
"Kamu tidak merasa pakaian yang kamu kenakan sekarang terlalu terbuka?" pertanyaan bernada sindiran mulai Ipul lontarkan kepada Ralen ketika mereka sudah di dalam mobil yang berjalan.
Malam ini Ipul akan mengajak Ralen pergi ke pesta pernikahan teman kuliahnya dulu, dan tadi saat masih berada di kantor dia sudah meminta Mamanya untuk membelikan Ralen pakaian baru untuk di pakai ke pesta jadi sebenarnya pakaian yang sekarang sedang di pertanyakan oleh Saipul adalah pakaian hasil pilihan sang Mama, tadi dia sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil jadi tidak sempat melihat pakaian yang Ralen pakai dan begitu berada di dalam mobil inilah yang terjadi.
Pria itu menatap tak suka pada potongan gaun yang Ralen pakai saat ini.
Lihat saja, bagian pundaknya terbuka seperti sangat sengaja memamerkan pundak mulus istrinya dengan bagian dada yang menggembung tinggi, bisa di bayangkan seperti apa bentuknya kala wanita yang memakai gaun itu memiliki dada yang besar.
Dulu Ipul suka saat pertama kali Ralen memakai gaun semacam ini di depannya sampai akhirnya dia dengan bodohnya malah khilaf, tapi sekarang dia menjadi kesal dan sangat tidak suka, menurutnya semua yang ada di diri Ralen adalah miliknya hanya dirinya yang boleh melihat serta mengaguminya tidak boleh ada yang lain terlebih itu adalah laki-laki.
Ralen melihat gaun yang melekat pada tubuhnya lalu mengangkat bahunya sekaligus menjawab, "Mama yang pilihkan."
"Apa tidak ada pilihan yang lebih baik? atau kamu tidak punya pakaian lain?" tanya Ipul yang masih belum puas dan sepertinya tidak akan pernah puas dengan jawaban yang Ralen berikan.
Pria itu tahu, pakaian yang di pakai istrinya memang pilihan Mamanya karena dia yang memintanya untuk mencarikan pakaian yang bisa di pakai Ralen saat pergi bersamanya, tapi kan Ralen bisa menolak atau meminta yang lain jikalau merasa pakaian itu sangat terbuka atau mungkin tidak nyaman di pakai, atau jika merasa memang benar baik-baik saja dengan pakaiannya setidaknya sadar diri kalau dia itu sudah bersuami bertanya dulu pada suaminya diizinkan atau tidak memakai pakaian seterbuka itu! Ipul menggerutu kesal dalam hatinya.
Ralen menggeleng cepat, "tidak punya, kamu kan tidak pernah membelikan pakaian untukku," sahut Ralen membuat Ipul menginjak rem mendengar penuturannya.
Rem mendadak itu mengakibatkan tubuh Ralen sedikit bergerak maju untung saja dia memakai sabuk pengaman jika tidak mungkin akan membuat kepalanya membentur dashboard dan tentu akan berbahaya untuknya.
Ipul menatap Ralen dengan mata yang melebar seakan tidak percaya dengan yang baru saja dia dengar, "jadi sekarang kamu mau nyalahin aku?"
"Hah?" sekarang malah Ralen yang jadi bingung sambil mengusap-usap dadanya yang tadi jadi sedikit terjepit oleh sabuk pengaman.
"Kamu bilang aku nggak pernah beliin kamu pakaian? dan itu jadi alasan kamu sampai pakai pakaian begini karena aku nggak pernah beliin kamu pakaian, itu nyalahin kan namanya?" tuding Ipul menjelaskan apa yang tadi Ralen katakan.
"Kalau kamu berpikir aku nyalahin kamu ya sudah, tapi kan aku nggak maksud buat nyalahin kamu, aku cuma ngomong kenyataannya aja," cetus Ralen dengan tenang dan wajah yang polos bersinggungan dengan pria di sampingnya yang merengut dengan keterusterangannya itu.
