Terjebak Dengan Sang Jelita

Terjebak Dengan Sang Jelita
Satu Minggu


__ADS_3

Ipul duduk menyilang kan kakinya di dalam halte menunggu sampai hujan reda, sejak tadi pun terlihat senyum yang sedikit demi sedikit menghiasi wajahnya, entah apa yang ada di kepalanya sekarang ini, hanya dia dan tuhan serta qorin nya saja yang tahu.


Matanya menerawang menikmati tetesan demi tetesan yang turun membasahi jalanan beraspal di depan sana.


"Heh! mau melamar kerja rupanya," desis Ipul mengingat apa yang dia lihat tadi dan diapun sempat melihat nama perusahaan yang akan menjadi sasaran wanita galak bernama Ralen itu.


Ah sasaran? yang benar saja! memangnya dia kira Ralen itu seorang pemburu yang sedang berburu dan tengah menargetkan sasarannya.


*****


"Kan Mama sudah bilang tetap di Indonesia dan jangan kembali lagi ke Inggris, itu sangat jauh Ipul! rasanya Mama ini sudah tidak ingin naik turun pesawat untuk mendatangi negara itu jika tiba-tiba merindukan kamu."


Pagi hari suasana rumah di buat sangat berisik oleh seorang wanita ber daster dengan rambutnya yang di gelung dengan jepit rambut, mengomel pada anaknya yang barusan mengatakan nanti siang akan berangkat lagi ke Inggris.


Apa anak itu tuli! hingga tidak mendengar apa yang sudah dia katakan sejak kemarin, Riska meminta anaknya itu tetap di Indonesia dan itu keputusan final kenapa sekarang malah sudah repot ingin ke Inggris.


Ayolah ini masih sangat pagi dan hanya ada Riska beserta sang anak yang duduk tenang menikmati sarapan paginya, seperti tidak terganggu dengan segala ocehan dari mulut sang Mama yang terus saja protes.


"Hanya satu Minggu Ma, setelah itu Ipul akan kembali. lagian Mama pikir gampang banget apa keluar dari pekerjaan, banyak yang harus Ipul selesaikan lebih dulu," tutur Ipul menjelaskan kenapa dia harus kembali ke Inggris.


Bola mata Riska pun berbinar cerah mendengar penjelasan dari sang anak, dia tidak sedang bermimpi kan? ini nyata? anak kesayangannya hanya akan mengurus pengunduran dirinya di tempatnya bekerja di negara lain? oh ini sungguh kabar yang sangat menggembirakan akhirnya dia hanya perlu bersabar satu Minggu saja dan dia akan bisa melihat anaknya setiap hari.


"Beneran? kamu nggak lagi bohongin Mama kan?" tanya Riska mendekat pada sang anak.


"Nggak percayaan amat sih sama anak sendiri," sungut Ipul ketika Mamanya malah meragukan apa yang dia katakan.


Riska dengan semangatnya menarik kursi lalu menjatuhkan bokongnya di sana.

__ADS_1


"Bukan begitu, kamu kan kadang ngeselin tukang bohong juga, inget nggak waktu kejadian Zara?" kata Riska menepuk paha anaknya yang meringis, tepukan wanita itu cukup kencang.


"Itu mah Ipul juga kena kibul Zara Ma, si Zara noh yang pinter ngibul," celetuk Ipul mendengus sebab Mamanya malah mengatakan dia berbohong atas kejadian Zara padahal dia pun termasuk korban kebohongan temannya itu.


Riska cekikikan di tengah dongkolnya sang anak yang jika diingatkan tentang bagaimana Zara membohonginya.


"Papa kapan pulang?" tanya Ipul mengubah topik pembicaraan.


"Dua hari lagi mungkin, Mama juga nggak tahu soalnya kalau urusannya selesai langsung pulang tapi kalau belum ya nambah lagi harinya nggak akan mungkin dalam dua hari pulang." Riska menghela napas.


"Papa mu itu sekarang mudah sekali sakit Pul," sambung Riska dengan wajah cemas.


"Lah kenapa dibiarin Papa pergi, harusnya di larang lah," sahut Ipul menanggapi aduan sang Mama.


"Sudah Mama larang tapi kan Papa orangnya keras, selalu bilang kalau bukan dia yang urus siapa lagi."


Riska mendesah sebelum menjawab, "Papamu itu entah kenapa merasa kurang puas jika dia tidak turun langsung mengenai pekerjaan, entahlah mungkin dia masih menyangsikan asistennya itu, makanya kamu cepat lah ambil alih perusahaan biar Papamu juga bisa tenang dan mulai beristirahat," jelas Riska membuat Ipul terdiam.


"Ma," memanggil sang Mama dengan sedikit ragu.


Sepertinya ada sesuatu yang ingin pria muda itu katakan pada wanita yang sedari dulu selalu menjadi teman terbaiknya apabila bercerita.


"Kenapa?" tanya sang Mama mengangkat alisnya.


"Ada yang mau Ipul omongin sih sama Papa, ya sudah deh nanti saja setelah urusan Ipul selesai," tukas Ipul mengetuk meja membuat Mamanya mengernyit.


Wanita itu sepertinya faham bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakan olehnya, tapi apa Riska pun tak tahu sebab Ipul memang tak mau mengatakan padanya.

__ADS_1


********


"Perasaan tampang lo kusut mulu Len."


Antika tampak jengah ketika temannya datang disaat dia libur bekerja dan ingin istirahat, tapi temannya itu malah datang dengan wajah seperti seorang yang sedang frustasi, menyebalkan! datang bertamu bukannya berinisiatif membawakan makanan ini malah menyuguhkan wajah lecek begitu.


Ralen tidak menanggapi, wanita itu nyelonong masuk dan gegas tiduran di kasur lantai meringkuk seperti bayi.


"Ralen!" suara Antika menggema di kamar kontrakan yang tampak melompong sebab hanya ada beberapa barang saja di dalamnya.


Memangnya dengan gaji yang hanya cukup untuk ongkos serta makan satu bulan saja barang apa yang bisa dia beli, mungkin membutuhkan waktu yang lumayan untuk membelinya sebab dia harus menyisihkan dulu sisa gaji yang tak seberapa itu.


"Jangan ajak ngomong gue dulu Tik, serius gue lagi mau tidur aja sekarang," rengek Ralen memancarkan sedikit emosi akibat urusan yang sebenarnya sepele tapi karena harus berhadapan dengan lelaki menyebalkan semuanya menjadi begitu ribet dan menyusahkan hingga diapun tidak bisa berkonsentrasi.


Antika memperhatikan sang teman sambil mengerutkan keningnya, "apa lagi sekarang?"


Padahal Ralen jelas mengatakan untuk tidak mengajaknya berbicara tapi temannya ini malah kembali membuka mulutnya dan mengajukan pertanyaan membuat Ralen dengan gesitnya mengambil bantal lalu membekap telinganya sendiri agar tidak mendengar suara sang teman.


Ck!


Gadis dengan baju tidurnya itupun mendorong tubuh Ralen agar memberinya sedikit ruang sebab dia juga masih ingin tidur setelah semalam harus lembur karena barang-barang yang baru datang.


"Sanaan!" pintanya yang membuat Ralen bergeser lebih ke pojok.



\*\*\*\*\*\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2