Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Daftar Kuliah


__ADS_3

"Apa urusan kantor sudah selesai?" tanya Ralen dengan suara yang sedikit tertahan.


"Belum, masih sangat banyak yang harus di perbaiki di kerjakan lalu baru diselesaikan," sahut pria yang sekarang bernapas saja rasanya sulit tapi istrinya masih saja mengajaknya bicara, menanyakan hal yang tidak ada kaitannya dengan apa yang sekarang mereka lakukan.


"Jadi masih harus kembali lagi ke Batam?" masih mengajukan pertanyaan tentang pekerjaan.


"Minggu depan harus kembali ke sana." masih dengan sabar mau menjawab dengan ekspresi wajah yang kadang berubah-ubah.


"Berapa lam.."


"Dua Minggu, aku pergi dua Minggu, tutup mulut mu itu Ralen! kamu terus saja menanyakan hal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan keintiman kita saat ini! aku sedang bekerja keras dan kamu mengganggu konsentrasi ku!" hardik Ipul mulai geram dan rasa sabar yang semakin menipis.


Ralen menutup mulutnya dengan tangan sedangkan matanya menatap pada manik mata hitam milik sang suami yang kini menyiratkan kekesalan, pria itu bahkan tidak lagi bergerak.


"Aku tidak tahu harus membicarakan apa," tutur Ralen merasa tak enak hati dengan apa yang dia lakukan barusan.


"Tidak perlu membicarakan apapun terlebih lagi hal konyol tidak nyambung yang sama sekali tidak menambah gairah, malah bikin kepalaku pusing! cukup nikmati saja," cerocos Ipul penuh peringatan.


"Ya sudah lanjutkan," kata Ralen akhirnya kepada sang suami yang memicingkan mata, gemas geram bercampur jadi satu.


Ipul sungguh sangat tidak percaya pada tingkah laku istrinya itu, menurutnya wanita itu sangat aneh dan pikirannya terkadang tidak masuk di akal, bagaimana bisa di saat sedang berhubungan intim seperti ini bukannya menikmati atau membantu memberikan rangsangan-rangsangan lainnya tapi malah membicarakan urusan kantor yang sudah sangat dia pusingkan.


Dia sudah sangat on fire dalam melakukan serangan tapi malah dipatahkan dengan sangat mudah oleh sang wanita, tidakkah wanita itu kasihan padanya yang harus menahan selama satu Minggu? atau memang dia menikahi wanita aneh tak jelas dengan segala ke randoman tingkah lakunya?


Ipul mengacungkan jari memberi peringatan, "tutup mulutmu jangan membicarakan hal yang tidak penting lagi!" katanya dengan tatapan kesal karena mereka yang sudah bersatu dan dia yang tadi sangat semangat malah harus terpaksa menghentikan kegiatan karena perbuatan istrinya itu.


Ralen mengangguk seraya membekap mulutnya dengan kedua tangan, sekalipun dia tidak yakin akan bisa tidak mengeluarkan suara apapun terlebih lagi saat suaminya memulai kembali apa yang tadi terhenti.


Sekuat tenaga Ralen berusaha untuk bertahan membuat dia makin sesak karena tidak ingin mengeluarkan suara.


"Kamu ini bodoh," tukas Ipul menyingkirkan tangan yang berada di bibir sang istri.


Maksud Ipul adalah tidak lagi berbicara hal yang tidak penting, Ralen masih boleh mengeluarkan suara-suara menggemaskan guna mengiringi permainan mereka, tapi istrinya yang entah polos atau bodoh itu malah membekap mulut hingga suasana kamar menjadi hening tanpa iringan suara yang akan bisa memprovokasinya agar semakin bersemangat dalam bergerak.


Ralen pasrah ketika tangannya disangkutkan ke leher sang suami oleh suaminya itu, lalu diam-diam mengatur napas ketika wajah sang suami makin mendekat mengikis jarak yang tidak lagi berguna untuk mereka, tubuh mereka sudah saling menyatu dengan baik sejak tadi diselingi dengan suara-suara menggetarkan jiwa dan raga.


