Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Menjenguk, usir resah


__ADS_3

Pagi itu Ayah Hanapi dan Ibu Subarkah sedang duduk santai di teras rumah, terlihat Ayah Hanapi dengan topi capingnya yang melekat di kepalanya,


"Kemarin Widia sekeluarga telpon akan kemari, kemungkinan tibanya siang hari ini, Bu!" ucap Hanapi pada Istrinya itu Subarkah,


"Iya, Yah! Ibu sebentar akan memasak untuk persiapan mereka datang!" jawab Istrinya Subarkah pada Hanapi Suaminya itu,


Mereka berdua duduk santai, di temani teh manis hangat dan sepiring pisang goreng, yang semakin menjadikan mereka betah untuk duduk berlama- lama berdua,


Dan sekonyong- konyong Jaenab menghampiri mereka berdua, dan langsung duduk di samping Ayahnya Hanapi, dan dengan tersenyum pada keduanya, lantas Jaenab pun bertanya,


"Kabarnya siang ini Kak Widia akan datang, Bukan?" tanya Jaenab pada kedua Orang Tuanya itu dengan penasaran,


Sejenak mereka diam, dan matanya terus menatap Anaknya itu dengan senyum di wajahnya, seraya menjawab,


"Kalau tak ada rintangan, kemungkinan siang ini tibanya, nanti Kamu bantu Ibu di dapur, untuk memasak buat makan mereka!" jawab Ibu Subarkah pada Anaknya Jaenab dengan menyuruhnya,


"Baik, Bu!" jawab Jaenab pada Ibunya Subarkah dengan tangannya mengambil pisang goreng yang ada di depannya itu.


Terlihat Ayahnya berdiri, seakan hendak pergi dari situ, sambil melirik Jaenab, lantas bicara padanya,


"Nanti pacarmu itu Desta, kamu ajak kemari, untuk di kenalkan dengan Kakakmu Widia," ucap Hanapi pada Anaknya Jaenab dengan memberi tahunya,


"Benar yang diucapkan Ayahmu itu, sekalian jika perlu apa- apa, jadi gampang nyuruh!" ucap Ibu Subarkah pada Jaenab Anaknya itu,


Jaenab hanya mengangguk, dan Ia terus menatap Ayahnya itu Hanapi seraya bertanya,


"Itu Ayah mau ke sawah, Bukan?" tanya Jaenab pada Ayahnya Hanapi sambil pikirannya terasa heran padanya,


"Iya, kenapa?" jawab Hanapi pada Anaknya Jaenab itu dengan balik tanya,


"Kirain mau menyambut Kak Widia datang." jawab Jaenab pada Ayahnya Hanapi sambil tersenyum,


"Ayah hanya sebentar, ngecek sawah yang di hulu itu, paling sebelum juhur sudah pulang!" jawab Ayah Hanapi pada Anaknya itu Jaenab.


Tak lama Ayah Hanapi pun beranjak pergi dari situ untuk pergi ke sawah,

__ADS_1


"Ya sudah Ayah berangkat dulu!" ucap Ayah Hanapi pada mereka berdua itu,


"Hati- hati, nanti ingat pulangnya jangan lupa bawa genjer, Pak!" jawab Istrinya Subarkah pada Hanapi Suaminya itu,


"Iya Ayah gak akan lupa, nanti sekalian Ayah bawa singkong dari kebun kita!" jawab Ayah Hanapi pada Istrinya Subarkah dengan menjelaskannya,


Hingga akhirnya Ibu Subarkah pun pergi ke dapur, meninggalkan Jaenab sendirian disitu.


Siang itu Ibu Subarkah dan Jaenab Anaknya sedang sibuk memasak untuk menyambut Ibu Widia dan sekeluarga datang, mereka dengan sibuknya membuat untuk hidangan makan siang nanti, dan terdengar dari luar sayup- sayup deru mesin mobil memasuki pekarangan rumahnya itu, sontak mereka berdua pun tersenyum,


"Itu kayaknya suara mobil di depan rumah kita, coba tolong lihat, Siapa tahu saja Kakakmu Widia beserta keleuarganya sudah datang!" ucap Subarkah pada Anaknya Jaenab dengan langsung menyuruhnya melihat,


Dengan bergegas Jaenab pun berjalan ke depan, untuk melihat siapa yang datang itu, laku Jaenab mengintip dari balik jendela kaca rumagnya itu, terlihat mobil Avanza hitam dan dan Kakaknya bersama Arjuna turun dari mobil, sontak Jaenab pun teriak pada Ibunya di dapur,


"Ibu, Kak Widia dan keluarganya sudah datang!" ucap teriak Jaenab pada Ibunya Subarkah memberi tahunya,


Dengan cepat- cepat, Ibu Subarkah pun pergi berjalan menghampiri, sambil menjawabnya,


"Iya, sebentar Ibu kesitu, Nab!" jawab Subarkah pada Anaknya itu Jaenab.


