
"Kebanyakan yang nggak boleh, minum itu salah minum itu juga salah," Ralen menunjuk satu persatu deretan minuman yang tadi di larang oleh Ipul.
"Minum air putih aja kalau gitu." mengambil keputusan saat melihat deretan gelas tinggi berisi air putih, "air putih aja isinya dikit banget, orang kaya kalau minum apa emang cuma segini doang?" menatap gelas yang sudah berada di tangannya dan hanya berisi setengah bahkan tidak sampai setengah gelas.
Setelah mengambilnya Ralen memutuskan untuk kembali ke tempat dimana tadi Ipul meninggalkannya, biar pria ngeselin itu tidak repot mencari, pikir Ralen.
"Om sama Tante mana?"
Saat ini Ipul sedang bersama Davi yang datang bersama asistennya saja, pria itu menanyakan kedua orang tua Ipul saat sepupunya itu menghampiri hanya seorang diri saja.
"Nggak datang Bang lagi kurang enak badan, jadi gue di suruh wakilin," jelas Ipul.
"Oh." mulut Davi membulat dengan gerakan kepala.
"Lo datang sama siapa? Om Damar?" sepertinya Davi sudah cukup mengenal asisten sang Om yang kini beralih menjadi asisten Ipul.
"Om Damar lagi ke Bandung kan," ucap Ipul tentang sang asisten yang sedang mengurus proyek di kota kembang itu.
"Berarti sendiri," kata Davi lagi berasumsi.
Ipul pun menggeleng, "ditemenin," ujar Ipul seraya menunjuk Ralen yang sedang berdiri seorang diri dengan gelas di tangannya.
"Itu cewek yang di bilang sama Tante Riska?" Davi memicingkan mata guna melihat dengan jelas wanita yang jaraknya lumayan jauh dari mereka.
"Mama bilang apa memangnya?" malah balik bertanya sebab tidak menyangka kalau Davi sudah mengetahui tentang Ralen.
Entah Mamanya sesumbar tentang apa yang jelas pasti perihal dia dan juga Ralen.
Davi mengedikkan bahunya lalu meneguk minumannya.
"Kenapa di tinggal sendiri?" balik bertanya terlihat jelas kalau Davi sedang mengalihkan pembicaraan.
"Gerah gue," sahut Ipul lalu mengambil minuman dari seorang pelayan yang menghampirinya dengan nampan berisi minuman-minuman.
"Masih tertutup Pul, masa segitu aja udah gerah," ejek Davi dengan senyum mengesalkan.
Sebagai pria normal dan beristri tentunya dia sudah paham benar apa yang membuat sepupunya itu kegerahan padahal tempat ini cukup sejuk dengan pendingin ruangan memadai, tadi pun tanpa sengaja dia juga melihat bentuk tubuh Ralen yang menonjol di dua bagian, atas dan belakang, meski hanya dari kejauhan saja karena matanya masih cukup normal.
Ipul tidak menanggapi, diapun tahu Abang sepupunya itu bisa membaca apa yang ada dipikirannya.
"Sebentar lagi kayaknya gue bakal dapat mobil nih," celetuk Davi memainkan alisnya serta senyum miring penuh ejekan.
"Ck, mobil apanya!" ketus Ipul.
"Jangan bilang kalau Lo lupa?" cecar Davi tak terima.
Ipul memutar bola matanya, "nggak lupa Bang, tenang aja itu sih, cuma rasanya mustahil aja Lo bakal menang."
"Kita lihat aja sebentar lagi, nggak akan lama kalau menurut gue sih," celetuk Davi dengan senyum meledek seperti sangat tahu tentang apa yang akan terjadi dalam waktu singkat.
Ipul memutar bola matanya jengah dengan kesombongan sang Abang sepupu, terlihat sangat percaya diri padahal dia sendiri pun belum tahu bahkan rasanya dia belum menemukan wanita yang tepat untuk menjadikan dia pria bucin seperti yang mereka sepakati.
"Zara mana Bang, nggak ikut?" kali ini Ipul pembicaraan tentang taruhan konyol yang mereka sepakati telinga sudah mulai memanas mendengar ocehan Abangnya yang selalu saja percaya kalau dirinya itu akan bucin pada seorang wanita.
"Nggak, Achnaf nggak bisa di tinggal," sahutnya.
Anaknya itu memang baru tiga bulanan, terasa tak wajar jika dia malah mengajak istrinya pergi lalu menitipkan anaknya pada pengasuh untuk mengajaknya pun rasanya lebih tidak mungkin lagi mengingat pesta yang akan di datangi banyak orang apalagi ini malam hari.
"Di bawa lah," kata Ipul seenaknya.
"Noh, ada yang deketin," celetuk Davi melihat ke arah wanita yang sekarang tidak sendiri lagi karena ada seorang pria yang tengah bersamanya.
"Gue ke sana dulu."
"Lo belum ketemu Om Bastian, mending temuin dia dulu," ucap Davi mencegah sepupunya itu.
"Oh iya, gue lupa," katanya baru ingat kalau dia memang belum menemui rekan bisnis Papanya sekaligus orang tua dari sang pemilik acara yang saat ini telah mendapatkan ucapan selamat dari para tamu undangan yang kebanyakan adalah rekan-rekan Ayahnya juga teman kuliahnya.
"Titip dulu Bang," sambungnya lagi menitipkan Ralen seolah Ralen itu adalah anak kecil yang harus di jaga.
