
"Kenapa wajahmu sejak tadi tidak enak sekali dilihat." cibir Ipul mendapati wajah sang istri yang sejak dua hari lalu tampak tidak bersemangat, selalu memamerkan wajah datar tanpa senyum serta mulut yang biasanya bawel banyak bicara ini sudah dua hari tidak terdengar membuatnya bertanya-tanya bingung hingga akhirnya sore hari ketika dia pulang dari kantor langsung saja mengajukan pertanyaan yang sebenarnya adalah sebuah protes, memangnya suami mana yang bisa tahan ketika pergi dan pulang bekerja disuguhkan serta disambut dengan wajah kusut cemberut seperti tengah menabuhkan genderang perang.
Mama Riska yang sedari tadi berada diantara pasangan suami istri itupun memilih untuk segera menyingkir tidak mau mendengar apalagi sampai terlibat dengan pembicaraan yang mungkin akan menjadi panas karena pasangan muda itu sama-sama keras kepala sangat mustahil salah satu diantara mereka akan mudah mengalah.
Ipul melirik tak peduli pada sang Mama yang melenggang menjauh, entah pergi kemana wanita yang juga sangat dia sayangi itu yang jelas wanita itu tidak lagi terlihat di ruangan yang sama dengan dia dan Ralen.
"Apa aku harus cerita?" Ralen malah mengajukan pertanyaan malah membuat pria yang tengah mengendurkan dasinya melotot tak senang.
"Asal ceritamu bukan dongeng anak kecil!" dengus Ipul melenggang menyusuri anak tangga membiarkan istrinya mengekor di belakang.
"Aku mau cerita tapi aku kapok dengan tanggapan yang kamu berikan," tutur Ralen.
Iya, Ralen sepertinya masih terus mengingat bagaimana suaminya itu begitu santai tenang tak terusik sama sekali ketika dia memberitahu bahwa Daniya adalah Kakak kandungnya, baginya sikap tenang suaminya berkesan menyebalkan untuknya ditengah dia yang merasa was-was cemas gelisah semua yang membuat resah itu bercampur menjadi satu di dalam hati dan pikirannya.
Ipul menghentikan langkah mendadak lalu memutar tubuh hingga bisa menatap wanita yang berjalan menundukkan kepala sampai akhirnya..
Dug..
"Aaaaaa." Ralen berteriak karena tubuhnya yang tidak seimbang hingga terdorong kebelakang untung saja dengan sangat sigap suaminya meraih pinggangnya untuk menyelamatkan dia andai terlambat sedikit saja mungkin tubuh Ralen sudah bergulingan di tangga dan tergeletak di lantai bawah sana.
"Ketika berjalan bukan hanya langkah yang kamu perhatikan tapi juga perhatikan apa yang ada di depanmu!" omel Ipul menatap memperingatkan sang istri yang mengerjapkan mata tak percaya dengan jantungnya yang berdebaran begitu kencang.
Ralen memutar kepala menoleh pada belakang tubuhnya, dia kini sudah berada di tepian anak tangga paling atas.
"Kalau sampai jatuh aku pingsan atau hilang ingatan? atau mungkin malah kehilangan.."
Pletak!
Ipul dengan sadis menyentil dahi sang istri.
"Aduh sakit!" seru Ralen memegangi dahi yang terasa nyut-nyutan akibat perbuatan sang suami.
"Ipul!" dari lantai bawah suara Mama Riska menyentak memanggil namanya, wanita itu tentu mendengar teriakan dari menantunya barusan dia mengira mungkin saja anaknya itu tengah melakukan kekerasan rumah tangga, mungkin?
"Nggak Ipul pukul Ma, ini dia mau jatuh terus ngomongnya kayak orang mabok ya Ipul sentil," aku Ipul menjelaskan pada sang wanita yang tengah menatapnya dengan garang juga penuh peringatan.
"Hehehe." dengan bodohnya Ralen malah cengengesan padahal mertuanya sudah sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Awas ya kamu Saipul Gunawan!" memberikan peringatan seraya menunjuk sang anak dengan jari telunjuknya yang lentik.
"Kamu kalau Ipul nya galak lawan aja," beralih pada menantunya yang mengangguk dengan cepat.
Ipul berdecak lalu memutar bola mata tak terima dengan peringatan yang Mamanya berikan.
"Mama pikir menantunya Mama ini wanita lemah?" Ipul bertanya lalu mendecih penuh ejekan.
"Dia ini galak Mah, kalau sudah ngamuk singa betina pun kalah sama dia," cerocos Ipul tersenyum mencibir pada wanita yang masih berada di dalam dekapannya.
"Jangan sok polos!" sentak Ipul kala Ralen menunjukkan tatapan mata yang memelas bagaikan wanita tak berdaya.