"Tapi kan aku sudah tinggalkan kartu kredit di atas meja rias Len, kamu bisa menggunakan kartu itu untuk membeli semua kebutuhan kamu," ungkap Ipul.
Ralen mengernyitkan dahi, "kamu ngasih kartunya sama meja bukan sama aku, ya nggak akan aku ambil tuh kartu," papar Ralen yang memang sempat melihat satu kartu kredit di meja rias namun dia membiarkan saja benda tipis persegi itu berada di sana tanpa menyimpannya.
Ipul membuang napas kasar, salahnya memang yang tidak langsung saja memberikan benda itu kepada Ralen tapi malah meletakkannya di atas meja rias begitu saja tanpa mengatakan apapun, akan sangat wajar jika Ralen tidak mengambilnya.
"Nanti ambil dan pakai untuk membeli semua keperluan kamu, pakaian sepatu tas dan apapun yang kamu suka dan inginkan kamu beli saja, aku tidak mau mendengar lagi kamu mengatakan aku tidak pernah membelikan kamu pakaian!" tegas Ipul menggeleng kepala lambat.
"Tetap saja kamu tidak membelikan karena aku membeli sendiri," gerutu Ralen membuang pandangan ke arah jalan di samping.
"Nanti aku belikan!" ketus Ipul yang dapat mendengar gerutuan dari mulut sang istri.
Ralen pun lantas menoleh pada pria di sampingnya lalu memberikan senyum yang sangat dipaksakan.
Ipul melirik sadis seraya membuang napas kasar lalu kembali menjalankan mobilnya menuju tempat berlangsungnya acara resepsi pernikahan temannya.
Parkiran gedung hotel tampak begitu padat dengan kendaraan milik tamu undangan yang berdatangan membuatnya harus sedikit bersabar untuk bisa memarkirkan mobil ke tempat yang kosong, setelah memarkirkan mobilnya.
"Bagus banget," kata Ralen mengagumi setiap hiasan juga bunga-bunga yang tampak bersusun rapi seolah menyambut kedatangan mereka.
Ralen begitu terpesona dengan keindahan yang luar biasa itu sampai-sampai dia tidak menyadari kalau suaminya sudah berjalan jauh di depannya.
Ipul yang sadar istrinya tak ada pun menoleh kiri kanan sampai akhirnya berhenti dan berbalik ke arah belakang menatap sang istri yang berjalan sangat lambat tanpa memperhatikan kalau suaminya sudah tidak ada di sebelahnya.
Ipul berdiri dengan sebelah tangan yang dimasukkan ke dalam kantong celana, hanya berdiri saja melihat tingkah istrinya yang seperti anak kecil melihat mainan yang disukai, tanpa terasa bibir Ipul mengulaskan sedikit senyum melihat kelakukan Ralen.
Beberapa detik kemudian akhirnya Ralen sadar kalau suaminya sudah tak ada, dia menoleh kiri kanan sampai kemudian mendapati sang suami berdiri di depan sana sambil menatapnya lalu mengedipkan kelopak matanya bersamaan dengan anggukan kepala yang terlihat samar meminta Ralen untuk mendekat.
Wanita yang memakai gaun panjang dengan bahu yang terbuka itupun lantas menghampiri sang suami, "kenapa ditinggal?" tanya Ralen dengan sedikit cemberut.
"Kalau di tinggal aku sudah tidak akan terlihat oleh matamu ini Ralen!" cetus Ipul tak terima di tuding meninggalkan sedangkan dia menunggu istrinya yang asyik dengan kekagumannya pada seluruh hiasan serta bunga berwarna-warni.
__ADS_1
"Kamu sibuk sendiri dengan apa yang kamu lihat," tambah Ipul.
"Aku norak ya?" tanya Ralen akhirnya menyadari sikapnya yang seharusnya tidak seperti tadi, bukankah itu bisa membuat suaminya malu?
