
Ralen menatap tak menyangka dan sangat terkejut dengan permintaan yang baru saja selesai dikatakan oleh wanita yang menunggunya sedari langit masih terang hingga langit berubah menjadi gelap hitam pekat karena bercampur dengan awan mendung yang sebentar lagi akan menurunkan hujan.
Sungguh Ralen bahkan tidak bisa mengerjapkan kelopak matanya, begitu kaget untunglah tidak sampai membuatnya serangan jantung.
"Maafkan ibu Len," sang ibu berkata parau dengan mata yang berembun.
Ralen tidak tega melihat ibunya seperti itu tapi dia juga kecewa mendengar permintaan tak masuk akal dari wanita yang telah melahirkannya.
Sang ibu memintanya untuk mengalah dan memberikan Ipul pada Daniya, dia ini sudah terikat pernikahan dengan pria yang mulai berkuasa penuh di dalam jiwa dan raga juga pria yang sudah menanamkan benih di dalam kandungannya, status mereka jelas lalu kenapa dia malah diminta untuk mengalah?
"Mas Sai suami Ralen, Bu." sekarang bibir Ralen bergetar sekedar untuk mengingatkan pada ibunya bahwa pria yang sedang ibunya minta untuk Kakaknya yang sialan itu adalah suaminya.
"Ibu tahu Nak tapi.."
"Ibu masih menganggap Ralen anak tapi sikap ibu malah ingin menghancurkan Ralen, menyakiti Ralen." memotong apa yang ingin dikatakan oleh ibunya.
Ralen tahu dengan jelas ibunya akan melakukan pembelaan untuk Daniya, berdalih bahwa itu caranya untuk menebus kesalahannya karena sudah dengan tega memberikannya pada orang lain, tapi apakah harus dengan cara mengorbankan anak yang lainnya?
Terasa sangat tidak adil!
Arni menggelengkan kepala menolak tudingan Ralen yang mengatakan dia ingin menghancurkan anaknya itu, dia tidak bermaksud hanya saja dia merasa buntu berada diantara dua orang anak menjadikannya terlihat tidak adil pada salah satunya.
Keduanya itu hanya berbicara berdua saja di ruang kerja dengan pintu yang tertutup rapat karena tidak ingin ada siapapun yang mendengar pembicaraan mereka termasuk suami dan Mama mertua Ralen.
"Ibu tidak sayang Ralen?"
Kali ini Ralen tidak kuasa menahan sakit serta kecewa seolah ibunya sedang memberikan garam pada lukanya yang menganga, makin menambah pedih di setiap detiknya.
Untuk kedua kalinya Arni menggelang dan kali ini dengan gerakan yang cepat untuk menepis apa yang ditanyakan oleh sang anak.
Sayang! dia sayang pada semua anaknya mana ada orang tua yang tidak sayang, hanya saja saat ini dia berada pada posisi yang sulit, benar-benar sulit hingga dia malah terlihat berpihak pada satu orang anak saja.
"Ibu sangat sayang sama kamu Ralen, dari kamu lahir sampai detik inipun ibu akan selalu sayang," tutur sang ibu memberitahu rasa sayang yang sejak dulu hingga sekarang tetap tidak akan pernah hilang.
"Hanya saja saat ini ibu mohon kamu mengerti.."
__ADS_1
"Selama ini Ralen kurang mengerti apa Bu? Ralen selalu menurut sama ibu tapi kenapa hanya untuk anak ibu yang baru saja kembali ibu menjadi seperti ini? Ralen tidak percaya ibu meminta Ralen mengalah, meminta Ralen memberikan suami Ralen, hanya karena untuk menebus rasa bersalah ibu!" Ralen makin tidak terima, hatinya terus saja di hantam oleh perkataan-perkataan dari sang ibu yang terus memintanya mengalah, terus memintanya untuk berpisah dengan suaminya sendiri.
"Satu kali ini ibu mohon sama kamu, Len." suara Arni semakin memelas memohon tak henti pada sang anak yang duduk tak jauh darinya, duduk dengan kedua mata yang sudah berlinangan dengan air mata kepedihan karena orang tuanya sendiri malah menginginkan dia berpisah menginginkan dia menjadi seorang janda hanya untuk anak yang lainnya.
Bukankah itu terdengar sangat kejam?
Ralen menggeleng, jelas dia tidak akan mau memberikan suaminya pada wanita lain.
"Suami Ralen bukan barang yang bisa diminta seenaknya!" akhirnya Ralen membentak sang ibu yang masih tidak menyerah.
Egois!
Pengabdian Ralen selama ini sebagai anak seolah tidak ada artinya lagi, saat dia sedang memetik kebahagiaan.
Bukankah kebahagiaannya ini adalah suatu anugerah yang Tuhan berikan untuknya? mungkin sebagai balasan karena selama ini dia sudah menjadi anak berbakti pada orang tuanya, tapi kenapa kebahagiaannya itu malah ingin direnggut paksa darinya, itu terdengar sangat kejam.
"Hanya untuk mendapat maaf dari satu anak tapi ibu rela dibenci oleh anak lainnya," ucap Ralen lirih dan menyesakkan.
"Kakakmu mengancam akan bunuh diri, ibu takut jika tidak dituruti dia akan benar-benar melakukannya," beber wanita tentang apa yang sudah dilakukan oleh Daniya.
