
Pemakaman yang tadi begitu ramai oleh para pelayat pun menjadi sepi, hanya menyisakan dua orang anak manusia yang seharusnya berbahagia baru saja menikah namun malah menjadi nestapa karena berita duka yang datang tanpa di duga.
Harumnya bunga di yang bertaburan di atas makam dengan papan nisan yang masih baru itu begitu semerbak terkena hembusan angin sore hari yang tampak mendung.
Sang pria dengan kemeja berwarna hitam tampak begitu terluka atas kepergian pria yang sangat dia sayang dan hormati, pria yang saat dia kecil selalu mengajarinya hal baru dan membimbingnya menjadi pria baik pada siapapun kini telah pergi untuk selamanya meninggalkan dirinya dan juga sang Mama.
Sekarang tidak ada lagi pria tempatnya bertanya saat sedang dalam kesulitan menghadapi tuntutan pekerjaan, tidak ada lagi pria yang menemaninya bersenda gurau menggoda wanita kesayangan mereka berdua.
"Gue menyesal."
Ralen yang turut serta berjongkok di depan makam yang masih basah pun mengalihkan tatapannya kepada sang suami yang tengah berbicara tanpa menoleh.
Tatapan pria di sampingnya tetap terarah pada nisan yang sejak tadi dia pegang dengan begitu erat.
"Gue menyesali pernikahan ini."
Deg!
Bagaikan sebuah sambaran petir di siang yang meruntuhkan pohon besar saat Ralen mendengar sebaris kata penyesalan atas pernikahan yang sudah terjadi.
Wanita yang saat ini memakai pakaian milik Zara pun menatap tak percaya dengan apa yang baru saja telinganya dengar.
"Seandainya hari ini tidak ada pernikahan mungkin Papa gue masih ada, gue nggak akan harus berada di sini, Mama gue masih akan melihat wajah Papa gue." Ipul berkata pelan namun tetap sangat menyakitkan bagi wanita yang sekarang membeku tanpa kata.
"Kesalahan yang paling gue sesali adalah bertemu dengan Lo, seharusnya pertemuan pertama itu juga pertemuan terakhir tidak perlu lagi kita bertemu berkali-kali, gue menyesali semua yang terjadi antara kita, gue menyesal!"
Suara Ipul tegas namun ada getaran di setiap bait nya, menyesali semua yang memang sudah di gariskan oleh tuhan untuknya tapi dia dengan tidak berpikirnya seolah menyalahkan kenapa harus bertemu dengan wanita bernama Ralensi Jelita yang kini menjadi istrinya.
Keadaan kembali hening hanya menyisakan suara dedaunan yang diterpa oleh angin yang tengah mengirimkan Awan mendung di sekitar pemakaman.
__ADS_1
"Gue merasa sedang terjebak bersama Lo, terjebak bersama wanita yang merubah hidup gue menjadi gelap dalam waktu singkat."
Puas mengeluarkan apa yang ada di dalam hatinya, Pria itupun beranjak berdiri dan pergi begitu saja tanpa berkata atau mengajak serta wanita yang sudah menjadi istrinya itu bersamanya.
Ralen hanya berdiri saja melihat pria yang tadi pagi menikahi perlahan menjauh dan menghilang di balik pintu gerbang pemakaman umum itu, dia tahu pria itu sudah meninggalkannya sendiri diantara barisan-barisan makam yang berjejer rapi.
"Maafin Ralen karena sudah membuat Papa meninggalkan orang-orang yang menyayangi Papa," tutur Ralen dengan bola mata yang bergetar.
"Kalau Ralen tahu akan seperti ini, Ralen tidak akan mau menikah dengan anak Papa," tambah Ralen lagi semakin tak kuasa merasa bersalah, terlebih lagi kata menyesal yang tadi berulang kali dikatakan oleh suaminya masih dan akan terus terngiang di telinganya.
Wanita itu memilih untuk tetap berada di pemakaman umum berbicara pada batu nisan bertuliskan nama sang mertua yang bahkan belum sempat mengucapkan selamat atas pernikahan dirinya dengan Saipul Gunawan.
