Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Rasa takut Mama


__ADS_3

Pertalian harapan dan segala cinta kasih yang terjalin menjadikan bumbu pemikat yang susah untuk dilepaskan, segala daya untuk menemukan kebahagiaan dalam dirinya terasa lapar tak tersisa untuk mengejarnya.


Pagi itu pancaran sinar gembira terkesan dalam Sosok Darwis, Ia mengunjungi Mamanya Suci pagi itu,


"Assalamualaikum," ucap Darwis pada Mama Suci unjuk Salam,


"Waalaikum Salam," jawab Mama Suci pada Anaknya Darwis sambil berjalan membukakan pintu.


Darwis segera masuk, mereka berjalan masuk ke dalam rumah menuju ruang tengah, tak lama mereka pun duduk, dan tak lama mereka berbincang santai,


"Ada apa Kamu kemari?" tanya Mama Suci pada Darwis ingin tahu,


"Kangen pada Mama, sudah lama Darwis gak kemari." jawab Darwis pada Mamanya Suci menjelaskan,


"Kenapa Yohana tidak Kamu ajak kemari?" tanya Mama Suci lagi pada Darwis Anaknya,


"Sengaja Darwis sendiri, ada yang mau di ceritakan pada Mama." jawab Darwis pada Mama Suci menjelaskan,


"Tak pantas Suami pergi sendirian, selagi Istrinya ada," ucap Mama Suci pada Anaknya Darwis memberi tahu,


Darwis mengacuhkan ucapan Mamanya, Dia diam tak menjawab Mamanya bicara.


"Tapi dari tampangmu itu, kelihatannya lagi gembira," ucap Mamanya pada Darwis sambil tersenyum,


Mendengar itu Darwis tertawa lebar, sambil tangannya memegang erat tangan Mamanya,


"Ma, ingat gak dulu Mama pernah nemenin Darwis mencari Salsa?" ucap Darwis pada Mama Suci mengingatkannya,


Mama Suci berpikir sejenak, dan setelah beberapa lama lalu Ia pun bicara,


"Iya, Mama masih ingat, Memang Kenapa Kamu menanyakan itu?" tanya Mama Suci pada Darwis dengan rasa penasaran,


"Tak di duga, ternyata Salsa adalah keponakan dari Anwar, teman sekerja Darwis." ucap Darwis pada Mamanya dengan antusias,


"Terus Kamu mau apa, coba?" tanya Mama Suci pada Darwis dengan merasa tak senang,

__ADS_1


Darwis bingung untuk menjawabnya, pikirannya merasa tak enak, ingatannya mulai rancu terbias muncul dalam otaknya, cerita indahnya seolah tertunda untuk diceritakan pada Mamanya, tampang bengongnya menjadi rasa penasaran bagi Mamanya Suci,


"Kenapa Kamu bengong, Ceritakan apa maksudmu pada Mama!" ucap Mama Suci pada Darwis dengan sedikit perasaan tak senang terhadapnya,


Dengan sedikit menahan diri, dan menenggelamkan malunya, akhirnya karena memaksa, terpaksa Darwis pun bicara,


"Begini, Darwis bahagia bisa bertemu lagi dengan Salsa, gak tahu perasaan ini seolah menemukan tambatan hati yang telah lama menghilang." jawab Darwis pada Mamanya Suci dengan menahan rasa malunya,


Bagai mendengar badai dalam gurun membahana, Sontak diri Mama Suci emosi, kekhawatiran perkawinan Anaknya hancur, dengan menahan gejolak amarahnya, Mama Suci lalu bicara,


"Kamu ini Suami yang tidak bisa diuntung, melihat Istrimu baik malah mau Kamu abaikan dengan Wanita lain, itu salah walau dengan dalih apapun, Sadar Kamu!" bentak Mama Suci pada Anaknya Darwis dengan marahnya,


Darwis menunduk mendengar Mama Suci berkata dengan matanya melotot kearahnya,


"Bukan bermaksud untuk mengabaikan Yohana, ini hanya perasaan Darwis yang tidak bisa melupakan Salsa." jawab Darwis pada Mama Suci memberi tahu,


"Dulu Ibu mau menemanimu mencari Salsa lantaran Kamu belum punya kewajiban sebagai Suami, tapi sekarang berbeda, Kamu sudah menikah dengan Yohana, dan jangan sia- sia kan Dia, Mengerti!" ucap Mama Suci pada Darwis dengan rasa jengkelnya yang ditahannya,


Darwis tak bisa berdalih apapun, amarah Mamanya semakin tinggi Ia rasakan, menjadi semuanya seolah membisu, untuk mencurahkan segala rasanya pada Mamanya Suci.


"Mendengar ini Mama menjadi kecewa terhadapmu, sudah lupakan Salsa dan masa lalunya, song- song masa depanmu dengan Istrimu Yohana, Kamu adalah kebanggaan Keluarga." ucap Mama Suci lagi pada Anaknya Darwis mengingatkan.


Suara hati yang tenggelam di dasar samudra, yang tedampar oleh kepingan- kepingan beribu masalah, menjadikan pengap dan tak berdaya, seiring keinginan yang pergi laksana kapal yang berlayar tak tentu arah, membebani alam pikiran dengan rasa frustasi dan tak berdaya.


