Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Mimpi Buruk


__ADS_3

Duaarrr..


Bunyi Sambaran petir yang begitu menggelegar membangunkan Ralen dari tidurnya, ini sudah tengah malam dan Ralen terbangun oleh suara petir yang begitu dahsyat di langit sana.


Dia yang sudah terlelap dalam tidurnya tersentak kaget dan napasnya tersengal begitu terbangun, dia yang dari dua hari lalu tidur seorang diri baru merasakan perasaannya tak enak saat ini bergegas menyalakan lampu guna menerangi kamar yang tadinya gelap gulita karena lampu yang sengaja dia matikan.


Sekarang dia bisa melihat sendiri keadaan dirinya yang berkeringat padahal di luar sedang turun hujan deras dengan AC di kamar yang tetap dia nyalakan, lalu kenapa dia tetap saja berkeringat? apa dia berlarian di dalam tidurnya tadi, atau memang dia sudah bermimpi sesuatu yang membuat suhu tubuhnya naik sampai menghasilkan keringat begini?


Sungguh jantungnya terasa berdebar sangat cepat dengan darah yang mengalir dari ujung kepala hingga kaki seperti tak terkendali, apa yang dia rasakan ini sangat tidak biasa, kemarin-kemarin dia tidak merasakan hal seperti ini membuat dia jadi cemas dan langsung teringat dengan pria yang berada jauh darinya.


"Tidak akan terjadi apa-apa dengannya kan?" batin Ralen makin terusik kala menatap gorden yang bergerak-gerak sendiri diterpa angin yang membawa hujan.


Ralen beranjak dari tempat tidur lalu mengintip ke luar jendela menatap tetesan hujan yang makin deras.


"Apa sekarang ini memang musim hujan? kenapa setiap malam selalu turun hujan," celoteh Ralen mengingat bahwa sudah dua malam hujan turun dari sore sampai malam bahkan bisa sampai menjelang subuh, dan pagi hari masih akan menyisakan gerimis-gerimis kecil dengan jejak genangan di mana-mana.


Tengah malam begini Ralen malah dengan sengaja membuka jendela lalu mengulurkan tangannya agar dapat merasakan air hujan yang turun dan memberikan efek dingin di telapak tangannya.


"Tadi aku mimpi dia bersama wanita, wajah wanita itu mirip denganku, aku pikir itu aku tapi dia malah memanggilnya Dan.." mulut Ralen berhenti seperti mengingat sesuatu dengan kening yang mengerut mengisyaratkan bahwa dia lupa nama wanita yang di panggil oleh suaminya di dalam mimpi.


Ralen yang tidak mampu mengingat dengan jelas nama si wanita dalam mimpinya itupun memilih untuk melupakan, dia kembali menutup tirai gorden dan beranjak menuju tempat tidur, dan sekarang pikirannya teralih merasakan rindu pada pria yang entah merindukannya atau tidak, sampai akhirnya dia berpikir untuk menghubunginya.


Ralen mengambil handphone di atas meja kecil dekatnya lalu membuka kunci pada layar handphonenya yang sudah menyala mencari nama kontak yang sekarang sudah berubah menjadi 'pria ini suamiku' Ralen tersenyum dengan kelakukan konyolnya dalam menyimpan kontak sang suami.


"Tapi nanti kalau dia sudah tidur bagaimana?" Ralen mulai ragu ketika melihat jam di layar handphonenya sudah menunjuk pada angka satu, itu tandanya sudah dini hari kan? suaminya tentu sudah tidur tidak mungkin masih terjaga sedangkan Ralen tahu pekerjaan sang suami sudah sangat menanti untuk diselesaikan esok pagi.


Akhirnya Ralen tidak jadi menghubungi pria yang mulai memenuhi hatinya, menguasai segenap jiwa dan raganya dan bayangan wajahnya yang kerap hadir kala dia memejamkan mata.


Ralen yang mengurungkan keinginannya menelepon akhirnya memilih untuk berselancar di media sosial miliknya, dia mulai mengetikkan nama suaminya untuk mencari akun media sosial milik pria itu, selama menikah ini mereka memang tidak pernah saling mengikuti di akun media sosial bahkan Ralen pun tidak tahu suaminya itu punya akun atau tidak, tapi di jaman sekarang pasti semua orang memiliki media sosial bukan? dan itu juga pasti berlaku untuk pria yang menjadi suaminya.


Akhirnya setelah mencari beberapa saat dia bisa menemukan media sosial milik suaminya, "yah di private," keluh Ralen ketika mendapati akun itu malah di private hingga dia tidak bisa melihat apapun lalu secara refleks jarinya menekan tulisan mengikuti.


