Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Minum Obaaat!


__ADS_3

Sudah berhari-hari Ipul merasakan tubuhnya tidak enak, mual tak kunjung sembuh serta tubuhnya yang terasa remuk terutama di bagian pinggang, keluhan demi keluhan sudah dia utarakan dari bibirnya yang kadang mengoceh tak jelas membuat Mama dan istrinya malah jadi gemas dengan tingkahnya itu.


"Kan Mama udah bilang dari kemarin tuh harusnya kamu berobat atau Mam panggilkan Om Danu dari pada ngeluuuh terus tiap hari, ngeluhnya sama Mama dan Ralen yang bukan dokter bukan juga tabib apalagi cenayang yang bisa tahu kamu itu sakit apa, Saipul Gunawan!" cerocos sang Mama kala pagi hari telinganya sudah dipenuhi dengan keluhan-keluhan dari putra semata wayangnya.


Dia itu sudah gemas terhadap sang anak, di ajak ke dokter atau kalau memang malas untuk pergi ke rumah sakit kan bisa memanggil dokter keluarga yang tadi di sebutkan, Om Danu pria yang seusia dengan Papanya Ipul memang dokter keluarga tapi sering sekali tenaganya itu tidak dimanfaatkan oleh Ipul karena dia yang jarang sekali sakit dan ketika sakit pun sangat enggan untuk berobat.


"Ipul bilang nggak mau ya nggak mau!" cetus Ipul, padahal dia itu sudah rapi dengan setelan jas dan kemeja menandakan hari ini dia akan pergi ke kantor tapi sejak tadi mulutnya mengoceh mengadukan sakit yang tak kunjung sembuh.


Makanan yang masuk ke dalam mulut pun malah terasa seperti makanan tak layak makan dan harus dia keluarkan lagi, pria itu muntah-muntah setiap pagi merepotkan istri dan Mamanya yang harus mengurusnya tapi juga masih juga harus mendengarkan ocehannya yang menyebalkan.


"Tidak usah pergi ke kantor saja kalau begini," kata Ralen saat tengah memijit tengkuk suaminya yang membungkuk di depan wastafel dapur.


"Ada rapat nggak bisa diwakilkan," menjawab disela usahanya memuntahkan apa saja yang tadi dia makan.


"Kalau begitu ke dokter," kata Ralen lagi, sejak tadi bahkan sejak dua hari yang lalu dia itu sudah membujuk suaminya untuk periksa tapi malah di tolak, sekalipun dia masih kesal dengan suaminya itu karena terlihat begitu tenang saat dia mengatakan kalau Daniya adalah Kakaknya tapi dia sebagai istri tetap berbakti pada suaminya, mengurus suaminya yang sakit memijat semua badannya mendengarkan keluhan demi keluhan dari mulut bawel sang suami, Ralen sungguh menjalankan tugasnya dengan sangat baik.


"Kan udah bilang nggak MAU!" Ipul mencuci tangan lalu berkata tegas penuh penekanan seolah meminta pada wanita di sampingnya untuk tidak lagi mengatakan tentang dokter atau rumah sakit lagi.


"Kalau kayak gitu mana bisa sembuh!" balas Ralen tak kalah tegas bercampur emosi, rasanya ingin sekali dia menyeret suaminya itu untuk mau ke dokter atau di periksa oleh dokter keluarga tapi kan suaminya itu bukan anak kecil, suaminya pria dewasa yang meskipun sedang sakit tenaganya tidak usah ditanyakan lagi, semalam saja tubuhnya dihempaskan ke atas tempat tidur.


Ralen sungguh tidak percaya, suaminya yang terus mengeluh sakit tapi ketika sedang naik malah menjadi sangat sehat tak ada tanda-tanda sakit atau sebagainya, pria itu asik saja melakukan gerakan sambil menunjukkan ekspresi menggoda.


"Sembuh, semalam juga kan sembuh," sahut Ipul enteng.


"Semalam doang, buktinya sekarang kumat lagi," lontar Ralen mengikuti suaminya yang berjalan ke meja makan, duduk lalu meminum teh hangat.


"Kalau gitu harus gituan tiap saat biar aku sembuh.. aduh sakit Mama!" teriak Ipul ketika telinganya di tarik oleh sang Mama yang sejak tadi memang masih berada di meja makan dan turut mendengar apa yang dia bicarakan dengan Ralen.


