
Mendengar dengan gusarnya, dan sambil menunjuk kearah tangan Arjuna, yang sedang memapah Yuli dengan sedikit bercanda, hingga tangan Arjuna melingkar di leher Yuli, sehingga kelihatannya hendak mencekik dan mempiting Yuli dengan sadisnya, terdengar lagi Ibu Widia bicara dengan teriaknya itu,
"Lepaskan tanganmu dari leher Yuli, dasar gak tahu diri, kalau kekasihmu mati, bagaimana?" tanya Ibu Widia pada Arjuna dengan rasa ketakutannya,
Mendengar Ibunya Widia bicara seperti itu, lantas Arjuna pun melepaskan tangannya, dan dengan tertawa, Arjuna pun menjawabnya,
"Ah Ibu ini, masa Arjuna mau mencekik calon Istri sendiri, ini sih hanya ingin memapah Sang Putri saja, Bu!" jawab Arjuna pada Ibunya Widia dengan tertawa lepas,
Dengan melepaskan tangannya secara spontan, membuat tubuh Yuli sedikit terdorong ke belakang, dan Yuli pun merasakan sakit dalam anunya itu,
"Auww!" Jerit Yuli tanpa sadar, sambil memegang erat tangan Kekasihnya itu,
Mendengar Yuli menjerit sakit, serta merta Arjuna langsung memegangi punggung Yuli itu, sambil bicara pada Yuli,
"Maaf, gak sengaja, reflek jadinya kedorong!" ucap Arjuna pada Yuli seolah bercanda pada Orang Tuanya, dan terus memapah Yuli hingga duduk, dan dengan menahan kesal di dadanya, Yuli pun mencubit tangan Arjuna dengan keras,
"Auww!, sakit Sayang!" teriak Arjuna pada Yuli dengan tak menghiraukan kedua Orang Tuanya yang dari tadi memperhatikannya,
Melihat Anaknya berkelakar, dan bercanda dengan Kekasihnya itu, membuat Ayahnya Wijaya tersenyum gembira, lalu dengan tenangnya, Ia pun bicara pada mereka,
"Sudah, sudah, hentikan kekonyolan kalian, kita makan dulu, nanti Kalian teruskan lagi bercandanya!" ucap Ayah Wijaya pada mereka berdua sambil tertawa pada mereka,
Mendengar Ayahnya Wijaya melarangnya, akhirnya mereka pun saling pandang satu sama lain, seolah mereka tak percaya, dari tadi mereka bercanda di depan Kedua Orang Tuanya itu.
Akhirnya mereka makan siang bersama- sama dengan lahapnya, tampak wajah Yuli tersipu malu, takut apa yang dilakukan dengan kekasihnya tadi diketahui mereka, dan tak lama, Ibu Widia pun akhirnya buka suara juga,
__ADS_1
"Kamu kemari Orang Tuamu tahu?" tanya Ibu Widia pada Yuli dengan rasa ingin tahu,
"Tahu, Bu! Dan tadi pun sebelum berangkat Arjuna meminta izin dulu pada Ibu!" jawab Yuli pada calon Mertuanya itu,
Mendengar ucapan Yuli itu, Ibu Widia mengangguk- anggukan kepalanya, seolah Ia senang dengan prilaku mereka, dan tak lama Ayahnya Wijaya menimpali percakapan mereka itu,
"Itu bagus, segala sesuatu harus tahu Orang Tua, apalagi Kamu perempuan, jadi Orang Tua tidak merasa khawatir!" ucap Ayahnya Wijaya dengan ramahnya bicara pada mereka itu,
"Betul apa kata Ayah itu, walau bagaimanapun, tetap Orang Tualah yang akan selalu kena batunya, bila Anaknya ada masalah!" ucap Ibu Widia pada Mereka berdua dengan senyum di bibirnya itu.
