
Ralen melancarkan tatapan yang begitu tajam kepada suaminya yang masih saja tidak sadar dengan apa yang dia perbuat.
Pria itu sudah salah melihat tapi masih tidak sadar juga setelah bertemu langsung dengan orang yang sejak tadi dia tuduh tengah berselingkuh.
"Awan!"
Suara dari arah depan mereka membuat Ralen dan Ipul menoleh bersamaan melihat dengan kompak si pembuat suara yang barusan memanggil.
Ralen mendengus mengeluarkan udara panas dari hidungnya kala mendapati wanita di sana yang sedang tersenyum sumringah.
"Jadi sekarang siapa yang ada di dalam foto itu?" tanya Ralen, suara serta nadanya kini terdengar sangat ketus dan pedas kala bertanya pada pria yang mendadak menampilkan tampang terbodohnya selama menjadi seorang pengusaha.
Ipul menggaruk kepala yang mendadak terasa sangat gatal dan ingin dia garuk sekuat tenaga, "ini salah orang yang.."
"Istri sendiri masih juga tidak kamu kenali! masih juga salah dan malah ingin menyalahkan orang!" menyela perkataan suaminya yang dia tahu dengan jelas ingin menyalahkan orang yang sudah mengirimkan gambar Daniya yang di sangka Ralen, memang wajah mereka sama tapi bukankah pakaiannya berbeda?
Ralen ingin sekali menyerang suaminya tapi dia sadar sedang berada dimana, tidak mungkin dia menunjukkan betapa dia adalah singa betina yang sangat menakutkan apabila sedang mengamuk.
"Orang itu bodoh, kenapa tidak bisa membedakan kamu," masih berusaha menyalahkan orang lain untuk menyelamatkan dirinya.
"Kamu yang bodoh Mas Sai! kamu ini suami aku seharusnya kamu yang lebih tahu aku, terlebih lagi baju yang aku pakai berbeda! masih juga tidak kenal sama istri sendiri, tidak bisa membedakan."
"Awan, kamu sedang apa disini?" Daniya sudah berada di depan suami istri yang tengah berseteru.
"Bisa tidak, kamu ini tidak mengganggu suami orang, tidak tahu diri banget!" kata Ralen pedas yang kadung kesal dengan suaminya malah wanita yang membuat suaminya salah paham malah menampakkan diri tanpa dosa.
Daniya bukannya pergi atau setidaknya menjauh lah saat mendengar perkataan dari istri sah tapi dia malah tersenyum mengejek dan malah dengan tidak tahu malunya mendekat pada pria yang matanya langsung membelalak.
Ralen mengibaskan rambut lalu melotot, "sekarang yang selingkuh kamu Mas Sai!" seru Ralen dengan suara yang penuh penekanan.
Sontak perkataannya itu membuat Ipul gelagapan dan berpindah ke posisi samping kanan istrinya lalu memepet tubuh kecil wanita yang tengah mendelik menakutkan.
"Kita pulang aja deh ya, kamu udah selesai kan kuliahnya?" tanya Ipul panik bahkan dia terus berpindah posisi kala Daniya mencoba mendekat.
"Awan!" Daniya memanggil geram ketika pria yang ingin dia dekati malah berputar-putar tak jelas membuatnya pusing.
Tapi pria yang Daniya panggil malah mendadak menjadi orang tuli, Bolot dan sebagainya sangat menyebalkan sekali.
"Kamu takut sama wanita bodoh seperti ini?" tanya Daniya tak lagi mengejar memilih berdiri di sisi yang berlawanan.
Ipul menatap pada Ralen yang matanya sudah memancarkan kilatan-kilatan amarah.
"Dia ngatain kamu bodoh," bisik Ipul dengan kurang ajarnya malah mengompori istrinya.
Baru saja Ralen ingin marah pada wanita yang sudah melemparkan bola peperangan terhadapnya, dia malah merasakan perutnya sakit luar biasa mungkin akibat terlalu banyak mencampurkan sambal pada bakso yang dia makan tadi bersama dengan Seira.
"Aduh." mengaduh seraya memegangi perutnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" suaminya bertanya melihat istrinya mengaduh kesakitan.
"Perut aku sakit," adu Ralen.
Dalam hati Ralen itu mengutuk sakit perut yang datang tidak tahu diri, apa tidak tahu kalau saat ini emosinya sedang ingin dia lampiaskan? kenapa sakit perutnya malah datang tidak bisakah nanti-nanti saja saat dia sudah sampai di rumah?
Keringat dingin pun mulai keluar dari tiap pori-pori di tubuhnya, membahasi seluruh kulit nya yang sekarang berubah menjadi dingin.
"Ya udah ayo pulang," ajak Ipul mencoba merangkul sang istri.
"Maunya di gendong!" seru Ralen manja, entah dorongan darimana hingga tiba-tiba minta di gendong oleh suaminya padahal saat ini mereka sedang berada di ruang publik, banyak anak-anak kampus yang berseliweran berbisik-bisik sebentar tapi kemudian segera berlalu.
"Lo nggak tahu malu banget ya, minta-minta gendong segala kaki Lo nggak berguna?" Daniya berkata pedas, mendengar Ralen meminta gendong membuatnya murka api di dalam dadanya itu berkobar membuatnya panas seketika.
"Ngapain malu, ini kan suami gue! mau gue minta apa juga terserah gue!" sentak Ralen mengingatkan kedudukannya.
