Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Salah Tingkah


__ADS_3

Sepanjang malam Ralen menjadi makin tak bisa diam bahkan dia jadi salah tingkah ketika harus tidur satu ranjang dengan suaminya sendiri.


Pengakuan pria itu tentang bucin membuat dia berpikir tak karuan sampai pagi menjelang sedangkan suaminya asik saja tidur tidak menyadari akibat pengakuannya itu sudah membuat anak orang kesulitan memejamkan mata.


"Beneran bucin?" tanya Ralen berbicara sendiri ketika baru akan keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi tanda dia sudah akan masuk kembali ke kampus yang satu Minggu tidak dia datangi.


Langkahnya menjadi sangat lambat ketika menuruni anak tangga hendak menuju ke dapur, lalu langkah kecilnya langsung terhenti ketika mendengar suara sang suami yang sedang mengobrol dengan Mamanya.


Membuat tubuhnya dalam sekejap jadi kaku dan wajahnya yang berubah menjadi sangat merah, kemarin saat mendengar pengakuan suaminya itu dia masih bisa bersikap biasa tapi kenapa setelah memikirkan tengang kata bucin jam demi jam berlalu dengan hatinya yang terus berdebar kencang.


Ralen menepuk kepalanya sendiri berusaha untuk mengingatkan dia agar tidak terus mengingat perkataan suaminya kemarin, jika dia ingat-ingat bisa di bayangkan seperti apa konsentrasinya di kampus tadi, otaknya itu harus menyerap banyak pelajaran.


"Menyerap banyak cinta dari suami kan tidak ada yang larang." mengurungkan kembali niatnya untuk melangkah padahal dia sudah akan menuju ruang makan.


"Hah, gue kesiangan!" tersentak kaget kala matanya yang sedang menerawang tak jelas malah melihat jam yang menempel di dinding, jarum pendeknya sudah berada di angka 9 kurang padahal jam 8 adalah pelajaran pertamanya.


"Ma, Mas Ralen langsung berangkat kampus aja ya, udah kesiangan banget soalnya," katanya panik seraya berlari ke arah ruang makan.


Dua orang yang sedang menikmati sarapan pagi menghentikan obrolannya lalu terbengong menatap wanita yang datang sangat tergesa.


"Begadang saja terus kau Jelita!" seru Ipul menatap sang istri yang napasnya terdengar memburu.


Dari tangga ke ruang makan sampai mengeluarkan banyak tenaga kah? padahal jaraknya itu terbilang dekat.


"Kamu yang buat Ralen begadang?!" Mama Riska bertanya tapi sekaligus menyalahkan.


Ipul melepaskan sendok lalu mengangkat tangannya, "nggak ada Ma, Ipul tidur dari jam 10 malam, jangan jadikan Ipul tersangka terus padahal si Jelitanya saja yang doyan begadang," cerocosnya tidak mau jadi tersangka.


Tadi malam dia memang tidur duluan, tapi pertengahan malam dia terbangun karena merasakan tempat tidur yang terus saja bergerak, ingin mengomel tapi dia mendengar istrinya berbicara sendiri membicarakan dirinya membuat dia akhirnya berpura-pura tidur tapi dengan telinga yang terus terpasang untuk mendengarkan apa yang diucapkan oleh istrinya itu.


"Kamu nggak enak badan?" akhirnya Mama Riska beralih pada menantunya yang memasang wajah tegang.


"Nggak ada Ma, ya udah ya Ralen berangkat," katanya terburu.

__ADS_1


"Kamu belum sarapan!" teriak sang mertua kala Ralen sudah berada di ambang pintu.


"Nanti sarapan di kantin," sahutnya.


Selepas Ralen pergi tatapan Mama Riska beralih pada pria yang asik meneruskan makan, begitu tenang tak ada pikiran merasa tidak punya kewajiban terhadap istrinya.


"Kamu nggak ada inisiatif buat anterin istri kamu?!" suaranya terdengar tajam.


Ipul mengangkat kepala baru akan menjawab tapi kemudian malah menutup mulutnya, perutnya terasa sangat mual hingga dia berlari menuju wastafel cuci piring lalu mulai mengeluarkan apa yang baru saja sampai di tenggorokannya termasuk makanan yang sudah sukses berada di dalam perutnya, semua dia keluarkan dengan baik dan tanpa sisa sampai hanya tinggal cairan-cairan saja yang keluar dari mulutnya.


"Ipul masuk angin kayaknya Ma," adu Ipul pada sang Mama yang tadi menyusulnya dan membantu mengurut tengkuknya.


"Mau Mama kerokin?" tawar Mamanya sambil tangannya tetap bergerak, melihat anaknya muntah-muntah seperti ini dia jadi tidak tega ingin meneruskan omelannya dan membahas tentang ketidakpekaan anaknya itu.


