
Ralen tengah bermain dengan Achnaf, balita lucu yang belum menginjak satu tahun itu tampak nyaman bahkan seolah sudah sangat akrab dengan wanita yang rasanya baru sekitar dua atau tiga kali bertemu dengannya, tapi dari caranya yang terus mengumbar senyum dan tidak menangis sama sekali membuat Ralen semakin gemas terhadap anak dari Zara dan Davi itu.
Bermain-main dengan Achnaf membuat Ralen lupa kalau di rumah itu dia tidak hanya berdua saja dengan Achnaf, di rumah dan ruangan yang sama masih ada mertuanya dan Mama dari Achnaf yang sedang berbincang sambil sesekali menatap pada dirinya dan juga Achnaf.
"Menurut kamu sudah pantas belum Za?" Riska mengajukan pertanyaan pada keponakan yang duduk di sebelahnya.
"Pantas banget Tante, emang belum?" Zara tanya balik.
"Kayaknya belum sih Za, mereka kan belum lama nikah juga, habis nikah juga kan teman mu itu sempat marah sama Ralen, waktu itu kayaknya belum tidur bareng," jelas Riska.
Sedangkan Zara yang mengetahui kelakuan Ipul merasakan mulutnya sangat gatel, ingin sekali dia mengadukan temannya itu kepada Ibunya agar tahu seperti apa Saipul Gunawan terhadap Ralen, wanita yang dia nikahi tapi juga dia sempat menyesali pernikahan itu.
Tapi Zara sangat tidak mungkin mengatakan apa yang dia ketahui kepada sang Tante, bukan kasihan pada Ipul, bukan! dia malah sangat kesal dan marah bahkan mengutuk kelakuan bejat temannya itu, bahkan jika memungkinkan dia sangat ingin mengadukan apa yang Ipul lakukan terhadap Ralen kepada sang Tante, tapi dia tidak akan pernah melakukannya karena tahu hal itu akan membuat sang Tante kecewa luar biasa terhadap perbuatan anak kesayangannya.
"Za!" Tante Riska menegur Zara yang malah melamun sambil menatap ke arah Ralen yang sekarang tengah memangku Achnaf dan seraya menggoyangkan mainan yang ada di tangannya.
Zara terkesiap menoleh pada wanita di samping yang sempat menepuk lengan kanannya, "kenapa Tante?" Zara menjadi tidak fokus sekarang ini terganggu dengan segala pikiran di dalam kepalanya.
Apa yang di lakukan Riska terhadap Zara pun membuat Ralen menoleh melihat kedua wanita yang duduk sedikit jauh darinya dan Achnaf, kedua wanita itu seperti sengaja mengambil jarak untuk membiarkannya bebas bermain dengan bayi kecil lucu yang rambutnya baru mulai tumbuh, rambut yang tumbuh tidak rata karena baru di beberapa tempat saja membuat bayi itu terlihat sangat lucu.
"Kamu Tante ajak ngomong malah bengong sih Za," Tante Riska menggeleng kepala atas sikap istri dari keponakan sekaligus teman dari anaknya.
Zara mengerjapkan kedua matanya lalu mengulas senyum untuk wanita yang tengah melihat penuh tanya kepadanya.
"Zara lagi mikir mau masak apa buat Mas Davi nanti sore Tante," jawab Zara sangat melenceng jauh dari yang ada di dalam pikirannya.
Bukankah sangat tidak mungkin kalau dia sampai mengatakan apa yang dia pikirkan? mungkin Tantenya itu akan terkena serangan jantung akibat perbuatannya.
"Masih jam sepuluh Zara," celetuk Tante Riska gemas.
Keponakannya itu baru juga jam sepuluh tapi malah sudah memikirkan mau masak apa nanti sore sedangkan jam makan siang saja belum.
Riska menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian mengambil cangkir berisi teh yang ada di atas meja lalu meminumnya, berbicara sejak tadi meski Zara tidak fokus mendengarkan namun tetap saja tenggorokannya terasa sangat kering.
