
Daniya memandang tajam sekaligus sinis pada wanita yang menjadi ibu kandungnya beserta dengan Adik kandungnya, Arda.
"Aku sudah katakan lebih dari satu kali bahwa aku tidak ingin melihat kalian, terutama kamu!" menatap marah pada Ibu kandungnya.
Tadinya Arda itu melarang Ibunya untuk menemui Daniya, belasan kali dia mencoba membujuk tapi sang ibu tetap berkeras minta di antar bertemu dengan Daniya, Kakak kandungnya yang tidak tahu kenapa sifatnya sangat berbeda jauh dengan Kakaknya yang satunya lagi, Ralen.
Jangan karena alasan di buang lalu menganggap orang tua kandungnya sendiri itu bagaikan musuh yang harus di perangi, tidak seperti itu terlebih lagi mereka pun sudah menjelaskan bahwa apa yang sudah terjadi itu murni karena kemiskinan mereka yang tidak sanggup untuk membiayai Daniya berobat.
Lagian dia itu hidup sangat enak berbeda jauh dengan dua Adiknya yang kadang harus mendapatkan uang dulu baru mereka bisa makan dan membayar semua kebutuhan hidup mereka selama ini.
Melihat sifat Daniya yang seperti ini membuat Arda sangat yakin kalau seandainya Daniya tidak diberikan pada orang lain mungkin Daniya akan selalu mengeluh tanpa bisa membantu.
"Dari gerak bibirnya saja saat berbicara sudah sangat menyebalkan, kamu itu hanya ketolong wajah yang mirip dengan Kak Ralen, kalau tidak mirip pastinya kamu itu makin menyebalkan saja tanpa ada nilai plus!" batin Arda yang sejak tadi rasanya ingin sekali marah tapi saat berangkat tadi ibunya sudah memberinya peringatan untuk tidak mengatakan apapun dan menyimpan kekesalannya saja dalam hati.
"Jangan salahkan Kakakmu, dia begitu karena kesalahan Ibu dan Ayah." itu yang di katakan oleh sang ibu setiap kali Arda mulai membicarakan Daniya, mengutarakan pendapat sekaligus kekesalannya pada Kakak pertamanya itu.
Kakak pertama? rasanya Arda sangat sulit mengakui Daniya sebagai Kakaknya setelah mengetahui perilaku dan ucapan-ucapan yang wanita itu keluarkan sungguh menyakiti hati.
Bahkan Arda berpikir Sebenarnya Ralen lah Kakak pertamanya mengingat sifat Ralen yang meskipun menyebalkan dan galak tapi memiliki tanggung jawab yang sangat luar biasa, bahkan rela melepaskan cita-citanya untuk berkuliah mengalah padanya.
"Ibu hanya ingin mengantarkan makanan ini untuk kamu Nak, walaupun ibu tidak tahu apa makanan kesukaan kamu tapi ibu berharap kamu bisa menyukai makanan ini," Arni mendorong rantang yang sejak tadi dia bawa.
Mereka ini memang hanya berada di teras rumah saja, tidak dibiarkan untuk masuk, siapa lagi kalau bukan oleh Daniya! wanita itu sungguh tidak bisa menerima keluarganya sendiri sekalipun hanya menginjakkan kaki di rumah yang menjadi rumah tinggalnya sejak kecil.
Daniya memandang sinis lalu berdecih tak suka, "bawa pulang kembali, aku tidak menerimanya dan aku pastikan aku tidak akan menyukai apapun makanan yang terbuat dari tanganmu!" Daniya berkata pedas tanpa perasaan seolah yang dia katakan itu tidak akan menyakiti hati siapapun, dia tidak sadar kalau saat ini adik laki-lakinya terlihat marah dengan sikap yang dia tunjukkan.
"Kalau kamu mau marah itu terserah, aku tidak peduli! tapi setidaknya hormati ibumu, dia ini wanita yang sudah melahirkan kamu, kalau tidak ada dia kamu tidak akan pernah lahir ke dunia!" hardik Arda geram dengan wajah yang merah.
ABG SMP itu tidak suka dan sangat marah ketika ada orang yang menyakiti keluarganya terutama ibunya, dia dengan dewasanya tentu akan maju untuk membela siapapun orang yang telah berbuat tak baik dan seenaknya.
"Kalau begitu seharusnya tidak perlu melahirkan aku, kamu pikir aku tidak menyesal dilahirkan olehnya?!" Daniya makin menjadi melawan apa yang Arda katakan.
Arda menggeram dengan telapak tangan yang terkepal, andai yang di depannya ini adalah seorang laki-laki mungkin sudah habis dipukuli sampai tidak berbentuk.
