Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Ini Akhir Hidupku?


__ADS_3

"Aku tidak melakukan apapun!"


Daniya berteriak histeris ketika dua orang polisi ingin membawanya, dia bahkan berontak dengan melemparkan apa saja yang ada di dekatnya untuk melindungi dirinya.


"Kamu jahat Awan!!" suaranya kencang juga tatapan mata yang begitu tajam menyiratkan kemarahan yang tak terkira.


Dia tidak menyangka dia yang baru saja bangun tidur malah sudah di satroni oleh polisi yang ingin membawanya dan yang lebih parahnya lagi adalah siapa yang datang bersama para petugas berseragam itu.


Matanya tak percaya melihat pria yang menjadi obsesinya yang dia harapkan akan menjadi miliknya malah ingin menjebloskannya ke penjara atas perbuatan yang dia lakukan.


Berulang kali dia mengelak, membantah dan memberikan alibinya tapi nyatanya tidak ada satupun yang mau percaya.


Tentu tidak akan ada yang percaya setelah Ipul mendapatkan bukti-bukti atas perbuatannya terhadap Ralen.


Rahang Ipul bahkan sudah sangat mengeras tidak tahan kala dua orang polisi malah seperti kewalahan menghadapi seorang wanita.


Wanita itu menjadi sangat gila dengan segala tindakannya yang membuat isi rumah berantakan karena terus dia lemparkan ke arah orang-orang yang hendak membawanya.


"Bu, Dani tidak melakukan apapun pada Ralen, Dani bersumpah." Daniya berbicara pada sang ibu mengharap bantuan menunjukkan wajah yang memelas dengan segala sumpah yang nyatanya hanya untuk menyelamatkan dirinya.


"Anda bisa menjelaskannya di kantor polisi," kata seorang petugas yang mulai kehilangan kesabaran.


"Tidak akan! satu langkah pun aku tidak akan pernah mau ikut kalian!" sentak wanita yang sudah terlihat kacau.


Rumah kontrakan kecil itu terasa makin menyesakkan dengan beberapa orang yang berada sekaligus di dalamnya ditambah suara keributan yang makin mengundang perhatian tetangga sekitar, semuanya saling meninggalkan kegiatan mereka masing-masing di pagi hari itu hanya agar tidak ketinggalan tontonan yang selama ini hanya bisa mereka lihat melalui layar televisi sambil dengan mulut mereka yang berkasak-kusuk membicarakan apa yang mereka saksikan hari ini.


"Nak ibu mohon."


Ipul memundurkan kakinya saat sang ibu mertua malah sekarang berlutut di depannya menangkupkan kedua tangan dengan wajah yang berderai air mata, memberikan permohonan padanya agar tidak membiarkan polisi membawa anaknya.


Ipul menggelengkan kepala tak mengerti, dia sudah menceritakan semua apa yang membuat dia datang membawa polisi dan menangkap Daniya.


Tapi sekarang dia malah mendapati ibu mertuanya, ibu mertuanya malah sedang memohon padanya untuk melepaskan wanita yang sudah mencelakai istrinya? istri juga sekaligus anak dari wanita yang sekarang sedang memohon penuh harap dan ratapan kepadanya.


Ya Tuhan sebenarnya Ralen ini anaknya atau bukan?


"Dia sudah mencelakai istri saya Bu! dan bukankah istri saya itu juga anak ibu? tapi kenapa sikap ibu seolah Jelita bukan anak ibu." kata Ipul geram dengan segala perasaan marah yang bergelung di dasar hati.


Di depannya ini adalah seorang ibu, ibu dari dua wanita namun entah kenapa kasih sayangnya seolah berbeda, sangat berat sebelah padahal sedikit banyak Ipul sudah tahu bahwa selama ini istrinya lah yang menjadi tulang punggung dari keluarganya itu, tapi kenapa setelah kehadiran anaknya yang lain seolah semua pengorbanan istrinya menjadi anak yang berbakti menguap tanpa jejak.


Sang Ibu mertua menggelengkan kepala menolak tudingan yang menantunya katakan, Ralen anaknya sampai mati pun akan tetap anaknya hanya saja sekarang ini dia ingin menebus kesalahan yang sudah dia lakukan terhadap Daniya.


Kesalahannya yang tidak pernah memberikan kasih sayang pada anak pertamanya, kesalahannya karena tidak pernah mau memperjuangkan kesehatan Daniya semasa kecil tapi malah memberikannya kepada orang lain, seolah dia ini bukanlah orang tua yang bertanggung jawab.