"Tante mau main sama Achnaf," celetuk Tante Riska setelah menyelesaikan minumnya.
Wanita itupun bergerak mendekati pada dua anak manusia yang sudah kembali asik bermain mengabaikan orang lain seolah hanya ada mereka berdua saja.
"Hai Achnaf tampan, main sama Oma sini Tante Ralen istirahat dulu capek loh ajak main sekaligus pangku Achnaf yang badannya montok ini," tutur Riska mengambil Achnaf dari pangkuan Ralen sambil menepuk bokong sang bayi yang tampak semakin semok akibat Pampers yang dia pakai.
Ralen tertawa dan membiarkan mertuanya mengambil Achnaf sekalipun dia masih belum puas bermain-main dengan bayi kecil tapi memiliki badan yang cukup gemuk, kedua pipinya bahkan mengundang siapa saja untuk mencium bahkan saking gemasnya bisa sampai mencubit pipi gembul itu.
Riska pergi keluar rumah menuju halaman guna mengajak Achnaf bermain di sana, tentunya halaman yang ditumbuhi pohon serta bermacam tanaman lainnya akan mengantarkan udara yang sejuk bagi kedua insan dengan perbedaan usia yang sangat jauh itu.
__ADS_1
Riska berjalan menggendong Achnaf menuju bangku di bawah pohon dengan mulutnya yang tak berhenti mengajak bicara sang cucu, anak dari keponakannya, "semoga Om Ipul cepat punya Dede kayak kamu ya ganteng, biar kamu punya teman," cetus Riska dengan mata yang berbinar.
Dia memang sudah sangat ingin menimang cucu tapi dia juga tidak akan menekan anak serta menantunya untuk segera memiliki anak, usia pernikahan mereka juga masih sangat baru, anak dan menantunya itu pasti masih ingin menikmati masa-masa indah berdua sebelum nantinya memiliki anak, yah walaupun lebih sering cekcok, tapi yang namanya manusia punya nafsu dan pastinya di balik cekcok akan ada bermesraannya juga apalagi laki-laki kalau sudah lihat kulit mulus juga pasti di seruduk.
Riska menghela napas panjang lalu menatap wajah Achnaf yang lebih dominan ke wajah Zara, sedangkan dari Davi, Achnaf hanya mengambil di matanya saja.
Tatapan mata Achnaf begitu tajam, siapapun yang melihatnya akan langsung mengatakan kalau itu adalah mata Papanya.
Di dalam rumah Ralen dan Zara sedang berbicara berdua, sepertinya Riska memang sengaja meninggalkan kedua wanita itu agar bisa berbicara berdua, kalau perlu saling curhat terlebih lagi Ralen yang semenjak menikah dengan Ipul memang membutuhkan teman cerita dan orang yang tepat untuk dijadikan tempat bercerita memang Zara, wanita itu sangat mengenal bagaimana Ipul sudah tentu pasti akan bisa membantu Ralen yang sering bingung menghadapi suaminya.
"Kamu kapan mulai kuliah Len?" Zara bertanya pada wanita yang sekarang sedang meletakkan cangkir setelah meminum isinya.
"Minggu depan Mbak," sahut Ralen.
"Kata Tante kamu bete ya waktu di suruh Ipul berhenti kerja," ujar Zara menatap istri dari Saipul Gunawan, teman yang paling ngeselin tapi juga teman yang selalu ada di saat dia membutuhkan bantuan.
Sungguh Zara tidak akan pernah memungkiri bahwa seorang Saipul Gunawan juga termasuk orang yang turut berjasa dalam hidupnya, tanpa pria itu mungkin masa remajanya tidak akan bisa tersenyum karena selalu saja di ganggu oleh dua sosok makhluk menyebalkan berwujud manusia yang kerap kali mencari masalah dengannya, berbuat yang menyakiti hati serta dirinya, tanpa Ipul yang selalu menguatkan dan menghiburnya mungkin dia akan menjadi sosok yang lemah dan hanya bisa menangis saat di perlakukan tak baik oleh dua manusia jahat itu.