Sejenak mereka khusuk dengan makannya itu, semua mulut mereka seolah bersama- sama mengunyah makanan dengan enaknya, hingga tiba- tiba, pikiran Ibu Widia, seolah memikirkan sesuatu untuk di bicarakan bersama dengan mereka itu, lantas Ibu Widia pun bertanya pada Yuli,
"Setelah Kamu berpacaran dengan Arjuna, Apakah Kedua Orang Tuamu tidak ada rencana supaya kalian cepat- cepat untuk menikah?" tanya Ibu Widia pada Yuli seolah ingin tahu,
Mendengar Ibu Widia bicara tentang pernikahan, sontak pikiran Yuli membayangkan keinginan kedua Orang Tuanya, ucapan dan harapan mereka itulah, yang menjadi tonggak terciptanya rumah tangga yang akan di jalaninya nanti, bersama kekasihnya Arjuna, dan dengan malu- malu, akhirnya Yuli pun menjawabnya,
Mendengar ucapan Yuli itu, Ibu Widia segera berpaling pada Suaminya Wijaya, dengan rasa perhatian pada Anaknya itu, lantas Ibu pun bertanya pada Suaminya,
"Dari ucapan Yuli itu, menurut Ayah, Bagaimana?" tanya Ibu Widia pada Suamunya Wijaya dengan penasaran,
Ayah Wijaya diam sejenak, mungkin otaknya sedang berpikir apa yang harus dilakukannya, dari mendengat perkataan Yuli tadi, dengan rasa keinginannya yang terdalam, akhirnya Wijaya pun buka suara juga,
"Berarti sinyal dari Kedua Orang Tua Yuli itu sudah ada, Mereka sebenarnya sedang menunggu Kita, Bu!" jawab Ayahnya Wijaya pada Istrinya Widia dengan menjelaskannya,
Mendengar Ayah Arjuna bicara itu, Yuli seolah- olah merasa bimbang perasaannya, karena ranah ini adalah ranah yang mengharuskan dirinya untuk siap segalanya,
__ADS_1
"Berarti Kita harus secepatnya melamar Yuli untuk Anak Kita Arjuna, maksudnya begitu bukan, Ayah?" tanya Istrinya Widia pada Suaminya Wijaya dengan menjelaskannya,
Ayah Wijaya tidak menjawabnya, hanya mengangukkan kepalanya pada Istrinya itu.
Percakapan demi percakapan di meja makan itu, membawa hubungan Arjuna dan Yuli itu, menuju rencana pernikahannya kelak, cakupan masukan dari mereka, yang membuat kedua Orang Tua ini, serius untuk membahasnya,
Dan tak lama, dengan bijaknya, Ayah Wijaya bertanya pada mereka berdua tentang rencana perkawinannya itu,
"Menurut Kalian, bagaimana?" tanya Ayahnya Wijaya pada Mereka berdua dengan rasa penasaran di hatinya itu,
Mereka berdua akhirnya saling pandang, seolah mereka tak siap dengan pertanyaan dadakan itu, yang membuat mereka bingung untuk menjawabnya,
Karena Arjuna tidak berani bicara duluan pada Orang Tuanya itu, akhirnya Yuli pun ambil untuk bicara pada mereka,
"Kalau dari pihak Yuli, terserah bagaimana Arjuna membawa Yuli, bila Arjuna ingin cepat- cepat di terima, dan bila nanti belum siap juga gak apa- apa, intinya tergantung dari kesiapan keluarga disini!" jawab Yuli pada Kedua Orang Tua calon Mertuanya itu dengan panjang lebar menjelaskannya,
Mendengar perkataan Yuli yang seolah menodong mereka untuk melamarnya, membuat keduanya saling pandang, dan dengan tarikan napas yang dalam, akhirnya Ibu Widia pun bertanya pada Anaknya itu Arjuna,
"Kalau rencanamu sendiri, Bagaimana Arjuna?" tanya Ibunya Widia pada Arjuna Anaknya itu dengan ingin tahunya,
pertanyaan yang ditujukan padanya itu, membuat Arjuna seolah bingung untuk menjawabnya, rasa gelisah dan tak menentu, menjadikan hatinya rapuh karenanya, tatapan sendu Arjuna, seolah mental untuk menikah belum sepenuhnya ada dalam dirinya itu, dan tak lama Arjuna pun bicara,
"Kalau Arjuna belum siap untuk sekarang- sekarang ini, biar Arjuna menjalani dulu masa- masa indah pacaran dengan Yuli, nanti jika sudah siap lahir batin, pasti Arjuna pun meminta Ayah dan Ibu untuk melamar Yuli!" jawab Arjuna pada Kedua Orang Tuanya dengan menahan perasaan bimbang dalam hatinya itu,
Alangkah kaget kedua Orang Tua Arjuna itu, karena rencana dan harapan mereka untuk Arjuna menikah cepat tertunda, lantaran Anaknya sendiri yang menundanya itu, dengan rasa penasaran di hatinya, Ayahnya Wijaya akhirnya bertanya pada Arjuna itu,
__ADS_1
"Kenapa musti nanti, Arjuna? Apa lagi yang ingin Kamu tunggu, Ayah dan Ibu Sudah merasa senang bila kalian segera menikah, Arjuna!" ucap Ayah Wijaya pada Arjuna dengan sempilan rasa tak menyenangkan dalam hatinya itu,
Mendengar perkataan Ayahnya itu, serta merta Arjuna pun terdiam, dan dengan seribu diamnya itu, Arjuna mempunyai keinginan yang harus Ia jalani, dengan segala daya dan upaya untuk menyatukan hatinya dan hati kekasihnya itu Yuli, dan semua merasa bingung....