
Keterpurukan perasaan Salsa menjadi momok masalah pada Ayahnya Sebastio itu, rasa Iba dan kasihan terselip dalam dirinya itu, cerita cintanya yang kandas itu, yang membuatnya semakin merasa bersalah dalam dirinya itu.
"Apa Aku harus segera menikahkan Salsa dengan Davi secepatnya?" tanya Sebastio pada dirinya itu dengan gelisahnya itu,
Sebastio memandang lukisan di dinding, sambil tangannya terus memain- mainkan jarinya itu, ketermenungannya itu membuat pikiranya menjadi pusing dibuatnya, dan tak lama Ibu Widury pun menghampirinya, seraya berkata padanya,
"Masih memikirkan Salsa?" tanya Istrinya Widury pada Sebastio dengan rasa ingin tahu,
Mendengar pertanyaan Istrinya itu, membuat perasaan Sebastio terenyuh, batinnya seilah menangis bila mengingat penderitaan Anaknya itu Salsa, dengan perasaan berat, Sebastio akhirnya menjawab,
"Benar Bu, Ayah merasa bingung dengan keadaan Salsa, setelah perseteruannya itu dengan Yuli, seolah- olah sifatnya berubah, mudah tersinggung dan tak banyak bicara, seolah keceriaanya hilang!" jawab Sebastio pada Istrinya Widury dengan tatapan sendunya itu,
Mendengar jawaban Sebastio dengan kekhawatirannya, lantas Ibu Widury pun berpikir dalam benaknya itu, dan dengan merasa Iba, lalu Ibu Widury pun bicara lagi,
"Ibu pun merasa sangat tak tega bila melihatnya, kesedihannya membuat seolah- olah semangat hidupnya seakan mati, coba Ayah bicara padanya dengan perlahan, siapa tahu Ia bisa mencurahkan kesedihannya itu pada Ayah!" ucap Ibu Widury pada Suaminya Sebastio dengan merasa khawatir itu,
Mendengar ucapan Istrinya itu, Sebastio pun tersenyum pada Istrinya itu, lantas Ia pun bicara lagi,
"Benar juga apa kata Ibu itu, nanti biar Ayah coba untuk bicara padanya!" jawab Sebastio pada Istrinya Widury dengan senangnya itu.
Kekhawatiran dan ketakutan yang keduanya rasakan itu, membuat perasaan mereka tak bisa untuk menghindar, mungkin Salsa adalah belahan jiwa yang tak bisa di kesampingkan.
Di kediaman Arjuna, Tampak mereka sedang berkumpul dengan hangatnya, saling tatap mereka mendengar apa yang menjadi keinginan Anaknya Arjuna itu, tentang pernikahannya.
__ADS_1
"Jika memang ada sesuatu, bicara pada Ayah, jangan membuat keputusan yang membuat Kami ini bertanya- tanya, Arjuna!" ucap Ayah Wijaya pada Anaknya Arjuna dengan memberi tahubys itu,
Perasaan Kedua Orang Tua itu sungguh sangat mendalam, niatnya untuk punya momong Cucu cepat, kini digagalkan oleh Anaknya sendiri Arjuna, kebingungan atas jawaban Arjuna itu, menurut mereka sangat tidak beralasan, mengingat hubungan mereka itu memang sudah dekat, dan dalam kesunyian hatinya, akhirnya Ibu Widia pun bicara,
"Ibu dan Ayah sih, berkeinginan Kamu cepat menikah, Nak!" ucap Ibu Widia pada Arjuna dengan kesalnya itu,
Mendengar Ibunya bicara seperti itu, tampak wajah Arjuna bersedih, tatapannya seolah kosong, dan hatinya menangis mendengarnya,
Lalu dengan sekonyong- konyong Yuli bicara dengan lantangnya pada mereka berdua,
"Mungkin Arjuna menundanya, karena ada alasan wanita lain dalam dirinya!" ucap Yuli pada mereka berdua dengan wajah ditekuknya itu,
Mendengar ucapan Yuli dengan lantangnya itu, alangkah marahnya mereka berdua, harapan dan hatinya seolah hancur, batinnya seakan sakit dan pikirannya berputar, memikirkan ucapan Yuli dengan sangat memilukan itu,
Lalu dengan marahnya, Ayah Wijaya segera bicara pada Arjuna dengan tatapan tajamnya itu,
"Apa benar yang diucapkan oleh Yuli kepadamu itu, Arjuna?" tanya Ayahnya Wijaya pada Anaknya Arjuna dengan marahnya itu,
