Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Cemberut penantian


__ADS_3

Dirumah tampak Yohana resah dan gelisah, Suaminya yang ditunggu belum juga pulang, penantian waktu demi waktu menjadikan dirinya tak sabar, ingin Dia telpon tapi ragu, Yohana seperti Orang bingung, mondar- mandir seolah tak ada kerjaan lain.


Menjelang tengah malam, dari kejauhan terdengar suara mesin mobil, dengan Ia cepat melihatnya dari kaca jendela, ternyata memang benar Darwis Suaminya pulang.


"Assalamualaikum," ucap Darwis pada Istrinya Yohana yang dengan setia menunggu,


"Waalaikum Salam," jawab Yohana pada Darwis dengan ketusnya,


Darwis langsung menghampiri Istrinya yang cemberut dengan muka ditekuknya,


"Maafkan Aku, tadi Kasihan Anwar temanku mobilnya di bengkel, jadi Aku antar Dia pulang, saking asyiknya ngobrol, tau- tau sudah malam." ucap Darwis pada Istrinya Yohana dengan takutnya,


Yohana masih saja diam, matanya seolah tak mau memandang Darwis seolah ingin diperhatikan oleh Suaminya.


"Kalau ngambek terlihat Kamu sangat cantik." ucap Darwis pada Istrinya Yohana sambil memegang gadonya, lalu mencium pipi kirinya,


Yohana menepisnya, tapi Darwis langsung memaksa menggendong Istrinya masuk, Yohana meronta- ronta sambil tertawa,


"Sudah, turunkan Aku!" ucap Yohana pada Darwis lalu Ia mencubit perut Suaminya genit,


"Auww, Sakit!" jawab Darwis pada Istrinya merasa kesakitan,


"Rasain, janji besok- besok jangan telat lagi." ucap Yohana pada Darwis memperingatkan,


Darwis mengangguk pada Istrinya, sambil membuka baju kemejanya,


"Sana mandi dulu, bau!" ucap Yohana pada Darwis sambil memegang hidungnya,


Dengan bergegas Darwis pergi ke kamar mandi, karena tak mau Istrinya marah lagi.


Di dalam Kamar mandi, Darwis merasa tak enak, bila mengingat, disaat Yohana menunggunya pulang dengan rasa sabarnya, tapi yang ditunggunya malah sedang bermain Kuda- Kudaan bersama Salsa dengan nikmatnya, Darwis mengingat itu di pelupuk matanya, sampai Ia tersenyum- senyum sendiri.


"Gila juga, tapi mau dibilang apa, Aku suka!" ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Yohana sibuk menyiapkan makan malam buat suaminya, Ia duduk menunggu Suaminya selesai mandi dan berpakaian, dan tak lama Suaminya pun menghampiri Istrinya,


"Wah, kayaknya enak sekali, Aku sudah lapar!" ucap Darwis pada Istrinya dengan senyum di mulutnya,


Dengan sabar Istrinya melayani Suaminya makan.


Ibu Juariah terbangun dari tidurnya, Dia melihat Salsa sedang duduk disamping Anaknya yang sedang tertidur, dari wajah Salsa dapat digambarkan Salsa sedang bahagia, melihat itu Ibu Juariah pun menghampirinya,


"Kenapa dari tadi Ibu Perhatikan, Kamu Senyum- senyum sendiri, pasti ada hubungannya dengan Darwis?" ucap Ibu Juariah pada Anaknya Salsa mencoba menebak,


"Ibu tahu aja kalau Salsa lagi bahagia," jawab Salsa pada Ibunya Juariah sambil tersenyum,


"Awas hati- hati itu Suami Orang!" ucap Ibu Juariah pada Salsa mengingatkan,


"Memang Salsa kenapa, kan gak merebut dari Istrinya." jawab Salsa pada Ibunya Juariah mengelak,


"Ibu Sudah hapal watakmu, gak usah bohong." ucap Ibu Juariah lagi pada Salsa pula,


Dari dalam hatinya Salsa merasa malu dugaan Ibunya tepat juga, lalu merekapun pindah ke ruang tengah bicaranya karena takut Andreas Anaknya Salsa terbangun.


"Ibu cape, akhirnya ketiduran." jawab Ibu Juariah pada Salsa memberitahu.


Kekhawatiran Ibu Juariah pada Anaknya Salsa selalu menbayangi dalam segala geraknya, Ia tahu sebenarnya Anaknya punya rasa cinta pada Darwis, walaupun disembunyikannya, Ia biarkan karena rasa kasihan padanya.


