
Semua yang ikut Rosid seakan- akan terbawa emosi, hingga perasaan mereka benar- benar kecewa, tatapan mata bengis Rosid menatap satu persatu wajah mereka, seraya berkata,
"Mana yang bernama, Herman?" tanya Rosid pada Mereka bertiga dengan bengisnya itu,
Sejenak mereka bertiga pun diam, lalu seseorang dari mereka, Karim menunjuk Herman, sambil bicara,
"Dia Herman, Paman!" ucap Karim pada Rosid sambil menunjuk pada Herman,
Lantas Herman pun mengangguk, dan kepalanya tetap menunduk, tak berani menatap jagoan kampung itu Rosid,
"Sini Kamu, benar Kamu dan temanmu itu, yang mengeroyok Desta tempo hari?" tanya Rosid pada Herman dengan geramnya,
Dengan perasaan ketakutan dalam dirinya, lantas Herman pun menjawab sambil mengangguk padanya,
"Iya, Paman! Maafkan, Herman khilap!" jawab Herman pada Rosid dengan perasaan gemetar,
"Sejak kapan Kamu menjadi pengecut, mengeroyok orang seenaknya?" tanya Rosid pada Herman sambil kakinya menendangnya,
Bughh!!, tendangan telak mendarat pada tubuh Herman, hingga Herman teriak kesakitan,
"Auww!..uhhh!, ampun Paman!" jawab Herman pada Rosid dengan terpental jauh kebelakang,
Lalu Rosid memanggil Hanapi dan Sony, untuk berembuk, mau diapakan mereka itu,
"Kita panggil pihak berwajib saja, biar mereka jera dan tidak akan mengulang perbuatanya lagi!" ucap Sony pada Rosid dengan rasa kesal di dadanya,
"Aku setuju dengan usulmu itu, minimal Ia harus tahu hukum, jangan seenaknya menyakiti orang lain!" ucap Hanapi pada Mereka berdua dengan hati yang sedikit panas itu,
"Kalau begitu kita bawa mereka semua ke RT dulu, nanti prosedurnya Ia yang mengurusnya, gimana?" tanya Rosid pada mereka berdua dengan sedikit lega perasannya itu,
"Baik, Kang!" jawab Sony pada Rosid dengan menurut padanya,
Mereka pun akhirnya membawa ke rumah RT setempat, yang kebetulan sedang ada di rumah,
Mereka pun akhirnya tiba juga di rumah Pak RT Mahmud itu,
__ADS_1
"Assalamualaikum," ucap Hanapi pada Pak RT Mahmud yang sedang memandang mereka dengan rasa penasaran itu,
"Waalaikum Salam," Jawab Pak RT pada mereka semua dengan rasa ingin tahunya itu,
"Ayo, masuk semuanya!" ucap Pak RT Mahmud pada mereka dengan mempersilahkan masuk,
Akhirnya mereka pun masuk bersama- sama, dan tak lama Pak RT Mahmud pun bertanya pada mereka,
"Ada masalah apa, kok sampai datang bersama- sama, begini?" tanya Pak RT Mahmud pada mereka itu dengan penasaran
Mendengar Pak RT Mahmud bertanya, lalu Mereka pun menceritakan perihal masalah yang sedang mereka uruskan itu, mendengar hal itu, Pak RT Mahmud pun menggeleng- gelengkan kepalanya, dengan merasa tak percaya, warganya ada yang berbuat seperti itu,
"Kalian semua bikin malu saja, gak tahu adab, dasar kutu kupret!" ucap Pak RT Mahmud pada mereka bertiga dengan merasa kesalnya,
Lantas Pak RT Mahmud, masuk kedalam untuk mengambil surat pengantar untuk diisi mereka,
Diluar sudah banyak warga berkerumun di depan rumah Bapak RT Mahmud itu, dan tak lama seseorang merangsek masuk untuk menemui mereka dengan perasaan sedihnya, sambil berucap pada mereka semua,
"Aku mohon jangan limpahkan ke polisi, Pak! Kita bisa kekeluargaan saja!" begitu Bapak Hilman Orang Tua dari Herman pada mereka itu dengan wajah memelasnya,
"Kamu siapa? Seolah berani- beraninya ikut campur masalah ini?" tanya Rosid pada Hilman dengan rasa ingin tahunya itu,
Mendengar Rosid bertanya padanya, lantas Hilman pun segera menjawabnya,
"Saya Hilman, Ayahnya Herman, Kang Rosid!" jawab Hilman pada Rosid dengan rasa takutnya itu,
Lalu Hanapi dan Sony menghampiri, lantas bicara pada Kang Rosid dengan penasaran,
"Bagaimana kalau sudah begini, Kang?" tanya Sony pada Rosid dengan ingin tahunya itu,
