
"Uangnya kurang!"
Sontak suasana berubah menjadi sangat tegang menyelimuti Ralen, bingung hendak menjelaskan tapi lelaki yang tengah mencengkeram tangannya ini sejak tadi sangat menyebalkan, bukankah jika dia jelaskan lelaki itu akan semakin menyudutkannya?
Ah sejenak kepusingan Ralen yang sedari kemarin mendadak muncul kembali seiring dengan tetesan hujan yang mulai turun.
Keduanya tidak perlu kaget lagi sebab sudah tahu bahwa hujan akan turun karena sejak tadi hembusan anginnya sudah terasa berbeda, dingin bahkan sangat dingin dari biasanya.
Mata keduanya saling menatap dengan tatapan yang sama-sama tidak mau mengalah, merasa dirinyalah yang paling benar.
"Lo pakai uang gue ya?!" tanya Ipul dengan ketus menuduh wanita di depannya.
"Kan tadi gue bilang, gue minta waktu sebulan ya itu buat ganti uang Lo," sahut Ralen menerangkan kenapa dia meminta waktu satu bulan.
"Wah ada gila-gilanya nih cewek, uang orang main pakai aja," sindir Ipul.
"Enak aja ngatain gue gila, Lo tuh yang pikun! nggak ada yang suruh buat ninggalin dompet di motor gue!" sungut Ralen tak terima.
Ipul menajamkan matanya mendengar wanita di depannya ini mengatai dirinya pikun, apa tidak salah? dia? pikun? astaga dia pria muda yang semangat hidupnya masih sangat berapi-api tapi sudah dituduh pikun.
"Pokoknya Lo yang salah, bukan milik Lo tapi malah Lo gunakan, sama aja maling!" seru Ipul mendecih dengan tangannya yang sejak tadi masih setia mencengkeram pergelangan tangan sang wanita yang padahal sudah berusaha untuk bisa lepas darinya.
Mata Ralen pun membola lalu sekejap kemudian menunjukkan ketidaksukaan dengan apa yang terlontar dari mulut pria songong di depannya ini.
Jelas tidak suka manusia dari dunia manapun tidak akan terima jika di tuduh maling seperti ini, sekalipun itu maling sungguhan pun akan tetap mengelak untuk menyelamatkan diri, dan dia yang bukan maling tapi di tuduh maling, ah sungguh kurang ajar.
"Ish!"
__ADS_1
"Aduh!"
Suara Ipul begitu kencang menyaingi suara rintik hujan yang jatuh ke atas atap halte saat merasakan kakinya diinjak dengan sangat tak manusiawi oleh makhluk bumi berjenis wanita.
"Rasain tuh, jadi cowok punya mulut sembarangan banget ngatain orang maling, kan udah gue bilang tunggu sebulan nanti gue ganti uang Lo, lagian waktu itu juga Lo janji mau kasih gue uang waktu Lo begal motor gue buat ke bandara!" sengit Ralen yang mendadak ingat kalau dulu pria di depannya ini pernah menjanjikan akan membayarnya.
"Jadi sekarang anggap aja uang yang gue pakai itu sebagai bayaran nganterin elo!" lanjut Ralen seraya melihat pria di depannya yang sedang meringis merasakan kakinya yang mungkin nyut-nyutan akibat injakan darinya yang penuh tenaga.
Sepertinya sejak tadi Ralen sengaja mengumpulkan kekuatannya untuk bisa membalas kelakuan ngeselin Ipul.
"Lo preman ya? tenaga Lo kuat banget," celetuk Ipul.
"Sialan Lo!" kesal Ralen yang malah dianggap preman oleh pria songong di depannya, sudah kesakitan masih saja berani ngatain orang! apa mau di buat pincang tuh kaki?!
"Aish hujan!" seru Ralen yang baru menyadari kalau turun hujan.
"Itu hujan!" kata Ralen kencang.
"Terus kenapa? nekat mau lari dari masalah di tengah hujan begini? drama!" cerocos Ipul sengit.
"Gue mau ngambil ijazah gue! lepasin nggak!"
Mendengar itu Ipul pun sontak melepaskan tangan Ralen dan membiarkan wanita itu berlari menuju motornya yang sejak tadi sudah terguyur hujan.
"Ijazah gue rusak ganti rugi Lo!" kata Ralen sambil berlari kembali masuk ke bawah atap halte.
Ralen kembali dengan kantong plastik warna putih yang sudah terlihat basah begitupun dengan rambutnya yang di kuncir ikut basah meskipun baru sebentar saja terkena tetasan hujan.
__ADS_1
Ipul memperhatikan Ralen yang sekarang berjongkok di depan bangku halte dan mulai mengeluarkan semua isi yang ada di dalam kantong yang sudah sangat basah.
Jelas saja basah sebab hujan pun sudah turun sejak tadi sebelum Ralen menyadari hujan yang datang mendadak itu.
"Basah kan!" sentak Ralen dengan mata yang menyala pada sosok pria sejak tadi memperhatikan setiap geraknya.
"Ehhem." Ipul mendehem seraya menegakkan tubuhnya yang sedari tadi sedikit membungkuk untuk bisa melihat kertas-kertas apa yang begitu dikhawatirkan oleh wanita bertubuh sedikit pendek darinya itu.
"Jaman sekarang masih aja ada orang yang repot bikin CV kayak gitu," cibir Ipul rupanya dia sempat membaca isi dari kertas yang sebagian benar-benar basah itu.
Ralen mendelik tak senang dengan cibiran pria tak dia kenal dan pria yang kali ini benar-benar menyebalkan selalu saja membuatnya susah entah itu disengaja atau tidak yang jelas Ralen kesal karena Tuhan seolah terus-terusan membuatnya bertemu dengan pria itu.
Ini sudah yang keempat kalinya bukan? dan semoga setelah ini Tuhan tidak akan lagi membiarkan mereka bertemu meski hanya melihatnya dari kejauhan, sungguh Ralen memohon pada sang pemilik hujan yang sedang turun ini.
"Bukan urusan Lo!"
"Kirim CV tuh bisa lewat email, ngapain repot banget," cerca Ipul tak mau peduli jika wanita yang tadi berjongkok kini sudah berdiri dengan raut wajah kesal yang sangat menggunung.
"Satu bulan lagi gue bakal ganti uang Lo!"
Janji Ralen dan setelah itu bergegas membenahi kertas-kertas yang basah lalu menghampiri motornya mengambil jas hujan lalu memakainya, tapi sebelum pergi Ralen melakukan hal sama seperti yang kemarin sempat Ipul lakukan padanya, membuat Ipul tersenyum sarkas dengan kelakuannya tapi dengan mulut yang berkomat-kamit mengatakan hal tak jelas.
"Yakin banget bakal di terima kerja."
Senyum ngeselin Ipul pun langsung bertengger rapi di wajahnya seraya kedua matanya tetap melihat pada wanita yang memilih untuk menerobos hujan ketimbang terjebak hujan bersamanya di halte bis di daerah cukup sepi, entah bagaimana bisa membangun halte di tempat seperti ini yang bahkan seekor nyamuk saja seperti enggan untuk menempatinya.
******
__ADS_1