Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Sudah Sepakat


__ADS_3

"Nggak mau kuliah!" ujar Ralen dengan suara yang sedikit kencang membuat ada gema yang terdengar di ruangan itu.


Pria yang sedari tadi duduk di kursi kerjanya menyorot tak mengerti seraya menyandarkan punggungnya di kursi dengan warna hitam gelap.


"Apa lagi ini sekarang?" tanya Ipul mengetuk-ngetuk ujung jarinya pada sandaran tangan di kursi.


Sepertinya Ipul mulai paham dengan semua sikap serta sifat wanita yang dia nikahi, meski belum satu bulan menikah dia sudah mencoba untuk mengerti bagaimana seorang Ralensi Jelita itu.


Menurutnya wanita itu kadang tak jelas, ada saja tingkah lakunya yang sering kali tak sejalan, selalu berubah-ubah seperti saat ini, padahal sejak semalam dia sudah menegaskan dan wanita itu juga sudah setuju untuk berkuliah, lalu sekarang ketika dia sudah memilih kampus terbaik dan mendaftarkan nya wanita itu malah mengatakan tidak mau kuliah, ah yang benar saja!


"Nggak usah kuliah aja," kata Ralen lagi mengulang apa yang dia utarakan tadi.


Apa ini? Ralen juga tidak mengerti kenapa dia berubah pikiran begitu melihat sekretaris seksi berdekatan dengan suaminya, tidak mungkin dia cemburu kan? sungguh Ralen bingung.


Impiannya sejak dulu adalah kuliah tapi kenapa ketika impian itu sudah ada di depan mata yang segera menjadi nyata malah dengan spontan nya mengatakan tidak usah kuliah, ada apa dengan pikiran serta hatinya? apa dia sudah menaruh rasa pada pria songong dan juga galak yang sekarang sedang menatapnya dengan tatapan menuntut jawaban.


"Kasih alasan yang logis dan bisa diterima, jangan asal ucap tak jelas tanpa alasan apapun! kita sudah sepakat jangan seenaknya saja mengambil atau membatalkan keputusan yang bahkan kamu pun sudah menyetujuinya," terang pria yang tampak bersikap tenang dengan duduk yang juga begitu santai meminta penjelasan juga alasan masuk akal dari perkataan yang baru saja dia dengar dari mulut wanita yang tadi malam dia kuasai dengan sesuka hati bahkan jika baju Ralen di buka pun akan terlihat dengan jelas banyaknya tanda-tanda berwarna merah yang semalam dia tinggalkan dengan sengaja.


Apa? Ralen harus menjawab apa? rasanya amat tidak mungkin kalau dia mengatakan bahwa ingin terus mengawasi sekretaris yang menunjukkan rasa suka terhadap suaminya dengan begitu jelas, sebagai seorang wanita tentu dia menangkap dengan sangat baik sinyal-sinyal hasrat ingin memiliki dari seorang bernama Sarah itu, dan dia tidak suka melihatnya.


Apa dia harus alasan itu terdengar sangat konyol? sungguh Ralen masih ingin mengelak dan sepertinya akan mengelak kalau dia sedikit cemburu, meski wajar cemburu terhadap wanita yang mendekati suaminya, tapi akan jika itu dia lakukan, bukankah pria songong itu nantinya malah akan semakin songong dan banyak tingkah?


Besar kepala? iya seperti itu nantinya Saipul Gunawan, apabila tahu wanita yang selalu membuatnya kesal itu terang-terangan menunjukkan kecemburuan.


"Oke fine, kamu tidak bisa memberikan alasan jadi keputusan tidak akan berubah, kamu akan mulai kuliah Minggu depan, dan mulai besok tidak lagi bekerja di kantor ini, setuju?"


Ralen menggeleng kepala dengan tidak pasti, keraguan terpancar jelas di setiap kerutan di wajahnya yang tengah menatap pria di kursi belakang meja.


Ipul tanpa berkata mengambil intercom yang menyala, "bawa ke ruangan saya," katanya entah pada siapa, yang jelas pasti pada salah satu pekerjanya di kantor itu.