Rosid diam sambil menatap mereka, mungkin pikirannya sedang bertanya akan maksud dari mereka, di dalam otaknya itu, lantas Ia menjawabnya,
"Begini saja, Desta adalah Anak Kamu, Son! Dan selayaknya Kamu yang menentukan semuanya, Aku hanya sebatas perhatian dan tanggung jawab saja pada mereka itu!" ucap Rosid pada Sony dengan jelas menerangkannya,
Mereka seolah terdiam, terdengar Pak RT Mahmud bicara pada mereka itu,
__ADS_1
"Menurutku, jika memang luka korbannya tak terasa berat, ada baiknya jika kalian nenempuh kekeluargaan dengan surat perjanjian diatasnya, tapi itu hanya usulku saja, selebihnya terserah kalian!" ucap RT Mahmud pada mereka bertiga dengan menerangkannya,
"Iya, Aku mohon, Nanti biar biaya rumah sakitnya Aku ganti semua, gimana?" ucap Hilman pada mereka bertiga dengan rasa resah di dalam pikirannya itu,
"Saya bingung untuk menetukan pilihan ini, tapi menurut baiknya seperti apa, Pak RT?" tanya Sony itu pada Pak RT Mahmud dengan ingin tahu pendapatnya itu,
Semua memandang Sony, dengan perasaan tak mengerti padanya, atas rasa bimbangnya itu, lalu Pak RT Mahmud pun berkata lagi padanya itu,
"Jika dengan kekeluargaan, kita selesai sampai disini, tepi dengan surat perjanjian yang kita buat dan sepakati semua, jika terus ke polisi, ya kita ke kantor polisi untuk buat laporan, dan seterusnya mengikuti tahap aturan yang ada, Bagaimana?" ucap Pak RT Mahmud pada Sony dengan sedikit menerangkan padanya itu,
Sony terdiam, wajahnya seolah merasa bingung dibuatnya, pikiran bertanya- tanya tentang ragunya itu, hingga Ia pun menatap Hilman dengan rasa ingin tahu,
"Kenapa Kamu memilih berdamai dengan kekeluargaan, padahal Anakmu sudah jelas semena- mena pada Anakku itu!" tanya Sony pada Hilman dengan rasa sewotnya itu,
"Aku pun sebenarnya merasa malu memohon ini padamu, karena kelakuan Anakku itu, hingga Aku pun terpaksa memilih jalan yang terbaik, supaya tidak ada sesuatu lagi pada Kita nantinya, bagaimana?" tanya Hilman pada Sony dengan jelas menerangkann padanya itu,
"Semua menurutku ada benarnya, itu Kamu yang memilihnya, ingat hanya untuk kebaikan, jangan demi yang lain!" ucap Rosid pada Sony dengan memberi sedikit gambaran padanya itu,
Dengan merasa mengerti, lantas Sony pun bicara lagi pada Hilman,
"Baiklah! Aku memilih dengan kekeluargaan, karena Aku melihat Kamu sebagai orang tua yang membela Anakmu, dengan sebegitu besarnya itu, tapi jaga dan didik Anakmu itu, agar jangan melakukan itu lagi pada orang lain!" ucap Sony pada Hilman dengan resahnya itu,
"Terima Kasih, semoga ini menjadi kebaikan kedepannya nanti, Maafkan Aku, Son!" ucap Hilman pada Sony dengan merangkulnya.
"Nah, begitu kan terlihat indah, nanti surat perjanjiannya saya buat dulu, dan harus sepengetahuan kalian dan saksi, tentang biaya rumah sakit dan yang lainnya silahkan kalian bicarakan sendiri!" ucap Pak RT Mahmud pada mereka berdua dengan menyalami mereka berdua dengan senangnya.
Akhirnya semua menyalami mereka berdua, dan Herman pun akhirnya sedikit merasa lega dengan semua itu,
"Maafkan Aku, Paman!" ucap Herman pada Sony dengan rasa senangnya itu,
Mereka seolah lupa dengan amarah dan emosi yang baru saja mereka keluarkan, berganti dengan rasa saling haru dengan harapan baik kedepannya itu,
Sekonyong- konyong Jaenab datang dengan kata- kata keras pada mereka, sambil menangis lalu menunjuk Herman dengan bencinya itu,
"Tunggu,..tunggu sebentar, jangan lepaskan Herman dan keduanya, semudah ini, Ia harus di penjara, karena telah memperkosa Aku dengan bejatnya!" ucap Jaenab pada mereka semua dengan sangat emosinya itu,
__ADS_1
Semua memandang Jaenab dengan penasaran, terlebih lagi Arjuna, yang mengantar Tantenya itu Jaenab, ikut tersulut amarahnya juga, terlihat wajah merahnya dengan tangan dikepalkannya.