Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Dia Pria Yang Dani Suka


__ADS_3

Daniya masih tidak bisa percaya bahwa Ralen, istri dari pria yang dia sukai adalah Adiknya membuat dia makin tidak suka dan sangat iri dengan kehidupan dari Adiknya itu.


"Dia selama ini mendapatkan kasih sayang dari orang tua Daniya, dan dia juga menikah dengan pria yang Dani suka, itu sangat tidak adil Ma! dia memiliki semua yang harusnya jadi milik Dani!" suara Daniya meninggi ketika menjelaskan tentang pria yang dia sukai kepada ibu angkatnya, wanita yang mendengarkan dengan seksama setiap kata yang terlontar dari bibir yang sejak tadi bergetar hebat menahan marah sekaligus tangis.


"Dia pria yang Dani sukai bahkan jauh sebelum Ralen kenal dengannya, Dani sudah lebih dulu kenal dan saling menyukai apa salah kalau sekarang Dani menganggap kalau Ralen adalah perebut kebahagiaan Dani? dia menjadi duri dalam hidup Dani! apa Mama masih tetap meminta Dani untuk memaafkan orang-orang itu? Mama ingin melihat mereka tersenyum bahagia karena Dani maafkan tapi Mama tidak memikirkan bagaimana perasaan Dani, bagaimana sakitnya hati Dani ketika tahu pria yang Dani sukai ternyata suami dari ADIk kandung Daniya!"


Daniya terus berkata melampiaskan isi hatinya yang sejak tadi dia tahan saat berhadapan dengan Ralen dan Ibunya, menekan kata adik dengan rahangnya mengetat seolah dia benar-benar telah hancur tak berbentuk karena kenyataan yang dia tahu.


"Andai istri dari Awan bukan Ralen pun Daniya sudah sangat membenci Ralen, bisa dibayangkan kebencian seperti apa yang akan ada di hati Dani setelah tahu dialah yang dinikahi oleh Awan, brengsek!" Daniya melemparkan tas yang ada di sampingnya hingga terlempar ke dekat tangga.


"Lalu mau sampai kapan kamu marah pada mereka? mau sampai kapan kamu membenci mereka, biar bagaimana pun mereka keluarga kandungmu Daniya, nantinya saat kamu menikah kamu memerlukan wali dari Ayah kandungmu." papar sang Mama mencoba untuk menjelaskan karena nantinya Daniya pun akan tetap membutuhkan keluarganya jadi sebaiknya berhenti menyimpan dendam dan amarah yang tidak akan pernah menjadi manfaat malah akan menyusahkan nantinya.


"Sampai Dani puas dan mereka mengembalikan kebahagiaan yang harusnya Dani miliki!" tegas Daniya.


"Apa selama ini kamu tidak cukup bahagia hidup dengan Mama dan Papa?" tanya Dayna tak mengerti kenapa anak angkatnya itu berkata demikian seolah dia sangat tersiksa hidup dengannya padahal semua yang dia punya sudah dia berikan semua yang Daniya inginkan selalu dituruti termasuk membatalkan pernikahan dengan Angga.


Pria yang sangat baik dan pengertian itu tega dikecewakan hanya karena alasan bosan dengan hubungan yang terlalu datar tanpa berliku dan lancar tanpa ada rintangan, padahal banyak sekali wanita yang akan merasa beruntung apabila mempunyai pasangan seperti Angga, tapi Daniya ini sangat berbeda lebih menyukai hal yang berlawanan bahkan sekarang pun setelah mengetahui pria yang dia sukai adalah suami dari Adiknya tidak melunturkan perasaannya terhadap pria itu.


Daniya berangsur memeluk wanita yang selalu berusaha untuk menenangkan dirinya saat dia sedang kesal tapi kali ini sepertinya usaha wanita itu tidak akan berhasil sebab hatinya menjadi sangat keras dan benar-benar sulit untuk ditembus.


"Dani bahagia bahkan sangat bahagia, Dani sungguh beruntung menjadi anak Mama dan Papa, tapi setidaknya biarkan Dani berjuang untuk mendapatkan keadilan, Dani ingin menuntut kebahagiaan yang sudah terenggut dari Dani, Ma," suara Daniya masih terdengar menyimpan amarah meski sudah mencoba untuk menyembunyikannya tapi tetap saja tidak berhasil.


"Kalau begitu maafkan mereka." pinta sang Mama dengan suara yang lembut bahkan sangat meneduhkan akan tetapi dia itu seolah lupa dengan siapa dia berbicara saat ini.


Anak angkatnya yang selalu dia manjakan sejak kecil tentu tidak akan dengan mudah menuruti permintaannya, tidak akan begitu saja mau mendengarkan apa yang dia katakan.