"Lebih baik galak, daripada lemah nanti ditindas sama kamu!" oceh sang Mama lalu melenggang pergi meninggalkan anak dan menantunya yang semakin hari makin membuat suasana rumah menjadi sangat ramai.
"Weeeee." Ralen menjulurkan lidahnya mengejek pria yang memicingkan mata melihat dirinya.
"Ini kalau aku lepas minimal berdarah sih," ucap Ipul membuat Ralen panik dan dengan cepat mendorong suaminya untuk cepat menjauh dari tangga yang tadi hampir merenggut nyawanya.
Ipul tersenyum melihat tingkah istrinya, "tadi ngomongin pingsan hilang ingatan, eh sekarang ketakutan sendiri," mencibir mendapati istrinya yang sudah meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Ralen masuk ke dalam kamar lalu duduk di tepi tempat tidur menampilkan wajah yang kembali cemas.
Baru saja masuk Ipul sudah kembali disuguhkan wajah yang sama dengan saat dia pulang tadi.
"Jelita!" mulai geram sambil melempar dasi sembarangan.
"Daniya minta kamu." akhirnya apa yang mengusik hatinya terucap juga dengan suara yang bergetar namun tidak ada tanda-tanda akan ada tangisan.
Wajah Ralen masih sama cemasnya dengan yang tadi, bukan kesedihan tapi lebih pada kecemasan serta ketakutan, menurutnya dia masih bisa menjaga suaminya dari Kakak kandungnya tapi bagaimana jika ibunya ikut campur?
Mata Ipul menyipit melangkah mendekat pada wanita yang sekarang terlihat meremas seluruh jari-jemarinya menyuguhkan guratan wajah menggambarkan perasaan yang sedang dia rasakan.
"Lalu?"
Sepertinya Ralen tidak salah ketika dia ragu mengatakan apa yang mengusik hatinya, lihat saja suaminya malah dengan santai serta tenang hanya mengucap kata lalu yang disertai dengan tanda tanya.
Saipul Gunawan hanya bertanya, lalu? sungguh Ralen menahan napas ingin rasanya dia mengeluarkan sumpah serapah makian untuk pria yang berdiri tepat didepannya ini.
Bagaimana bisa memberikan tanggapan yang luar biasa tenang sama seperti saat Ralen memberitahu bahwa Daniya adalah Kakak kandungnya.
"Kamu tidak punya perasaan kah? mati rasa?" Ralen mendelik kesal.
"Kamu mengatakan Daniya minta aku, terus menurutmu aku harus memberi tanggapan yang bagaimana?" Ipul menaikkan kedua tangannya ke pinggang berdiri menantang di depan wanita yang harus mendongak menatap padanya.
"Mantan kekasihmu itu minta kamu dari aku! tidak bisakah kamu lebih ekspresif lagi? tunjukkan raut wajah marah emosi kesal dan sebagainya!" protes Ralen yang malah berujung ditertawakan oleh suaminya yang memang menyebalkan.
Ipul tertawa keras sampai bahunya berguncang berulang-ulang, tawa yang ringan tak peduli kalau istrinya menganggapnya gila.
"Orang lagi marah dia malah ketawa, gila!" dengus Ralen menatap sinis dan kesal.
Ipul tertawa keras sekitar satu menit baru kemudian setelah tawanya tuntas dia menundukkan wajahnya menatap sang istri seraya berkata, "aku tidak pernah memiliki hubungan dalam artian kekasih, hanya saling kenal yang mungkin bisa diartikan teman, pertemanan jadi jangan selalu mengkaitkan aku dengannya, mengerti?" Ipul menyentuh dagu Ralen membuatnya makin mengangkat wajah hingga netra mereka bertemu.
"Aku akan menemuinya dan berbicara dengannya agar tidak lagi mengusik istriku yang galak ini," tutur Ipul, "kesal dengan siapa tapi aku yang dapat getahnya," katanya seraya mengecup bibir istrinya lalu menggerakkan dengan sangat elegan dan penuh penghayatan.
Tak disangka Ralen malah terhanyut dengan suasana syahdu yang diciptakan oleh suaminya padahal dia tadi sebegitu kesalnya karena perkataan Daniya yang terus berputar dipikirannya bagaikan kaset kusut.
Ini masih sore namun keduanya sudah sibuk dengan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh pasangan suami istri di atas tempat tidur, berbagi kesenangan mengabaikan panggilan dari sang Mama yang terdengar lantang di lantai bawah sana.
"Masih mual juga?" tanya Ralen ketika mereka yang baru saja menyelesaikan kesenangan mereka tapi suaminya malah berlari dengan cepat menuju kamar mandi lalu muntah-muntah.
"Kadang hilang kadang muncul," sahut Ipul yang masih hanya memakai handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya.
"Ke dokter aja kalau begitu," saran Ralen yang membantu memijit tengkuk sang suami.
"Besok aja kalau masih begini juga baru ke dokter," kata Ipul mencuci tangan lalu menutup kran air.
