
Timang- timang Anakku Sayang, belahan jiwa kupertaruhkan, semua hati Aku tanamkan, demi Anakku yang Ku sayang.
Mungkin arti khiasan diatas tidak cocok dengan keadaan keluarga Papa Hanapi dengan Mama Suci yang dengan kerasnya membesarkan Anak kesayangannya Darwis, wujud harapan besar yang tertanam dalam diri Darwis, tidak tumbuh subur dalam jiwanya, pertentangan demi pertentangan membuatnya merasa jengah dan sekaligus menyesal, sadari diri muntahkan kegetiran yang mereka sangat sesalkan,
Batin menangis hati pun pasrah, doa- doa untuknya di waktu kecil, kini seolah tak ada yang berbuah karenanya, bijak menanam hiasi relung yang dalam, impian persinggahan cinta itu serasa punah, hingga sisa- sisa yang bisa di pertahankan demi bijaknya kehidupan yang terus menerus menekannya, dengan tuntutan kewajiban diri yang telah diijabkan pada mereka, Orang Tuanya.
"Setan apalagi yang telah merasuk kedalam Anak Kita, Ma?" tanya Papa Hanapi pada Mama Suci dengan geramnya,
"Gak tahu, Pa! Mungkin Kita salah dalam mendidiknya." jawab Mama Suci pada Papa Hanapi dengan bijaknya bicara,
"Papa gak habis pikir, jikalau itu terjadi, lalu bagaimana hancurnya perasaan Istrinya Yohana? dan lagi Bagaimana pula perasaan Orang Tuanya? Kita ini sudah tahu budi baik mereka terhadap keluarga Kita." ucap Papa Hanapi pada Mama Suci dengan kekhawatiran yang amat sangat dalam dirinya,
"Sudahlah, Kita harus cari cara untuk menggagalkannya." jawab Mama Suci pada Papa Hanapi memberi tahu,
"Kita harus cari Orang Tua dari Salsa, lalu Kita bicara dari hati ke hati, pasti Ia akan mau mendengar Kita," ucap Mama Suci lagi pada Papa Hanapi memberi jalan,
"Pendapat Mama itu bagus, tapi di mana alamatnya, Apakah Mama tahu?" tanya Papa Hanapi pada Mama Suci merasa bingung,
"Nanti Kita ikuti Darwis, atau cari tahu pada teman kerjanya, Bagaimana, Pa?" jawab Mama Suci pada Papa Hanapi memberi tahunya,
"Ide bagus, Papa setuju, Ma!" jawab Papa Hanapi pada Mama Suci dengan senangnya.
Hari- hari berlalu, pengintaian Darwis mendapatkan hasil, tanpa sengaja Ovi bertemu Ruslan di kantor dimana Darwis bekerja, dengan berstrategi Ovi akhirnya mendapat Alamat yang dicarinya.
Dengan tidak menunggu lama, Ovi pun langsung mencari alamat yang di berikan Ruslan kepadanya, akhirnya Ia temukan juga, Ovi memastikannya dengan bertanya sekelilingnya, dengan merasa yakin lalu Ovi pun kembali pulang untuk melaporkannya pada Kedua Orang Tuanya.
Besoknya Segera Kedua Orang Tua Darwis itu dengan diantar Ovi pergi ke rumah Salsa, walau diliputi perasaan malu dan sungkan karena tak kenal memberatkan beban hatinya, Ia sadari itu bukan salahnya, melainkan Anaknya Darwis yang memang berulah tidak waras memaknai cinta.
"Gimana, Apakah sudah siap?" tanya Papa Hanapi pada Istrinya Suci meyakinkannya,
"Ya, Mama sudah siap!" jawab Mama Suci pada Papa Hanapi menegaskan,
"Kalau begitu Kita segera berangkat sekarang!" ucap Papa Hanapi pada Mama Suci menegaskan lagi,
"Sebentar, Ovi mana?" tanya Mama Suci pada Suaminya Hanapi sambil menengok ke belakang,
Terlihat Ovi berlari kecil menuju mobil, dan dengan segera masuk kedalam mobil, hingga akhirnya merekapun berangkat menuju kediaman Salsa dan Ibunya Juariah.