Ipul menggeleng, "sikap mu sangat wajar untuk orang yang tidak pernah mendatangi acara mewah seperti ini."
Penuturan Ipul ini sebenarnya bagaimana sih? di awal membuat Ralen senang karena suaminya tidak marah tapi bagian akhirnya malah terdengar agak menghina, karena Ralen memang belum pernah menghadiri pesta pernikahan di gedung hotel dengan acara yang sangat mewah ini.
"Bercanda," kata Ipul ketika mendapati Ralen yang diam saja.
"Makanya jangan nikah sama orang miskin biar nggak malu-maluin," ketus Ralen.
"Kan aku bilang bercanda malah ngambek," ucap Ipul dengan wajah panik, sangat bahaya jika Ralen sampai ngambek disini, pikir Ipul.
Hingga kemudian Ipul menggandeng tangan Ralen dan mengajaknya untuk bertemu dengan pengantin sambil terus membujuk Ralen.
"Tuh siapa?" tanya Tara ketika melihat wanita di samping temannya.
"Astaga, istri gue kenalin," kata Ipul lalu bergeser membiarkan Ralen berkenalan sekaligus memberikan selamat kepada Tara.
Tara menautkan alisnya antara percaya dan tidak percaya dengan pengakuan sang teman, dia tidak pernah mendengar ataupun merasa diundang oleh temannya itu tapi kenapa datang-datang sudah membawa istri saja sedangkan yang dia dengar beberapa waktu lalu adalah kabar duka bahwa Papa dari temannya itu meninggal dunia, hanya itu saja.
"Kok gue nggak di undang?" tanya Tara tapi dengan raut wajah menunjukkan protes.
"Dadakan," sahut Ipul.
"Lo pikir tahu bulat pakai dadakan segala," desis Tara.
"Udahlah Lo nggak usah bawel yang penting kan gue udah nikah dan Lo juga udah nikah, nggak sia-sia kan Lo ngejomblo lama akhirnya yang Lo incer dapet juga." goda Ipul yang langsung di sambut pukulan di lengannya oleh Tara, sedangkan kedua wanita yang sejak tadi menjadi pendengar hanya bisa tertawa saja melihat kedua pria mereka.
__ADS_1
Melihat tamu undangan sudah banyak yang antri ingin memberi selamat akhirnya Ipul dan Ralen memutuskan untuk segera turun setelah memberikan selamat pada kedua mempelai.
Ipul melangkah bersama Ralen untuk menghampiri seseorang yang dia kenal, tapi di tengah jalan Ralen malah haus.
"Aku haus, mau ambil minum dulu," kata Ralen, tapi sayangnya Ipul tidak mendengar apa yang dia katakan sedangkan Ralen langsung pergi begitu saja.
"Bang," tegurnya membuat pria yang sedang berdiri seorang diri.
"Saipul Gunawan!" seru pria bernama Fernand yang tidak lain adalah Abang dari temannya.
Ipul mengangguk lalu membiarkan tubuhnya di rangkul oleh Fernand yang begitu terkejut melihat dirinya, dulu saat masih kuliah Ipul kadang main di rumahnya jadi wajar kalau dia mengenal sosok Fernand.
"Istrinya mana Bang?" tanya Ipul.
"Tuh lagi sibuk sama bocah," jawab Fernand memberitahu dimana istrinya berada.
Ipul melihat pada seorang wanita yang sedang repot menggendong anak kecil yang pastilah anaknya.
"Kamu udah lama? datang sama siapa?" tanya Fernand.
"Sama.."
Ipul menoleh kiri kanan mencari Ralen tapi wanita itu malah tidak ada.
"Waduh hilang kayaknya," ledek Fernand melihat Ipul yang kebingungan.
Ipul tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya lalu berpamitan untuk mencari sang istri yang malah sedang mengambil minuman di meja paling ujung.
\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1