"Ralen anak ibu tapi Daniya juga anak ibu, ibu sama-sama menyayangi mereka.."


"Tidak." Ipul menggeleng kepala, menyela perkataan sang mertua, seolah kasih sayang yang wanita itu ucapkan hanyalah omong kosong yang arahnya hanya ingin menyelamatkan Daniya saja.


Perlakukan dan kasih sayang yang wanita itu ucapkan untuk Ralen sama sekali tidak terlihat setelah sejak tadi wanita itu memintanya untuk melepaskan dan memaafkan apa yang sudah Daniya lakukan terhadap istrinya.


Rahang Ipul mengeras dengan kedua tangan yang saling mengepal.


"Daniya itu salah Bu!" Arda yang sejak tadi turut geram dengan sikap sang ibu pun akhirnya ikut bersuara, dia menjadi makin sangat benci dengan Daniya sampai memanggilnya Kakak pun rasanya dia tidak sudi.


"Dia sudah berbuat kriminal, bahkan sampai membuat Kak Ralen kehilangan anaknya, kehilangan anak yang akan menjadi cucu ibu! apa ibu tidak sayang dengan cucu ibu sendiri?!" Arda sungguh tidak habis pikir dengan segala tindakan yang sekarang tengah dipertunjukkan oleh ibunya, terus saja memohon dan membela seorang penjahat.


Sekalipun anak namun jika sudah melakukan kejahatan apa masih harus di bela? terlebih lagi melakukan kejahatan terhadap saudaranya sendiri.


Astaga, sungguh Arda seperti kehabisan napas setiap kali mendengar ibunya bicara bahkan sekarang tengah berlutut di depan Kakak iparnya.


Rumah itu benar-benar menjadi sangat kacau dengan segala pembelaan yang ibunya lontarkan, sedangkan Ayahnya hanya dia tanpa bicara.


Pria lumpuh itu hanya menunduk tanpa mau membuka suara, wibawanya sebagai seorang Ayah benar-benar tidak terlihat sama sekali, dia sadar diri dia tidak bisa menjadi kepala keluarga yang semestinya, dia tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai seorang kepala keluarga membuat dia malu untuk ikut bersuara.


"Tapi Daniya Kakakmu Arda."


"Dan Kak Ralen Kakak Arda! apa ibu lupa?!" sentak Arda tak mau kalah.


Sekarang perdebatan terjadi antara ibu dan anak laki-lakinya yang selalu ingin melindungi seorang Kakak yang sudah banyak berkorban untuknya.


Tubuh Ralen makin gemetar saat dia sudah mulai mendekati halaman rumah kontrakan dan dia mendapati tetangga sekitar rumahnya berkumpul seperti tengah menonton sesuatu sambil mulut mereka yang saling berbicara bahkan terlihat seperti orang yang bergosip karena betapa lihainya pergerakan bibir mereka, dan ketika melihat kedatangannya mereka semua kompak berhenti bicara dan menatap padanya, menatap dengan tatapan yang tidak dimengerti olehnya.


Sungguh tubuh Ralen makin gemetar bahkan saat hendak mematikan mesin motor saja tangannya sekian kali melenceng padahal kunci motor tidak bergeser sama sekali tetap berada di tempatnya meski sesekali bergoyang karena pergerakan yang dia lakukan.


Ya Tuhan, batin Ralen tak sanggup dan rasanya dia ingin pergi saja ketimbang harus mengetahui atau menyaksikan apa yang tengah di lakukan suaminya dengan keluarganya.


Ini masih sangat pagi dan suaminya datang ke rumah kontrakan orang tuanya, kalau bukan ada urusan sangat penting lalu buat apa suaminya datang tanpa mengajak atau bahkan memberitahu dirinya?


Akhirnya mesin motor mati dan dia siap untuk mengetahui apa yang terjadi, namun lagi-lagi jantungnya di buat tidak bisa berhenti berdebar saat sepasang netranya menangkap mobil polisi yang terparkir di dekat mobil suaminya.


Apa ini? kenapa dia baru melihatnya?


"Ya Tuhan.." mulutnya bersuara tak jelas dengan napas yang terasa makin menyesakkan, dadanya seperti dihimpit dan tidak dibiarkan untuk menghirup udara dengan baik.

__ADS_1


Sungguh kejutan apalagi yang sedang dipersiapkan oleh tuhan untuknya.


