Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Kamu Mau Mabuk?


__ADS_3

"Mereka mengikuti kita dengan jarak yang sangat dekat?" Ipul terlihat tidak percaya ketika melihat mobil yang membawa istrinya berada di belakang, sejak tadi dia memang terus melihat mobil yang di tumpangi oleh istrinya melalui kaca spion.


"Dasar amatir," katanya mengejek apa yang dilakukan oleh dua wanita di dalam mobil sana.


Setelah hampir dua jam mobil yang membawa Ipul tidak juga berhenti membuat Ralen kesal dan terus saja menggerutu tak sabar, tubuhnya ini sudah lelah karena terlalu lama duduk di dalam mobil tapi masih juga tidak ada tanda-tanda akan berhenti, tadi mereka cuma ke pom bensin jelas untuk mengisi bahan bakar lalu melakukan Drive thru di restoran cepat saji, mengingat mereka memang belum sempat makan pagi tadi.


"Sebenarnya mereka itu mau kemana?!" tanya Ralen dengan nada kesal tapi di tangannya ada hamburger yang tadi dia beli dan baru dia santap sekarang, sebenarnya tidak ingin dia makan tapi perutnya mendadak serta menuntut untuk segera diisi jadilah dia makan burger itu dan dengan mulut yang penuh dia mengomeli kelakukan suaminya.


"Hah dia lihat belakang!" seru Ralen terkejut ketika suaminya melongokkan kepala lalu melihat kearahnya.


Wanita itu gegas menunduk tak jelas agar suaminya tidak melihat, padahal dia tidak menyadari kalau saat ini suaminya yang tadi memang sengaja melongokkan kepala untuk melihatnya sedang terpingkal mentertawakan dirinya.


"Tuan muda bahagia sekali," tukas Damar ketika pria di sampingnya bahkan tertawa lebar dengan suara yang kencang.


"Lihat saja tingkah istri Ipul Om, dia menggemaskan dengan kebodohan yang dia miliki," kekeh Ipul masih belum kuasa menghentikan gelak tawanya.


Damar mengerutkan keningnya, coba jelaskan dimana ada bodoh tapi menggemaskan? bukankah yang namanya bodoh itu sangat mengesalkan? mengesalkan dan ingin rasanya memberi les tambahan agar orang bodoh itu berubah jadi pintar, yah setidaknya jauh lebih baik agar kebodohannya itu tidak nampak.


Pria yang tengah menyetir mobil itu kemudian menggaruk kepalanya dang sebelah tangan yang tidak memegang stir.


Amara melirik dan memperhatikan tingkah Ralen, sungguh dia bingung kenapa dia harus terlibat dengan pasangan suami istri yang aneh ini? harus menjadi bagian dari dua orang yang mungkin sedang dalam masalah, bahkan kemarin pun dia turut menyaksikan ketika bagaimana atasan dan istrinya itu bertemu di lobi hotel dengan satu orang wanita yang dia lihat memiliki wajah yang mirip dengan istri dari atasannya itu, bahkan Amara pun bisa langsung menyadari kalau wanita itu dan Ralen memiliki kemiripan meski baru sekali melihat, sungguh sebenarnya Amara bingung tapi tidak mau menunjukkan kebingungannya apalagi saat matanya begitu membelalak kala dia menyaksikan wajah-wajah yang tegang saat itu.


"Seharusnya tadi tanya dulu sama Pak Damar," ucapnya dalam hati karena tidak berpikiran untuk bertanya tentang kenapa mereka harus menguntit seperti ini.


Mereka ini bukan detektif khusus ataupun mata-mata tapi kenapa sekarang malah melakukan hal yang sangat tidak keren baginya, maksudnya kalau memang ada masalah bukankah lebih baik langsung diselesaikan saja jangan jadi tak jelas begini, muter-muter di jalanan dari jam baru di angka 10 hingga sekarang sudah menunjuk angka 3, lihatlah sudah berapa jam mereka berputar menyusuri jalanan seperti orang tersesat.


Ini konflik rumah tangga macam apa yang sedang Amara saksikan, kenapa sangat tidak biasa, atau memang dia yang tidak banyak pengalamannya karena memang dia belum menikah menjadikan dia sangat buta tentang permasalahan rumah tangga sehingga merasa begitu aneh dengan konflik yang satu ini?


"Mereka menuju minimarket Nona, harus kita ikuti juga?" tanya Amara melihat mobil yang dia ikuti berbelok masuk menuju minimarket di pinggir jalan yang mereka lalui.


"Tidak perlu, kita tunggu disini saja," jawab Ralen dengan kedua matanya yang bergerak mengikuti kemanapun kendaraan yang membawa suaminya itu pergi, seolah tidak membiarkan kendaraan itu lepas dari pandangannya barang sedetik pun.


"Kenapa dia tampan sekali," ucap Ralen mengakui ketampanan yang suaminya miliki saat pria itu keluar dari dalam mobil dan seperti sengaja berdiri berlama-lama di depan pintu mobil hanya untuk menunjukkan pesonanya sebagai seorang laki-laki yang memiliki wajah serta tubuh yang tidak pantas untuk di cela, mendekati sempurna bahkan mungkin sudah memasuki tahap sempurna.