Ralen menahan napas sesaknya lalu menyapu air mata yang mengalir dengan deras, "ibu takut dia bunuh diri, lalu bagaimana jika Ralen yang bunuh diri?" menjadi sinis karena kecewa yang menyiksa.
Memang benar dia mengenal Ralen dengan baik, anaknya itu sudah menjadi wanita yang tangguh dengan kehidupan yang mereka jalani, wanita kuat yang bahkan untuk menangis pun sangat jarang.
Ralen mendecih tak percaya, "masalah seperti ini ibu bilang? ini masalah besar Bu!" tidak terima ketika ibunya malah meremehkan.
"Ralen hamil!"
Akhirnya Ralen mengatakan kebenaran tentang dirinya, tentang anak yang tengah dia kandung sekarang ini.
"Ha hamil?" ibunya mendadak menjadi gagap dengan pengakuan sang anak.
"Ini cucu ibu, ibu masih tega memisahkan bayi Ralen dengan Ayahnya?" Ralen menyentuh perutnya menegaskan pada ibunya bahwa di dalam perutnya sedang tumbuh benih dari suaminya, suami yang sejak tadi diminta oleh sang ibu untuk Kakaknya.
"Ibu sangat senang Len, bahagia mendengar kamu sedang mengandung sekarang, tapi ibu minta maaf sama kamu." Arni berkata getir meminta maaf seolah dia tetap dengan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
"Ralen juga minta maaf, karena untuk saat ini Ralen tidak bisa jadi anak yang berbakti, Ralen tidak bisa memenuhi permintaan ibu." balas Ralen tak mau kalah.
Selama ini dia sudah banyak berkorban jadi untuk yang sekarang biarkan dia menjadi egois, biarkan dia memikirkan dirinya dan juga kebahagiaannya daripada dia harus mengalah dan menderita hanya untuk Kakak kandung yang bahkan baru saja dia kenal.
"Loh ibu mau kemana?" Ipul yang turun dari lantai atas berpapasan dengan dua wanita yang baru keluar dari ruang kerjanya, dua wanita yang matanya sama-sama sembab.
"Ibu mau pulang, aku mau minta tolong supir buat antar," kata Ralen mencoba menunjukkan wajah tenang seolah tidak terjadi apa-apa, akan tetapi dia salah, suaminya cukup peka untuk bisa mengerti ada yang terjadi antara dua orang wanita itu yang berbicara sampai selarut ini.
"Kok pulang? kenapa nggak nginep aja, Bu?" Ipul memang selalu bersikap ramah pada siapapun terutama pada wanita yang bahkan belum dia kenal dengan lama, tentu saja karena pernikahan yang tanpa adanya penjajakan atau saling mengenal antara keluarga.
Arni tersenyum, "Bapak kasihan nggak ada yang urus," jelas wanita yang sebenarnya merasa beruntung memiliki menantu yang begitu baik bahkan sangat perhatian dengan keluarganya.
"Kalau begitu biar Ipul yang antar." sebagai seorang menantu tentu dia akan menawarkan diri untuk mengantar, tidak tega rasanya melihat ibu mertuanya pulang larut malam hanya diantar oleh sopir.
"Tidak perlu, nanti malah merepotkan," sang ibu mertua berusaha menolak akan tetapi menantunya bersikeras ingin mengantar hingga akhirnya dia pasrah.
Ipul pun mengambil kunci mobil, "aku antar ibu dulu," katanya pada sang istri yang mengangguk.
"Ibu pulang ya Len," pamit sang ibu pada anaknya.
"Iya Bu," sahutnya kemudian beralih pada suaminya, "hati-hati ya Mas bawa mobilnya," berpesan.
Di saat dia sedang kecewa yang teramat besar pun dia masih memikirkan keselamatan ibunya, tidak mau terjadi apapun pada wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya namun hari ini malah tengah menggoreskan luka demi anak pertamanya.
Rasa kecewa teramat besar jelas Ralen derita, dia merasa asing dengan ibunya sendiri yang dulu begitu baik terhadapnya, menjadi tidak kenal sebab ibunya yang dengan cepat berubah hanya karena kedatangan anak pertamanya.
Ibunya itu seolah lupa dengan perjuangannya selama ini, bekerja siang malam untuk mencukupi kebutuhan keluarga, lupa dengan betapa lelahnya dia ketika harus memikirkan bagaimana caranya mereka bisa melanjutkan hidup.
Ralen menutup pintu ketika mobil suaminya yang mengantarkan sang ibu sudah keluar dari halaman rumah.
Wanita itu melangkah cepat masuk ke dalam kamar lalu menuntaskan tangisnya yang seakan masih belum puas, dia sungguh sangat kecewa hingga rasanya begitu sesak membuatnya menangis sesenggukan memukuli dadanya sendiri.
__ADS_1
"Ibuku sudah direbut oleh mu Daniya!" Ralen menggumam ditengah Isak tangis yang luar biasa di dalam kamar, andai kamar mertuanya berada di lantai atas mungkin wanita itu akan mendengar suara tangisan menantunya, Ralen cukup beruntung karena kamar mertuanya berada di lantai bawah dan kemungkinan di jam yang hampir menginjak pukul 12 malam Mama mertuanya itu sudah tidur pulas, hingga dia bisa memuaskan diri mengeluarkan tangis sebelum suaminya kembali.
****