Langkah Ralen makin terasa berat kala dari dalam rumah dia sudah mendengar teriakan demi teriakan yang di sambung dengan suara tangisan yang begitu menyayat hati, sebenarnya apa yang sedang terjadi!


Batin Ralen bertanya-tanya di tambah dengan tatapan para tetangga yang seolah menusuk sampai ke jantung.


"Bu?" suaranya tercekat ketika dia yang sampai diambang pintu menyaksikan ibunya tengah berlutut di depan suaminya, pria yang menghilang saat dia bangun tidur dan kini menatap padanya hendak bicara namun ibunya sudah lebih dulu berlari padanya lalu memegang kedua tangan dia yang terasa sangat dingin.


"Ralen tolong katakan pada suamimu kalau kamu sudah memaafkan Daniya, biar bagaimanapun dia adalah Kakakmu."


Suara sang Ibu membuat Ralen makin bingung tak mengerti, kenapa dia harus memaafkan? Daniya memang membuat dia marah tapi kenapa ibunya sampai mengatakan seperti itu.


"Ibu cukup!" Arda membentak tak suka.


Ibunya itu entah kenapa sangat keras kepala dan menyebalkan.


Sedangkan di sudut ruangan Ralen menangkap Daniya yang menatapnya penuh kebencian, sepasang matanya mengeluarkan aura yang menyeramkan dan siap untuk menyakiti dirinya.


"Mas." akhirnya Ralen menuntut penjelasan dari suaminya.


"Dia itu yang nabrak Kakak sampai keguguran!"


Bukan Ipul yang menjawab tapi Arda, suara Arda yang lantang membuat Ralen melihat padanya, memberikan tatapan tak percaya bahkan Ralen beranggapan kalau Daniya mungkin tidak sengaja.


Ralen beralih menatap pada sang ibu, rasa iba dan sayangnya pun menyeruak tak terkendali.


"Mungkin dia tidak sengaja," kata Ralen dengan bibir yang bergetar menahan perasaan yang bercampur aduk.


Ipul mendekat pada sang istri lalu menatapnya dengan sorot tak senang, dia marah mendengar perkataan istrinya, mereka sudah kehilangan anak atas kecelakaan yang disengaja tapi wanita di depannya ini malah mematahkan apa yang sedang dia lakukan.


"Polisi sudah mengantongi semua bukti bahwa dia sengaja menabrak mu, bahkan ada dua orang saksi yang melihatnya!" seru Ipul dengan suara berat yang terdengar begitu keras bahkan Ralen sampai memejamkan kedua matanya.


"Selama satu bulan ini aku mencari dan mengumpulkan bukti untuk bisa memasukkannya ke dalam penjara mempertanggungjawabkan apa yang sudah dia lakukan!" kedua tangannya kini mencengkeram bahu sang istri berusaha untuk membuatnya mengerti.


Napas Ralen sesak dan tersengal lalu kedua matanya menatap tajam pada Daniya yang tampak kacau dengan pakaian tidurnya, sepertinya wanita itu juga belum sempat mandi sama seperti dirinya.


Ralen lalu melangkah dengan cepat dan..


Plak!


Menampar Daniya yang tidak pernah menyangka kalau Ralen akan berani menampar dirinya.


"Sialan.."


"Ralen!" sang ibu histeris hendak menolong Daniya akan tetapi Arda sudah lebih dulu memegangi tubuhnya membuatnya tidak bisa menolong sang anak yang tengah mendapatkan tamparan berulang kali.


Daniya bahkan tidak dibiarkan oleh Ralen untuk bicara, dia sangat marah, andai hanya dia yang celaka mungkin dia tidak akan semarah ini tapi perbuatan Daniya bahkan sampai membuat bayi yang dia kandung meninggal tanpa bisa melihat dunia lebih dulu.


"Kamu wanita paling jahat yang pernah aku tahu!" desis Ralen murka bahkan tangannya sudah siap untuk kembali menampar tapi Daniya malah memberikan senyum yang luar biasa menjijikkan.


Wanita itu tersenyum padahal Ralen baru saja menamparnya, apakah dia sudah gila?


"Kamu memang luar biasa Ralen, adikku tersayang." suaranya terdengar sangat menakutkan dengan ekspresi wajah yang menggila persis seperti orang yang menderita kejiwaan.