__ADS_1
Pagi itu Salsa sudah berdandan rapi, Ia sudah bekerja di perusahaan di mana sahabatnya Yuli bekerja, rekomendasi Yuli ternyata membuahkan hasil, hari ini hari pertama Salsa masuk kerja,
"Lihat waktu, Sa! Jangan sampai hari pertamamu kesiangan!" ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa mengingatkan,
"Enggaklah, Bu! Ini Salsa mau berangkat!" jawab Salsa pada Ibunya Juariah sambil mencium Andreas anaknya yang sedang di gendong Ibunya, seraya Dia berucap,
"Dede, Mama berangkat kerja dulu, Jangan nakal!" ucap Sayang Salsa pada Anaknya Andreas dengan lembutnya,
Lalu dengan segera Ia pun mencium tangan Ibunya, dan tak lupa Salam pun Ia ucapkan,
"Assalamualaikum," ucap Salsa pada Ibunya Juariah sambil berjalan dengan melambaikan tangannya,
"Waalaikum Salam," jawab Ibunya Juariah pada Anaknya Salsa dengan perasaan senang di hati.
"Hati- hati di jalan, jaga dirimu baik- baik, Nak!" ucap Ibu Juariah pula pada Anaknya Salsa lagi.
Setelah yakin Anaknya Salsa telah menghilang dari pandangannya, lalu Ibu Juariah pun masuk ke dalam rumah berniat untuk menidurkan Cucunya Andreas, Ia bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Selang beberapa lama akhirnya mobil yang di kendarai Papa Hanapi pun memasuki gang rumah Salsa yang sedang dicarinya, rentetan rumah berjajar, dan tak begitu jauh dari rumah yang dicarinya mereka pun akhirnya berhenti,
"Yang mana rumahnya, Vi?" tanya Mama Suci pada Anak gadisnya Ovi ingin tahu,
Dan mereka pun akhirnya turun, dengan segenap rasa yang berkecamuk dalam diri mereka, untuk bertemu dengan keluarga Salsa yang memang mereka belum mengenalnya.
Ibu Juariah dengan serius menyapu halaman rumahnya pagi itu, tampak semua daun yang berguguran Ia ambil lalu terus disapunya dengan bersih, membuat yang berada di situ merasa betah untuk berdiam berlama- lama, saking asyiknya mempermainkan sapunya hingga Ia tak menyadari di belakangnya sudah berdiri tiga orang sedang memperhatikannya seraya berucap,
"Assalamualaikum," ucap.Papa Hanapi pada Ibu Juariah yang sedang menyapu di depan rumahnya,
Sontak mendengar suara orang berucap salam di belakangnya, membuat Ibu Juariah merasa kaget di buatnya, dengan spontan Ia pun berbalik badan ingin tahu Siapa, sambil menjawab salamnya,
"Waalaikum Salam," jawab Ibu Juariah pada Mereka bertiga sambil membalikan badannya,
Tampak tiga Orang sudah berdiri sambil tersenyum kepadanya, lalu salah satu dari mereka pun bertanya,
"Maaf, Apakah Ibu ini Ibunya Salsa?" tanya Mama Suci pada Ibu Juariah dengan rasa penasarannya,
"Iya betul, lalu Ibu Siapa, Ya?" jawab Ibu Juariah pada mereka ingin tahu,
__ADS_1
"Perkenalkan Saya Ibunya Darwis, ini Suami Saya dan Putri bungsu Saya Ovi," ucap Mama Suci pada Ibu Juariah memperkenalkan dirinya,
Mendengar itu seolah hujan panas dalam batinnya, keresahannya pada Darwis belum saja hilang, datang lagi keluarganya seolah hendak meluluskan niatan Darwis padanya, tampak wajah Ibu Juariah merah menahan emosi, lalu dengan ketusnya Ia pun angkat bicara,
"Mau apa kalian kemari, baru dua hari yang lalu Anakmu yang keterlaluan itu datang kemari dengan maksud gilanya, yang membuat Aku tidak senang kepadanya, hingga Aku usir dari sini!" ucap Ibu Juariah pada mereka dengan amarah pagi hari yang hampir meledak,
Ucapan nada marah, dengan melihat wajah di tekuk seperti itu, perasaan mereka seolah enggan dan risih melihatnya, tetapi karena demi Anaknya Darwis, mereka pun berusaha untuk tak terpancing emosi, mungkin menahan diri,
