
Kerancuan sungguh luar biasa tercipta dalam situasi seperti sekarang ini, gosip, cibiran dan omongan miring Orang akan hubungan mereka itu, sungguh luar biasa menerpanya, bukan perkara yang mudah untuk bisa menerima keadaaan itu, begitu sejatinya hubungan mereka itu adanya.
Dan motor yang membawa mereka itu akhirnya tiba juga di pekarangan rumah Anwar, dan Anwar terlihat sedang duduk santai, di teras depan rumahnya, sambil matanya menatap kearah mereka berdua, dan tak lama mereka pun menghampiri Anwar sambik mengucapkan Salam padanya,
"Assalamualaikum," ucapa mereka berdua dengan kompaknya pada Anwar sambil tersenyum,
Melihat mereka berdua datang menghampiri, Anwar pun dengan senyum ramahnya menjawab,
"Waalaikum Salam," jawab Anwar pada Mereka berdua sambil mempersilahkan mereka untuk masuk,
"Ayo, silahkan masuk!" ucap Anwar pada mereka berdua itu dengan rasa senang di hatinya,
Akhirnya Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah Anwar, dan tak lama mereka pun duduk di Sofa di ruang tamu rumahnya itu,
Terlihat Ibu Juariah matanya, melirik ke kanan dan ke kiri seolah mencari seseorang, tak lama Ibu Juariah pun bertanya pada Adiknya itu,
"Istri dan Anakmu kemana, War?" tanya Ibu Juariah pada Adiknya Anwar seolah ingin tahu,
"Mereka lagi menginap di rumah Saudaranya, ada acara kumpul- kumpul keluarga katanya!" jawab Anwar pada Kakaknya Juariah menjelaskannya,
"Kok Kamu gak ikut, War?" tanya Ibu Juaria pada Anwar lagi dengan penasarannya itu,
"Aku gak bisa kerja, ini baru pulang kerja!" jawab Anwar pada Kakaknya Juariah menjelaskannya,
"Bentar Aku ambil minum dulu!" ucap Anwar pada Mereka berdua sambil bergegas berjalan kebelakang, untuk membuatkan minum bagi mereka, dan tak lama akhirnya Ia pun kembali,
__ADS_1
"Silahkan diminum!" ucap Anwar pada mereka berdua dengan senyum di bibirnya itu,
"Terima Kasih, War!" jawab Ibu Juariah pada Anwar dengan merasa senang di hatinya itu.
Mereka pun akhirnya bercengkrama bertiga dengan hangatnya, canda dan tawa menyertai percakapannya dengan akrabnya itu, dan tak lama Anwar pun bicara dengan merasa penasaran dalam hatinya itu,
"Kalian kemari ada perlu apa?" tanya Anwar pada Mereka berdua dengan rasa penasaran di hatinya itu,
Mendengar Anwar dengan penasarannya bertanua pada mereka berdua itu, membuat mereka saling pandang, dan akhirnya Ibu Juariah pun menjawabnya,
"Aku kemari secara jujur untuk memintamu menjadi waliku, disaat Aku menikah nanti, karena Aku tak mempunyai siapa- siapa lagi selain Kamu, War!" jawab Ibu Juariah pada Anwar dengan memberi tahunya,
Mendengar itu, Anwar pun terdiam sejenak, matanya menatap Kakaknya itu dengan tatapan sayang padanya, dengan taburan rasa sedih di hatinya itu, Anwar pun menjawab,
"Apapun selama Aku mampu pasti Aku bantu, apalagi ini untuk Ibadah dan kehidupan masa depan Kakakku sendiri, tapi ada sedikit ganjalan di hatiku ini, Kak?" tanya Anwar pada Ibu Juariah memberi tahunya,
"Memang hal apa yang mengganjal dalam dirimu itu, War!" tanya Kakaknya Juariah pada Adiknya Anwar ingin tahu,
Anwar seolah pikirannya berpikir untuk menjawabnya, rasa keinginan tahuan atas perkawinan yang sangat menghebohkan itu, menjadi hal yang membuat Anwar selalu memikirkan Kakaknya Juariah itu, dalam hatinya sedih bila omongan miring orang terdengar di telinganya itu, dan tak lama Ia pun bicara,
"Rencana pernikahan Kakak itu, seolah sudah heboh di luaran sana, kadang Aku sendiri sebagai Adiknya merasa risih juga, Apakah rencana pernikahan Kakak itu, memang sudah di pikirkan dengan matang, Kak?" tanya Anwar pada Ibu Juariah dengan merasa penasaran dalam hatinya,
