
Sudah jam 17:30 lewat, Ralen sudah berada di rumah dan tengah menyiapkan makan malam untuk suaminya.
Dia itu tidak tahu kenapa suaminya belum juga pulang padahal biasanya akan pulang saat jam 16:00 atau 17:00 paling telat, tapi hari ini kenapa belum pulang juga bahkan ketika dia hubung hanya tersambung namun tidak juga di jawab.
Wanita itu mencoba untuk berpikir positif beranggapan mungkin saja suaminya sedang ada pekerjaan yang memang tidak bisa selesai dengan cepat.
Sedangkan di tempat lain di cafe tempat dia berada dua jam yang lalu..
"Anda datang terlambat Pak, mereka sudah pulang," lapor Gerry yang untuk ketiga kedua kalinya bertatap muka dengan orang yang selama ini membayarnya.
Orang yang memberinya pekerjaan sampingan yang menurutnya cukup mudah karena hanya menguntit saja lalu memberikan laporan, setelah itu dia akan mendapatkan bayaran.
Sangat mudah dan cukup menyenangkan untuk mahasiswa yang memang kerap kali kurang kerjaan sepertinya, meskipun malam hari dia akan berada di bengkel bersama teman-temannya, namun sebagai mahasiswa tetap saja dia membutuhkan penghasilan lebih untuk mencukupi kebutuhannya berkuliah.
Keluarganya memang tidak kekurangan dan terbilang mampu hanya saja dia itu tidak mau terlihat seperti anak manja yang selalu bergantung pada orang tua, terlebih lagi dia juga berteman dengan teman-temannya yang mandiri.
"Istri Bapak sudah pulang." Gerry menambahkan.
Rahang Ipul mengeras bukan karena kesal Ralen sudah pulang, tapi lebih karena Gerry yang sejak tadi memanggilnya Bapak, kesal dan tak terima!
Dia ini merasa masih muda bahkan usianya saja baru akan menginjak 27 tahun, tapi bisa-bisanya si mahasiswa yang paling juga beda usia dengannya sekitar 5 atau 6 tahunan dengan lancarnya memanggil dia bapak, apa itu tidak menghinanya?
Ipul menoleh lalu menatap mahasiswa bawel yang sejak tadi mengoceh, memberikan tatapan tajam bagaikan pedang yang siap mencincang tubuh lawannya.
"Berapa kali saya katakan jangan panggil bapak! usia kita hanya terpaut 6 tahunan, diusia 6tahun mana mungkin saya menghamili seorang wanita dan melahirkan kamu!" sentak Ipul tajam, pedas dengan bibir yang berkedut.
dia sedang kesal, darah sudah naik sampai kepala mendapati istrinya yang katanya sudah pergi lebih dulu, sudah tidak ada alasan lagi untuk dia menahan amarah, pemuda di depannya ini akan dia jadikan pelampiasan agar darah tidak membeku dalam kepala.
Gerry membungkam mulutnya lalu sedikit memundurkan tubuh ke belakang, panggilan bapak itu ditujukan karena dia itu menghormati pria yang sudah membayarnya, bukan bertujuan atau dalam arti sebagai orang tua.
Dia juga tidak bodoh terlebih lagi dia ini seorang mahasiswa yang tahu tatakrama dan sopan santun, tapi kenapa pria di depannya ini malah beranggapan lain dan terus saja nyolot.
"Ini Ralen di jodohin apa gimana sih? suaminya ini kelihatan terpelajar tapi otaknya sedikit agak aneh, atau jangan-jangan otaknya itu ada noda? membuatnya jadi manusia tidak jelas." malah membatin dalam hati, menebak-nebak tentang bagaimana bisa Ralen memiliki suami yang mempunyai sifat aneh.
Ipul makin mendengus kencang dan kasar ketika perkataannya tidak di jawab dan hanya mendapatkan tatapan sungkan dari pemuda di depannya.
"Dosen mu itu berbuat apa sama istriku?!" tentu saja akan mengulik mencari tahu penyebab istrinya sampai bisa menangis karena menurutnya dia itu menikahi wanita yang tangguh keras kepala dan juga galak, rasanya sedikit tidak masuk akan istrinya yang galak itu menangis di depan pria lain selain di depan dia tentunya.
Gerry menjadi bimbang serta bingung harus menjelaskan bagaimana, sebab salah-salah malah dirinya yang akan jadi disalahkan bahkan terancam hilang bola mata sebelah.
Lihat saja bagaimana Gerry yang menganggap serius ancaman tak masuk akal dari Ipul, sangat menggelikan dan mungkin dia akan ditertawakan oleh semua temannya andai mengatakan kejadian konyol yang dia derita saat ini.
