
Ralen baru saja pulang kerja tapi bukannya langsung masuk ke dalam rumah malah memilih untuk masuk ke dalam garasi di rumah suaminya, berdiri dengan sedikit ulasan senyum di wajah kala mendapati motor matic yang harganya jauh lebih mahal dari motor miliknya.
"Kan bisa beli yang sama, kenapa malah beli yang harganya berbeda jauh," gumam Ralen namun kegembiraan tak dapat dia sembunyikan, terlebih tadi sebelum berangkat pria yang kemarin bersikap dingin padanya masih menyempatkan diri untuk datang menemuinya di lantai 9 hanya untuk berpamitan dan mencium keningnya.
"Dia jadi sangat manis," katanya lagi
Mencium kening? Ralen refleks menyentuh kening tempat dimana Ipul mendaratkan kecupannya tanda perpisahan untuk seminggu lamanya.
Ralen pun merasa bingung dengan garis hidup yang Tuhan berikan padanya, pertemuan tak biasa dengan segala macam hal buruk terjadi pada mereka, hingga selalu saja bertengkar saat bertemu dan tak ada yang mau mengalah tapi kenapa garis hidup malah menuntun mereka menjadi pasangan suami istri.
Jujur saja Ralen masih bingung mengartikan perasaannya saat ini, benarkah dia menikah masih dengan keterpaksaan seperti yang selalu dia gaungkan ketika berbicara dengan Antika, atau memang cinta itu tidak dia sadari?
"Gue jatuh cinta nggak sih sama dia?" lirih Ralen merasa galau sendiri.
Mata Ralen berputar seperti tengah berpikir lalu bibir kecil tapi tampak penuh dan berisi itu kembali bergerak melantunkan pernyataan, "terus dia cinta nggak sama gue?" kali ini mempertanyakan perasaan Ipul terhadapnya.
"Kamu sudah pulang? kok nggak masuk ke rumah?"
Masih berkutat dengan pertanyaannya sendiri tapi Ralen malah sudah dikagetkan dengan suara serta kedatangan sang mertua dengan wajah yang selalu ramah dan lembut kepadanya.
"Baru pulang Ma," sahut Ralen menyunggingkan senyum kepada sang mertua.
"Motornya bagus ya Len," kata mertuanya yang akhirnya menapakkan kaki di lantai garasi tepat di samping motor.
Ralen mengangguk, "tapi ini terlalu bagus Ma, padahal Ralen nggak apa-apa kalau di beliin yang biasa aja yang kayak motor Ralen itu," timpal Ralen.
"Suami kamu mau kasih yang terbaik buat istrinya kan nggak apa juga," tutur Mama Riska dengan menyentuh bahu menantunya.
Sungguh Ralen patut bersyukur karena memilik mertua yang begitu baik bahkan teramat baik padanya, di saat wanita lain mendambakan mertua baik dan dia sudah mendapatkannya bahkan tanpa perlu mencari karena mertua baiknya itu malah datang sendiri menjadikan dirinya menantu.
Lagi-lagi Ralen mengulas senyum entah dia harus bagaimana menanggapi ucapan sang Mama mertua, senang atau apa? dia sendiri bingung kenapa hatinya terus saja diselipkan oleh hal-hal manis ketika suaminya sudah pergi ke Batam dan tidak akan bisa dia sentuh dalam waktu satu Minggu.
Sentuh? Ralen ingin menyentuhnya lagi atau ingin di sentuh seperti yang tadi mereka lakukan, memikirkan hal itu membuat wajah Ralen menjadi sangat merah dari yang tadi.
"Kapan-kapan Mama mau di bonceng sama kamu ya Len."
Keinginan Mama mertua membuat Ralen menatapnya tak percaya, benarkah ingin naik motor dengannya? sebab dari segi manapun Ralen merasa mertuanya itu sama sekali lebih cocok untuk naik mobil ketimbang motor yang kalau panas kepanasan dan kalau hujan kehujanan.
"Ipul tuh nggak pernah mau bonceng Mama pakai motornya, banyak alasan dia, takut Mama masuk angin lah, pinggangnya bakal pegal lah, rambut acak-acakan terus bakal kepanasan yang lebih anehnya lagi takut Mama jatuh." Riska tersenyum kesal lalu kembali melanjutkan perkataannya, "memangnya Mama ini anak kecil apa, kan Mama bisa pegangan," tambah Riska lagi.
"Mau ya Len, antar Mama ke pasar gitu, Mama kan biasa ke pasar tradisional tapi naik mobil terus kayak nggak cocok banget gitu," memaksa sang menantu yang sekarang malah jadi bingung.
"Ralen minta izin sama Mas dulu ya Ma," kata Ralen akhirnya yang tanpa sadar memanggil Ipul dengan sebutan Mas.
"Ah manis banget panggilannya Mas," goda Riska dengan senyum senang, dia menduga kalau hubungan anak dan menantunya sudah mulai membaik.
"Nggak usah bilang-bilang Mas Ipul, karena nggak bakal diizinin, yang ada dia malah ngomel-ngomel," celetuk Riska yang kenal betul bagaimana anaknya itu.
"Tapi kan Ma.."
"Kita diam-diam aja," sambar wanita yang sudah mulai bisa tersenyum lepas.
