
Pagi hari itu, seuntai harapan yang tersisa dalam hati yang terdalam, kini seolah menyeruak dan muncul ke permukaan, lalu mengajak pergi untuk sekedar mengingat di kala lalu,
Begitulah perasaan Salsa pagi itu, ingatannya kembali ke masa- masa dimana Ia meraih mimpinya dengan segala cara, yang ternyata hasilnya hanya lautan penderitaan dan dan kepedihan di dalam hidupnya hingga kini, dan karena ingatannya itu tanpa sadar Ia luapkan pada Anaknya Andreas,
"Andreas Anak Mama yang ganteng, coba dulu Papamu berani menghadapi kepahitan ini, mungkin Kamu tidak Akan bernasib seperti ini, tak ada Ayah di sampingmu, tapi Ayahmu sekarang sudah ada pendampingnya yang baru, teman akrab Mama, setiap melihat Ayahmu itu, Hati Mama sakit, hingga ingin segera membunuhnya, Anakku!" ucap Salsa pada dirinya sendiri.
Sebaris kata yang di ucapkan Salsa itu, ternyata terdengar oleh Ayahnya Sebastio, yang sedari tadi berdiri di belakang Salsa, karena saking dalamnya kesedihan Anaknya itu, hingga kehadirannya tak dirasakannya, dengan menahan rasa sedih karena ucapan dari hati yang paling dalam dari Anaknya itu,
Melihat Ayahnya Sebastio dengan tiba- tiba sudah berada di belakangnya, dan terasa tangannya membelai rambutnya dengan sayangnya, yang membuat Salsa menoleh ke Ayahnya itu sambil berlinang air mata di pipinya, seraya berkata,
"Ayah sudah lama berdiri di belakang Salsa?" tanya Anaknya Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan linangan air matanya itu,
Ayahnya mengangguk dan segera duduk di samping Salsa, lalu tatapannya tertuju pada Cucunya itu Andreas, dan dengan sedikit merasa enak di hatinya, Salsa pun bertanya lagi pada Ayahnya itu,
"Berarti Ayah mendengar ucapan- ucapan Salsa tadi?" tanya Salsa lagi pada Ayahnya Sebastio dengan rasa ingin tahu,
"Bukan hanya dengar, tapi juga hati Ayah bergetar, hingga tak sadar Ayahpun menangis, Nak!" jawab Ayahnya Sebastio pada Salsa sambil merangkulnya bersama perhatiannya,
Rasa sedih yang dirasakan Salsa saat itu, memang rasa sakit yang sangat membekas di dalam hatinya, jeritan saat itu serasa ungkapan rasa sakit yang terasa di sekujur tubuhnya, hingga Ayahnya pun bisa menangis juga karenanya,
"Sudah lama sekali, kejadian tragis itu menimpa Salsa, tapi susah untuk mengusirnya dalam diri ini, Ayah!" ucap Salsa pada Ayahnya Sebastio dengan hati pilunya,
"Sudahlah, Sudah Ayah tidak kuat untuk mendengarnya lagi, tapi sempat Ayah dengar tadi, Lelaki itu sudah punya wanita lain di hatinya?" tanya Ayahnya Sebastio pada Anaknya Salsa dengan sedikit ingin tahu,
Karena merasakan rasa sedih yang sangat dalam, hingga tanpa sadar Ia mengucapkan lelaki yang telah menghancurkan segalanya itu,
"Iya, Ayah! Kini Ia sudah punya wanita lain, dan gilanya lagi wanita itu teman baik Salsa, setiap hendak pulang kerja, Arjuna si lelaki brengsek itu sudah menunggu kekasihnya di parkiran motor, tapi Salsa tidak sedih untuk Arjuna si brengsek itu, Ayah!" jawab Salsa pada Ayahnya dengan perasaan seolah tak sadar bicara,
__ADS_1
Sebastio tertegun sejenak, pikirannya berjalan, dan otaknya mengingat nama yang di ucapkan Anaknya itu Arjuna, lalu dengan perasaan penasaran, Ayah Sebastio pun bertanya lagi,
"Benar nama lelaki itu adalah, Arjuna putra Bapak Wijaya dan Ibu Widia, orang kaya di kampung Ibumu itu, Bukan!" tanya Ayahnya Sebastio dengan raut wajahnya yang berubah merah menahan amarahnya itu,
"Benar, Ayah! Merekalah yang telah menghancurkan hidup Salsa, dan mereka pula yang telah menghina dan merendahkan Ibu dengan semena- mena, membuat Salsa ingin membunuhnya!" jawab Salsa pada Ayah Sebastio dengan dalamnya bicara hingga yang dirahasiakannya pun terucap tanpa sadar,
Melihat Anaknya itu bicara dengan kepedihannya itu, dan ternyata orang yang telah menghancurkan Anaknya itu adalah Arjuna Anak dari Wijaya dan Widia, Sebastio pun menjadi kalap dibuatnya, hingga dengan bergegas berdiri sambil mulutnya bicara dengan sumpah serapahnya karena rasa sakit dalam hatinya itu, dengan emosi tinggi Iapun bicara,
"Tak kusangka Wijaya orangnya yang membuat Anakku terhina dan menderita, dasar setan alas!" ucap Ayahnya Sebastio pada Salsa dengan bergegas pergi untuk mendatangi keluarga Wijaya, dan sambil berjalan pun Ia terus bicara karena tidak senang dengan perlakuan mereka,
"Tunggu Aku akan mendatangimu, akan kubuat keluargamu hancur, Wijaya!" ucap Sebastio pada Dirinya sendiri dengan penuh amarah yang tak bisa untuk di kendalikannya.