__ADS_1


Daniya melerai pelukan dan dengan tatapan yang sulit dimengerti dia berbicara pelan bahkan benar-benar sangat pelan seperti seorang yang sedang berbisik dan tidak ingin siapapun tahu apa yang dia katakan.


Sang Mama mengerutkan kening raut wajahnya pun berubah menjadi tidak biasa seolah dia sangat terkejut dengan semua yang Daniya katakan.


****


"Apa?!" Agatha berseru kencang mendengar apa yang baru saja Daniya katakan, sangat tidak mampu untuk percaya tapi temannya itu berkata dengan mimik wajah yang serius bukankah itu artinya sang teman tidak sedang bercanda?


"Kamu sedang bergurau denganku?" meski sudah mendapatkan ekspresi yang serius namun tetap saja dia bertanya dan menganggap bahwa Daniya tengah bergurau dengannya, hanya perkataan ngelantur yang tidak ingin dia anggap tapi gelengan kepala dari temannya membuat dia membulatkan kedua netra nya yang kebiruan.


"Tidak mungkin Dani, kamu ini sangat keterlaluan bercanda tidak tahu waktu!" malah menuding temannya.


"Kamu yang keterlaluan Agatha, belum ada satu tahun kamu berkencan dengan pria Indonesia tapi sikapmu sudah sangat menyebalkan, seolah tidak mengenal temanmu sendiri," dengus Daniya kesal masih saja omongannya dianggap hanya gurauan semata.


"Hah? kamu yakin tidak sedang bergurau atau ngelantur apalagi mimpi, kan?" Agatha yang tadinya terlentang di atas tempat tidur apartemen yang dia tempati pun mendudukkan tubuhnya menatap dengan kedua netra nya yang kebiruan serta rambut pirang berantakan pun dia kibaskan dengan asal.


Mata Agatha mengerjap cepat berulang kali seolah ada binatang yang masuk ke dalam matanya dan dia harus segera mengeluarkannya sebelum matanya menjadi perih.


"Awan dan Adikmu?" mulut Agatha menganga sulit untuk tertutup ketika rasa terkejut yang datang menerpa seperti menghantam kewarasannya.


Dia yang juga mengenal pria bernama Awan jelas tidak mudah percaya kalau nyatanya pria itu sudah menikah dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah wanita yang menjadi istrinya adalah Adik dari wanita yang sempat saling menyukai.


"Mereka suami istri." Daniya menghela napas berat yang begitu menyesakkan dada rasanya dia ini ingin melakukan tindakan anarkis tapi dia berusaha untuk menahan karena dia tidak ingin citranya terlihat buruk di depan pria yang dia sukai, tidak ingin pria itu malah makin membuat jarak menjauh darinya.


"Aku benci dengan keluargaku Agatha, aku benci dengan Ralen, bagaimana bisa aku memiliki darah yang sama dengan wanita yang sudah merebut Awan dariku? terasa sangat tidak adil untukku! aku benci! aaaaarrggggg!" Daniya melempar majalah yang ada di pangkuan temannya melampiaskan kemarahan yang sejak tadi dia tahan, sungguh ketika sudah di depan Agatha dia tidak akan malu lagi untuk menunjukkan bagaimana dia yang sebenarnya.

__ADS_1


Dia ingin berteriak dan memaki sesuka hati sampai dadanya yang sejak tadi terasa sesak bisa sedikit lega.


"Takdir sangat kejam padaku Agatha! benar-benar jahat orang tuaku sendiri membuangku dan sekarang Adikku juga merebut pria yang aku sukai, mereka semua jahat!" teriak Daniya histeris membuat kamar apartemen itu menggemakan suaranya.



"Hei! Dani kamu akan baik-baik saja aku tahu dan sangat mengenalmu, kamu wanita kuat kamu tidak akan menyerah dan kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau, semua kebahagiaan mu aku yakin akan kembali padamu," tutur Agatha membisikkan kalimat demi kalimat yang bisa menguatkan temannya.



Dia sangat mengenal seorang Daniya Ranita, bertahun-tahun berteman tentu sifat-sifat yang Daniya miliki sudah sangat dia hafal, temannya itu bukan seorang gadis yang lemah yang hanya akan pasrah saja.


"Oke? dengar apa yang aku katakan?" Agatha merapikan rambut Daniya yang berantakan.


Daniya mengangguk mengerti, "aku bukan wanita lemah, aku kuat bahkan mereka tidak akan pernah tahu sekuat apa diriku," cetus Daniya menyapu air mata yang sempat lolos dari kelopak matanya.



Agatha tersenyum diiringi dengan anggukan kepala, "berjuang!" Agatha mengangkat tangannya yang terkepal memberi semangat pada sang teman.



"Berjuang!"


__ADS_1


\*\*\*\*


__ADS_2