Wanita yang berada di bawah itu memejamkan mata kala merasakan sensasi luar biasa ketika mereka saling menyatukan atas dan bawah tubuh mereka, hingga semuanya berjalan cukup baik membiarkan keduanya berkelana mencapai tujuan sempurna di indahnya malam dan remangnya kamar.


*******


"Mas mu mana Len?" tanya Mama Riska begitu mendapati sang menantu tengah sibuk di dapur membantu Bi Sumi memasak untuk sarapan.


"Masih tidur Ma," jawab Ralen dengan baskom berisi sayuran yang baru selesai dia cuci.


Pagi ini dia ingin membantu Bi Sumi masak sebelum berangkat bekerja setengah jam lagi.

__ADS_1


"Begadang rupanya."


Ralen tidak menjawab karena dia tidak tahu Mama mertuanya itu bertanya atau mengeluarkan pernyataan, yang dia lakukan hanyalah menundukkan wajahnya dengan warna kulitnya yang memerah.


"Itu di masukin Non sayurnya," pinta Bi Sumi ketika melihat air di dalam panci sudah mendidih.


Ralen pun gegas memasukkan sayuran ke dalam panci dengan air panas mendidih dari yang lebih keras dulu menunggu sebentar baru kemudian memasukkan sayuran yang lebih empuk agar matangnya bisa bersamaan.


"Nanti di bangunkan aja ya Len, biar kita sarapan bareng lagian juga kan dia mesti berangkat kantor," terang Mama Riska sambil menata piring ke atas meja.


"Iya Ma," sahut Ralen dengan sopan.


Dan masakan untuk mereka sarapan pun sudah matang dan sedang disiapkan oleh Mama Riska dan Bi Sumi, sedangkan Ralen kini tengah menapaki anak tangga hendak menuju kamar.


Ini baru jam enam lewat dikit dan dia akan berangkat pada pukul setengah tujuh sedangkan suaminya baru akan pergi ke kantor pada pukul delapan lewat, bukankah artinya ini masih lumayan pagi untuk membangunkan pria yang semalam Ralen tidak tahu tidur jam berapa karena dia setelah pertempuran langsung lemas tak berdaya dan tidur pulas tanpa sadar.


Wanita itu sudah berdiri di depan pintu kamar, keraguan tampak jelas terlihat di wajahnya, bahkan untuk membangunkan suaminya saja dia begitu ragu seakan dia membangunkan macan buas yang akan membahayakan nyawanya.


Seharusnya setelah pertempuran yang bukan pertama kalinya itu Ralen sudah tidak perlu lagi bersikap ragu atau takut begitu, jika Ipul berani menerjang ya terjang saja lagi atau kalau Ipul buas belajarlah menjadi buas juga, mereka kan sama-sama keras kepala.


Ralen menggapai gagang pintu lalu menurunkannya hingga pintu di depannya itu terbuka dengan langkah yang tak bersuara dia mulai memasuki kamar lalu mendekat pada tempat tidur dimana suaminya masih tertelungkup dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya saja dan memamerkan punggung polos tanpa sehelai penutup pun.


"Hei."


Ralen memutar bola matanya menyadari ada yang aneh ketika dia memanggil suaminya.


Ralen masih berpikir harus memanggil apa, dia masih ragu untuk memanggil Mas pada orangnya langsung, hubungan mereka belum semesra itu kan?


"Gunawan bangun, Mama ngajak sarapan bareng." hingga akhirnya malah memanggil dengan nama belakang sang suami dan yang di panggil pun tidak menjawab, jangankan menjawab bergerak saja tidak, yang tidur layaknya gedebong pisang yang tergeletak setelah ditebang.


Ralen mulai tak sabar karena jarum jam terus bergerak maju dan artinya waktu yang dia miliki semakin sedikit sebab dia harus segera berangkat.


"Telat juga nih gue," gerutu Ralen.


"Suamimu ini pemilik perusahaan tempat kamu bekerja, kenapa dengan bodohnya masih memikirkan harus datang tepat waktu, sesekali terlambat tidak akan membuat ku memecat mu! lagian masa kerjamu hanya tinggal beberapa hari saja."


Ralen terjengkit ke belakang mendengar suara dari pria yang sekarang perlahan menggerakkan kepala menoleh padanya.


Suaminya itu sudah bangun dan mendengar apa yang dia gerutukan tadi.


