
"Mama itu nggak pernah ngerti gimana cara berpikir kamu!" Mama Riska langsung menyemprot sang anak yang baru saja sampai.
Anaknya itu ingin mengambil mobil agar bisa langsung pergi mencari istrinya tapi malah mendapat amukan dari sang Mama yang sudah menjegatnya di depan pintu dengan wajah yang murka.
Melihat wajah anaknya membuat darah langsung naik ke puncak kepala dan ingin langsung meluapkannya membabi buta tak peduli kalau anaknya baru saja sampai.
Riska tidak peduli sebab yang ada di dalam kepalanya saat ini adalah rasa khawatirnya terhadap sang menantu yang sungguh luar biasa.
Sejak semalam dia tidak bisa tidur dan selalu mengintip ke depan jendela berharap menantu yang dia tunggu pulang.
Tapi ternyata harapannya tidak kunjung di wujudkan oleh tuhan, entah kenapa tuhan seperti marah padanya yang tak bisa menjaga sang menantu.
"Ma.." suara Ipul terdengar frustasi dia juga bingung istrinya pergi kemana sedangkan orang yang dia perintahkan untuk mencari istrinya sampai sekarang tak juga memberi kabar apapun.
"Seharusnya dari kemarin kamu pulang dan cari istrimu!" Mama Riska kembali berbicara menunjukkan kemarahan yang sejak kemarin.
Sungguh dia tidak suka melihat wajah anaknya yang tertekan dan juga frustasi, menurutnya apa yang terjadi ini karena kesalahan anaknya itu.
"Istri kamu itu ngambek tapi kamu tidak menghubunginya tidak membujuknya, kamu itu kan lebih mengerti bagaimana istrimu Pul," Mama Riska menjadi lemah karena sudah tidak kuat untuk menahan tangisan yang memaksa ingin keluar sejak semalam.
Mama Riska kesal dan marah, "pokoknya cari sampai ketemu!!" Mama Riska berteriak histeris.
"Jangan pulang kalau tidak bersama Ralen!" kata Mama Riska lagi dan kali ini dengan mata yang tajam dan sangat sarat akan kemurkaan.
Setelah mengatakan itu Mama Riska langsung berjalan ke dalam rumah meninggalkan sang anak yang terpaku sesaat baru kemudian setelah sadar dia bergegas pergi membawa mobilnya.
Pergi dengan kecepatan yang sangat tinggi dia tidak peduli akan nyawanya sendiri yang terpenting sekarang adalah menemukan istrinya meski sebenarnya dia tidak tahu harus mencari kemana.
Matanya terus mengawasi jalan yang dia lewati berharap ada sosok wanita yang dia cari, sampai akhirnya mobilnya melambat kala memasuki jalan kecil yang memang hanya cukup dilewati untuk satu kendaraan roda empat.
Ipul turun dari mobil lantas menuju pada deretan rumah kontrakan yang dulu memang sempat dia datangi untuk menjemput Ralen.
Itu kontrakan milik Antika, teman istrinya yang dia tahu memang sangat dekat dengan sang istri.
Tok tok tok tok
__ADS_1
Mengetuk pintu rumah ini menjelang sore dia tidak tahu apakah teman sang istri ada di dalam atau tidak ada, yang jelas dia sudah mengetuk berulang kali namun tidak ada yang keluar.
Saat dia menyerah dan hendak pergi telinganya justru mendengar suara kunci yang di putar sampai akhirnya dia memilih untuk menunggu pintu terbuka.
Antika mengerutkan keningnya menatap pria yang berdiri di teras kontrakan, dia seperti tengah mengingat wajah pria di depannya karena memang dia hanya pernah melihat wajah Ipul satu kali saja saat pria itu datang menjemput Ralen itupun hanya dari kejauhan.
"Aku mencari Jelita," kata Ipul membuka suara lebih dulu.
"Jelita?" Antika sedikit bingung tapi tak lama dia sadar siapa yang di maksud oleh pria di depannya ini, "ah Ralen," katanya yang membuat Ipul mengangguk.
Namun sesaat kemudian mata Antika memicing penuh selidik, "suaminya kan?" tanyanya tanpa memberikan senyum ramah sedikitpun terlebih lagi saat pria yang dia tanya mengangguk sigap menjawab pertanyaannya.
