
Angga berkeliling mencari Ralen, beberapa hari ini wanita itu terus saja menghindar darinya, saat bertemu dan Angga hendak mendekat wanita itu yang tadinya sedang mengobrol dengan dua orang temannya malah mendadak pergi dengan sangat tergesa, tampak sekali kalau Ralen berusaha untuk menghindari dirinya.
Tapi kenapa dan karena apa itulah yang membuat Angga bertanya-tanya, dia tidak tahu kenapa Ralen yang biasanya masih mau berbicara bahkan berjalan berdampingan meskipun hanya disekitar lingkungan kampus saja tapi sekarang begitu jelas wanita itu menjauh, bahkan sekarang lebih parah lagi, Ralen tidak terlihat dimana pun.
"Kamu melihat Ralen?" tanya Angga pada Gerry yang sedang berteleponan entah dengan siapa.
"Saya juga sedang mencarinya Pak," celetuk Gerry, "bukan maksudnya saya tidak melihatnya sejak tadi," mahasiswa yang mempunyai hobi merekam itu gegas meralat pernyataannya ketika pria di depannya mengernyitkan kening menatap penuh pertanyaan.
"Kalau nanti kamu bertemu dengannya tolong beritahu dia untuk segera menemui saya," pinta Angga yang harus segera masuk ke dalam kelas karena sebenarnya saat ini dia sudah waktunya untuk mengajar dan mungkin para mahasiswanya juga sudah menunggu dengan rusuh.
Gerry mengangguk ragu lalu melanjutkan pembicaraannya dengan orang yang sedang menghubunginya sejak tadi.
"Baiklah, saya akan segera mengabari anda," ucap Gerry mengakhiri pembicaraannya dengan seseorang yang dia tidak tahu sedang berada dimana.
Dia mendapatkan job yang cukup sesuai dengan passionnya, jadi dia tidak akan menolak apapun yang bisa membuatnya menyalurkan hobi yang terkadang membuat teman-temannya kesal.
Gerry masuk ke dalam kelas yang berseberangan dengan kelas tempat Angga mengajar.
"Seira."
Saat di dalam kelas bukannya langsung memberikan pelajaran kepada semua mahasiswa yang sudah menunggu, Angga malam berjalan ke arah mahasiswinya yang bernama Seira, mahasiswa yang dia tahu cukup dekat dengan Ralen.
"Iya Pak dosen ganteng," dengan gaya centilnya Seira berdiri dari duduknya ketika si dosen muda dan tampan tengah berjalan ke arahnya.
"Huuu, dasar ganjen!" oceh Devi dan Fara bersamaan melihat tingkah laku temannya.
Seira hanya mengumbar senyum mengejek kepada dua temannya.
"Kamu tahu Ralen kemana?" bertanya pada Seira yang lantas memasang wajah kecewa dengan bibir yang mengerucut.
Samar-samar telinga Seira juga mendengar suara tawa yang begitu nyinyir dari kedua temannya membuat dia langsung mendengkus.
"Nggak tahu Pak, saya kan bukan Emak moyangnya," celetuk Seira dengan nada yang tidak lagi centil seperti tadi, sekarang lebih terkesan sedikit ketus karena nyatanya si dosen yang kerap kali menjadi bahan impian mahasiswi itu malah mencari teman barunya yang bernama Ralen.
"Biasanya kan kamu sama Ralen, dia nggak ada ngomong apa-apa sama kamu kalau dia nggak masuk hari ini?" Angga masih dengan tidak pekanya masih terus mengajukan pertanyaan, tidak sadarkah dirinya itu kalau gadis yang sedang dia tanya sudah menunjukkan wajah yang bete, di tambah lagi dengan celetukan dari dua gadis di dekatnya.
Seira menggeleng tak semangat mendengar pertanyaan dari sang dosen idamannya, tentu karena pada kenyataannya dia memang tidak tahu kemana dan kenapa Ralen tidak masuk kampus hari ini, kan mereka juga belum terlalu dekat jadi tidak mungkin dia menunjukkan kekepoannya untuk bertanya dimana Ralen saat ini dan kenapa tidak masuk kampus.
"Ya sudah kalau begitu, terimakasih," ucap Angga yang akhirnya menyerah, bertanya pada gadis yang memang tidak tahu menahu kemana Ralen sungguh hanya membuang waktu saja, Angga pun menuju mejanya yang ada di depan sana lalu duduk memeriksa buku yang dia bawa untuk mulai memberikan pelajaran.
"Ngeselin banget tuh dosen, ada gue yang lebih semok malah nyariin Ralen!" dengus Seira seraya menggerakkan tubuhnya dengan sensual seolah menunjukkan bagaimana bentuk tubuhnya yang memang sangat menakjubkan.