"Assalamualaikum," ucap salam Ibu Widia pada mereka berdua dengan menatapnya senang,


"Waalaikum Salam," jawab Jaenab pada Kakaknya Widia dengan menghampiri lantas merangkulnya,


Ibu Subarkah pun merangkuk Anaknya itu Widia, dan Wijaya dan Arjuna bersalaman pada mereka berdua itu,


"Arjuna Kamu semakin ganteng saja!" ucap Jaenab pada Arjuna keponakannya itu,


Arjuna tampak memerah wajahnya, setelah Jaenab berceloteh itu, dan akhirnya mereka di persilahkan untuk masuk kedalam ruang tamu, yang memang sudah di persiapkannya,


"Kalian semua mau menginap, Bukan?" tanya Ibu Subarkah pada mereka itu,


"Iya, Bu! Rencananya mau menginap sampai hari Minggu disini, habis kangen, sudah lama Widia tak kemari menjenguk Ibu!" jawab Widia pada Ibunya Subarkah dengan menjelaskannya,


"Baguslah kalau begitu, nanti Ibu siapkan kamarnya untuk kalian beristirahat!" ucap Subarkah lagi pada Anaknya Widia dengan senangnya,

__ADS_1


"Terima Kasih, Bu!" jawab Widia pada Ibunya Subarkah dengan wajah berseri- seri,


Pertemuan mereka seolah, kepungan kebahagiaan bagi Ibu Subarkah sekeluarga, betapa tidak sudah hampir dua tahu mereka tidak bertemu, sehingga rasa kangen dan ingin bertemu selalu mereka rasakan.


Lalu terdengar suara Wijaya, bertanya pada Ibu Mertuanya Subarkah itu,


"Kalau Ayah kemana, Bu?" tanya Wijaya pada Subarkah dengan rasa ingin tahu,


"Lagi ke sawah, sebentar juga Ia pulang!" jawab Ibu Subarkah pada Menantunya itu Wijaya.


"Ayah memang rajin dari dulu!" ucap Wijaya lagi pada Ibu Subarkah dengan tersenyum,


"Kalau gak begitu, ya, gimana?" jawab Ibu Subarkah pada Menantunya Wijaya pula.


Mereka pun akhirnya bersua bersama, tawa dan canda seolah mengiringi mereka bercengkrama dengan akrabnya itu, hingga suasana di rumah itu terasa hangat.


Dan terdengar Widia bertanya pada Adiknya, dengan rasa ingin tahu dan perhatiannya itu,


"Nab, gimana dengan pacarmu itu, Desta?" tanya Widia pada Jaenab dengan rasa penasaran,


Mendengar Kakaknya Widia padanya, membuat wajah Jaenab tersipu malu, sorot matanya seolah sedang merasakan cinta yang berlabuh di dalam hatinya itu, lantas dengan tersenyum pada Kakaknya Widia, Jaenab pun lantas menjawab,


"Selama ini masih baik, walaupun rintangannya ada saja, Kak!" jawab Jaenab pada Kakaknya Widia dengan resah dalam benaknya itu,


Mendengar Adiknya Jaenab, menjawab dengan mengeluh padanya, yang membuat hati Widia seolah ikut terbawa sedih, lalu dengan merangkulnya, lantas Widia pun bicara lagi pada Jaenab pula,


"Kakak mendengarnya sampai ngiris juga, dari ceritamu di telpon itu, tapi Kamu harus sabar, Nab! Godaan dan cobaan itu, menjadikan kita ini menjadi lebih baik dan dewasa nantinya, bersabarlah dan berdoa, kalau memang jodohmu, tak akan lari kemana!" ucap Widia pada Adiknya Jaenab dengan menerangkan dengan perhatiannya itu.


Wijaya terlihat tengok kanan dan kiri, seolah ada yang sedang dicarinya, seraya bertanya pada Adik Iparnya itu Jaenab,


"Lalu mana Anakmu, Nab?" tanya Wijaya pada Jaenab dengan merasa penasaran dalam hatinya itu,


Mendengar Kakak Iparnya bertanya padanya, lalu Jaenab menoleh kearahnya, lantas menjawabnya,


"Oh, Andri lagi main bersama teman- temannya, biasalah Anak- anak!" jawab Jaenab pada Wijaya Kakak Iparnya Wijaya itu.

__ADS_1


__ADS_2