Setelah sekian menit akhirnya terdengar suara ketukan dari pintu tak jauh dari tempat Ralen berdiri dengan wajah melamun, pikirannya masih berpusat pada soal kuliah dan juga sekretaris berpenampilan seksi yang mulai saat ini akan terus membuat dia tidak konsentrasi pada setiap apa yang dia lakukan.


"Masuk," kata Ipul tegas dan pintu langsung terbuka menampilkan wajah yang belum lama tadi pergi dari ruangan.


"Kenapa kamu yang bawa?" Ipul heran ketika sekretarisnya lah yang muncul, padahal tadi dia sudah meminta OB untuk mengantarkan makanan yang dia pesan untuk makan siang.


"OB nya lagi mau istirahat Pak," sahut Sarah dengan senyum manis.


Hati Ralen mendengus dengan sikap si sekretaris yang selalu manis pada suaminya tapi pada dirinya sangat dan teramat ketus judes dan segala macam kesinisan yang terpampang jelas di wajah dan apapun yang wanita itu lontarkan dari mulutnya.


"Ya sudah letakkan di sana," pinta Ipul menunjuk meja dengan sofa empuk tempatnya menyambut tamu serta rekan bisnis yang datang.


Sarah berjalan dengan lenggokkan tubuh yang sangat di sengaja mengarah pada meja dengan dua tentengan yang tadi di serahkan oleh seorang OB yang bertugas di lantai 5 itu.


"Kamu langsung keluar saja, bukankah kamu juga harus istirahat? ini sudah jam makan siang," cetus Ipul saat Sarah sudah akan membongkar isi kantong yang tadi dia bawa.


Mata Sarah bergerak tak tentu dengan raut wajah yang berubah drastis, kesal langsung menyeruak ke dalam dirinya tapi dia tidak mungkin menunjukkan kemarahan pada sang atasan bukan? dia harus tetap bersikap anggun agar caper nya selama ini tidak sia-sia.


"Baik Pak," katanya kemudian seraya sedikit membungkukkan bagian tubuh atasnya.

__ADS_1


"Kamu juga keluar, ngapain masih di sini! nggak sopan!" desisnya pada Ralen sambil menarik tangan wanita yang sedari tadi menatapnya dengan tatapan campur aduk.


"Yang saya suruh keluar hanya kamu," celetuk Ipul membuat Sarah dan Ralen menatapnya bersamaan.


"Tapi Pak.."


"Kamu cepat keluar!" ulang Ipul lagi dengan penuh ketegasan hingga Sarah tidak bisa berkutik, tangannya yang tadi akan menarik Ralen terlepas lalu dengan langkah yang di hentak.


"Kenapa masih berdiri saja?" Ipul melihat pada sang istri yang layaknya patung, apakah kaki wanita itu tidak merasa pegal, karena sejak masuk tadi masih saja berdiri.


Ralen bergerak lalu sedikit mengedikkan bahu.


"Mau kemana Ralen!?" sentak Ipul kala Ralen malah menuju pintu yang tadi di tutup oleh Sarah.


"Mau istirahat, aku juga perlu makan," jawab Ralen dengan nada bicara ketus.


"Aku sudah membeli makanan untuk kita berdua, jadi makan disini bersama denganku!" ujar Ipul memerintah pada wanita yang menggembungkan kedua pipinya.


"Ayo duduk," tukas Ipul berjalan menuju sofa lalu mengeluarkan makanan yang tadi dia pesan.


Mau tidak mau Ralen bergerak menuju tempat suaminya berada, duduk di sofa panjang yang bersebrangan dengan sang suami.


Ipul menghentikan gerakannya lalu memicingkan mata dengan sorot peringatan, "sofa ini masih cukup luas untuk kita duduki berdua, bahkan untuk tiga orang sekalipun," cecar Ipul tidak senang dengan Ralen yang memilih duduk jauh darinya.


Memangnya kenapa kalau duduk berdekatan? tidak ada masalah bukan? mereka ini suami istri jadi buat apa duduk jauh-jauhan layaknya orang lain yang tak saling kenal, bahkan mungkin sekalipun orang lain bisa saja duduk bersebelahan.


"Pindah sini!" titah Ipul dengan tatapan galak yang sepertinya Ralen akan mulai terbiasa dengan tatapan yang dia tunjukkan itu kepadanya.