Hari itu Mentari bersinar tidak tampak di pelupuk mata, Sinarnya seolah suram tertutup awan kelabu, Renungan Salsa diam dengan segudang tanyanya,


Pertemuan dengan Ayahnya menjadikan Ia enggan untuk mengingatnya, cerita luka hatinya yang terasa sampai saat ini memenuhi segala ruang dalam hatinya, disaat termenung dengan lamunannya, tiba- tiba dari jauh Suara Darwis terdengar melontarkan Salam padanya,


"Assalamualaikum," ucap Darwis pada Salsa Salamnya dengan nada keras,


"Waalaikum Salam," jawab Salsa pada Darwis dengan senyum di bibirnya,


"Tumben, memang gak masuk kerja hari ini?" tanya Salsa pada Darwis ingin tahu,


"Sengaja meliburkan diri, ada sesuatu." ucap Darwis pada Salsa dengan sedikit bernada bohong,

__ADS_1


Lalu Darwis pun dipersilahkan untuk masuk, tanpa basa- basi Darwis lalu masuk dan segera duduk di sofa di samping Salsa,


"Mana Ibumu?" tanya Darwis pada Salsa ingin tahu,


"Sedang mengajak Anakku pergi, katanya sih mau ke Saudaranya." jawab Salsa pada Darwis memberi tahu,


"Oh, Kenapa Kamu gak ikut?" tanya Darwis pada Salsa ingin tahu,


"Aku lagi malas ngapa- ngapain, gak tahu hari ini Aku ingin sendirian." jawab Salsa pada Darwis menjelaskan,


"Kalau begitu aku mengganggumu, dong!" ucap Darwis lagi pada Salsa pula,


"Gak sama sekali, justru ada yang menemani Aku, untuk segala rasa kecewaku," jawab Salsa pada Darwis dengan penuh rasa harap,


"Oh lagi galau, ceritanya." ucap Darwis lagi pada Salsa menggodanya,


Salsa terdiam, sorot matanya tajam memandang ke depan, dan jiwanya terus tak terima akan kedatangan Ayahnya, seolah merasa di permainkan oleh nasibnya, begitu bayangan dalam pikirannya,


"Ada apa? seolah ada persoalan besar yang sedang menimpamu?" tanya Darwis pada Salsa ingin tahu,


"Ya, gak tahulah, Aku mungkin ditakdirkan untuk merasa ketidak adilan di dunia ini," ucap Salsa pada Darwis dengan perasaan menghiba sedih,


"Ayo ceritakan, ada apa?" ucap Darwis pada Salsa dengan penuh perhatian,


Sambil berhenti sejenak, lalu terdiam kembali, dan selang beberapa lama akhirnya dengan merasa berat hati, Salsa pun menceritakan tentang Ayahnya yang datang menemuinya, mengaggapnya Anak kembali, setelah puluhan tahun tak bersama mendampinginya.


"Aku bingung harus bagaimana, tak terpikirkan dalam otakku sama sekali, Ayahku datang menemuiku lagi." ucap Salsa pada Darwis dengan nada mengeluh,


Terbentang dalam pikiran Darwis rasa sulit dan rasa tak terima dalam diri Salsa, setelah mendengar ceritanya, keraguan, gundah dan kekecewaan serta sakit hati saling berkelahi dalam angan pikirnya, yang membuat perasaan Darwis luluh terimbas sedih akan jiwa Salsa yang menangis pilu,


"Kadang Kita harus bisa menunduk untuk ketidak adilan yang kita rasakan, sayatan sakit karenanya membuat hati pun berontak melawan, tapi setelah itu penyesalan yang terjadi, raihlah tangan Ayahmu, eratkan peganganmu pada Dia, jangan Kamu lihat dengan perasaan sakitmu atas kelakuannya, gunakan baiknya untuk kehidupan Anakmu kelak, pikirkan itu!" ucap Darwis pada Salsa dengan panjangnya bernasihat,


Bak angin beliung menghantamnya keras, yang gamparannya menghantam pundi kesedihannya, pikiran lalu bagai terbang tak tahu kemana, dan seolah mendapat sesuatu pegangan untuk masalahnya, Salsa pun terbangun dari duduknya dan dengan tangan mengepal, Ia pun bicara,


"Betul, kenapa Aku tak terpikirkan kearah sana, aku hancur karena tak ada postur Ayah di sampingku, jadi Aku merasa tak perlu Ayah, tapi Anakku butuh untuk masa depannya kelak, baik saranmu sangat hebat, Wis!" ucap Salsa pada Darwis dengan rasa senangnya,

__ADS_1


"Aku sangat senang bisa membantumu, Sayang!" jawab Darwis pada Salsa sambil memeluknya erat.


Kegelisahan kini mulai pudar dalam diri Salsa, kekalutan yang tertanam dalam hatinya berangsur sirna, matahari yang tertutup awan pun seolah terbuka lebar menyambutnya, lalu segudang semangat pagi untuk Sang Surya pun kini sudah siap menunggunya kembali.


__ADS_2