Terjerembab Keinginan

Terjerembab Keinginan
Sepak terjang


__ADS_3

Pagi itu Orang Tua Ajuna sudah siap- siap menjemput Anaknya, Sudah setahun Arjuna terkurung dalam jeruji penjara, hari inilah hari dimana Arjuna merasaakan kebebasannya.


Terlihat senyum gembira bertabur cinta yang mendalam dalam dirinya, waktu- waktu penantiannya kini usai sudah, berganti hari baru yang akan mereka lukiskan pada Anaknya itu.


"Cepetan Pak!, Ibu sudah tidak sabar lagi melihat Anak Arjuna Kita bebas." ucap Ibu Widia pada Suaminya Wijaya dengan sangat gembira,


"Iya, ini juga mau berangkat!" jawab Bapak Wijaya pada Istrinya Widia dengan senang.


Lalu dengan cepat Bapak Wijaya memacu mobilnya menuju lembaga permasyarakatan, untuk menjemput Anaknya pulang.


Betapa senang melihat mereka berdua, antusiasnya pada kebebasan Anaknya sangat besar, rasa sayang dan cintanya seolah hanya untuk Anaknya seorang, tiada yang lain.


Hari berganti hari, dan waktu berjalan, seolah tak memperdulikan siapapun untuk menunggunya, sibak bayang masa lalu yang hanya ditinggalkannya, cerita menjadi saksi dimana semua coretan lama tenggelam.


"Alhamdulillah, Akhirnya Kita sampai juga di rumah," ucap Ibu Widia pada mereka berdua dengan penuh rasa senangnya,


Mereka dengan segera turun dari mobil, Sosok Arjuna seolah terdiam, perasaan tentang pengalaman hidupnya seolah mimpi, runtutan memori masa lalunya muncul menghiasi semua pendang batinnya, perasaan dahulu menjadikan hiasan di sekujur nuraninya,


"Kenapa?, kok Kamu diam terus sedari tadi?" tanya Ibunya Widia pada Anaknya Arjuna merasa bingung,


"Iya, Ada apa?, Kamu gak senang ke rumah ini lagi, Arjuna?" ucap Bapaknya Wijaya pada Anaknya Arjuna turut menimpali pembicaraannya,


Arjuna melirik kepada kedua Orang Tuanya, sambil menarik napas yang penjang, Arjuna pun mulai bicara,


"Gak ada apa- apa, hanya teringat bayangan dulu, dan hampir tak percaya bisa menginjakkan kaki lagi di rumah ini." jawab Arjuna pada Mereka berdua dengan rasa yang sangat terharu,

__ADS_1


"Mulai sekarang Kamu tinggal bersama Kami lagi, dan tak akan ada lagi perpisahan untuk Kita, pelajaran dulu bagai cermin yang tak akan Kita lupakan," ucap Bapak Wijaya pada Anaknya Arjuna dengan rasa perhatiannya,


"Kamu bersedia kan tinggal bersama- sama Kami lagi?" tanya Ibu Widia pada Anaknya Arjuna ingin tahu,


Arjuna hanya mengangguk pada Ibunya, seraya berkata pada mereka,


"Rumah ini tetap kokoh berdiri dan tak ada sedikit pun perubahan, Arjuna takutkan Sang yang punya tempat ini, dan yang mengisi tampat ini, sama dengan keadaan rumah ini, tidak ada perubahan!" ucap Arjuna pada Mereka berdua dengan sedikit berkelakar pada Mereka,


Mendengar Anaknya bicara sambil meledeknya, kedua Orang Tua itu pun tersipu malu dibuatnya, Mereka saling memandang satu sama lain seolah ingin dilihatnya, semua berseri- seri membuat seisi rumah itu dalam tatanan kebahagiaan,


"Kami jamin tidak ada lagi sesuatu layaknya masa lalu, Kamu bebas menentukan pilihan hidupmu, Arjuna!" jawab Bapak Wijaya pada Anaknya Arjuna dengan gamblangnya menjelaskan,


"Yang benar, kalau ada bagaimana?" tanya Arjuna pada kedua Orang Tuanya dengan terus meledeknya,


"Gantung Kami di pohon jengkol yang paling bau, he he he!" jawab Bapak Wijaya pad Anaknya Arjuna balik meledeknya,


Dari tadinya gembira, mendengar Ibu keceplosan bicara tentang Salsa dan Anaknya, Arjuna pun kaget dan langsung berubah wajahnya, yang tadinya berseri sekarang ditekuknya, pencaran ingatan masa lalunya tanpa di komandoi datang satu persatu untuk menghampirinya, seolah seorang prajurit untuk melaporkan.