Jelas saja konyol, dia itu bekerja sebagai mata-mata dari seorang pengusaha namun kenapa tidak punya nyali sama sekali, bukankah seorang mata-mata seharusnya memiliki nyali yang berani tidak takut pada apapun sebab pekerjaannya itu sedikit beresiko karena harus memata-matai orang lain andai melakukan kesalahan mungkin saja dia akan babak belur di hajar orang yang dia awasi.
"Seingat saya hanya bicara."
"Seingat mu? jadi sebenarnya matamu itu digunakan atau tidak? kalau memang tidak berguna bukankah sebaiknya saya cong.."
"Saya bahkan tidak berani berkedip satu kali pun." Gerry dengan cepat menyela tidak ingin mendengar perkataan tentang bola matanya.
Ipul mendengus sadis lalu menaikkan sudut bibirnya menganggap remeh pengakuan serta ketakutan yang tengah diperlihatkan oleh si mahasiswa yang entah bagaimana bisa dia mengandalkannya, padahal kebisaannya hanyalah mengambil gambar atau merekam saja.
Saat ini sudah pasti dia menyesal kenapa saat dulu mendaftarkan Ralen kuliah malah bertemu dengan mahasiswa tidak berkompeten seperti ini padahal menurutnya di kampus itu pasti banyak mahasiswa yang lebih bisa diandalkan.
Takdir seperti tengah mempermainkan Saipul Gunawan hingga mempertemukan dia dengan Gerry.
Ipul menggaruk sudut alisnya merasa tidak tertarik dengan pengakuan si mahasiswa yang sudah banyak sekali menikmati uang darinya.
"Kamu hubungi dan saya langsung berangkat, bagaimana bisa saya terlambat?" tanya Ipul sinis tak terima dan tidak peduli pada yang Gerry katakan.
Mendengar ucapan si pria di depannya membuat Gerry ingin mengumpat serta memaki saja rasanya, apa pria itu tidak melihat jam? lalu apa gunanya jam yang melingkar di tangannya itu? apa hanya dijadikan bahan pameran saja, karena harganya yang Gerry tahu sangat mahal.
Gerry menarik napas bersiap untuk membela diri atau memberikan argumen pada pria yang tengah bersandar lalu memamerkan tampang galak yang menyebalkan.
Gerry ingin ngajak ribut tapi takut ladang uangnya tidak ada lagi.
__ADS_1
"Saya menghubungi dan melaporkan apa yang saya lihat ketika jarum jam mengarah di angka 4:35 dan Bapak baru datang saat sudah di angka 17:30 bayangkan berapa banyak waktu yang bapak lewatkan?"
Ipul mendelik mendengar apa yang Gerry ucapkan, mahasiswa itu hendak menyalahkan dirinya dan lagi telinganya kembali diperdengarkan dengan penyebutan Bapak.
Bocah ini memang membuat Ipul geram tak tertahan.
"Kamu bisa menahan istri saya dan juga dosen mata keranjang mu itu." sentak Ipul.
Tentu saja dia bukan orang yang mau terima saja disalahkan apalagi posisinya dia ini adalah atasan dan Gerry adalah bawahannya yang mendapatkan bayaran.
Gerry mengedikkan bahu, "kan tugas saya hanya memata-matai lalu memberikan laporan apa saja yang saya lihat, dalam perjanjian tidak ada saya harus menunjukkan diri apalagi sampai terang-terangan menahan istri anda dan juga orang yang ada disekitarnya." Gerry menjadi lebih cerdas dan berbalik menyerang pria di depannya, dia sepertinya sudah lupa dengan ancaman bola mata.
"Mulai saat ini munculkan wajahmu dan segera bertindak apabila ada sesuatu yang membahayakan istri saya!" Ipul bahkan menekan meja berkata tegas dan penuh dengan peringatan.
"Kalau begitu perbarui perjanjiannya dan juga bayarannya juga tidak lagi sama," ucap Gerry ringan seraya mengetuk-ngetuk meja.
"Sialan! mahasiswa mata duitan!" maki Ipul pedas yang malah membuat Gerry tersenyum sambil memainkan alisnya naik turun.
"Terasa lebih adil jika bayaran di tambah karena saya akan bekerja dengan lebih baik lagi."
"Terserah atur saja apa yang kamu mau." Ipul mengibaskan tangannya, tidak peduli mau berapa uang yang dia keluarkan asalkan dia tidak lagi kecolongan.
Gerry pun tersenyum puas bukan main.
Pemuda itupun lantas memajukan tubuhnya dan dari raut wajahnya ingin menyampaikan sesuatu pada pria yang wajahnya sejak tadi terlihat tegang.
"Saya tahu kemana pak dosen pergi saat ini."
Mata Ipul memicing.