Sebagai seorang anak dan manusia perkataannya itu teramat kurang ajar dan menyakitkan, bahkan sekarang Arda melihat kalau ibunya berusaha menahan air mata yang memaksa keluar dari kedua kelopak matanya.
Tentu saja hatinya teriris manakala mendengar ucapan anak kandungnya sendiri, meskipun dia salah karena dulu terkesan tidak mau berusaha untuk kesembuhan anaknya tapi bukankah karena itu juga yang membuat Daniya itu hidup berkecukupan tanpa kekurangan apapun, makan tidur dan urusan pendidikan pun tercukupi bahkan serba berlebih, jika dibandingkan dengan dia dan Ralen sangat berbeda jauh bagaimana bumi dan langit, tapi kenapa wanita itu tidak bersyukur dan malah menjadikan hal itu sebagai alasan untuk membenci orang tua kandungnya.
"Kamu mau memukul ku?" Daniya malah tampak begitu menantang pemuda di depannya yang gurat wajahnya sudah memancarkan rasa marah yang tak terhingga.
Arda sudah akan maju setidaknya dia ingin memberikan tamparan pada wajah wanita yang tersenyum penuh ejekan dan sangat menantang dirinya, tapi ibunya malah buru-buru menahan tangan menghentikan gerakannya lalu menggelengkan kepala melarang dia melakukan apa yang sejak tadi dia tahan.
"Bu!" Arda terlihat tidak percaya ketika ibunya yang sudah dihina sejak tadi masih saja seperti membela anak kurang ajar bernama Daniya itu.
Sontak apa yang dilakukan oleh Arni itu membuat Daniya tersenyum penuh kemenangan, dia sudah berhasil membuat orang emosi tapi tidak bisa meluapkannya, bukankah emosi yang tidak tersalurkan akan makin membuat pikiran dan hati jadi tak karuan.
Seperti yang dia lihat pada Arda sekarang, ABG SMP itu tampak mengetatkan rahangnya menatap tak percaya kepada sang ibu yang mencengkeram kuat pergelangan tangannya.
__ADS_1
Situasi ini benar-benar membuat Arda marah tapi dia tidak bisa meluapkan kemarahannya karena sangat menghargai wanita yang sudah melahirkannya, sangat jauh berbeda dengan wanita di depannya yang sekarang seakan tersenyum mengejek.
"Kamu laki-laki tapi kamu bersikap seolah anak gadis yang terlalu menurut pada Ibumu!" cibir Daniya seraya bersedekap menatap sadis Adik kandungnya yang menunjukkan raut wajah seperti sedang berhadapan dengan musuh bebuyutan.
"Daniya.." suara Arni menyebut nama anaknya yang langsung saja melirik tak suka.
"Ibu benar-benar minta maaf atas kesalahan yang sudah ibu dan Ayah perbuat, itu hanya kesalahan ibu dan Ayah saja jadi jangan libatkan Adik-adikmu, mereka tidak tahu apapun bahkan mereka belum ada saat itu, jadi ibu mohon kalau mau marah silahkan marah pada Ibu dan Ayah saja bersikap baiklah pada Arda dan juga Ralen," mohon sang ibu dengan gurat wajah yang sedih.
Dia dan suaminya memang mengakui sudah melakukan kesalahan dan mereka pun tidak mengingkari itu, tapi setidaknya Daniya itu jangan juga memusuhi kedua Adiknya yang sama sekali tidak tahu menahu tentang masa lalu yang pernah terjadi.
Masa lalu yang menjadikan kenangan buruk dalam ingatan Daniya, masa lalu yang membuat dirinya berada dalam situasi tak termaafkan seperti sekarang ini.
"Kamu, suamimu dan juga kedua anak-anakmu itu tidak akan ada satupun yang akan aku maafkan!" sentak Daniya.
"Mulut mu itu sangat berbisa! kamu terpelajar tapi sikapmu terhadap orang tua malah menunjukkan bahwa kamu itu tidak punya pendidikan sama sekali, sikap dan sifatmu itu sampah tak berguna yang memang sudah seharusnya di buang!" hardik Arda mulai tak tahan mengeluarkan semua perkataan pedasnya.
Mata Daniya melotot begitu menyeramkan, seumur hidupnya tidak pernah ada siapapun yang berani mengatai dan menghina dirinya seperti ini, tidak ada siapapun termasuk orang tua angkatnya, sungguh dia sangat murka.
"Sangat beruntung kalau Ayah dan ibu membuangmu dulu, karena kalau diurus pun kamu mungkin hanya akan menyusahkan saja dengan segala kesombongan dan sifat angkuh mu itu!" sambung Arda sudah tidak peduli ketika ibunya menggoyang-goyang lengannya meminta dirinya untuk menghentikan kalimat demi kalimat yang dia keluarkan untuk membalas perlakukan Daniya.