Ibu tiri dan juga saudara tirinya yang entah sudah seperti apa dan bagaimana kehidupannya sekarang, terkahir kali Zara bertemu sudah sangat lama saat dia meminta kembali uang pembelian rumah karena dua orang itu memasang harga yang sangat tinggi dan dengan bodohnya malah di beli saja oleh Davi, suaminya itu tanpa berpikir panjang.
Ralen mengangguk mengiyakan pertanyaan Zara, bete! dia sangat-sangat bete dan sebenarnya tidak mau berhenti bekerja karena dia terganggu dengan si sekretaris bernama Sarah, atau yang lebih tepatnya dia cemburu, mungkin?
Zara tersenyum minat respon yang Ralen tunjukkan, "dia itu emang kadang ngeselin tapi aku yakin dia sudah memikirkan ini dengan sangat baik, toh hanya sampai Minggu depan, dan setelah itu kamu akan disibukkan dengan tugas-tugas kuliah, yah tetap akan bete juga karena kan kamu pusing sama pelajaran harus fokus juga antara pelajaran sama rumah tangga terutama melayani suami, hhmm?" tukas Zara dengan diakhiri senyuman misterius.
Kalimat melayani suami begitu ditekankan oleh wanita ber anak satu itu, seperti ada maksud tersembunyi yang terkandung di dalamnya.
Dan saat inipun wajah Ralen memerah dengan udara panas yang dia rasakan, sungguh dia malu bahkan hanya mampu menundukkan wajah guna menyembunyikan rasa malu serta wajah yang sudah sangat merah.
Saat Ralen tengah larut dalam rasa malu Zara malah mendekat lalu berbicara di telinganya, "ganas nggak?"
Pertanyaan itu sontak membuat mata Ralen membelalak dengan sangat lebar, astaga! apakah dia harus menjawab pertanyaan yang begitu rahasia itu? apa dia harus membeberkan seperti apa suaminya saat berhubungan dengannya? rasanya Ralen masih tidak punya keberanian untuk menceritakan itu semua atau memang dia tidak akan pernah berani untuk menceritakan masalah ranjangnya kepada orang lain.
"Hahaha, nggak usah di jawab Len, dari sifat dan kelakuan suamimu saja aku sudah bisa menebak seperti apa dia saat denganmu," kelakar Zara tertawa lebar sampai memperlihatkan gigi-giginya melihat seperti apa raut wajah Ralen saat dia mengajukan pertanyaan yang bermaksud menggoda.
Sungguh dia tidak ingin tahu tentang bagaimana urusan tidur pasangan muda itu, karena itu memang urusan pribadi mereka yang memang tidak boleh diceritakan atau dibicarakan pada orang lain sekalipun dengan orang terdekat.
Ralen bernapas lega kembali mengetahui jika Zara hanya bercanda dan itu artinya dia tidak perlu menceritakan seperti apa dan bagaimana saat suaminya berhubungan ranjang dengannya.
*******
"Apa Om sudah mencarikan sekretaris baru?" tanya Ipul pada Damar yang berjalan di sampingnya, siang ini mereka akan keluar kantor untuk melakukan pertemuan dengan salah satu relasi perusahaan, membicarakan kontrak kerja di tengah kontrak kerja yang masih bermasalah dan belum selesai di anak perusahaan yang ada di Batam.
Dia menjadi benar-benar sibuk agar perusahaan dan anak perusahaan di beberapa tempat bisa saling menopang dan tidak sampai mengorbankan salah satunya karena pasti akan banyak orang yang kehilangan pekerjaan nantinya.
__ADS_1
"Sudah tuan muda, hanya saja harus lebih selektif sesuai yang tuan muda minta," jelas asisten yang memang sudah dari Sarah di pindahkan dia mulai mencari sekretaris pengganti, hanya saja ada beberapa syarat yang diinginkan oleh sang pemimpin perusahaan itu.
Syarat-syarat yang diminta bahkan sangat berbeda dari yang biasanya.