"Aku mau mandi, mau bareng?" tanya Ipul pada sang istri yang membungkus tubuhnya dengan selimut.
Ralen dengan cepat menggeleng, "nggak, kamu aja mandi duluan." setelah berkata langsung kabur meninggalkan suaminya yang menyunggingkan senyum.
"Memangnya dia pikir aku bodoh apa? alasan ngajak mandi tapi nanti malah bukan mandi," dengusnya menatap pintu yang sudah tertutup dan terdengar air yang mulai mengalir.
Ralen sedang berdiri di tengah kamar tepat saat suaminya keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk.
"Kamu lagi apa?" tanya Ipul melihat kedua bahu punggung istrinya yang masih polos karena masih menggunakan selimut berdiri membelakangi.
"Lagi lihat kalender di hp," sahut Ralen tanpa menoleh.
__ADS_1
"Nunggu gajian?!" bertanya asal seraya melenggang mengambil pakaian yang sudah disiapkan oleh sang istri di atas tempat tidur.
"Kita sudah tiga bulan nikah kan?" mengabaikan pertanyaan dari suaminya.
"Aku tidak ingat." menjawab tanpa menghentikan gerakannya yang sedang memakai kaos.
"Tiga bulan nikah tapi kok aku datang bulannya baru satu kali." Ralen terdengar berbicara sendiri tapi pria yang di dekat tempat tidur terperangah mendengar apa yang Ralen gumamkan.
"Apa? kamu ngomong apa barusan?" Ipul berjalan mendekat pada sang istri dan berdiri di depannya.
"Aku udah dua bulan nggak datang bulan, harusnya hari ini atau kemarin tapi kok nggak keluar juga, yang bulan kemarin juga aku nggak datang bulan aku pikir mungkin cuma kecapean kuliah kali ya Mas." oceh Ralen dengan wajah polos tanpa dosa.
"Aku pikir aku pikir!" Ipul menyentak kesal mendengar ocehan istrinya.
"Cepat mandi sana kita ke dokter sekarang!" berseru keras membuat Ralen kaget mendengar suaranya.
"Mas Sai mau periksa?" masih dengan tidak tahu apa-apa bertanya yang makin membuat suaminya menjadi murka.
"Mandi Ralen!" membentak makin tak karuan karena dibuat geram dengan tingkah istrinya.
"Cepat!" matanya mendelik ketika istrinya masih berdiri saja seperti tak berminat untuk beranjak ke kamar mandi.
"Iya!" sentak Ralen menatap kesal karena sejak tadi suaminya berkata sangat keras terhadapnya membuat telinganya berdengung.
Ralen membanting pintu kamar mandi.
"Pelan-pelan Jelita! kalau pintu itu rusak aku akan potong uang jajan mu!" ancam Ipul.
"Dasar perhitungan!" sungut Ralen.
Di dalam kamar Ipul mengganti celana pendeknya dengan celana panjang, "aku tunggu di bawah!" serunya pada sang istri sebelum keluar kamar.
"Kamu mau kemana?" tanya sang Mama melihat penampilan sang anak.
"Mau antar Ralen ke dokter," jawabnya.
"Ralen sakit?"
Ipul membuang napas kasar, "menantu Mama itu sudah telat dua bulan tapi diam saja," bersungut mengingat kelakuan Istrinya.
"Telat dua bulan? tidak datang bulan maksudnya?"
"Sama saja Mama." ucapnya menguap dengan pertanyaan Mamanya yang padahal artinya sama saja, kan?
"Itu artinya kalian mau punya anak?!" mata sang Mama membulat sempurna, perasaan terkejut bercampur dengan rasa senang gembira tak terkira.
Ipul mengedikkan bahunya, "mana Ipul tahu."
"Kamu harus tahu, itu artinya selama ini kamu muntah-muntah ya karena Ralen hamil," tutur Mama Riska memamerkan wajah penuh kebahagiaan yang tidak bisa dia sembunyikan lagi, "kok Mama bisa nggak sadar ya? padahalkan dulu waktu Tante Andini hamil si kembar yang ngidam itu Om Arman." tambah Mama Riska lagi yang entah kenapa dia baru ingat sekarang.
Ipul memijit kepalanya yang memang kembali pusing, mungkin apa yang Mamanya katakan itu memang benar karena diapun selama ini tidak pernah mengalami sakit aneh begini bahkan sampai berhari-hari tidak mau sembuh.
"Kalau misalnya benar Jelita hamil, terus Ipul sampai kapan mual-mual sama pusingnya?" akhirnya mencari tahu.
"Selama tiga empat bulan mungkin, kayaknya sih iya," kata Mama Riska tak yakin karena dia memang tidak mengalaminya.
"Astagaaa." Ipul mengurut keningnya makin kencang, sudah membayangkan andai Ralen memang benar sedang hamil.
__ADS_1
\*\*\*\*