"Kurang ajar! pergi kalian dari sini!" usir Daniya dengan suara yang sangat lantang seraya mendorong ibunya yang hampir saja jatuh seandainya Arda tidak menahan.
Wajah Arni menjadi sangat pucat, dia menatap Daniya yang sedang marah.
Tapi Arni malah menahan langkahnya lalu kembali mendekat pada Daniya, berdiri di depannya, "ini, kamu makan masakan ibu semoga kamu suka."
Prang!
Tanpa di sangka Daniya malah melempar rantang itu ke lantai hingga semua isinya berhamburan dan berantakan di atas lantai dengan warna gelap itu, membuat Arni dan Arda menatap nanar makanan yang sudah jadi kotor.
"Aku tidak butuh apapun dari kalian, terutama dari kamu! wanita jahat!" desis Daniya dengan tatapan yang nyalang dan berkesan ingin mematikan wanita di depannya.
"Pergi!" usir nya dengan raut wajah murka dan suara yang begitu tinggi.
Dia benci dan makin benci dengan wanita yang sudah melahirkannya itu, tidak ada sedikitpun belas kasih dan sayang untuk seorang ibu yang sudah membuangnya, sampai kapanpun dia tidak akan memaafkan sekalipun dia harus mati.
__ADS_1
Arda pun dengan kencangnya menarik sang ibu, mengajaknya untuk segera meninggalkan rumah besar dengan penghuninya yang macam hewan buas.
Arni dengan langkah yang berat mengikuti sang anak berjalan menjauh dan akhirnya keluar melewati gerbang tinggi lalu menuju motor yang mereka parkir di tepi jalan.
"Sampai kapanpun Arda nggak akan pernah anggap dia Kakak!" ujar Arda.
Dia akan sangat ingat apa yang terjadi hari ini, akan selalu ingat bagaimana Daniya memperlakukan ibunya dengan sangat kejam, tidak manusiawi sebagai seorang manusia.
"Jangan seperti itu Ar, Kakakmu seperti ini karena kesalahan Ibu, dan ibu akan berusaha melakukan apapun agar ibu mendapatkan maaf darinya," tutur wanita yang sudah duduk di boncengan motor.
Arda yang baru saja akan menyalakan mesin motornya pun mengurungkan niat, dia menoleh ketika mendengar apa yang ibunya bicarakan.
Setelah apa yang dilakukan oleh Daniya barusan, bisa-bisanya ibunya itu masih saja ingin meminta maaf pada wanita jahat itu, yang benar saja? menurut Arda apa yang ibu dan Ayahnya lakukan dulu itu adalah sebuah tindakan penyelamatan agar anak yang sakit-sakitan bisa terselamatkan dan terus hidup, seandainya mereka tidak memberikan Daniya pada orang lain apa ada jaminan kalau wanita itu akan hidup hingga saat ini?
Arda menggelengkan kepalanya tak mengerti dengan jalan pikiran Ibunya itu, akan melakukan apapun agar bisa dimaafkan? Arda tidak salah dengar kah? kalau wanita jahat itu meminta nyawa sekalipun apakah ibunya juga akan menurutinya agar mendapatkan maaf?
Arda sudah tidak bisa berkata-kata lagi, bibirnya menjadi kaku dengan kalimatnya yang tertahan di tenggorokan, sulit baginya untuk mengerti tentang jalan pikiran sang ibu, dia sebagai anak ingin yang terbaik dan tidak ingin orang tuanya tersakiti namun orang tuanya itu malah dengan sendirinya mendekatkan diri pada sumber penyakit.
Tarikan napas yang begitu berat dan sesak Arda keluarkan dengan tangannya yang mulai menyalakan mesin motor agar mereka bisa segera pergi dari rumah besar namun ada seorang iblis yang menghuninya.
Entahlah, Arda merasa Daniya itu wanita berhati iblis yang bersembunyi di balik wajah cantik milik Ralen, dan tentunya akan sangat kejam dalam memperlakukan siapapun yang menurutnya sudah menyakiti.
Kendaraan roda dua itupun perlahan menjauh dengan Arni yang terus menatap pada gerbang tinggi yang menghalangi pandangan untuk bisa melihat rumah besar yang dihuni oleh anaknya.
Sedangkan di balkon lantai dua, Daniya berdiri dengan tatapan yang sangat tajam melihat pada dua orang di atas motor yang mulai menjauh.
Tangannya terkepal lalu menghentak pagar pembatas menyalurkan amarah yang menyelimuti seluruh hati dan jiwanya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*\*