Saat di depan orang lain mungkin memang dia memilih untuk melupakan kesedihan yang dia rasakan, tentang di tinggal oleh suami untuk selamanya wanita atau istri manapun jelas akan sangat bersedih dan Ralen yakin saat sedang sendiri saja mertuanya itu akan menangis mengingat tentang suaminya, terlihat jelas dari kelopak mata yang setiap pagi selalu bengkak dan berwarna hitam, bukankah itu menandakan wanita itu tidak bisa tidak bisa tidur?
Ralen mengangguk ragu pada permintaan sang mertua, diam-diam saja katanya? ah rasanya Ralen tidak akan berani untuk berbohong kepada suaminya dan setelah ini dia mungkin akan berbicara dengan sang suami tentang keinginan Mama Riska.
*****
__ADS_1
"Kamu besok libur?"
Sekarang kedua wanita itu tengah makan malam, yah makan malam yang sebenarnya di paksakan karena Riska yang masih belum bernafsu untuk makan, selera makannya seolah menguap pergi beberapa hari ini dan Ralen yang sejak kemarin merasa tak enak makan entah memikirkan apa.
"Libur Ma," sahut Ralen mengaduk nasi di dalam piring beserta lauknya, padahal hanya seujung centong nasi tapi kenapa nasi itu rasanya tidak habis-habis juga.
"Besok antar Mama ke pasar ya, naik motor," celetuk Riska.
Wajah Ralen langsung kaku mendengarnya, dia lupa belum menghubungi suaminya untuk meminta izin diperbolehkan mengantar sang mertua ke pasar naik motor, ini sudah dua hari berlalu dia pikir mertuanya itu sudah lupa tapi nyatanya malah dia yang lupa menghubungi sang suami, sedangkan selama dua hari ini juga suaminya itu belum menghubungi mungkin terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, mengingat pria itu pergi memang untuk menyelesaikan perusahaan yang bermasalah.
"Ralen," panggil Mama Riska ketika menantunya malah melamun.
Ralen tergagap lalu mengangguk ragu, ah setelah ini dia harus benar-benar menelepon suaminya itu, tolong ingatkan Ralen kalau dia lupa.
Riska tersenyum lalu beranjak dari duduknya dengan piring yang masih berisi makanan yang mungkin hanya satu sendok yang berkurang.
"Mau cuci piring terus tidur, ngantuk banget," jawab Riska.
"Mama tidur saja biar Ralen yang beresin," cetus Ralen lalu mengambil piring dari tangan sang mertua yang mengangguk setuju.
"Ya sudah Mama tinggal ya, kalau emang capek kamu tinggal aja, biar bibi yang beresin besok," kata Riska lalu melenggang masuk ke dalam kamar meninggalkan sang menantu yang menatap pintu kamar sudah tertutup.
Ralen membersihkan bekas makan lalu mengelap tangan yang basah selepas mencuci piring.
"Harus minta izin dulu," katanya seraya mendaratkan kaki di tangga menuju kamar yang dia tempati bersama suaminya.
Saat di dalam kamar dia langsung mencari keberadaan handphone yang tadi dia lempar dengan sembarang di tempat tidur, begitu ketemu tanpa pikir panjang gegas menelepon nomor suaminya.
__ADS_1
Sedikit menunggu lama tapi akhirnya suara di seberang sana mengakhiri penantiannya.
"Kenapa Len?" tanya Ipul dengan suara yang terdengar lebih lembut dan ramah ketimbang beberapa hari lalu.
"Aku boleh minta izin?" tanya Ralen pelan penuh ragu namun dia harus tetap menanyakannya.
"Izin apa?" tanya pria yang ternyata baru selesai mandi, bahkan dia masih menggunakan handuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Aku mau antar Mama belanja besok, boleh?" Ralen memainkan jari-jarinya sendiri menunggu jawaban dari sang suami.
"Boleh Len, kamu nggak masalah kan? soalnya Mama itu kalau belanja sukanya ke pasar tradisional," jelas Ipul tentang kebiasaan Mamanya.
Ralen menggeleng seakan tengah berhadapan dengan lawan bicaranya, "aku juga kan kalau belanja ke pasar tradisional, jadi nggak masalah sama sekali."
"Ya udah aku izinin," ucap Ipul.
"Ada lagi?" tanya Ipul saat mendengar Ralen tidak bersuara.
"Tapi naik motor, aku bonceng Mama naik motor, boleh nggak?" Ralen akhirnya berterus terang.
Ipul menghela napas mendengar pertanyaan Ralen selanjutnya, "nggak! naik mobil aja, Mama nggak boleh naik motor."
"Tapi Mama minta naik motor."
"Jangan diturutin! aku bilang nggak ya nggak! kamu telepon mau minta izin kan? ya aku nggak kasih izin kalau naik motor! udah aku mau pakai baju, matikan teleponnya," ujar Ipul yang langsung memutuskan sambungan telepon bahkan saat Ralen belum memberikan tanggapan.
Sekarang Ralen bingung sendiri mau bagaimana, suaminya melarang sedangkan mertuanya memaksa.
Wanita itu akhirnya menghempaskan handphone ke samping dan dia merebahkan tubuhnya dengan tarikan napas yang berat.
__ADS_1
"Pusing!" serunya seraya mengacak rambut panjangnya.
\*\*\*\*\*\*