"Nona memang tidak salah memilih suami."


Ralen menoleh pada wanita yang ikut berbicara di sampingnya.


"Bukan aku yang memilih, tapi dia yang memilih," tukas Ralen kembali menatap kagum pada pria yang sudah beranjak masuk ke dalam minimarket, entah apa yang ingin di beli oleh suaminya itu


Amara balas melihat istri dari atasannya lalu telinganya kembali mendengar suara dari bibir yang bergerak di sampingnya.


"Mungkin kalau bukan dia yang memilihku tidak akan ada laki-laki lain yang mau denganku," Ralen berkata dengan suara yang amat dalam seperti gambaran inilah kegundahan hatinya yang dia simpan seorang diri.


"Haha, dia bodoh ya mau-maunya menikahi wanita seperti ku padahal pasti ada banyak wanita yang mendekati dia, kemarin kamu juga lihat sendiri kan wanita yang menempel pada suamiku," kata Ralen yang tiba-tiba saja tertawa membuat Amara terjengkit kaget.


Raut wajahnya memberi respon tak percaya dengan perubahan dari Ralen yang begitu cepat, dia tadi sudah akan bersedih ketika Ralen menyuarakan isi hatinya, tapi beberapa detik kemudian malah sudah tertawa seperti tidak ada hal menyedihkan apapun yang baru saja wanita itu katakan.


Ralen mendengus lalu mencibir berulang kali mengatai suaminya bodoh.


Amara menormalkan perasaannya yang sudah terharu untuk mengimbangi Ralen, "semua bisa terjadi karena kekuatan cinta Nona," ucap Amara, dia berpikir perkataannya itu sudah sangat benar dan memang benar kan? karena cinta apapun bisa saja terjadi.


Ralen menggeleng kuat menampik apa yang Amara katakan, "bukan karena cinta," ralat Ralen dengan mata yang membulat sempurna.


"Lalu karena apa?" Amara mengerutkan dahi lalu menatap sang wanita menunggu jawaban.


"Karenaaa.." bola mata Ralen bergerak ke kiri dan kanan dengan cepat dan tanpa henti, ingin mengatakan tapi dia berpikir apakah Amara akan mengerti apa yang dia katakan, sedangkan Ralen tahu Amara belum menikah dan pasti belum melakukan apa yang sudah sering dia lakukan bersama Ipul.

__ADS_1


"Mereka sudah jalan, ayo kita jalan juga," Ralen menunjuk mobil suaminya yang kembali bergerak melupakan jawaban yang masih dia gantung.


Hari sudah menjadi gelap ketika akhirnya dua mobil yang berisi suami istri itu sudah berjalan masuk ke dalam parkiran.


"Mereka benar-benar tidak mengambil jarak sedikit pun," Ipul menggelengkan kepala saat mobil yang ditumpangi oleh istrinya parkir tepat di belakang mobilnya.


"Kita benar akan masuk ke dalam tempat itu Nona?" Amara terlihat meragu saat melihat papan yang berkedip dengan lampu-lampu yang menyala sedikit redup.


Amara tentu tahu tempat apa yang mereka datangi saat ini, tapi untuk masuk ke dalamnya dia tidak pernah sama sekali, sungguh ini adalah pengalaman pertamanya.


Ralen tak menjawab, dia juga sebenarnya ragu apakah harus masuk atau tidak, tapi begitu mengingat ucapan Damar tentang wanita cantik dan seksi membuat darah yang mengalir ke kepalanya menjadi begitu panas dan menyulut kobaran semangatnya untuk masuk ke tempat itu mengikuti suaminya yang sudah lebih dulu masuk beberapa menit yang lalu.


"Kita masuk sekarang, nanti mereka keburu berbuat macam-macam lagi di dalam sana!" seru Ralen menarik pergelangan tangan wanita yang hampir saja jatuh terantuk kakinya sendiri.


"Oh tuhan ujian macam apa yang sedang kamu berikan padaku ini," ratap Amara ketika Ralen terus menariknya masuk ke dalam klub malam setelah sebelumnya melewati pemeriksaan di pintu depan.


Untunglah mereka membawa indentitas jika tidak kemungkinan besar mereka tidak akan dibiarkan masuk oleh dua orang penjaga yang bertubuh besar itu.


"Tempat aneh macam apa ini?" bisik Ralen pada wanita yang pasrah saja ketika di tarik olehnya.


"Nona," panggil Amara ketika dia merasa tidak nyaman dengan tatapan para pria di tempat itu.


"Kenapa?" Ralen menghentikan langkahnya yang begitu hati-hati sebab dia tidak terbiasa dengan pencahayaan yang berkelap-kelip menghalangi penglihatannya.


"Mata pria itu terus menatap kita," Amara berkata tepat di depan telinga Ralen, suara musik yang keras membuat dia harus melakukan itu.