Ucapan keras Ayahnya Wijaya itu, membuat hati Arjuna bergetar, pikirannya seolah kusut, dan batinnya seakan- akan terbakar habis ketakutannya, hingga wajahnya tertunduk, dengan tak berani menatap, dan Arjuna pun tatap diam membisu,
Melihat dengan kikuknya, membuat Ibunya Widia semakin kesal dibuatnya itu, pernikahan yang akan digagasnya itu, menjadi sesuatu kekhawatiran dalam dirinya itu, hibgga dengan tatapan dan rasa jengkelnya itu, Ibu Widia pun akhirnya bicara pada Arjuna itu,
"Cepat jawab, Arjuna! Jangan menunggu Kami marah!" ucap Ibunya Widia pada Anaknya itu Arjuna dengan marahnya,
__ADS_1
Kumpulan pikiran- pikiran Arjuna, belum memahami dari apa yang diucapkan kekasihnya itu, pada kedua orang tuanya, benaknya terus berjalan akan ketidak sejalanan Yuli dengannya, hingga kepusingan di otaknya bertambah parah, dan dengan pasrahnya, Arjuna pun menjawabnya,
"Alasan Arjuna tak menikah cepat itu, lantaran Arjuna dan Yuli masih ada ketidak sejalanan dalam diri Kita berdua, dan dengan berjalannya waktu, mungkin ketidak sejalanan itu, bisa kita satukan untuk pernikahan kami kedepan!" jawab Arjuna pada mereka berdua dengan perasaan yang terdalamnya itu,
Ayah Wijaya menggeleng- gelengkan kepalanya, wajahnya ditekuknya, dan pandangannya penuh amarah, menatap Anaknya itu Arjuna, lantas Ia pun bicara lagi pada Arjuna itu,
"Itu bukan alasan, jika memang ketidak sejalanan itu yang menjadi masalah, Ayah kira nanti setelah menikah bisa diselesaikan sambil berjalan dalam lingkar hubungan sebenarnya, mengerti!" ucap Ayah Wijaya pada Anaknya Arjuna dengan marahnya itu,
Mendengar Suaminya bicara dengan marahnya itu, lantas Ibu Widia pun ikut bicara seolah tak kuat menahannya,
"Mana ada di dunia ini orang menikah, harus sejalan dulu, semua butuh proses, dan lagi pernikahan itu yang akan menunjukkan jalannya untuk menjadikan perbedaan itu, pergi dengan perlahan menjauh!" ucap Ibu Widia pada Arjuna dengan panjang lebarnya menjelaskannya,
"Coba sekarang kamu ngomong, Apa betul penundaan menikahmu itu lantaran wanita, Arjuna?" tanya Ayanya Wijaya pada Anaknya Arjuna dengan marshnya itu,
Arjuna tetap diam dengan terpaku, hingga wajahnya bersedih karenanya, hingga bayangan kehancuran cintanya kini bertengger di dalam pikirannya itu,
"Apa lagi yang harus Arjuna ucapkan, semuanya sudah Arjuna jawab, dan itu dengan sepenuh hati Arjuna, tidak ada yang ditutupi!" jawab Arjuna pada Kedua Orang Tuanya dengan bersedih,
Melihat Arjuna menjawab dengan linangan aur matanya itu, yang membuat perasaan Ibunya Widia seakan ikut menangis, lalu dengan menileh ke arah Yuli, lantas dengan perasaan bertanya- tanya Ibu Widia pun bertanya pada Yuli ingin tahu,
"Yuli tadi Kamu bilang alasan Arjuna menunda pernikahan denganmu itu, alasannya ada wanita lain, bisa Kamu jelaskan, Sayang?" tanya Ibu Widia pada Yuli dengan rasa penasarannya itu,
Yuli memandang Arjuna dengan harapnya, ketidak senangan Yuli pada Salsa, yang membuat rasa dendam bercokol dalam hati Yuli, hingga momen ini Ia gunakan untuk mrncari kepuasan dalam harapnya itu,
__ADS_1
"Bila pernikahan itu cepat di langsungkan, mungkin akan menjauhkan Arjuna dari rasa bersalahnya pada Salsa, walau bagaimanapun Salsa lebih banyak bercokol dalam hatinya, dibandingkan dengan Yuli, itu sudah keharusan bila tentang pernikahannya selalu terhalangi perasaan dahulunya pada Salsa, dengan tidak bisa tidak!" jawab Salsa pada mereka berdua dengan merasa sakit dalam anunya itu, hingga Arjuna pun terdiam.