"Lo gila, nitipin cewek ke gue, Zara tahu bisa puasa lima bulan gue!" sengit Davi.
__ADS_1
Ipul menggaruk ujung alisnya bukan itu maksudnya.
"Maksud gue titip lihatin aja dari sini, kan kelihatan tuh kalau misalnya dia bikin masalah," cetus Ipul.
"Lo pikir dia bocah, sampai bilang bikin masalah yang benar aja Lo Saipul!"
"Ah Lo nggak kenal dia aja Bang, kelakuannya melebihi bocah," urai Ipul.
"Ya sudah sana pergi, malah kebanyakan ngomong, jangan lama-lama gue juga mesti nemuin orang lagi soalnya." Davi mengingatkan sepupunya yang tengah melihat ke arah Ralen yang terlihat tengah berbicara dengan entah siapa.
Lalu kemudian Ipul mengangguk mengiyakan permintaan sang Abang seraya beranjak mencari rekan bisnis Ayahnya.
Davi tengah berbicara dengan laki-laki seumuran Ayahnya ketika Ipul kembali setelah bertemu dengan pemilik acara.
Menyapa laki-laki yang tengah bersama Davi dengan sopan sambil menjabat tangannya lalu berbisik pelan pada sang Abang.
"Ke toilet kayaknya," beritahu Davi ketika Ipul menanyakan wanita yang tadi dia awasi.
"Ya udah gue susul kalau gitu," kata Ipul lalu berpamitan.
"Duh kenapa gue jadi pusing gini ya," kata Ralen memijit kepalanya yang mendadak terasa pusing.
"Tuh air apaan sih tadi yang gue minum, masa air putih rasanya pait begitu, aneh, Wek." Ralen menjulurkan lidahnya masih dapat merasakan betapa tidak enaknya air yang tadi dia minum.
Tenggorokannya pun sekarang menjadi panas dengan mata yang sulit untuk dia buka.
Wanita itu mencoba untuk mengembalikan kesadarannya yang perlahan berkurang, dengan membahasi wajahnya dengan air yang keluar dari keran, ada rasa aneh yang membuatnya tidak bisa mengendalikan diri.
Dia bahkan sampai menepuk-nepuk kedua pipi berharap kesadarannya tidak pergi.
"Ralen."
"Keluar sini! gue nggak mungkin masuk ke toilet wanita," kata Ipul dengan suara tegas.
"Sebentar," jawab Ralen mematikan keran air lalu menegakkan tubuhnya, mengatur napas lalu mulai menggerakkan kakinya yang sedikit tidak seimbang menopang berat tubuhnya, bahkan membuat dirinya harus mencari-cari tembok untuk bisa menopangnya agar tidak jatuh.
Dengan susah payah bagaikan balita yang baru bisa berjalan akhirnya Ralen bisa menggapai pintu toilet dimana Ipul sedang berdiri menunggu.
"Lo kenapa?" tanya Ipul ketika Ralen langsung bergelayut di lengannya.
"Kepala gue pusing," akunya seraya menyandarkan kepalanya di lengan sang pria.
"Lo minum apa memangnya?!" bertanya dengan nada bicara galak.
Meski sudah tahu pasti Ralen meminum minuman yang dia larang tadi, tapi apakah Ralen sebodoh itu sampai tidak mengerti minuman apa yang dia tidak perbolehkan.
"Cuma air putih, beneran air putih tapi rasanya juga baunya tuh aneh banget," adu Ralen dengan suara yang sedikit tidak jelas.
__ADS_1
"Terus Lo abisin?"
Ralen mengangguk yang sontak langsung mendapatkan toyoran di kepalanya, sungguh Ralen seperti kehilangan tulang lehernya hingga toyoran itu pun langsung membuat kepalanya itu melengser tak berdaya.
"Udah tahu nggak enak masih juga Lo abisin, bodoh!" omel Ipul.
Ipul membuang napas kasar kala tidak ada lagi suara yang bisa Ralen ucapkan, hingga akhirnya memutuskan untuk membawa wanita itu pulang.
"Lo minum berapa gelas?" tanyanya ketika sudah berada di dalam mobil.
Ralen mengangkat satu jarinya menunjukkan kalau dia hanya minum satu gelas saja, dan satu gelas sudah sukses membuatnya tidak berdaya seperti ini.
"Satu gelas doang?"
Ralen mengangguk.
"Lo nggak pernah minum?"
"Enggaaaaakkk," sahut Ralen panjang.
Ipul menatapnya kasihan tapi juga kesal, sudah tahu tidak enak tapi malah tetap dihabiskan itu minuman.
"Jangan anterin gue pulang ya, pleasee, nanti gue di amuk sama Ayah ibu," mohon Ralen kala Ipul menyalakan mesin mobil.
Tak ada jawaban dari pria yang dia ajak bicara membuat Ralen menggerakkan badannya mendekati sang pria yang membeliak kaget.
Tubuh wanita itu sangat dekat dengan bagian dada yang..
Ipul bahkan menelan saliva nya tak berdaya mendapatkan pemandangan yang tak tahu harus dia apakan, dilihat terus atau abaikan.
"Jangan anterin gue pulang," pinta Ralen lagi dengan bibir yang sudah di depan wajah Ipul.
Ipul menatap dengan tubuh yang kaku tidak bergerak sama sekali hanya ada deru napas serta bola mata yang bergerak ke sana kemari mengadakan kalau dia masih bernyawa.
"Gue bisa khilaf kalau kayak gini."
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1