"Kemana?" tanyanya, tentu saja dia itu ingin membuat perhitungan dengan dosen yang terus saja mendekati istrinya, tidak mau tahu bahwa yang meminta Angga untuk bicara berdua adalah istrinya yang jelas sekarang ini dia ingin membuat perhitungan pada sang dosen yang sudah membuat istrinya menangis.
"Dia pergi bersama, Jelita?" tanya Ipul, padahal pertanyaan yang pertama saja belum di jawab.
"Ralensi Jelita! istri saya!" sentak Ipul marah.
"Oh." mulut Gerry membulat, "sorry saya nggak tahu nama panjangnya," aku Gerry membetulkan posisi duduknya.
Sepertinya Ipul harus banyak-banyak menyimpan sabar untuk menghadapi mahasiswa bernama Gerry ini, salahnya sendiri merekrut mahasiswa bodoh namun banyak tingkah.
"Jelit.."
Mata Ipul mendelik seram, "jangan berani-berani memanggil Jelita kalau tidak mau aku putuskan pita suaramu!" tak senang ketika ada orang lain yang ikut memanggil istrinya dengan panggilan yang sudah dia patenkan untuk dirinya sendiri, sebab hanya dia yang boleh.
Gerry menelan ludah mengelus lehernya, dua kali sudah dia mendapat peringatan sekaligus ancaman yang mengerikan membuat dia semakin yakin kalau Ralen menikah dengan biangnya mafia.
"Katakan dimana istri saya dan dosen itu?!"
"Kalau istri anda mungkin sudah pulang soalnya tadi pergi lebih dulu." Gerry menjelaskan lebih dulu perkiraannya tentang kemana Ralen saat ini.
"Kalau pak dosen.." Gerry mencondongkan kembali tubuhnya lalu berbisik pelan seperti tidak ingin ada yang tahu, padahal menurutnya dimana keberadaan sang dosen bukanlah hal yang rahasia tapi dia memang senang saja bertingkah seperti orang yang menyimpan rahasia.
Telinga Ipul berkedut lalu setelah mendengarkan Gerry dia segera menghubungi sang istri, memastikan keberadaannya saat ini.
"Kamu dimana?!" langsung bertanya begitu terjawab.
"Di rumah."
Mendapat jawaban dari istrinya dia pun gegas mematikan sambungan telepon.
__ADS_1
Menelepon tiba-tiba lalu dimatikan juga tiba-tiba.
Mata Gerry mengikuti ketika Ipul beranjak dari duduknya.
"Bapak mau kemana?"
Mulut sialannya Gerry seperti tidak mengerti padahal sudah berulang kali diperingatkan namun tetap saja memanggil bapak membuat Ipul menyorot sangat tajam.
"Asah ilmu dengan dosen sok ganteng kamu itu!" menjawab ketus lalu melangkah tegap seraya menggulung lengan kemejanya.
Mulut Gerry ternganga lebar entah takjub atau aneh dengan jawaban yang Ipul berikan, yang jelas sekarang mulutnya makin lebar memperlihatkan deretan gigi bagian dalamnya.
"Set orang mah bayarin dulu kek," setelahnya Gerry malah mengoceh karena harus membayar minuman sebanyak tiga gelas yang dia minum sendiri selama mengikuti Ralen.
Kening Ralen mengerut dengan bibir yang sedikit mengerucut.
"Jam segini belum pulang tapi ketika menelepon bukannya memberitahu sedang dimana eh malah telepon dimatiin padahal istrinya ini baru mau ngomong!" sungut Ralen menatap kesal pada layar handphone yang tadi mengeluarkan suara sang suami.
Ralen membuang napas berat dan kasar, lalu kembali terdiam larut dengan kegelisahan yang kembali menghampiri.
Benar yang dikatakan oleh Angga tadi, pilihan ada di tangannya dialah yang harus menentukan apa yang harus dia pilih.
Sebaik-baiknya pilihan tentu dia ingin yang paling baik yang bisa dia ambil untuk hidupnya.
Tangan Ralen pun bergerak mengelus perutnya, perut yang beberapa bulan lagi akan membesar memperlihatkan dan memberitahukan pada dunia bahwa dia sedang mengandung.
Mengandung buah hatinya dengan pria yang sangat menyebalkan tapi juga amat dia cintai.
Iya, harus dia akui dia sudah jatuh cinta dan benar-benar cinta yang sesungguhnya bukan cinta main-main seperti saat dia masih di bangku SMP dulu.
Cinta monyet yang kadang membuatnya jadi malu sendiri karena menyukai teman satu kelasnya namun tidak berani menyatakannya.
Tanpa terasa Ralen malah mengulas senyum mengingat masa lalu.
Tolong biarkan dia untuk mengingat betapa konyolnya dia dulu agar dia bisa sedikit melupakan apa yang tengah dia hadapi sekarang ini.
****
__ADS_1