"Maaf, Kami kemari bukan untuk ribut atau membuat masalah, tapi Kami berniat baik untuk membicarakan soal Anak Kita, Sudikah kiranya jika Ibu berkenan Kita bicara bersama, tapi menurut baik Kami seharusnya Kita bicara di dalam, mungkin bisa lebih bebas karena menyangkut Anak Kita, Bagaimana, Bu?" ucap Mama Suci pada Ibu Juariah dengan sabarnya bicara,
Ibu Juariah diam sejenak, mungkin Ia berpikir kata- kata yang diucapkan kepadanya, dan tak lama, Ibu Juariah pun setuju, lalu mengajak mereka untuk masuk,
"Ayo silahkan masuk!" ucap Ibu Juariah pada mereka bertiga dengan masih merasa kesalnya,
Kemudian tak lama, akhirnya mereka pun berbincang dengan perlahan, sekaligus untuk membicarakan tentang niatnya pada Ibu Juariah,
"Oh, jadi begitu!" ucap Ibu Juariah pada mereka setelah mengungkapkan maksudnya,
"Saya mohon maaf atas kelancang Kami datang pagi- pagi mengganggu Ibu disini." jawab Mama Suci pada Ibu Juariah dengan lapang dada,
Dan tak lama, akhirnya Mama Suci menceritakan perihal keinginan Darwis itu dan maksud kedatangannya menemui Ibu Juariah, dengan segala alasannya, sambil menggeleng- gelengkan kepalanya, akhirnya Ibu Juariah pun mulai memahaminya,
Berselang waktu menunggu, Ibu Juariah pun membuka kabar Darwis,
"Dua hari yang lalu Darwis kemari, niatnya ingin menikahi Salsa, tapi terus Aku usir karena sikapnya yang tak pantas!" ucap Ibu Juariah pada Mereka memberi tahu,
"Saya atas nama Darwis mohon maaf atas prilaku Darwis yang tak terpuji serta tidak menyenangkan pada Ibu dan keluarga!" ucap Papa Hanapi pada Ibu Juariah dengan memberanikan diri bicara,
"Sekarang Ibu awasi Dia dengan ekstra ketat, keadaanya begitu ngiris melihatnya, seolah sudah melupakan alam sadar untuk memaknai cintanya pada Salsa, dan berani mengabaikan Istrinya," ucap Ibu Juariah pada Mereka memberi tahu,
"Pasti akan Saya perhatikan betul masukan dari Ibu." jawab Papa Hanapi pada Ibu Juariah dengan perhatiannya,
"Apakah Ibu dan Bapak tahu, kenapa Anak Ibu, Darwis begitu mencintai Salsa?" tanya Ibu Juariah pada mereka untuk meyakinkannya,
Mereka menggelengkan kepalanya pada Ibu Juariah, tidak tahu,
"Itu karena Aib bejatnya pada Salsa kala lalu, dulu lantaran masalah yang mendera, Salsa pingsan tak sadarkan diri terjatuh di taman kota hingga tak sadar, di saat itu pula Darwis datang niatnya menolong, ternyata tidak membawa ke rumah sakit melainkan kerumahnya, dengan keadaan mabuk, Darwis menggagahi Salsa yang pingsan tak berdaya, pada saat itu Salsa lagi dalam keadaan hamil muda, itu yang membuat Salsa jatuh pingsan, dengan perasaan salah dan berdosa, Akhirnya jatuh cinta pada Salsa, lalu Kami pun menjauhi Darwis yang terus mencari Kami, tapi akhirnya ketemu juga, dan itu pula yang membuat aku sakit hati dan tidak menyenangi Darwis." ucap Ibu Juariah pada Mereka menjelaskan dengan panjang lebar,
__ADS_1
Seolah mendapat lemparan kotoran hewan ke muka mereka, dan sekaligus rasa malu yang amat sangat di rasakan mereka, hingga tanpa sadar Mama Suci menangis sambil merangkul pada Ibu Juariah dengan tanpa sadarnya, lalu terlihat Papa Hanapi memegangi dadanya karena jantungnya terasa sakit, karena merasa kaget mendengar kelakuan bejat Anaknya Darwis terhadap Salsa, sungguh membuat Orang yang menyaksikan mereka pagi itu akan merasa sangat pilu dibuatnya.