Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Diam Kamu!


__ADS_3

Kaki Ralen sebenarnya sangat berat untuk melangkah tapi kemudian saat dia sadar bahwa dia ini seorang wanita galak yang tidak pernah menunjukkan seperti apa rapuh hatinya ketika berada dalam situasi yang sulit bahkan menyakitkan sekalipun seperti ini.


Bayangkan saja mana ada seorang wanita yang bisa menyembunyikan kemarahan sekaligus kesedihannya di saat kedua matanya menyaksikan sendiri suami yang tadi pagi bahkan masih sempat meminta kehangatan darinya sudah bersama dengan wanita lain dan tangan wanita itu menggandeng lengan pria yang wajahnya terlihat panik saat menyadari bahwa di tempat itu sudah berdiri istrinya dengan kedua mata yang menatap datar tapi dia tahu ada rasa kecewa yang terselip.


Seorang Ralen tidak akan mungkin menunjukkan lemahnya dia depan orang lain kan? rasanya mustahil mengingat seperti apa dia menjalani hidupnya selama ini.


"Ingat kalau pasangan mu selingkuh jangan melakukan tindakan bodoh dengan menangisinya apalagi meratap di hadapannya, yang harus kamu lakukan adalah potong gedung pencakar langitnya lalu tinggalkan!" sekarang yang ada di pikiran Ralen adalah perkataan yang sempat diucapkan oleh Antika dulu saat dia sama sekali belum mengenal Saipul Gunawan apalagi menikah dengannya.


Ralen menarik napas lalu mengatur langkahnya untuk mendekat pada pria yang sedang berusaha melepaskan gandengan tangan dari wanita yang memiliki wajah mirip dengannya.


"Tuan muda," Damar memanggil tuan mudanya yang dia tahu sekarang sedang sangat panik.


"Mas Sai.." suara Ralen terdengar sebegitu manjanya sengaja untuk menarik perhatian si wanita yang tadi bertabrakan dengannya.


"Siapa dia? teman kamu? kenapa tidak di kenalkan dengan istrimu?" Ralen menepis tangan Daniya dengan wajah judes lalu mengumbar senyum yang sarat akan ejekan serta meremehkan wanita yang menurutnya sangat tidak sopan karena memegang suami orang.


Daniya melihat pada pria yang menunjukkan wajah tidak biasa, "jadi dia istrimu, Awan?" Daniya memastikan pada sang pria dengan kedua tangan yang terkepal.


Rasa marah dan yang lainnya pun bercampur menjadi satu di dalam hati serta pikirannya dengan mata yang menatap tegang dan tak suka terhadap wanita di hadapannya yang pengakuannya sama sekali tidak ingin dia dengar.


Ralen memandang tak suka ketika mendengar wanita di depannya itu memanggil nama suaminya dengan nama belakangnya, nama panggilan yang berbeda dengan yang sering Ralen dengar.


Dalam hati Ralen berdecih sambil matanya memberikan tatapan yang begitu menusuk pada sang suami yang menjadi semakin salah tingkah, pria itu sangat tahu bahwa sekarang dia sedang ada dalam bahaya.


"Nggak mau kenalin aku kah Mas Sai?" tuntut Ralen dengan semakin sengaja memanasi wanita yang makin tidak suka mendengar juga melihat dirinya yang sekarang memeluk lengan si pria yang tadi Daniya pegang.


"Ah iya," Ipul mengusap ujung alisnya berpura-pura menjadi pria bodoh saja agar tidak memancing singa betina nya sudah menunjukkan sinyal peperangan terhadap dirinya dan juga wanita yang tadi dia kira istrinya.


Untungnya dia tidak langsung mendekap Daniya, kalau itu sampai kejadian percayalah kalau dia sudah tidak akan bisa diselamatkan oleh siapapun termasuk asistennya yang sejak tadi malah menjadi penonton sambil sesekali sibuk menjawab telepon yang masuk.


"Daniya kenalkan ini Jelita, istriku, beberapa hari lalu aku sudah cerita," ucap Ipul pada wanita yang memandang Ralen dari atas lalu turun ke bawah beberapa kali lalu tersenyum sinis.