*****
"Ralen mana? kok kamu pulang sendiri?" sang Mama yang matanya terlihat begitu bengkak karena menangisi kepergian suaminya bertanya tentang keberadaan sang menantu, istri dari anaknya yang tadi pagi baru dinikahi.
"Dia istrimu nak, sejak kamu mengucapkan ijab dan saksi mengucap sah semua hidupnya menjadi tanggung jawab mu, tidak bisa kamu berbuat seenaknya terhadap istrimu sendiri."
Meskipun dalam keadaan bersedih seperti ini nyatanya Riska masih memikirkan keadaan menantunya, terlebih lagi sejak di pemakaman tadi dia bisa merasakan ada rasa marah serta benci dari tiap tatap mata yang anaknya tujukan untuk Ralen.
"Yang terjadi hari ini adalah takdir dari Tuhan, kita tidak bisa menyalahkan apapun dan siapapun."
Ipul menghentikan langkahnya lalu tanpa berbalik diapun menjawab perkataan sang Mama, "semua karena dia Ma, andai Ipul tidak pernah bertemu dan mengenalnya kita tidak akan kehilangan Papa, Mama masih bisa melihat wajah senyum Papa, Ipul masih akan mendengar suara Papa yang memanggil Mama dengan lembut dan penuh kasih sayang, kalau tahu akan begini Ipul tidak mau mengenal dia Ma!" papar Ipul lalu berjalan cepat setengah berlari menuju kamarnya meninggalkan wanita yang tidak dia beri kesempatan untuk berbicara lagi.
Malam hari Ralen masih belum juga datang yang makin membuat Riska semakin cemas hingga memutuskan untuk kembali berbicara dengan anaknya yang sedari tadi berada di kamar, tidak keluar dari kamar bahkan melewatkan makan malam, yah tentu di saat seperti ini siapapun tidak akan berselera untuk makan apapun terutama dirinya yang kehilangan pria yang sangat dia cintai, tempatnya berbagi keluh kesah dan segala cerita kehidupan yang mereka jalani.
"Mama boleh masuk?" tanya Riska sesaat setelah mengetahui pintu tidak terkunci.
"Masuk Ma," sahut Ipul dari dalam kamar yang seharusnya sudah ditempatinya bersama Ralen tapi pria itu malah meninggalkan istrinya sendiri di pemakaman umum, entah sudah pulang ke rumahnya atau masih berada di sana Ipul enggan memikirkannya.
__ADS_1
"Ralen belum pulang juga Pul, ini sudah malam," ucap Riska ketika duduk di samping sang anak yang dengan begitu tenangnya memainkan jari di atas tab memeriksa semua tentang perusahaan yang mulai sekarang seutuhnya menjadi tanggung jawab Saipul.
Ipul menghela napas lalu menyimpan tab nya, "dia wanita dewasa Ma, dia juga sudah tahu alamat rumah ini, kalau dia mau pulang dia akan pulang," terang Ipul menunjukkan bahwa dia sama sekali tidak peduli dengan Ralen.
"Tapi sebagai suami seharusnya kamu mencarinya, ini sudah malam dan di luar pun turun hujan apa kamu tidak khawatir dengan keadaan istrimu?"
"Dia masih punya orang tua Ma, mungkin saat ini dia di rumah orang tuanya," jawab Ipul mengatakan kemungkinan Ralen berada dimana saat ini.
"Meskipun Ralen di rumah orang tuanya kamu harus tetap menyusulnya, membawanya pulang ke rumah yang kamu tempati bagaimana bisa kamu membiarkan istrimu di rumah orang tuanya dan kamu di rumah orang tuamu, pernikahan tidak seperti itu Pul, semua yang terjadi biarlah terjadi, Papa tidak akan suka melihat anaknya menjadi suami yang tidak bertanggung jawab Papa akan sangat marah sama kamu!" tegas Riska mengingatkan sang anak agar tidak memperlakukan seorang wanita terlebih lagi seorang istri.
"Besok Ipul akan jemput dia," putus Ipul.
Meskipun terasa berat namun akhirnya memilih untuk mengikuti perkataan Mamanya, walaupun keterpaksaan nampak jelas dari raut wajahnya.
\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1