Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Berat untuk pergi


__ADS_3

  Hari itu memang hari yang sangat memberatkan hati, tempat dan orang yang disayangi, akan segera mereka tinggalkan, dan memulai lagi untuk aktifitas sehari- hari,


 "Mana Arjuna, Yah?" tanya Widia pada Suaminya Wijaya yang menghampirinya,


  Wijaya terdiam saat Istrinya itu menanyakan tentang keberadaan Anaknya itu Arjuna,


  "Ayah gak tahu, mungkin sedang siap- siap!" jawab Wijaya pada Istrinya itu Widia dengan sedikit termenung,


  Melihat Suaminya Wijaya termenung, dengan menatap dengan rasa penasaran, lalu Widia pun bertanya lagi pada Suaminya itu,


  "Kok termenung begitu, ada masalah apa, Yah?" tanya Widia pada Suaminya Wijaya dengan rasa ingin tahunya itu,


  Wijaya melirik Istrinya Widia, lalu dengan tatapan seakan ingin tahu, lantas Ia pun bertanya pada Istrinya itu Widia,


  "Apa Adikmu Jaenab lagi ada masalah, Bu?" tanya Wijaya pada Istrinya Widia dengan menatap penasarannya,


 Sejenak Widia diam, mungkin sedang berpikir di dalam otaknya, dan sekaligus mengingat apa yang ditanyakan Suaminya itu Wijaya, dengan mengangguk lantas Widia pun mrnjawabnya,


 "Setahu Ibu sih hanya soal masalah percintaanya saja, memang kenapa, Yah?" tanya Istrinya lagi Widia pada Suaminya Wijaya dengan rasa penasaran di dalam hatinya itu,


 "Tadi sewaktu bersama Ayahmu, tiba- tiba Jaenab datang, dan langsung merangkul Ayah sambil menangis, Bu!" jawab Suaminya Wijaya pada Istrinya Widia dengan menjelaskan,


 Widia tampak kaget mendengarnya, lantas dengan penasaran, Ia pun bertanya lagi pada Wijaya Suaminya itu,


 "Lalu mereka bicara apa, Yah?" tanya Widia pada Suaminya Wijaya dengan rasa resahnya,


 "Ayah kurang tahu, karena merasa tak enak untuk berada disitu, lalu Ayah putuskan untuk pergi, membiarkan mereka berdua bicara, takut keberadaan Ayah disitu sedikit akan mengganggunya, Bu!" jawab Suaminya Wijaya pada Widia Istrinya itu,


 Wajah khawatir Widia terlihat jelas, gelisah setelah Suaminya bicara tentang masalah Adiknya itu, lalu terdengar Suaminya bicara lagi, dengan rasa ingin tahunya,


 "Kayaknya masalahnya berat, Bu!" ucap Suaminya Wijaya pada Widia dengan menjelaskan padanya,


 "Masa sih! Nanti coba Ibu tanyakan langsung pada mereka!" jawab Istrinya Widia pada Wijaya dengan langsung berjalan ke kamarnya itu.


 Selang beberapa lama, Arjuna datang dan langsung menghampiri Ayahnya, yang sedang duduk menunggunya,

__ADS_1


 "Ayah mau pulang jam berapa?" tanya Arjuna pada Ayahnya itu Wijaya seolah ingin tahu,


 Dengan perasaan aneh di dalam pikirannya, lantas Wijaya pun menjawabnya,


 "Kamu ini bagaimana, orang dari tadi nungguin Kamu, setelah beres- beres kita langsung berangkat pulang!" jawab Wijaya pada Anaknya itu Arjuna dengan rasa kesal di dalam hatinya,


 Arjuna lalu memandang wajah Ayahnya Wijaya dengan penuh harap padanya, seraya Arjuna bicara lagi pada Ayahnya itu Wijaya,


 "Sebenarnya Arjuna ingin lebih lama lagi untuk tinggal disini, Ayah!" ucap Arjuna pada Ayahnya Wijaya dengan rasa beratnya itu,


  Mendengar ucapan berat untuk pulang Anaknya itu, lantas Ayah Wijaya pun tersenyum pada Anaknya itu Arjuna, dengan menggeleng- gelengkan kepalanya, lantas Ayah Hanapi pun bicara pada Anaknya itu Arjuna,


  "Kalau memang Kamu masih betah dan kerasan tinggal disini, Ayah sih tidak keberatan, tapi bilang pada Ibu dengan baik!" jawab Wijaya pada Anaknya itu Arjuna dengan menjelaskannya,


 Arjuna mengangguk pada Ayahnya itu, sambil pikirannya berputar untuk mencari cara terbaik bicara pada Ibunya itu,


 Melihat Arjuna terdiam membisu, dengan rasa penasaran, lalu Ayah Wijaya bertanya lagi pada Arjuna anaknya itu,


 "Kok diam dan langsung melamun, mikirin apa, Arjuna?" tanya Ayahnya Wijaya pada Arjuna dengan rasa ingin tahunya itu,


 Arjuna merasa kaget mendengar Ayahnya bertanya itu, dengan wajah memerah menahan malu pada Ayahnya itu, lantas Arjuna pun menjawabnya,


 Wajah Ayah Wijaya tersenyum pada Arjuna, lalu Ayahnya pun bicara padanya,


 "Oh begitu, kirain Ayah sedang membayangkan seseorang!" ucap Ayah Wijaya pada Arjuna dengan tertawa lepas,


 Melihat Ayahnya tertawa, Arjuna pun merasa malu perasaannya, pikirannya terbayang Sang kekasihnya itu Sonya.


