Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Masih Tentang Mobil


__ADS_3

"Kamu ini gila ya Mas?!"


Masih juga pagi tapi Davi sudah mendapatkan cercaan dari istrinya yang mengatai dirinya gila, apa wanita itu tidak berpikir kalau dia ini suaminya dan Ayah dari anak yang dia lahir kan sehingga mulutnya begitu enteng mengatai dirinya gila.


Davi yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sangat basah akibat bangun kesiangan pun hendak protes, ini bukan pertama kalinya Zara mengatai dirinya gila bahkan saat dia pulang dengan membawa mobil Ipul mulut wanita itu tak hentinya mengomel dari siang sampai malam bahkan sampai besok paginya lagi setelah dia memberikan pengakuan tentang taruhan yang dia lakukan bersama Adik sepupunya itu, dia pikir setelah berapa lama berlalu istrinya itu tidak akan lagi membahas dan mengatainya tapi tak di sangka masih terus berlanjut dan paginya di sambut dengan Omelan yang terucap dari bibir kecil sang istri.


"Aku menang taruhan Za, mana ada aku gila seharusnya kamu itu senang karena kendaraan yang terparkir di garasi kita bertambah dan aku kan sudah katakan kalau mobil itu akan jadi warisan tambahan untuk Achnaf nantinya."


Bruk!


Serentak wajah Davi terantuk oleh handuk bantal sofa yang tadi sedang Zara ambil dari lantai, sepertinya bantal itu jatuh dari tempatnya.


"Duh!" ringis Davi kala bantal itu mendarat tepat di wajahnya yang meskipun baru selesai mandi tapi tetap saja terlihat tak bersemangat, bagaimana mau semangat kalau paginya saja sudah disambut oleh kemarahan sang istri yang nyatanya tetap berlanjut setelah berhari-hari.


"Yang benar saja, masa mau kasih warisan buat anak hasil taruhan, nih otak kamu sudah tinggal setengah sepertinya Mas," tuding Zara dengan mata yang menajam, untunglah tadi pagi-pagi sekali Achnaf sudah di jemput oleh neneknya jadi bocah kecil itu tidak perlu mendengar orang tuanya saling beradu mulut dan tentunya mereka berdua pun bebas mau melakukan apa terutama Zara yang memang sangat gemas dan geram dengan kelakuan suami dan teman sekaligus Adik sepupu ipar, ingin melampiaskan kekesalan dengan Ipul tentu Zara tidak akan bisa mengingat dia yang memang sudah jarang sekali bertemu dengan pria itu jadilah sekarang dia akan memuaskan diri mengomeli suaminya saja, atau mungkin menghajarnya?


Davi menggaruk rambut hitam dan basahnya itu lalu mengambil bantal yang terjatuh di dekat kakinya lalu melemparnya ke atas tempat tidur yang memang tak jauh darinya.


"Mau ngomong apa?" Zara bertanya sinis saat mendapati suaminya terlihat kikuk dengan bibirnya yang hendak terbuka.


"Terus mobilnya mau diapain? balikin aja?" sepertinya Davi ingin mengalah saja tidak mau memperpanjang apa lagi membuat hari-harinya terus terkena omelan dari sang istri hanya karena mobil, bukankah lebih baik dia mengalah untuk kesejahteraan dan kedamaian hidupnya setiap bangun dari tidur? karena memang dia sudah hafal akan waktu Zara mengomel, setiap bangun pagi meskipun malamnya anteng tidak ada omelan tapi ketika hari berganti akan ada suara nyaring yang mengoceh seiring dengan matahari yang semakin bersinar.


Zara terdiam dengan bola mata yang berputar tak jelas, dapat di duga bahwa wanita itu sekarang tengah berpikir mendengar omongan suaminya barusan.


"Nanti aku pulangin aja ke Ipul," kata Davi kemudian ketika Zara tidak bersuara dan dia juga tidak mengerti dengan isi kepala istrinya.


Setelah berkata begitu Davi pun melenggang keluar dari kamar dengan dengan memakai celana pendek dan kaos.


"Kenapa malah mau dibalikin?" Zara menggumam sendiri saat suaminya tidak ada.


Sungguh andai ada Davi mungkin suaminya itu akan menatap tak mengerti ketika mendengar gumaman dari mulut istrinya, bukankah wanita itu yang terus saja protes saat dia membawa pulang mobil Ipul yang memang sudah menjadi miliknya, tapi kenapa sekarang malah menggumam seperti orang yang tidak rela andai mobil itu dikembalikan pada pemiliknya.


"Mas!"


Zara pun berlarian mengejar suaminya yang sekarang tengah memanaskan mobil milik Ipul, sepertinya pria itu memang akan benar-benar mengembalikan kendaraan itu.