"Lagi sakit bisa-bisanya gituan yang dipikirin!" sentak Mama Riska mengomel tentang kelakuan anaknya.


"Itu mood booster Ma, vitamin biar cepat sembuh, orang Jelita nya juga suka kok," beber Ipul membuat muka Ralen merah.


Suaminya ini memang ngeselin selalu saja melibatkan dirinya membuat dia malu, dia memang senang tapi kan tidak harus dikatakan juga apalagi Mama Riska adalah mertuanya, sungguh dia malu ingin rasanya dia membuang wajahnya itu ke tong sampah dan menggantinya dengan wajah yang baru.

__ADS_1


"Ma, Ralen berangkat kuliah." Ralen pamit pada sang mertua, sepertinya dia memang ingin kabur dari tempat itu ketimbang harus memamerkan wajah merah menahan malu akibat ulah suaminya.



"Kamu nggak boleh kuliah hari ini!" larang Ipul membuat Ralen berhenti dan menatapnya.



Ralen menampilkan wajah bingung campur malu yang belum juga mau hilang, "ih nggak mau, aku mau kuliah," kata Ralen lalu bersiap untuk kabur.



Ipul dengan gerakan cepat mencondongkan tubuhnya dan menarik tangan sang istri sebelum wanita itu bergerak, tangan sang Mama yang sejak tadi ada di telinganya pun terlepas.



"Apaan sih Mas?" Ralen mencoba melepaskan tangan suaminya di pergelangan tangan, menepis bahkan mengibaskan tapi genggaman tangan sang suami terasa sangat erat.




"Ngapain ke kantor, aku ada tugas kuliah yang belum aku catat," tidak terima begitu saja dengan keputusan sepihak dari pria yang memberikan kehidupan yang sangat baik untuknya, semua kebutuhannya terpenuhi dengan sangat cukup bahkan sangat berlebihan, untuk orang tuanya pun suami ngeselinnya itulah yang bertanggung jawab, sungguh sudah seharusnya Ralen merasa bersyukur dan berterimakasih tapi kan dia juga harus kuliah, lagian pria itu juga yang dulu memaksanya untuk kuliah lalu sekarang kenapa di suruh bolos terus.



"Urusin suami kamu lah, suami lagi sakit emangnya mau di urusin sama perempuan lain?"



"Saipul Gunawan!" hardik sang Mama memberi peringatan pada sang anak agar tidak seenaknya mengeluarkan perkataan.


__ADS_1


Ralen mendengus lalu bahunya meluruh otot-ototnya mendadak tidak berfungsi dengan baik, heran bisa-bisanya Ipul mengajukan pertanyaan yang menyebalkan, pertanyaan tentang wanita lain sungguh sejak kemarin itu membuat hatinya terusik dan rasanya selalu ingin marah.



"Bercanda Ma, piss!" kata Ipul melempar tawa seraya mengangkat kedua jarinya.



"Kalau ngomong itu jangan asal, nanti jadi kenyataan yang marah bukan cuma Ralen tapi juga Mama!" peringatan yang sangat serius terlontar dengan keras.



Wajah Ralen terlihat tidak bersemangat, perkataan suaminya membuat hatinya tidak tenang kembali, terlebih lagi sejak semalam Daniya mengirim pesan padanya meminta untuk bertemu, mungkin Daniya mendapatkan nomornya dari sang ibu karena Ralen merasa tidak pernah memberikan nomornya pada wanita itu.


Akhirnya dengan wajah yang merengut Ralen ikut masuk ke dalam mobil duduk berdampingan dengan suaminya di bangku belakang sedangkan di depan ada Om Damar yang memang datang menjemput.


"Nih, tadi Mama kasih ini," ucap Ralen menyodorkan dua butir obat pada suaminya.



"Buat apa?" bertanya seakan anak TK yang tak mengerti fungsi obat itu buat apa.



"Ini obat, ini harus kamu minum biar nggak pusing!" sentak Ralen tak sabar.



"Nggak mau!" menolak seraya memalingkan wajahnya.


"Iish." Ralen sudah hilang sabar hingga akhirnya dia menerjang suaminya memaksanya untuk minum obat.


"Minum obaaaat!"

__ADS_1



\*\*\*\*


__ADS_2