Biasanya seorang pemimpin akan meminta seorang sekretaris pintar dan berpenampilan menarik agar bisa mempermudah segala urusan dengan pihak lain, tidak dipungkiri selain otak cerdas, kecantikan juga seksi menjadi bahan pertimbangan yang cukup penting, tapi tuan mudanya ini malah meminta untuk tidak perlu mencari sekretaris cantik juga seksi asal pintar dan memiliki penampilan rapi saja sudah cukup, bahkan kalau perlu cari saja sekretaris laki-laki.
Sungguh mencari sekretaris laki-laki itu hal yang sangat jarang, ada memang sekertaris laki-laki tapi kan..
Ah sudahlah Damar malah pusing sendiri memikirkan tentang kemauan sang atasan, mungkin atasannya itu sedang menjaga perasaan seseorang, siapa lagi kalau bukan istrinya.
Ipul mengangguk sambil mempercepat langkah menuju mobil yang sudah menunggu mereka.
Pria itu membungkukkan badannya ketika akan masuk ke dalam mobil dan duduk di mobil dengan sedikit bersandar, sebenarnya pikirannya saat ini sedang sangat terganggu bukan hanya tentang perusahaan saja tapi juga tentang pesan dari seorang wanita yang berada di negara lain sana, wanita yang mungkin sedang menanti balasan pesan darinya sedangkan dia justru bingung harus membalas bagaimana pesan yang dua hari lalu di kirimkan, hingga akhirnya dia hanya mampu menghela napasnya saja yang terdengar begitu berat membuat Damar yang duduk di kursi depan menoleh padanya.
Ipul baru ingat kalau nanti malam dia ada undangan resepsi pernikahan salah satu temannya, tidak mungkin dia tidak datang sebab temannya itu cukup dekat dengannya semasa kuliah dulu.
"Setelah ini tidak ada pertemuan lagi kan Om?" tanya Ipul dengan mata yang terpejam.
"Tidak ada tuan muda."
Tidak ada sekretaris membuat Damar mengambil alih semua pekerjaan, selain menemani atau menjadi wakil dari atasannya itu, dia juga harus mengatur semua jadwalnya, sungguh pekerjannya menjadi bertambah dua kali lipat, ingin segera mendapatkan sekretaris tapi kriterianya harus sesuai dengan yang atasannya itu inginkan, jadilah dia pusing tujuh keliling.
Ipul tidak lagi berbicara tapi dia kemudian menegakkan tubuhnya lalu menyalakan handphone untuk menghubungi Ralen, dia ingin mengajak wanita itu pergi dengannya ke pesta resepsi sang teman.
Sejak pagi raut wajah Sarah menunjukkan kekesalan karena harus menjadi sekretaris dari pria tua bernama Raka.
"Sialan!" makinya seperti tidak terima tapi mau menolak pun tidak mungkin.
"Apes banget gue! gue kan niatnya mau ngegebet bos, tapi kalau kayak gini mana bisa! mana tuh Pak tua centil banget lagi!" Sarah bersungut tentang kelakukan pria tua yang menjadi atasan barunya.
Baru hari pertama mulai bekerja saja pria tua itu sudah mengedip-ngedipkan matanya dengan sangat ganjen membuat Sarah yang sebenarnya tak kalah centil malah jadi kesal dan dongkol setengah mati.
"Iiiissshhh, mau berhenti nanti gue shoping duit dari mana? ngegebet bos satu aja susah banget!" desisnya mencoret-coret buku catatan di atas meja dengan wajah cemberut dan makin terlihat menyeramkan akibat riasan yang begitu menor di wajahnya, siapapun yang melihatnya mungkin akan langsung kabur karena ketakutan.
Niatnya mendapat pangeran malah dapat ikan buntal, tentu saja dia dongkol setengah mati sampai segala sumpah serapah tak hentinya dia lontarkan dari bibir tebalnya yang berwarna merah menyala bagaikan api yang membara dan siap membakar siapa saja yang menyentuhnya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*