Zara menuruni tangga dan melongok kesana-kemari untuk mencari suaminya begitu telinganya mendengar suara mesin kendaraan di dalam garasi sana diapun gegas menuju tempat itu.

__ADS_1


"Mas!" memanggil sang suami yang sedang berada di dalam mobil yang tadi memang menjadi alasan perdebatan mereka, alasan dia mengomeli sang suami.


"Apa! ini lagi dipanasin dulu habis itu langsung aku anterin!" Davi menjawab ketus dengan ditopang oleh ekspresinya yang juga judes.


Zara yang tadi hanya menongolkan kepalanya saja dari pintu yang memisahkan antara ruang makan dengan garasi pun keluar dan berjalan menghampiri pria yang memang kesal dengannya.


Tidak perlu dijelaskan karena setelah menikah dan mempunyai anak tentunya dia itu sudah paham, sudah mengerti saat-saat suaminya sedang marah apalagi kan sejak tadi mereka memang beradu mulut tentang mobil.


"Beneran mau dipulangin ke Ipul?"


"Iya! kamu yang minta," sahut Davi dan memang ketus seperti yang tadi.


"Aku nggak minta buat balikin sih," suara Zara terdengar pelan dengan wajah yang tampak polos.


Davi yang sejak tadi menunduk untuk mengecek kondisi dalam mobil pun mengangkat wajah dengan alis yang tertaut memperlihatkan kebingungannya tentang perkataan sang istri, wajah polos dari istrinya pun bisa dengan jelas dia lihat, polos? bukankah tadi wanita itu terlihat sangat garang? lalu kenapa sekarang bertingkah seperti wanita yang lemah lembut dan tidak tahu apa-apa?


"Kan kamu bilang nggak boleh warisin ini buat Achnaf, ya terus buat apa nih mobil ada disini menuh-menuhin garasi aja," ujar pria yang masih heran dengan perubahan sikap istrinya.


Kali ini Zara lah yang terlihat menggaruk kepalanya lalu dengan tanpa bersalah malah menunjukkan senyuman yang tak jelas membuat Davi memicingkan kedua matanya dengan otak yang penuh pertanyaan tentang ada apa dengan istrinya itu, tadi marah-marah sekarang malah cengengesan tanpa dosa.


"Mobilnya buat aku aja."


"Hah?" mulut Davi menganga tak percaya dengan tangannya yang mengucek telinganya sendiri seolah dia itu baru saja salah dengar.


"Apaan?" keluar dari dalam mobil menghampiri sang istri yang berdiri di dekat pintu mobil seberangnya.


"Mobilnya buat aku!" Zara pun berseru mengulangi perkataannya.


Davi menaikkan sudut bibirnya lalu tersenyum menyebalkan, sepertinya dia ingin mengerjai istrinya yang sejak kemarin mengomel seolah tidak suka dengan taruhan yang dia lakukan bersama Ipul, tapi ujung-ujungnya wanita itu malah meminta mobil hasil taruhan, dasar wanita!


"Pokoknya aku mau pulangin ke Ipul!" katanya seraya melenggang dengan santai masuk ke dalam rumah.


"Maaaas." terdengar rengekan manja dari istrinya yang mengikuti.



Davi tampak tak acuh mengabaikan rengekan dari sang istri yang sekarang kedua tangan wanita itupun tak tinggal diam, menarik-narik kaos yang dia gunakan layaknya anak kecil.

__ADS_1



"Aku ganti baju dulu terus langsung balikin tuh mobil," makin dengan sengaja menggoda istrinya yang mencengkeram erat kaos dan mungkin setelahnya kaos itu akan melar.



"Nggak boleeeh, itu mobilnya buat aku aja pokoknya!" menyentak kaos dengan kuat hingga membuat langkah suaminya terhenti.



Davi menatap wanita yang tadi sangat galak tapi sekarang malah seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu.



"Kamu itu ya ngeselin banget, bilang aja kamu yang mau itu mobil kenapa pakai marah-marah tiap pagi," oceh Davi menunjuk kening istrinya yang merengut mendengar ucapannya.



"Habisnya kamu nggak mikirin aku, mikirin Achnaf terus," kata Zara mengerucutkan bibirnya yang langsung di tarik oleh Davi.



"Aku ini mikirin kamu terus, tiap mau tidur aja kan yang dipikirin kamu, cintaku," gombal Davi seraya menjawil hidung istrinya.



Zara mendengus tapi kemudian memeluk suaminya lalu dengan suara yang manja dia berkata, "jadi mobilnya buat aku ya?"



"Apapun yang kamu mau akan aku berikan sayang, bukan cuma mobil tapi juga hatiku pun sudah aku berikan."



Zara melempar senyum lalu menggigit dada suaminya sangat kencang hingga pria itu merintih kesakitan.


__ADS_1


"Sakit sayang."


****


__ADS_2