"Tapi itu Lo kecil Seira, kah sama Ralen," celetuk Devi membuat Fara terkekeh mendengarnya apalagi saat Seira yang dengan sadisnya malah mengeplak lengan Devi menggunakan buku tebal miliknya.
"Gue mesti implan kah?" malah berpikiran tak jelas.
"Implan aja, sekalian koreksi yang bagian kiri biar sama gedenya kayak yang kanan."
__ADS_1
Untuk sekian kalinya Devi dengan seenak jidatnya berkata sambil kedua bola matanya melirik jahil pada bagian tubuh yang sekarang sedang di tekan-tekan oleh Seira guna memeriksa ukurannya yang memang tampak tidak sama.
"Iya juga ya," cetus Seira.
"Gila Lo berdua!" cetus Fara melihat tingkah laku Seira dan Devi yang luar biasa ajaib.
Padahal saat ini ada seorang dosen yang sedang menjelaskan tentang materi pelajaran tapi dua orang mahasiswinya malah sibuk mengoceh kan hal yang tidak masuk dalam materi pelajaran mereka, sedangkan satu mahasiswa lagi tampak mulai protes dengan kelakukan dua temannya itu.
Lalu beberapa saat setelah selesai mengajar Angga pun gegas meninggalkan kampus, dia membawa mobilnya kesebuah alamat yang menjadi tujuan utamanya hari ini.
Tidak tahu kenapa rasa penasarannya sudah tidak dapat dia kendalikan, terlebih lagi dari kemarin dia tidak bisa berbicara dengan Ralen dan hari ini bahkan wanita itu tidak datang ke kampus, ada yang benar-benar ingin dia bicarakan.
Mobil meluncur membelah jalanan yang masih belum terlalu padat oleh kendaraan milik para pekerja, karena sebentar lagi adalah jam pulang kantor pastinya jalanan akan semakin ramai nantinya.
Mobil hitam range rover itu melaju sangat tenang atas kendali dari si pengemudi, sampai tak berapa lama kemudian mobil sudah berhenti di tepi jalan sebuah gang yang tak jauh dari tempat itu ada deretan rumah kontrakan yang salah satu rumah menjadi tujuannya.
Pria itu turun dari dalam mobil, berdiri di depan pintu mobil yang sudah kembali dia tutup lalu melepas kacamata hitam yang dia pakai dengan gaya yang sangat elegant siapapun mungkin akan setuju kalau dia cocok menjadi seorang aktor, karena mempunyai fisik yang mendekati kata sempurna.
Angga melihat pada pintu rumah kontrakan yang terbuka dan dia yakin pasti itu adalah rumah yang dia tuju.
Setelah sangat yakin akhirnya dia melangkahkan kakinya menuju ke rumah kontrakan itu.
Tok! tok!
Sebagai seorang dosen tentu dia sangat tahu bagaimana berlaku sopan santun saat berkunjung ke rumah orang lain, sekalipun pintu terbuka lebar dia tidak akan dengan kurang ajarnya masuk begitu saja.
Angga mengetuk pintu dua kali dan tak lama seorang wanita muncul dari dalam dengan tergesa, daster yang dia kenakan pun terlihat basah di bagian bawahnya menandakan bahwa wanita itu sedang mengerjakan sesuatu dibelakang sana yang berhubungan dengan air, entah mencuci pakaian atau mencuci piring.
"Jadi memang benar mereka bersaudara," batinnya memandang wanita yang sudah berdiri di depannya menampilkan wajah yang ramah namun raut penuh tanya tentang siapa tamunya yang datang ini bisa Angga lihat dengan jelas.
******
Ipul benar-benar di buat tidak bisa berkonsentrasi sama sekali, pertemuannya dengan si rekan bisnis menjadikan dia sangat tidak nyaman karena terus memikirkan istrinya yang sampai saat ini tidak juga memberi kabar kepadanya.
Konsentrasinya menjadi sangat buyar sama sekali tidak mengerti konsep yang sedang dijelaskan oleh sang rekan bisnis yang sudah menandatangi kerja sama dengan perusahannya.
Ipul bahkan berulang kali memeriksa handphonenya saat pria di depannya berusaha menerangkan tentang proyek yang akan berjalan nantinya, sungguh Ipul menjadi tidak profesional sekali hari ini.
Tubuhnya ada di tempat itu bergerak normal tapi otak pikirannya malah berada di tempat lain, memikirkan bagaimana dan sedang apa istrinya sekarang ini, lalu tentang segala praduga yang muncul kepermukaan ketika Jelita yang tak kunjung membalas pesan darinya.