"Tinggal beberapa hari lagi?" bingung Ralen menatap tak mengerti.


Ipul mencebikkan bibirnya lalu bergerak duduk dan bersandar di tempat tidur, memamerkan dada bidang yang semalam menindih Ralen sampai rasanya ingin mati.


"Waktu berangkat ke Batam aku sudah bilang kan kalau kamu berhenti kerja lalu kuliah, lupa?" tanya Ipul sambil merapikan rambutnya yang berantakan.

__ADS_1


Ralen menggeleng menandakan kalau dia tidak lupa tentang itu tapi juga dia belum bisa menentukan pilihan mau kuliah atau tetap bekerja dengan resiko pemaksaan dari suaminya untuk berhenti dan menerima tawaran dari sang suami.


Bukankah itu artinya Saipul Gunawan tidak terima penolakan? kalau begitu kenapa masih saja bertanya, dia saja yang mengambil keputusan untuk istrinya itu.


"Itu artinya sudah ada jawaban," kata Ipul pada sang wanita yang berdiri di dekat meja kecil samping.


"Belum."


Ipul membuka matanya lebar, "belum? kalau begitu besok aku akan mendaftarkan kamu kuliah."


Nah kan benar apa yang Ralen pikirkan, dia tidak memilih atau memberi jawaban pun tetap di kasih pilihan sesuai yang suaminya itu mau, jadi jawaban apapun darinya tidak akan berguna, dia harus mengikuti apa yang suaminya itu inginkan.


"Ya sudah terserah Lo aja kalau gitu," tutur Ralen akhirnya berpasrah dan tak mau mendebat di pagi hari yang cerah dengan kicauan burung yang bertengger di kabel listrik depan halaman.


"Puaskan dirimu untuk songong terhadap pria yang sudah menikahi mu Len, panggil saja namanya tidak perlu memanggil Mas seperti saat kamu berbicara dengan Mama, berpuas lah hari ini karena besok aku tidak akan membiarkan kamu songong lagi!" peringat Ipul kepada wanita yang langsung mengatupkan bibirnya, tidak menyangka kalau pria itu juga mendengar saat dia memanggil dengan nama belakangnya saja.


*********


Selepas sarapan pagi Ralen langsung berangkat bekerja dengan motor yang dibelikan oleh suaminya, tadi dia sempat menolak ketika Mama mertuanya meminta Ipul untuk mengantar, sungguh dia akan benar-benar canggung ketika harus berada satu mobil dengan pria yang akan selalu menatapnya dengan tajam.


Motor yang Ralen kendarai berhenti ketika lampu merah menyala, dia menikmati sinar matahari pagi yang menerpa kulit wajahnya meski silau tapi pada dasarnya matahari pagi cukup menyehatkan.


Tiiiin!


Tiiiin!


Suara klakson mulai bersahutan kala lampu sudah berubah hijau, masing-masing orang yang berkendara itu tidak sabar untuk kembali melaju menempuh perjalanan ke tempat yang mereka tuju, sesungguhnya saat pagi hari jalanan akan dipenuhi oleh kendaraan hingga berpeluang untuk terjadinya kemacetan.


Ralen tidak menyadari ada satu mobil yang sejak di lampu merah tadi mengikutinya, berada di belakang dan kadang di samping motor yang dia bawa.



"Saat bawa motor seperti inipun kamu semakin mirip dengannya," tutur Angga.


Iya itu adalah Angga, mobil yang sedari tadi mengikuti Ralen adalah mobil Angga yang secara tak sengaja melihatnya di lampu merah tadi.


Si dosen muda itu sesekali tersenyum ketika melihat Ralen berusaha menyalip kendaraan yang menghalangi jalannya.



Angga menoleh ke arah samping guna memastikan ada tidaknya kendaraan lain di dekatnya ketika dia ingin mengejar Ralen yang sudah berada jauh di depan.



Pria itu masih mengikuti sampai akhirnya Ralen berbelok sedangkan dia masih harus mengambil jalan yang lurus, sambil menyetir Angga tetap memperhatikan Ralen sampai wanita itu benar-benar tak terlihat barulah dia fokus pada jalanan di depannya.

__ADS_1



\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2