"Aku tidak akan membiarkan kamu berkeliaran dengan bebas setelah kamu membuat aku kehilangan bayiku!" sentak Ralen murka dengan mata yang penuh dengan kebencian, sekarang ini dia bukan hanya marah tapi juga benci pada wanita yang sayangnya dilahirkan oleh rahim yang sama dengannya.


"Awan, apa menurutmu aku rela kamu bersama dia?!" tatapan Daniya beralih pada pria yang berdiri di belakang Ralen, pria yang dia panggil Awan dan pria yang sudah membuat dia memiliki harapan yang sangat tinggi saat mereka berada di Inggris, saat mereka menghabiskan banyak waktu bersama sekalipun pria itu tidak pernah menyatakan perasaan terhadapnya, namun saat itu jelas pria itu memiliki rasa yang sama dengannya.


Lalu sekarang pria itu memilih hidup bersama dengan wanita lain? wanita yang ternyata adik kandungnya sendiri? jelas seumur hidup dia tidak akan pernah rela, merasa hidupnya sudah menjadi buruk bukankah sebaiknya dia membuat rumah tangga pria yang dia cintai itu hancur juga?


Daniya menggeleng, "sampai matipun aku tidak akan pernah rela!" menjawab sendiri pertanyaan yang dia tanyakan saat sang pria menatapnya dengan sorot marah.


Daniya mendengus lalu tersenyum sangat licik dan beranjak masuk ke dalam kamar membuat semua orang yang ada di rumah itu termasuk dua orang polisi bertanya-tanya dalam pikiran mereka sampai akhirnya Daniya kembali keluar dengan membawa handphone.


"Lihat ini!" Daniya mengangkat handphone dan layarnya berada tepat di depan Ralen, foto dengan cahaya yang minim namun dia bisa mengenali siapa yang ada di dalam foto itu.


Ralen langsung melihat pada suaminya.


"Aku akan menjelaskannya padamu," kata Ipul buru-buru dia tidak ingin istrinya salah paham tapi suara tawa Daniya yang kencang membuat suasana menjadi mencekam.


Wanita itu memang gila, tertawa saat keadaan tegang dan dia akan mendekam di dalam penjara.


Hahahahaha.


Suara tawanya begitu keras dengan air mata yang meleleh keluar dari tiap sudut matanya, wanita itu tertawa sambil menangis? atau memang tawa karena dia yang terlalu senang akan membuat semuanya menjadi lebih kacau.


"Kamu yang terlalu polos atau bodoh?" Daniya berkata pedas pada Ralen yang merasakan kepalanya berdenyut kencang.


"Kamu tahu siapa wanita ini? kamu tahu mereka berada dimana?" dari suaranya terlihat jelas kalau Daniya sedang memprovokasi sang adik.


"Wanita ini Hanna, mantan tunangan dari suamimu, dan dia adalah seorang janda." penuh penekanan saat mengatakan kalimat terakhir.


"Janda yang bekerja di tempat hiburan malam bisa dipastikan janda seperti apa wanita itu."

__ADS_1


"Berhenti Daniya!" Ipul berseru memberi peringatan.


"Lihat? bahkan suamimu tidak suka aku menjelekkan wanita itu," ucap Daniya makin senang dengan raut wajah Ralen yang berubah dengan cepat.


"Suami mu diam-diam menemui wanita itu di tempat bekerjanya lalu menurutmu apa yang mereka bisa lakukan? dua orang yang kesepian," desis Daniya, "waktu itu kan kamu sedang keguguran, hm?" Daniya makin menjadi dengan segala perkataannya.


"Bahkan aku juga tahu wanita itu sekarang bekerja dengan suamimu, entah bekerja sebagai apa? mungkin memanaskan ranjang? pria yang istrinya tidak bisa disentuh tentu akan mencari wanita lain untuk bisa menuntaskan hasratnya, bukan begitu, Awan?!"


Sudut bibir Daniya berkedut memicingkan senyum iblis.


Fitnah, semua yang Daniya katakan adalah fitnah yang benar hanyalah Ipul memang memberi Hanna pekerjaan di kantornya tapi hanya sebagai seorang office girl itupun di bagian marketing.


Semenjak Ralen keguguran Ipul pun hanya bekerja dari rumah, tidak pernah pergi ke kantor sama sekali, kesalahannya adalah dia tidak mengatakan apapun pada istrinya tentang dia yang membantu Hanna.


"Tidak seperti itu," kata Ipul saat melihat tatapan sang istri yang seolah kosong tak bernyawa.