"Dia sedang membalaskan dendam padaku kah?" batinnya dengan wajah yang tampak makin menegang setiap menitnya.
Pertemuan itu terjadi sampai mendekati pukul 8 malam, membuat dia benar-benar lelah di tambah kekesalan yang menggunung kacau sudah penampilannya saat ini yang langsung melepaskan jas serta dasi ketika berada di dalam mobil yang akan membawanya kembali ke hotel.
"Istri durhaka!" omelnya ketika melihat handphone yang tidak ada satupun pesan darinya yang di baca oleh sang istri.
Omelan pria yang duduk di belakang itu membuat si asisten beserta pria yang menjadi sopir itu saling bertatapan lalu bertanya tanpa suara, namun keduanya pun menggeleng bersamaan.
__ADS_1
"Om," panggil Ipul pada sang asisten yang langsung menoleh padanya.
"Saya tuan muda," jawab Damar dengan suara yang tenang.
"Apa Jelita tidak menghubungi Om?" tanya Ipul.
Damar terdiam sesaat lalu kemudian menggeleng samar penuh keraguan.
"Menghubungi apa tidak?" Ipul bertanya lebih jelas, dia tidak mengerti dan tidak mau mengerti dengan gelengan kepala yang Damar perlihatkan.
Damar mengusap hidungnya sesaat lalu memberikan jawabannya, "tidak tuan muda." singkat lalu kembali memutar kepalanya menatap lurus jalanan gelap yang mereka lintasi.
"Sialan!"
Damar dan sopir itu begitu terkejut karena sejak tadi atasan mereka itu terus saja mengeluarkan umpatan, memaki orang yang tidak ada.
"Bisa-bisanya dia menghilang setelah membuat ku panas tak karuan begini!" oceh Ipul dengan mata yang menajam disertai dengan tarikan napas yang begitu berat.
"Kita ke bandara saja."
Suara Ipul membuat Damar menoleh kembali lalu bertanya, "ke bandara? untuk apa tuan muda?"
"Pulang ke Jakarta, Ipul tidak akan bisa tenang sampai kapanpun sebelum bertemu dengan si pembuat masalah," papar Ipul menganggap istrinya sudah membuat masalah dengannya.
"Tidak bisa tuan muda, besok masih ada jadwal yang harus tuan muda hadiri, pertemuan ini bahkan jauh lebih penting dari apapun," balas Damar mencoba menahan agar si atasannya itu tidak semakin ngotot untuk kembali ke Jakarta malam ini juga, bisa kacau urusannya, pikir pria yang begitu setia dan sabarnya menghadapi si tuan muda yang kadang sulit sekali di tebak jalan pikiran serta kemauannya.
Bugh!
Mendengar itu Ipul malah menendang pintu mobil menggunakan kaki bagian samping.
Damar membiarkan saja apa yang mau dilakukan oleh pria di kursi belakang itu, mau mobil di bikin penyok pun terserah toh nantinya pria itu sendiri yang akan keluar uang untuk memperbaiki mobil atau malah justru menggantinya dengan yang baru?
Mobil terus melaju di tengah aura tegang dan menakutkan yang tercipta dari orang yang duduk sendiri di kursi belakang, dari napas pria itu masih terlihat memburu bahkan sampai saat mereka sudah berada di dalam hotel dan menunggu lift yang akan membawa mereka ke lantai dimana kamar mereka berada.
Keduanya masuk ke dalam lift masih tanpa membicarakan apapun, di dalam lift menjadi sangat hening terlebih lagi hanya ada mereka berdua.
Begitu lift terbuka sepatu hitam yang digunakan oleh Ipul berderap menimbulkan suara yang memberikan tanda bahwa si pemakainya sedang dalam kondisi tidak baik untuk diajak berbicara.
Damar mengikuti dari belakang berniat untuk mengantar sang atasan yang penampilannya tidak lagi sempurna seperti saat pergi pagi tadi.
Berantakan dan kacau, dasi serta jas di gantungkan di bahunya dengan rambut yang acak-acakan akibat perbuatan tangan atasannya sendiri yang mungkin sangat gemas karena istrinya tak kunjung memberinya kabar.
Damar berdiri di belakang Ipul yang sedang membuka pintu kamar hotel dan menunggu pria itu masuk menutup pintu baru kemudian Damar pergi ke kamarnya sendiri yang berada di ujung sebelah kiri kamar sang atasan.
Ipul menutup pintu dengan kencang lalu melangkah berat menuju kamar yang pintunya tertutup.
Pria yang terlihat kusut itu membuka pintu kamar lalu langkahnya terhenti dengan mata yang melebar.
__ADS_1
"Dani!"
****