penghuni rumah bahwa ada tamu yang datang.
Tidak perlu menekan berulang kali karena sekarang pintu sudah akan di buka oleh seseorang yang Angga tahu pastilah salah seorang pelayan di rumah itu.
"Tuan Angga, silahkan masuk," ucap pelayan yang sudah sangat mengenal pada tamu yang datang di jam 9 pagi ini, masih terbilang cukup pagi untuk bertamu ke rumah orang bukan? tapi sepertinya pelayan rumah itu tidak keberatan dengan tamu yang datang saat ini.
__ADS_1
Angga melangkah masuk, terakhir kali dia menginjakkan kaki di rumah ini ketika Papanya Daniya meninggal itupun dia berharap akan bertemu dengan Daniya, tapi nyatanya wanita itu tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali padahal pria yang meninggal itu adalah Papanya sendiri, seorang pria yang dengan senang hati memberikan apapun yang Daniya inginkan tapi saat kematiannya anak yang pria itu begitu banggakan malah tidak datang untuk memberikan penghormatan terakhir.
"Tante Dayna sedang apa?" tanya Angga pada sang pelayan yang mengekorinya.
"Masih belum keluar dari kamarnya tuan, mungkin sebentar lagi."
"Siapa yang datang Rat?"
Baru saja dibicarakan orangnya sudah muncul, membuat Angga dan si pelayan kompak menatap pada tangga paling atas dimana wanita yang bertanya pada pelayannya itu berada.
"Tuan Angga, nyonya," jawab pelayan bernama Ratna yang gegas berlari ke arah tangga untuk membantu sang nyonya yang jalannya sudah memakai tongkat itu.
Wanita yang menjadi sakit-sakitan ketika suaminya meninggal itu berjalan tertatih guna menyambut kedatangan pria yang seharusnya menjadi menantunya itu.
Angga datang menyambut Tante Dayna ketika wanita itu sudah sampai di anak tangga paling bawah, mengambil alih genggaman tangannya dari si pelayan lalu menuntunnya menuju sofa di ruangan besar itu.
"Apa kabar mu? Tante harap selalu baik dengan segala apapun yang sudah terjadi," tutur wanita yang sudah duduk di atas sofa berwarna cokelat keemasan.
"Luar biasa baik setelah kecewa yang Daniya berikan," sahut Angga terus terang membuat Dayna mengangguk tanpa merasa tersinggung sedikitpun.
Dia memang harus sadar bahwa apa yang terjadi adalah kesalahan Daniya, tidak mungkin dia terus membela Daniya dengan kesalahan yang sudah dia perbuat.
__ADS_1
Angga anak dari temannya dan saat Daniya meninggalkannya jelas yang kecewa bukan hanya Angga seorang tapi juga kedua orang tuanya yang menjadi sahabatnya sejak dulu, bahkan dia tidak pernah mau memberitahukan keberadaan Daniya kepada Angga karena tidak mau anak muda itu terus mengharpkan Daniya, tidak mau anak dari temannya itu kecewa lebih dalam lagi ketika tahu kalau di negara lain Daniya malah menyukai pria lain.
"Kamu datang kesini tentu ada yang ingin kamu bicarakan," tebak Tante Dayna mengetahui apa yang ada di dalam hati Angga.
"Tante selalu bisa mengetahui apa yang Angga inginkan," ujar Angga dengan sorot mata yang sangat puas karena itu artinya dia tidak perlu lagi berbasa-basi untuk menanyakan sesuatu yang sangat ingin dia ketahui.
"Apa benar Daniya bukan anak.."
"Benar," sahut Tante Dayna cepat tanpa menunggu Angga menyelesaikan pertanyaannya.
"Orang tuamu sudah tahu jadi buat apa menyembunyikannya," papar Tante Dayna dengan raut wajah penuh keyakinan saat mengatakan tentang siapa Daniya sebenarnya.
Angga menghela napas, sebenarnya ini sudah dia ketahui sejak lama hanya saja dia tidak mau menanyakan hal ini langsung kepada Tante Dayna maupun Daniya, sebab dia merasa itu bukanlah hal yang penting ketika dia sudah sangat mencintai Daniya, dia akan menerima wanita itu bagaimanapun asal-usulnya.
Pembicaraan demi pembicaraan terus terjadi antara Angga dan wanita yang sangat dia hormati itu sampai akhirnya Angga mencoba mencari tahu kebenaran lain tentang Daniya.
"Apa Daniya punya saudara kembar?"
*********
__ADS_1