"Nanti saja sama Jelita," tolak pria yang mencuci wajahnya lalu menegakkan tubuhnya yang sudah menjadi pucat.


Ralen yang sudah berada di atas motornya dan sudah agak jauh dari rumah baru ingat kalau hari ini dia ingin mengunjungi orang tuanya sekaligus menanyakan tentang apa yang sempat Arda beritahukan padanya melalui sambungan telepon kala dia berada di Batam.


"Lupa ijin lagi, telepon dulu deh nanti malah marah-marah kalau nggak ijin," ocehnya seraya menghentikan laju kendaraan lalu mengambil handphone dalam tas yang dia gantungkan motor dekat lututnya.


"Kok nggak di jawab sih?!" bingung Ralen menatap layar handphonenya yang menampilkan nama kontak sang suami.


Tidak putus asa akhirnya dia mencoba kembali berpikir mungkin suaminya sedang bersiap jadi tidak sempat memegang atau melihat handphone toh kemarin pria itu mengatakan akan pergi ke kantor agak siang.


Tapi kemudian raut wajah wanita itu menjadi kecewa karena panggilan teleponnya tidak juga direspon, "kirim pesan aja deh, nanti juga dia baca," katanya, kemudian jarinya dengan lancar dan cepat mengetikkan kata demi kata yang kemudian dia kirimkan pesan itu kepada suaminya.


"Beres!" ucapnya seraya memasukkan kembali handphonenya ke dalam tas, lalu melanjutkan perjalanan karena ini sudah benar-benar siang dan dipastikan dia hanya bisa ikut kelas yang kedua saja.


Motor itu melaju ringan ketika sudah memasuki gerbang kampus, melewati kendaraan roda dua lainnya yang sudah terparkir lebih dulu untuk mencari tempat kosong bagi motornya.


"Woi!"


Suara nyaring dan mengagetkan membuat Ralen tersentak hingga refleks menjatuhkan kunci motor yang dia pegang.

__ADS_1


"Seira," suara Ralen terdengar gemas kala mengetahui Seira lah tersangka yang membuat jantungnya berdebar tak karuan.


Seira terkikik lalu membungkuk untuk mengambilkan kunci motor yang tadi dijatuhkan oleh Ralen.


"Kemana aja Lo satu Minggu nggak kuliah?" langsung bertanya dengan tangan yang terulur.


Ralen menggaruk kepala, dia bingung harus menjawab apa rasanya dia malu kalau harus mengakui bahwa satu Minggu ini dia menyusul suaminya di luar kota, sedangkan mereka itu belum tahu kalau dia sudah menikah.


"Ada urusan mendadak, kok Lo belum masuk kelas?" tanya Ralen heran sekaligus mendapat pembicaraan yang bisa dia gunakan untuk mengalihkan pertanyaan Seira.


"Gue telat sama kayak elo, hihihi," malah cekikikan layaknya kuntilanak yang kesiangan.


Ralen mencibir, rupanya temannya itu juga telat seperti dirinya.


"Nanti gue.."


"Iya nanti gue kasih, apa mau sekarang?" Seira memotong padahal Ralen belum menyelesaikan perkataannya tapi dia sudah sangat tahu apa yang Ralen butuhkan setelah satu Minggu tidak masuk kuliah.


"Nanti aja," sahut Ralen.


"Kantin dulu yuk, gue laper banget nih saking buru-burunya sampai nggak sempat sarapan," ajak Seira.


Yah ternyata bukan hanya Ralen saja yang sampai tidak sempat sarapan, temannya itu juga.


Berhubung memang perutnya sudah sangat keroncongan akhirnya tanpa berpikir lagi Ralen langsung setuju, sudah terlanjur terlambat jadi sekalian saja mengisi perut lebih dulu.


Kedua wanita itu berjalan di lorong kampus bagian kanan untuk bisa sampai di kantin yang sudah menyediakan banyak pilihan menu yang bisa mereka pesan.


Saat ini Ralen sedang ingin makan bakso dengan saos dan sambal yang banyak, berpikir itu akan sangat membuat matanya melek, sudah terbayang bagaimana nikmatnya bakso itu sampai Ralen menelan ludah berulang kali padahal kantin masih ada di depan sana.


Aroma kuah bakso sudah mulai terendus mengundang selera makan Ralen yang makin menjadi-jadi tak terkendali sampai akhirnya begitu berada di kantin dia langsung saja memesan bakso yang sudah sangat dia bayangkan sepanjang lorong tadi.


Bakso pedas dengan warna yang merah merekah sudah terbayang di pelupuk matanya sampai mendadak bayangan bakso nikmat itu menghilang dan berganti dengan sosok wanita yang sempat dia temui tengah berjalan di lorong yang menuju ke lantai atas kampus.

__ADS_1


\*\*\*\*\*


__ADS_2