Saat Ayahnya teriak- teriak dengan keras, membuat seisi rumah datang menghampiri ke kamar Salsa, terlihat jelas Salsa menangis dengan sedihnya, dan terdengar Sebastio dengan sumpah serapahnya, sambil berjalan hingga Ia hilang di balik garasi mobilnya, dan tak lama terdengar suara mobil keluar meninggalkan mereka semua dengan melaju dengan cepatnya, hingga membuat yang melihatnya semua kaget dibuatnya.
Ibu Widury pun menghampiri Salsa dengan segudang tanya di otaknya itu, seolah- olah merasa kaget atas apa yang dilihatnya, dengan perasaan kaget dan sangat penasarannya, Ia pun bertanya,
Tapi Salsa tak bisa menguasai dirinya, Salsa pun hanya diam, seperti orang linglung, bengong tak bicara seolah tak tahu apa yang terjadi, lalu dengan rasa ketakutan yang menghujamnya, Ia pun segera bicara pada Bibi Ulpa untuk menyuruhnya,
"Bi, tolong ambilkan minum dan kayu putih, cepat!" ucap Ibu Widury pada Bibi Ulpa menyuruhnya,
Dengan cepat Bibi Ulpa mengambil segelas air putih dan minyak kayu putih untuk Salsa, dan tak lama Ia pun sudah kembali lagi, membawa semua yang di perintahkan majikannya itu,
"Sini minumnya, Bi! Tolong oleskan minyak kayu putih itu ke leher dan dahinya, cepat!" ucap Ibu Widury pada Bibi Ulpa dengan paniknya itu,
Bibi Ulpa segera mengoleskan minyak kayu putih itu sesuai apa yang di perintahkan oleh majikannya, dan di saat masa- masa kritis itu, Andreas terbangun dan terus menangis,
Akhirnya Ibu Widury pun langsung menggendong Andreas dengan cepatnya, lalu Ia pun mengambil dot Susu Andreas lalu memberikannya pada Andreas dan akhirnya Andreas pun diam.
__ADS_1
"Salsa, Ayo ngomong sayang! Jangan bengong terus, Ayo ngomong tuh Andreas melihatmu dengan rasa sayangnya!" ucap Ibu Widury pada Salsa yang sedari tadi bengong dengan rasa sakitnya itu,
Tak lama terlihat Salsa sedikit bergerak, lalu Ia menoleh ke arah Bibi Ulpa yang memperhatikannya, lalu menatap Ibu Widury dengan Anaknya Andreas, lalu dengan seolah kaget baru terbangun, dengan kerasnya Salsa bertanya pada Ibunya itu,
"Kemana Ayah, Bu?" tanya Salsa pada Ibunya Widury deng rasa ingin tahu,
"Justru Ibu niatnya akan bertanya padamu, kenapa Ayahmu seperti orang yang tak sadar, teriak- teriak seolah akan membunuh seseorang!" jawab Ibu Widury pada Salsa dengan perasaan yang semakin bingung,
Salsa dengan bergegas hendak pergi, dengan sangat terburu- buru, membuat Ibu Widury pun merasa bingung harus bagaimana, lalu dalam kebingungannya, lalu Ia pun bertanya lagi pada Salsa,
"Ada apa, Salsa? Kok Kamu seolah sedang ketakutan seperti itu?" tanya Ibu Widury pada Salsa dengan rasa penasaran,
"Gawat, Ini pasti gawat!" terdengar Salsa ngomong sendiri pada dirinya seolah sedang mengkhawatirkan Ayahnya Sebastio,
"Salsa ada apa? Tolong jawab Ibu, Nak?" tanya Ibu Widury pada Salsa dengan geramnya,
"Sudah nanti saja di perjalanan ceritanya, sekarang Ibu Ikut Salsa, biar Andreas bersama Bibi Ulpa dulu, cepat!" ucap Salsa pada Ibu Widury dengan perasaan panik,
Lalu mereka berdua berlari menuju garasi untuk untuk pergi dan mencari Sopir pribadinya itu,
"Kang Joni! Cepat Antar Kami pergi!" ucap Salsa pada Kang Joni yang berlari menghampiri mereka dengan kikuknya itu,
Mereka semua sangat merasa serba salah, dan terdengar Salsa bicara lagi pada Kang Joni,
"Cepat sebelum jatuh korban!" ucap Salsa pada Kang Joni sopir pribadinya itu dengan sangat tergesa- gesa,
Ibu Widury merasa ketakutan mendengar ucapan- ucapan Salsa yang terus membuat dirinya panik dan ketakutan yang dasyat sekali, sambil berpikir diotaknya, bencana dan masalah apa yang terjadi?.
__ADS_1