"Lo kan suaminya, harusnya Ralen ya sama elo, kok malah tanyain sama gue!" Antika langsung menjadi sengit.
"Jangan bilang kalau dia kabur lagi?" tambah Antika menyorot dengan tajam dan penuh tuduhan.
Sudut bibir Antika terangkat menunjukkan kegemasan yang luar biasa, andai pria di depannya ini bukan suami temannya dan berwajah pas-pasan tentu sudah dia hajar sejak tadi, tapi sayangnya pria ini adalah suami dari temannya dan memiliki wajah di atas rata-rata dengan warna kulit yang terlihat maskulin membuat dia tidak tega untuk membuat wajah pria itu babak belur.
"Waktu baru nikah aja kan dia nggak pulang ke rumah Lo, dia nginep di sini, itu kan namanya kabur!" sentak Antika menerangkan begitu mendapati tatapan mata suami dari temannya seakan Ralen tidak pernah kabur.
"Sekarang dimana Jelita!?" sepertinya Ipul mulai tidak sabar dengan pembicaraan panjang lebar dari wanita di depannya.
Boleh saja menyalahkan dirinya asal jangan sekarang, sebab yang dia inginkan saat ini adalah bertemu dengan sang istri yang sejak kemarin tidak pulang.
__ADS_1
Bahkan sebentar lagi matahari mulai tenggelam, pergi ke tempat lainnya untuk memberikan sinarnya sedangkan di tempat ini tugasnya menyinari akan di gantikan oleh bulan beserta dengan bintang.
"Nggak ada!" Antika menyentak sengit, "Ralen nggak ke sini," Antika mendengus terlihat sekali dia ini marah tapi berusaha untuk menahannya.
Dia berusaha untuk menjaga sikapnya agar tidak melakukan pemukulan terhadap suami temannya, sebenarnya kalau dia mau tinggal mengambil sapu yang ada di sampingnya lalu memukul kepala pria di depannya agar otaknya bisa benar sedikit saja.
Menurut cerita dari Ralen pria ini sikapnya tak jelas, galak dan suka bicara seenaknya, dan itu membuat Antika jadi sebal.
Meski tampan kalau nyebelin ya tetap aja nyebelin, begitulah isi hati Antika.
"Kamu teman dekatnya, nggak mungkin nggak tahu dimana Jelita." Ipul tidak mau percaya begitu saja.
Memang istrinya mau pergi kemana lagi? pulang ke kontrakan orang tuanya jelas wanita itu tidak akan pernah melakukannya karena yang Ipul tahu di kontrakan itu ada Daniya, dan satu-satunya teman yang sangat akrab dengan istrinya ya Antika ini, wanita yang sedang marah-marah terhadapnya mengomel dengan bibirnya yang tipis dan pintar sekali bicara.
"Sayangnya Ralen nggak kesini, kayaknya dia pasti tahu Lo bakal datang kesini buat cari dia makanya dia pilih tempat lain buat sembunyi biar nggak ditemuin sama elo," Antika diam sesaat hingga kemudian senyumannya terlihat sangat culas, "mungkin dia ngumpet di rumah pria lain?" Antika mengedikkan bahu, "kan bisa aja, lagipula si Ralen juga nggak jelek-jelek amat, malah jelekan gue."
Dalam tahap ini Ipul sudah merasa darahnya naik kepala dengan cepat, wanita di depannya ini seperti ingin membuat dia marah sekaligus cemburu dalam waktu bersamaan, darahnya sudah benar-benar mendidih namun jelas dia hanya bisa menggeretakan gigi-giginya dengan rahang yang mengeras.
"Udah sana cari tempat lain aja, nanti keburu di bawa kabur pria lain baru tahu rasa Lo!"
Antika ini mulutnya memang pedas saat sudah kesal dia itu tidak tahu Ralen pergi dari rumah karena memang Ralen tidak menghubunginya terakhir mereka bertemu pun itu sekitar satu Minggu yang lalu, dan ketika suami dari temannya itu datang menanyakan temannya sungguh dia kesal sekali dan ingin meledak.
Ipul mengepalkan kedua tangan yang menggantung di kiri kanan tubuhnya lalu pergi tanpa berkata apapun.
__ADS_1
\*\*\*\*