"Sayang kenalkan dia Daniya, semalam aku sudah cerita tent.."


"Oh benar, Mas Sai sudah cerita tentang Mbak Daniya yang sampai menyusul kamu kesini kan?" Ralen berkata dengan senyum dan ekspresi mengejek, sekarang dia jadi sangat suka menyela omongan suaminya.


"Kenalkan saya Ralen, istri dari mantan kekasih." Ralen terdiam sejenak, "ah maaf seharusnya bukan mantan kekasih karena kalian tidak pernah jadian," ejek Ralen dengan mata yang menatap sang wanita.


"Jelita," Ipul mencoba mengingatkan untuk tidak berkata yang mungkin saja akan membuat Daniya tersinggung.


Ralen melihat pada sang suami, "kenapa? benar kan kalian tidak pernah jadian."


"Ternyata aku masih menjadi bayang-bayang untukmu ya, Awan?" Daniya menginterupsi ucapan Ralen yang begitu menusuk hatinya.

__ADS_1


Dia sangat tidak suka mendengar semua yang keluar dari mulut istri dari pria yang dia suka, terlebih lagi dengan frontal mengejek dirinya, menyadarkan dia bahwa antara dia dan si pria memang tidak pernah ada hubungan selain pertemanan.


Ralen dan Ipul menatap bersamaan ketika mendengar ucapan Daniya, ucapan yang sarat akan makna itu masih belum di mengerti oleh keduanya.


"Kamu bahkan mencari dan menikahi seorang wanita yang mirip denganku, lihat wajahnya dan juga.." Daniya melihat potongan rambut Ralen yang sama seperti dirinya, Daniya pun tersenyum menang ketika Ralen mendelikkan mata kepadanya.


"Jelas sekarang siapa yang masih berkuasa dalam hatimu, hanya saja mungkin wanita ini yang terlalu percaya diri begitu yakin kalau kamu mencintainya dengan tulus padahal kenyataannya kamu hanya sedang mencari sosok yang sama denganku," celoteh Daniya yang sangat puas ketika mendapati wanita yang tadi begitu sombong terdiam membisu mendengar setiap pernyataan yang dia lontarkan.


"Aku sudah jelaskan sama kamu kan sayang, semalam kita sudah bicara jadi jangan dengarkan omong kosong apapun dan dari siapapun, lebih baik kita ke kamar sekarang," Ipul langsung berbicara agar istrinya tidak makin terpancing dengan segala ucapan dari Daniya yang dia tahu hanya ingin membuat Ralen marah dan kembali tidak percaya pada dirinya, padahal yang dikatakan oleh Daniya sekarang sudah menjadi bahan pertengkaran dia dan Ralen tadi malam.


"Kamu dengar sendiri kan? bahkan kami sudah membahas hal ini semalam, suamiku mengatakan hanya ada aku di mata dan hatinya, bahkan aku satu-satunya wanita yang dia sentuh dengan sangat liar setiap harinya," desis Ralen tak mau kalah.


Menurutnya dia sebagai wanita yang dinikahi yang lebih terhormat, kedudukannya jauh lebih tinggi dan tidak bisa dibandingkan dengan wanita yang bahkan hanya masa lalu dari suaminya saja, masa lalu pun rasanya tidak pantas di sebut begitu sebab mereka memang tidak pernah menjalin kasih.


Daniya mencebikkan bibirnya, "sepertinya aku sudah kehilangan banyak waktu sekarang," papar Daniya lalu beralih menatap pada pria yang langsung memegangi tangan wanita di sampingnya, membuat Daniya kedua mata Daniya jadi memanas.


"Aku datang hanya untuk memberitahumu kalau aku akan ke Jakarta ada hal penting yang harus aku urus, jadi aku akan menunggumu di sana," ucap Daniya tersenyum pada sang pria yang sama sekali tidak membalas senyumnya.


Daniya pun segera beranjak namun ketika baru beberapa langkah malah ada suara yang menghentikan dirinya.


"Tunggu!" seru Ralen.


Daniya pun berhenti lalu memutar tubuhnya.


"Ayo Mas Sai kita kembali ke kamar," ajak Ralen lalu menarik lengan suaminya yang wajahnya langsung terbengong tak percaya.