"Di ajak makan aja kok susah banget, banyak sekali drama nya," cetus pria yang melihat setiap gerakan yang Ralen tunjukkan.


Ralen menghempaskan tubuhnya di samping sang suami dengan mengambil jarak yang lumayan jauh bahkan sampai di pinggiran sofa berdempetan dengan sandaran lengan.


"Ck!" Ipul yang melihat pun berdecak tak karuan.


"Aku bukan virus yang mesti di jauhi," cibirnya tak terima tapi kedua tangannya tetap sibuk membuka makanan yang sekarang tertata rapi di atas meja.


"Bisa tidak kalau sekretaris itu di ganti?"


Tidak tahu kenapa Ralen mengutarakan pertanyaan yang terlihat jelas menunjukkan kalau dia itu sama sekali tidak menyukai sang sekretaris dan ingin menggantinya.


Ipul yang tengah memegang alat makan pun terhenti dan menatap wanita yang baru saja berbicara mengutarakan keinginannya.


"Kalau dia tidak di ganti aku tidak mau kuliah!" cetus Ralen tegas seraya bersedekap dan membuang wajahnya ke arah lain agar tidak melihat ekspresi wajah pria yang sekarang tengah menatapnya.


Tidak tahu kenapa Ralen sedikit tidak sabar menunggu tanggapan dari suaminya, dia mulai menerka-nerka sendiri tentang jawaban sang suami apakah akan mengganti sekretaris atau tetap mempertahankan sekretaris yang sering tebar pesona itu.



"Jadi karena Sarah?" Ipul meletakkan alat makan yang tadi dia pegang.

__ADS_1



"Kenapa malah di sebut!" protes Ralen tak suka.



Apa sekarang sudah terlihat dengan jelas kalau Ralen sedang cemburu? sepertinya manusia bodoh pun akan tahu kalau dia itu cemburu, benar! cemburu yang tak bisa lagi ditutupi.



"Kamu sedang cemburu? atau aku salah paham?" selidik Ipul tak lagi berminat pada makanan yang sudah ada di meja, dan tampaknya Ralen juga tidak bernafsu untuk makan.


Mata Ralen membelalak lebar terkejut dan seolah tidak terima dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir sang pria yang semalam memberikannya kecupan berulang kali.


"Tidak, aku hanya tidak suka saat ada wanita yang dengan terang-terangan memepet pria yang sudah beristri, bukankah itu hal yang sangat menjijikkan? itu bibit-bibit pelakor!" Ralen mengelak tapi nada bicara begitu menggebu-gebu mengisyaratkan kalau apa yang dikatakan itu berbeda dengan yang ada di hatinya.



"Akan aku pikirkan," kata Ipul akhirnya lalu kembali mengambil alat makan mencoba mengabaikan Ralen dan memancing apa yang akan wanita itu lakukan.



"Kalau begitu aku juga akan memikirkan lagi mau kuliah atau tidak!" putus Ralen berdiri.



"Mau kemana?" Ipul memegang pergelangan tangan Ralen yang sudah siap beranjak.



"Mau makan lah," sahut Ralen ketus.



"Aku sudah beli makanan untuk kita berdua," jelas Ipul tak membiarkan Ralen pergi.



"Ya sudah makan saja sendiri, atau kalau perlu ajak sekretaris seksi mu itu," cibir Ralen dengan senyum yang sangat sinis dan mengolok.



"Sayang disini tidak ada ruangan istirahat kalau tidak sudah aku seret kamu! ah masa muda Papa sepertinya sangat membosankan."


Ralen mendelik mendengar perkataan dari suaminya, sungguh dalam suasana seperti ini kenapa pria itu masih bisa memikirkan hal lain, Ralen tak habis pikir jadinya.


"Cepat duduk atau aku akan menyerangmu disini!" tegas Ipul sarat akan paksaan yang dengan berat hati Ralen turuti.


__ADS_1


Akan sangat konyol kalau sampai suaminya membuktikan apa yang dia lontarkan barusan, sampai akhirnya dia pun kembali duduk dan dengan terpaksa membuka mulutnya ketika sang suami menyuapi.


******


__ADS_2