"Cepetan gendong!" katanya lagi pada sang suami yang malah tengah menonton dia beradu mulut dengan Daniya.
"Lo ngapain sih punya muka pake mirip sama gue! nggak punya ide lain apa Lo ya," menuding wajah Daniya dan mulai mempermasalahkannya.
Daniya mengumbar senyum miring, "dari segi usia aja masih tuaan gue yang jelas itu artinya wajah Lo yang ngikutin wajah gue!" celetuk Daniya membuat Ralen mendengus.
Ipul melongo tak percaya kala Daniya yang dia kenal anggun malah bisa berbicara luar biasa menyebalkan saking tidak percaya diapun sampai terbengong mengabaikan istrinya yang minta di gendong.
"Dasar buaya!" tuding Ralen menyadari suaminya, dia berpikir kalau Ipul itu sedang mengagumi wanita menyebalkan bernama Daniya itu hingga mengabaikan dirinya.
Ralen pun menjauh dari mereka, gondok rasanya.
"Jelita."
Dua orang pria terdengar memanggil panggilan Jelita jelas Ralen sudah tahu siapa membuat dia masa bodo dan tetap melenggang cepat sambil memegangi perutnya.
Ipul menunjuk pada Angga tanpa kata seolah memberi peringatan untuk tidak mendekat pada istrinya.
Angga mengedikkan bahu seraya menghentikan langkahnya, dia tidak mau mengejar Ralen kalau akhirnya malah jadi ribut dengan pria yang dia tahu juga disukai oleh Daniya yang sekarang sedang berdiri memandangi pria yang dia sukai tengah mengejar wanita lain.
"Mereka suami istri, jadi tidak usah terus merendahkan harga dirimu terus-menerus untuk mengusik dan mengganggu suami orang, tidak baik!" tutur Angga lalu melangkah pergi.
"Yao ke dokter katanya perut kamu sakit," suara Ipul yang mulai mendekat pada sang istri yang tengah mengarah pada parkiran motor.
Ralen tidak menjawab terus melangkah menuju motornya lalu duduk di atasnya tapi tangannya sambil memegangi perut.
"Jelita." dari nada suaranya mulai terdengar frustasi di tambah rasa mual yang juga mendadak muncul kembali ketika terkena sinar matahari sore.
"Minggir kamu," pinta Ralen dengan ketus.
Wajahnya itu terlihat sekali tengah menahan sakit tapi dia yang kadung kesal mencoba untuk abai, menguatkan diri untuk bisa membawa motor dengan baik.
__ADS_1
Ipul menggeleng sambil menahan motor agar tidak pergi.
"Pulang sama aku aja yuk, aku minta maaf deh kalau salah," cakap Ipul.
Ralen melongo tak percaya, minta maaf deh kalau salah, kalau salah? yang benar saja! apa kosakata itu cukup baik di dengar untuk orang yang minta maaf? kalau salah? bukankah itu sama saja tidak sepenuhnya mengaku salah padahal jelas-jelas pria itu bersalah, sudah menuduhnya selingkuh lalu terciduk menatap si pelakor tak jelas dengan mata yang tak berkedip, makin membuat hati Ralen dongkol setengah mati.
"Aku mau ke rumah ibu," ujar Ralen ketus.
"Kamu belum bilang."
Ralen mendecih, "aku udah kirim pesan ke kamu saat berangkat kuliah tadi, baca pesan dari aku makanya! jangan pesan nggak penting terus yang kamu baca!" omel Ralen.
Ipul pun segera mengambil handphone dari sakunya lalu memeriksa pesan yang istrinya kirim, pesan yang sudah tenggelam karena banyaknya pesan yang masuk ke dalam handphonenya.
"Padahal bisa di pin, tapi kayaknya aku emang nggak penting," tutur Ralen merasa miris, tidak tahu kenapa sekarang dia malah merasakan dadanya sangat sesak.
"Belum sempat di pin, yaudah aku pin sekarang," jelas Ipul.
"Nggak perlu! kamu minggir aja aku mau ke rumah ibu."
"Ya udah tapi pulangnya jangan malam-malam, atau nanti aku jemput aja?" Ipul bergerak ke pinggir memberi akses jalan untuk istrinya.
"Aku nginep, nggak tahu pulang kapan," sahut Ralen lalu segera melajukan motornya dengan kencang.
"Jelita! aku nggak ijinin kamu nginep pokoknya pulang!" langsung panik mendengar istrinya malah mau menginap, badannya sedang sangat sakit sekarang dia ingin istrinya itu ada di sampingnya dan merawat dia.
Teriakannya seolah menjadi sia-sia ketika Ralen tidak memberikan jawaban, mual di perutnya pun makin menjadi seperti begitu semangat mengobrak-abrik perutnya guna menambah penderitaan yang dia rasakan.
Pria itu melangkah lebar menuju mobilnya dengan menahan rasa mual, untungnya di dalam mobil ada minyak angin hingga diapun menggunakan itu untuk sedikit membantunya meredakan mual serta pusing.
Menghirup aroma minyak angin lalu mengoleskannya ke bagian pelipis sambil memijitnya.
"Sumpah, gue ngerasa kayak yang udah jompo banget,apa mungkin jiwa gue ini tertukar sama Kakek-kakek ya? jangan-jangan waktu tidur semalem ada jiwa Kakek-kakek yang nyasar terus masuk ke tubuh gue," gumamnya mulai mengatakan hal yang teramat tidak masuk di akal.
__ADS_1
\*\*\*\*