"Maaf, Ibu sungguh gak bermaksud menceritakan itu, Ibu keceplosan, Maaf!" ucap Ibu Widia pada Anaknya Arjuna menjelaskannya,


"Gak apa- apa, Bu!" jawab Anaknya Arjuna pada Ibunya menerangkan,


"Ah, Ibu ada- ada saja bicaramu itu!" ucap Suaminya Wijaya menimpali pembicaraan mereka,


"Sudah Ibu gak salah, Justru kalau memang kalian memang sudah berubah dan mengakui Anak Arjuna dengan Salsa itu bagus, tapi bukan lantaran takut pada Ayahnya Salsa yang Big Boss itu." jawab Arjuna pada mereka berdua dengan langsung menyinggungnya,

__ADS_1


"Tidak Arjuna, Kami menyadari kekeliruan atas mu dulu, sekarang jika pahit dan dihinakan sekalipun, Insya Allah Kami siap menerimanya, bukankah begitu, Bu?" ucap Bapak Wijaya pada Anaknya Arjuna dengan rasa sadar dalam dirinya,


"Betul apa yang telah diucapkan Bapakmu itu, Kami janji padamu!" jawab Ibu Widia pada Arjuna dengan segenap jiwa raganya.


"Arjuna inginkan hanya satu, kebahagiaan Bapak dan Ibu selamanya, itu saja." ucap Arjuna pada Kedua Orang Tuanya dari hati yang paling dalam bicara,


Betapa terkejutnya mereka berdua atas jawaban Anaknya itu, tak diduga sama sekali dalam otaknya Anaknya Arjuna akan bicara begitu pada Mereka berdua, tanpa disadari air mata Ibu Widia berlinang di pipinya, Suaminya pun terasa terharu atas jawaban Anaknya yang tak disangka- sangkanya itu, Akhirnya mereka berdua merangkul Anaknya Arjuna dengan suka citanya.


Berbeda gejolak hati kebahagiaan Mereka dan Sosok Darwis dan Yohana, keteguhan jiwa Yohana atas perlakuan Suaminya Darwis, sungguh menjadikan Mereka pasangan yang terguncang oleh badai kenistaan, tepatan janji dan tamparan kesombongan datang untuk menghardiknya, yang selangkah saja salah untuk berpijak, maka hancurlah kehidupan Keluarga yang baru dipijaknya, dengan janji- janji manis cinta yang di ucapkannya, kini mereka merasa rasa penyesuaian kepantasan akan mimpinya Kini mereka satukan kembali demi Calon Anak dan masa depannya kelak.


"Semoga Kita bisa menapaki langkah Kita untuk calon si jabang bayi ini, masa depannya telah menunggunya!" ucap Yohana pada Suaminya Darwis mengingatkannya,


"Semoga Aku bisa menjadi Orang Tua yang pantas bagi Si Jabang Bayi, dan Aku sangat bahagia mempunyai Istri sepertimu, layaknya Sang bidadari penasihatku!" jawab Darwis Suaminya pada Istrinya Yohana dengan senang dan candanya,


"Mulai bercanda, gak ada receh!" ucap Yohana pada Suaminya Darwis dengan pura- pura marahnya,


"Biasanya Kalau lagi marah, Istriku pasti tambah cantik, membuat Aku semakin tak bisa untuk berkata- kata lagi, seolah tersihir dengan magis kecantikannya." jawa Suaminya Darwis pada Istrinya Yohana dengan begurau layaknya penyair hebat,


"Dasar gombal, pasti ujungnya minta jatah, tuh!" ucap Istrinya Yohana pada Suaminya menebaknya,


"Memang gak boleh, seorang Suami kehausan lalu segera Ia memintanya pada Sang Istrinya, dari pada minta sama tukang susu, hayo?" ucap Suaminya Darwis pada Istrinya dengan terus menggodanya,


"Gi, pergi sana minta pada kerbau, agar otaknya nanti jadi otak kerbau, kalau minta sama Aku kecil," jawab Istrinya Yohana pada Darwis dengan perasaan senangnya menggoda,


"Yaudah kalau begitu, Aku pergi dulu, Dah!" ucap Darwis pada Istrinya Yohana sambil pura pura pergi,

__ADS_1


Melihat Suaminya pergi masuk kedalam kamar, dengan tanpa menunggu lama langsung Istrinya pun menyusulnya, dengan harapan Sang jabang bayi ada yang melihat langsung kedalam.


__ADS_2