"Kamu cinta Darwis?" tanya Ibu Juariah pada Salsa Ingin tahu,


Dengan rasa malu dalam pikirannya, Salsapun tak menjawabnya, Salsa pura- pura tak mendengarnya,


"Kok gak dijawab, malu ya!" ucap Ibu Juariah lagi pada Salsa merasa kesal,


"Salsa dengar, Kok," jawab Salsa pada Ibunya dengan wajah memerah,


"Kalau dengar tapi kok gak dijawab." ucap Ibu Juariah pada Salsa merasa bingung,

__ADS_1


"Gak ada apa- apa, Bu!" jawab Salsa lagi pada Ibunya pula,


"Jangan bohong Kamu, Ibu bisa lihat dari cara memandangmu pada Darwis," ucap Ibu Juariah pada Salsa menerangkan,


"Ya, kalau sejujurnya Darwis itu tampan, Siapa wanita yang tak menginginkannya, tapi sejauh ini Salsa hanya suka- suka biasa saja kepadanya." jawab Salsa pada Ibunya memberi tahu,


"Ibu sih hanya mengingatkan, ingst rasa nyeri akibat masalah lalu Kamu, Apakah sudah hilang?" ucap Ibu Juariah pada Salsa mengingatkan,


Salsa hanya mengangguk- anggukan kepalanya pada Ibunya dengan perasaan sangat malu.


Nun jauh disana, di daerah metropolitan sosok perenggut hidup Salsa, Sang Arjuna hidup dengan kehancurannya, dari saat Ia dipindahkan oleh kedua Orang Tuanya hati dan hidupnya seolah tak ada tujuan, cinta tertambat halang restu kedua Orang Tuanya, sehingga Ia melupakan rencana masa depan yang diharapkan Kedua Orang Tuanya.


Untuk membungkam kebuntuan akan cintanya pada Salsa, mabuklah pelariannya, harapan berlanjut di pelaminan bersama dengan Salsa tak bisa Ia raih, semua karena ego dari Kedua Orang Tuanya, jadi apapun yang Ia lakukan seolah tanpa tujuan.


"Malam kita happy lagi, Jun?" ucap Sandi pada Arjuna mengajak minum lagi,


"Siap, broo!" jawab Arjuna pada Sandi sambil berjalan menghampirinya.


Tak hanya disitu, dunia remangpun Ia jelajahi tanpa pikir, sedangkan Orang Tuanya tidak tahu, tapi kemanapun Arjuna pergi rasa bersalah terhadap Salsa membayangi tanpa ampun, seolah ingin membuat Arjuna menyesal, terbayang saat itu Salsa telah mengandung Anaknya, Dan tak bisa dipungkiri Ia kini terpuruk, karena perangai Orang tuanya yang tak bijak,


"Aku sangat berdosa pada Salsa, Andai saja kala itu Orang Tuaku merestui pernikahanku, mungkin Aku tak akan merasa sedih seperti ini," ucap Arjuna pada dirinya,


"Dalam rahimnya saat Aku tinggalkan ada calon Anakku, Bagaimana keadaannya?" ucap Arjuna lagi dalam pikirannya.


Rasa bersalah yang hinggap sungguh tak bisa Arjuna hilangkan, betapapun Orang Tuanya Kaya, tak akan bisa menjamin keadaan menjadi baik, ditambah sosok Arjuna yang tak bisa berontak untuk menentukan sikap untuk hidupnya, selalu menurut tanpa daya pada kedua Orang Tuanya, alhasil kemanusiaan terabaikan.


Tertutup sudah pintu cinta dalam hati Arjuna, Ia abaikan masa- masa di mana kasih sayang tumbuh dalam tempatnya, tak membela dengan sikapnya pada Salsa dulu, Salsa terabaikan dengan menanggung derita luka yang tak mungkin untuk diobati, dan Sang Anaknya yang tak mempunyai Ayah di sampingnya,sedangkan kenikmatan untuknya telah Salsa suguhkan dalam menu yang memuas dirinya, Dia hanya pergi mengikuti kehendak Orang tuanya, dasar pengecut!.


"Salsa, Maafkan Aku, bukannya Aku tega pada Kamu dan calon Anakku, dalam hatiku ingin melihat dan bertemu kamu lagi." ucap Arjuna lagi pada dirinya.


Saking terbuainya Arjuna mengingat kisah lamanya, tanpa Dia sadari Sang Komando Orang Tuanya datang,


"Kamu kalau melamun keterusan, sampai Mobil masuk dan Orang datang Kamu tidak tahu." Ucap Ibu Widia pada Anaknya Arjuna kesal,

__ADS_1


Mendengar Ibunya datang dan bicara seperti itu, Arjuna pun merasa malu, itu terlihat sangat gugup dan wajahnya memerah, dan dengan segera mencium tangan keduanya.


__ADS_2