 Sekonyong- konyong Widia datang, langsung menghampiri kedua Orang Tuanya itu, yang sedang membantunya mengepak barang- barang, yang akan mereka bawa pulang itu,


 "Kenapa Ibu dan Ayah tidak bicara pada Widia tentang masalah Jaenab itu, mengapa?" tanya Widia pada mereka yang sedang sibuk mengepak barang- barangnya itu,


 Lalu Ayah Hanapi terdiam, sambil menatap sayang pada Anaknya itu Widia, lantas Ia pun langsung Menjawabnya,


 "Ayah dan Ibu tak ingin merepotkan Kamu, Widia! Dan Ayah gak mau liburan kalian disini berantakan, dan Kalian menjadi merasa tak nyaman disini!" jawab Ayah Hanapi pada Widia dengan menepuk- nepuk bahu Anaknya itu Widia,

__ADS_1


 Mendengar jawaban Ayahnya itu, Widia menggeleng- gelengkan kepalanya, karena merasa tak sanggup menahan rasa harunya itu, dengan mebahan rasa sedih, Widia pun bicara lagi pada Ayahnya itu Hanapi,


 "Gak mungkin karena masalah ini liburan Widia akan hancur disini, justru Widia dan Wijaya merasa senang bila bisa membantu Ayah dan Ibu, akan masalah ini, Yah!" ucap Widia pada Ayah Hanapi dengan rasa kesal di dadanya,,


 Lantas Ibu Subarkah pun segera bicara, untuk menenangkan perasaan Anaknya itu Widia, agar tidak bersedih lagi,


 "Masalah ini gak perlu banyak orang untuk menyelesaikannya, karena ini hanya masalah hubungan asmara Adikmu itu Jaenab, dan prilaku seenaknya Herman pada Jaenab, mantan pacar Jaenab dulu itu, Widia!" ucap Ibunya Subarkah pada Anaknya itu Widia dengan menatap sambil tersenyum padanya,


  Widia segera menatap wajah Ibunya itu dengan haru, mungkin untuk memastikan akan ucapan Ibunya Subarkah itu padanya, lalu Widia bicara lagi pada mereka itu,


 "Memang masalahnya seberat apa sih, Bu! Hingga Harus Ayah dan Ibu merasa tak tenang begitu?" tanya Widia pada Ibunya Subarkah dengan rasa jengkelnya itu,


 Lalu dengan tersenyum, Ibu Subarkah pun langsung menjawabnya,


 "Gak seberat apa yang Kamu pikirkan itu, Widia! Ini hanya soal tingkah kekonyolan Herman pada Jaenab saja, yang membuat kita- kita ini ikut pusing dibuatnya!" jawab Ibunya Subarkah pada Anaknya itu Widia dengan rasa kesalnya itu,


Dengan menatap resah pada Orang Tuanya itu, lantas Widia pun tersenyum pada mereka, sambil bicara lagi,


"Tapi sudahlah, tapi lain kali jika ada sesuatu bicara dengan Widia, toh Widia akan merasa senang!" ucap Widia pada mereka berdua sambil mengecek barang- barangnya itu,


"Sudah sana siap- siap, biar Ini Ayah dan Ibu yang mengurusnya, Widia!" ucap Ayah Hanapi pada Anaknya itu Widia dengan menyuruhnya,


Widia pun mengangguk, lalu dengan segera pula, Widia pun masuk kamar untuk berdandan.


Lalu sekonyong- konyong Arjuna berjalan dengan tergesa- gesa, sambil mulutnya teriak memanggil- manggil Ibunya itu, sambil masuk ke kamar Ibunya,


"Ibu...Ibu, tunggu sebentar!" teriak Arjuna pada Ibunya Subarkah yang sedang berjalan masuk kemarnya itu,


Mendengar Arjuna teriak nemanggil - manggil Ibunya itu, Ayah Hanapi dan Ibu Subarkah pun saling pandang, dengan bingung karenanya,


Lalu Widia behenti berjalan dan langsung menengok Anaknya itu, sambil menjawabnya,


"Ada apa, Arjuna? Kok Kamu teriak- teriak begitu memanggil Ibu?" tanya Ibu Widia pada Arjuna dengan rasa penasaran,


Dengan terburu- buru, lantas Arjuna pun menjawabnya dengan keras,

__ADS_1


"Arjuna tidak ikut pulang bersama Ibu dan Ayah, Arjuna masih ingin tinggal lebih lama lagi disini, bersama Kakek dan Nenek, Bu!" jawab Arjuna pada Ibunya Subarkah dengan rasa malunya itu.


Mendengar Arjuna bicara itu dengan teriak kerasnya, sontak Ibu Widia pun marah padanya.


__ADS_2