"Kamu kan pemegang sabuk hitam, kalau mereka berbuat menyebalkan hajar saja langsung aku akan membantumu," suara Ralen sengaja di buat kencang agar pria-pria itu semuanya mendengar dan tidak melakukan apapun terhadap mereka.


Amara mengangguk mengerti, bodoh dia kenapa malah ketakutan seperti itu.


"Kamu lihat suamiku tidak?" tanya Ralen ketika tidak juga melihat suaminya di tengah banyak orang yang sedang asik berjoget dengan iringan musik yang menghentak.


Ralen mengusak rambutnya yang dia biarkan tergerai, kesal karena tidak menemukan suaminya.


"Aku haus kita pesan minum saja dulu," kata Ralen merasakan tenggorokannya mulai kering.


Amara pun hanya mengikuti saja, menyertai wanita yang berjalan melewati sekumpulan orang-orang yang sedang asik mendengarkan musik sampai kepala mereka bergerak tak jelas.


Keduanya sudah duduk di depan meja dengan seorang pria yang sedang sibuk meracik minuman.


"Kita harus pesan apa Nona?"


Dua wanita itu ternyata sangat polos, bahkan tidak tahu apa yang harus mereka pesan di tempat seperti itu.


"Pesan saja yang paling digemari di tempat ini," sahut Ralen tenang sambil matanya tetap mencari-cari dua pria yang seperti menghilang.


Amara mengerutkan dahi penuh pertanyaan, agak sedikit aneh dan tidak yakin tampaknya.


"Biasanya kalau pergi ke cafe yang tidak pernah aku datangi sebelumnya, aku dan temanku akan memesan makanan dan minuman yang paling sering di pesan," aku Ralen merasa apa yang dia lakukan sekarang benar dan akan sama saja seperti sebelum-sebelumnya, dia tidak berpikir kalau tempat yang dia datangi sekarang ini berbeda dengan tempat yang dia datangi bersama Antika.


Yang dia datangi bersama Antika itu hanya sebuah cafe yang buka dari siang sampai pukul 9 malam saja, jelas tidak akan menyediakan minuman seperti yang ada di club malam ini.


Ah kacau lah sudah ketika Amara langsung memesan seperti yang sudah di ajarkan oleh Ralen barusan dan sang bartender pun dengan sigap meracik minuman untuk mereka berdua.


Amara dan Ralen saling tatap ketika dua gelas minuman berukuran sangat kecil sudah tersaji di depan mereka, lalu keduanya pun kompak mengendus-endus minuman itu merasakan aroma yang sangat asing bagi hidung mereka.


__ADS_1


"Aku sepertinya pernah mencium bau minuman ini?" Ralen merasa sangat tak asing dengan bau minuman itu, diapun mencoba mengingat tapi tidak teringat sama sekali.



Beberapa menit kemudian Ralen dan Amara malah merasakan kepalanya pusing dan matanya berkunang.



"Kepalaku pusing," kata Ralen.



"Saya juga Nona, kenapa ya?" tanya Amara.



Ipul yang ternyata tak sengaja bertemu dengan temannya asik berbincang tidak melihat apa yang dilakukan oleh istrinya, dia juga tidak melihat kalau istrinya sudah memesan minuman.



Jarak tempat dia duduk dengan Ralen sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya saja banyak sekali orang di tempat itu membuat jarak pandang sedikit terhalang.



"Mereka pesan minuman?" mata Ipul terbelalak ketika melihat dua gelas kecil ada di meja depan istrinya.



Damar yang juga tidak sadar ikut terkejut, mereka berdua malah kecolongan, berniat ngerjain malah sepertinya mereka yang akan di kerjain oleh dua wanita itu.



"Semoga belum di minum tuan," kata Damar mencoba tenang, tapi hatinya malah was-was.



Ipul berjalan menuju Ralen lalu merampas gelas ketika istrinya itu ingin meminumnya.



"Kamu mau mabuk lagi?" tanya Ipul.



"Oh Mas Sai, akhirnya kamu muncul setelah sekian lama aku mencari, aku ingin tidur denganmu Mas Sai, ingin di peluk kamu dan melakukan gerakan erotis.." Ipul membekap mulut Ralen yang meracau mengatakan apa saja.



"Sepertinya sudah mabuk tuan," Damar menjawab pertanyaan yang Ipul ajukan untuk Ralen seraya melihat Amara yang sudah melabuhkan kepalanya di atas meja bartender.



"Sial!" maki Ipul lalu menarik tubuh istrinya yang sudah sangat limbung mau tidak mau dia harus menggendongnya.



"Om antar Amara pulang ke rumahnya, biar Ipul pulang dengan Jelita," perintah Ipul yang langsung diangguki oleh sang asisten.

__ADS_1



Pria itu menggendong Ralen yang terus saja bersuara, meracau tak jelas membicarakan apapun yang tak masuk akal, sungguh membuatnya ingin membekap bibir merah istrinya yang terus mengeluarkan ocehan.


__ADS_2