"Ini yang seharusnya terjadi kan? mana boleh dia pergi lebih dulu, kan dia pelakor harusnya aku yang pergi duluan dari dia supaya terlihat lebih elegant! enak saja dia itu bertingkah seperti seorang pemenang yang meninggalkan lawannya," sungut Ralen masuk ke dalam lift.


Apa ini? jadi Ralen menghentikan Daniya karena tidak mau wanita itu terlihat seperti seorang pemenang? sungguh Ipul tidak pernah menyangka kalau dia menikahi seorang wanita yang tidak hanya galak tapi juga tingkahnya kadang tidak pernah terpikirkan oleh siapapun, pemikirannya itu terlalu mind blowing bagi dirinya dan juga Damar atau siapapun yang menyaksikan segala perbuatannya.


Di dalam lift ketegangan makin jelas terasa ketika Ralen yang tadi menggandeng lengan Ipul langsung menghempaskan tangan pria itu dengan kencang lalu berdiri menjauh mengambil jarak pada suaminya itu, mereka tidak hanya berdua tapi ada satu orang lagi yang menjadi saksi perang dingin antara pasangan suami istri di dalam lift yang sedang bergerak.



Dia adalah Damar yang menatap ke arah depan tanpa ekspresi sedangkan dua orang yang mungkin sebentar lagi akan terlihat perdebatan itu berada di samping kiri kanannya, Damar seolah di jadikan tembok pertahanan bagi Ralen yang sama sekali tidak ingin berdekatan dengan pria yang berulang kali mencoba mendekat padanya tapi berulang kali juga Ralen berpindah posisi menjauh.


Keduanya bergerak tak bisa diam, saat Ipul mendekat Ralen malah menjauh berpindah posisi begitu yang terjadi seterusnya membuat Damar pusing dengan kelakuan dua orang itu.


"Je.."



"Diam kamu!" seru Ralen menunjuk pria yang akan menyebut namanya.

__ADS_1



Seruan yang penuh dengan peringatan agar pria itu diam dan tidak mengeluarkan suaranya saat dia sedang berada dalam emosi membara.



"Di depan Daniya mesra banget giliran nggak ada berubah jadi singa lagi," dengus Ipul yang bisa di dengar oleh telinga Ralen dan juga Damar.



"Tuan muda malah mencari masalah," gumam Damar menggelengkan kepala.



Dia yang sudah berpengalaman tentunya sudah sangat hafal apa yang menjadi pantangan seorang pria apabila pasangannya sedang marah, di larang menyebutkan nama wanita lain apalagi wanita itulah yang menjadi sumber pertengkaran mereka.



"Masih saja kamu menyebut nama wanita itu Saipul Gunawan!" sentak Ralen menjewer telinga suaminya dengan sangat keras sampai tubuh pria itu membungkuk mengikuti tarikan tangan dari istrinya.



"Aduh Jelita, sakit sayang nanti telinga suamimu copot," oceh Ipul meringis sakit dengan perbuatan dari sang istri yang tanpa belas kasihan menarik telinganya.



"Sengaja biar copot sekalian!"


Ralen makin menjadi saja bahkan terus menarik telinga suaminya ketika keluar dari dalam lift, dan sepanjang lorong menuju kamar mereka.


Sedangkan Damar menghentikan langkah dan menghela napas lalu mengusap sebagian wajahnya menyaksikan pasangan muda itu melakukan tindakan yang luar biasa baginya.



Rasanya baru kali ini dia melihat seorang pemimpin, pemilik perusahaan dengan cabang yang tidak sedikit malah terlihat tidak berdaya ketika berhadapan dengan seorang wanita, sekarang kedua mata Damar bahkan melihat dengan jelas tubuh tinggi atasannya terus membungkuk karena telinga yang terus di tarik sampai masuk ke dalam kamar.



"Apa dia benar-benar keturunan dari Tuan Irman dan Nyonya Riska?" sekarang Damar malah jadi ragu dengan Tuan mudanya sendiri, dia juga tahu kalau Tuan mudanya itu memang sangat konyol tapi kalau sampai seperti ini bukankah sangat menggelikan.



\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2