Hingga tak lama muncul notifikasi kalau permintaannya diterima dan Ralen mendapati kalau akun suaminya itu juga sudah mengikuti balik dirinya.


"Dia belum tidur?" gumam Ralen mengetahui kalau pria yang sedang mengganggu pikirannya sedang aktif di media sosial, hingga sampai handphone Ralen berdering memamerkan nama pria yang photo nya sedang Ralen lihat.


"Kenapa belum tidur?" Ralen langsung di berondong pertanyaan dari pria yang entah sedang apa sampai dini hari begini.


"Kamu juga belum tidur," balas Ralen cepat.

__ADS_1


"Ck," Ipul berdecak kesal sebab wanita itu di tanya malah menyerang balik dirinya.


Dia belum tidur karena ada satu pekerjaan yang harus dia selesaikan dan..


Ipul tidak lagi meneruskan hal lain yang membuatnya tetap terjaga padahal beberapa jam lagi matahari sudah akan menyinari bumi, di Batam saat ini sedang sangat panas-panasnya bahkan malam begini pun udara panas tetap saja terasa hingga membuat pria itu tidur tanpa memakai atasan dengan AC yang menyala tapi tetap tidak membantunya mendinginkan ruangan.


"Bagaimana kuliahmu?" akhirnya Ipul memilih topik lain ketimbang dia dan Ralen malah akan bertengkar nantinya.


"Lancar, semuanya berjalan dengan baik," sahut Ralen lalu terdiam sangat lama.


"Kamu bilang berjalan baik tapi dari nada bicaramu aku menangkap hal sebaliknya," tebak Ipul yang hanya mendengar suara Ralen saja sudah bisa menyimpulkan kalau ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh istrinya.


Ralen meremas baju tidurnya mendengar pernyataan dari pria di seberang sana, pria yang sepertinya sudah pintar memahami dirinya hanya dari intonasi suaranya saja.



Ralen berpikir haruskah dia mengatakan pada suaminya kalau pria bernama Angga yang bahkan nomor kontaknya saja sudah di blokir dan suaminya juga sudah memberikan peringatan dirinya untuk tidak berhubungan dengan pria itu, tapi nyatanya pria itu malah menjadi salah satu dosen di kampusnya.



Haruskah Ralen memberitahukan tentang siapa Angga pada Ipul?




"Tidak ada apa-apa," akhirnya Ralen memilih untuk tidak mengatakan apapun pada suaminya itu.



"Percayalah cepat atau lambat aku akan tahu apa yang kamu rahasiakan," lontar Ipul cepat membuat Ralen bungkam kembali.



Jelas dari caranya bicara Ipul tidak akan mencecar Ralen untuk bicara tapi dia akan mencari tahu sendiri, begitulah yang Ralen tebak saat mendengar perkataan pria yang sekarang sedang menatap langit gelap lewat jendela yang dia biarkan terbuka.



"Sebaiknya tidur sekarang," ucap Ipul meminta Ralen untuk segera tidur.

__ADS_1



"Aku sudah tidur tapi terbangun karena mimpi.."


Ralen tidak meneruskan perkataannya tentang mimpi yang sebenarnya sangat mengganggu hatinya.


Ipul memicingkan mata seraya memasang indera pendengarannya.



"Apa kamu berkenalan dengan wanita lain di sana?" tanya Ralen yang dia sendiri sebenarnya merasa sangat konyol karena menanyakan hal seperti itu, dia seperti seorang istri yang sedang menuduh suaminya berselingkuh hanya karena mimpi.



"Pertanyaan konyol macam apa yang kamu tanyakan itu Ralen?!" terdengar biasa namun ada rasa tidak suka ketika mendengar pertanyaan dari wanita yang dia nikahi beberapa bulan lalu.



"Menuduh aku bermain-main disini?" sambung Ipul merasa tak percaya.



"Wajar tidak kalau aku curiga? aku kan istrimu," tekan Ralen.


Ipul menghela napas lalu menjawab pertanyaan dari sang istri, "wajar, mulai sekarang bermainlah dengan feeling mu agar bisa menjaga suamimu dari jeratan wanita lain," tekan Ipul membuat Ralen berpikir.


"Sekarang tidur sana, aku juga ingin tidur," perintah Ipul kepada wanita yang sebenarnya masih ingin berbicara dengannya, mungkin melepas kerinduan karena dia masih harus menunggu satu Minggu lebih lagi untuk bisa bertemu dengan suaminya itu.



Ralen pun akhirnya pasrah saja ketika Ipul sudah mematikan sambungan telepon, handphone yang tadinya mengeluarkan suara sudah menjadi hening kembali.



"Bermain dengan feeling? apa maksudnya?" Ralen menggumam mengingat apa yang tadi dikatakan oleh Ipul.



\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2