Ibu Juariah sejenak diam, seolah pikirannya sedang terbang untuk mencari jawaban yang nyata untuk menjawab pertanyaan pada Adiknya itu, dan tak lama Ia pun menjawabnya,
"Aku pun tahu itu, Aku sudah memikirkan jauh- jauh hari akan rencana pernikahanku ini, hampir semua orang bertanya dan menilai bahwa perkawinanku nanti itu tak lazim dari biasanya, begitu kan maksudmu?" tanya Ibu Juariah pada Anwar dengan sedikit perasaan sedih dan haru di hatinya itu,
__ADS_1
"Benar, Semua Orang menganggap Kamu menyalahi aturan, karena menikah dengan lelaki rang memang layak menjadi Anakmu, dan kadang Irang tidak mengerti di balik itu, pasti Kakak pun punya alasannya, bukan begitu, Kak?" ucap Anwar pada Kakaknya Juariah dengan perasaan hampa di hatinya itu,
Ucapan yang terlontar dari mulut Adiknya itu, sungguh membuat Ibu Juariah sedih, pikirannya seolah dalam bahaya yang mengintainya, ucapan dan penilaian atas rencananya itu, seakan mereka di dalam jalan jurang yang menganga, fan membuat mereka terjatuh karenanya itu, dan dengan mata yang berkaca- kaca menahan sedih, lantas Ibu Juariah pun bicara lagi pada Anwar Adiknya itu,
"Semua menganggap seperti itu, ada yang bilang, Aku ini memanfaatkan kepolosan untuk obat awet muda, hanya kepuasan saja dan banyak lagi cibiran yang merendahkan, dan semuanya Aku rasa tabu!" jawab Ibu Juaruah pada Anwar dengan hati yang luka itu,
"Jangan salah paham, ini Aku bicara hanya ingin tahu alasan yang ada di balik pernikahan Kakak ini, hanya itu saja!" ucap Anwar pada Ibu Juariah dengan perasaan haru dalam batinnya itu,
Kakaknya Juariah menganggukan kepalanya pada Adiknya itu, dan tak lama Ia pun bertanya lagi pada Adiknya Anwar,
"Apakah Kamu bahagia bila melihat Kakak menikah, War?" tanya Ibu Juariah pada Anear ingin tahu,
Anwar merasa kaget, atas pertanyaan Kakaknya itu, pikirannya bertanya apa maksud daru pertanyaan Kakaknya itu, tak lama Anwar pun menjawabnya,
"Anwar akan lebih senang bila melihat Kakak bahagia, itu saja dan tak perduli akan semuanya itu!" jawab Anwar pada Kakaknya Juariah dengan rasa sayang pada Kakaknya itu,
Mendengar jawaban yang sungguh membuat Ibu Juariah lega, lalu dengan rasa bahagianya Ibu Juariah pun merangkul adiknya itu dengan sayang nya pula pada Anwar itu, hingga tanpa dirasa air matanya jatuh di pekupuk matanya itu.
Suasana haru yang menyelimuti mereka hari itu sungguh luar biasa, kebungkaman atas rasa haru dan bahagia seolah menjadi sesuatu yang nyata dalam hidup mereka ini, sehingga kekhawatiran dan ketakutan kini akan mereka hadapi dengan ketabahan hati yang dalam pada dirinya itu.
Sambil menoleh kearah Zaki, dengan sedikit metasa tak enak, Anwar pun bicara pada Zaki seraya ingin tahu,
"Apakah Kamu sudah siap menjadi Suami dari Kakakku itu, Zak?" tanya Anwar pada Zaki ingin tahu,
Sambil menatap kekasihnya Juariah, Zaki pun segera menjawabnya,
__ADS_1
"Dengan segala rasa cinta padanya, Zaki sudah siap untuk menjadi suaminya, Zaki akan berusaha untuk membuat Ia senang, dan dengan keterbatasan yang ada, doakan Zaki untuk cepat mendapat kerja dengan cepat, dan jika tidak pun kemauan untuk mencari jalan uang akan terus Zaki sempurnakan, semua ini hanya demi Istriku tercinta kelak!" begitu jawaban Zaki pada Anwar dengan polosnya bicara.
Mendengar itu Anwar pun tersenyum dalam hatinya, seolah ini bukan lelucon dalam hidup mereka nantinya, begitu menurutnya.