"Kita pulang dan aku akan menjelaskan semuanya," suara Ipul terdengar berat.


Daniya tertawa lagi, "para lelaki memang tidak ada yang bisa di percaya!" cibirnya tidak ingin Ralen mendengarkan perkataan pria di depannya.


Ipul menggeram menatap nyalang, "cepat bawa dia!" katanya pada dua polisi yang langsung sigap menyeret Daniya keluar dari rumah diiringi dengan tangisan dan juga teriakan sang ibu.


"Sayang.."


Ipul mencoba untuk memeluk Ralen tapi wanita itu menepis tangannya lalu tanpa berkata berlari cepat menaiki motor.


"Jelita!" Ipul mengejar namun Ralen sudah melaju dengan motornya, membawanya dengan kecepatan tinggi.


Pria itu bergegas masuk ke dalam mobil, dia harus mengejar istrinya.


Mobilnya dengan cepat melintas melakukan pengejaran pada motor yang dibawa oleh istrinya, motor yang melaju cepat membuat dia mencengkeram kemudi dengan erat.


Ralen membawa motor seperti orang yang kesetanan, hatinya kembali sakit dan kini seolah hancur berkeping-keping dengan perkataan Daniya yang seolah berputar di telinganya, membuat kepalanya sakit, sangat sakit dengan kedua mata yang mengabur karena dipenuhi dengan air mata.


Sampai sebuah mobil yang hendak berbelok membuat dia kehilangan kendali hingga membanting setir ke arah yang berlawanan.


Bruk!


"Inikah akhir hidupku?" batin Ralen saat merasakan tubuhnya yang terhempas akibat di hantam kendaraan yang datang dari arah depannya.


Semua yang terjadi dalam hidupnya kembali terbayang dan berputar di ingatannya ketika dia merasakan sakit yang tak terhingga namun dia tidak ingin berteriak hanya mengeluarkan suara rintihan yang hampir tidak di dengar oleh siapapun.


Tubuhnya tergeletak tak berdaya dengan darah yang keluar dari kepalanya.


"Jelita!" Ipul berlari kencang syok dengan apa yang dia lihat.


Tubuh istrinya terpelanting tak berdaya dan bersimbah darah tepat di depan matanya membuat jantungnya seolah berhenti, tubuhnya berat namun dia harus keluar dari mobil untuk menyelamatkan Istrinya.


Pria itu memangku tubuh sang istri yang berada tepat di tengah jalan dengan iringan suara klakson yang saling bersahutan.


Napas Ralen sudah setengah namun matanya masih tetap terbuka, menatap pria yang kini memeluknya.


Nasibnya sangat naas, dia baru saja melihat foto suaminya yang memeluk wanita lain lalu sekarang suaminya malah menyaksikan dia kecelakaan seperti ini.


Tangan Ralen terulur untuk menyentuh rahang pria yang tanpa sadar menangis, meratap dan memohon untuk bertahan meninggalkan bekas darah di rahang yang baru semalam dia kecup dengan penuh kasih sayang.


Bibir Ralen mengulas senyum, "aku menyedihkan," katanya dengan susah payah.


Ipul menggeleng lalu berdiri mengangkat tubuh yang tak berdaya itu, tidak peduli berapa banyak darah yang kini mengotori baju serta celananya.


Ipul masuk ke kursi belakang mobilnya, dia tidak mungkin menunggu ambulance datang hingga akhirnya dia meminta seorang pria untuk mengemudi sedangkan dia mendekap tubuh istrinya.


Mobil sudah berjalan menuju rumah sakit terdekat, namun tetap saja terasa begitu jauh.


"Mas."


"Jangan mengatakan apapun!" sentak Ipul tak suka saat seperti ini istrinya masih saja ingin bicara.


Namun Ralen mengabaikannya, dia tetap ingin bicara sekalipun dia sudah sangat kesulitan.


"Aku ingin tidur."


Ipul panik, "jangan tidur, tetap bangun! kamu harus tetap sadar jangan pernah tidur atau aku akan marah!" sentak Ipul keras dengan air mata yang keluar dan setiap tetesannya mendarat tepat di rambut wanita yang sudah berlumuran dengan darah.


Namun Ralen tidak peduli, dia tidak mau mendengarkan apa yang suaminya katakan.


"Aku lelah.."


Ipul menggeleng lalu berteriak saat kedua mata istrinya tertutup begitu rapat.


"Jelita!!!!"


****

__ADS_1


__ADS_2