
Salsa mendengarkan apa yang diucapkan oleh Seno itu, pikirannya berusaha untuk mengerti akan kekukuhan sikapnya itu.
"Aku sekarang mengerti apa yang menjadikan sikap kukuh mu itu, serta pandangan hidupmu yang sekilas kejam!" Ucap Salsa pada Seno menjelaskan.
Seno menatap Salsa seperti tak mengerti apa yang diucapkan Salsa padanya.
"Aku bingung maksud ucapanmu itu!" Jawab Seno pada Salsa pula.
Salsa tersenyum pada kepolosan Seno itu.
Dari lubuk hati yang paling dalam Salsa merasa salut pada Seno, dia bertanggung jawab penuh pada Ibu dan Adiknya tersebut.
"Setiap hari kamu bekerja, terus hari liburnya kapan?" Tanya Salsa ingin tahu padanya.
Seno menatap tajam pada Salsa seolah ingin memberikan perhatiannya itu, lantas Seno pun menjawab, "Hari minggu Aku libur, tapi kadang Aku cari tambahan, ikut berdagang di pasar membantu temanku, lumayanlah buat jajan Adikku dan bensin untuk Aku bekerja!" Jawab Seno menerangkan pada Salsa lagi.
Ibu Komariah pun merasa sangat terharu setelah Salsa menceritakan kisah hidupnya itu, "Setelah Ibu tahu dari ceritamu itu, ternyata hidupmu itu lebih tragis lagi dari yang kami alami selama ini!" Ucap Ibu Komariah pada Salsa menjelaskan.
Salsa tersenyum pada Ibu Komariah, hatinya merasa sangat lega mendengarnya.
Perasaan tak senang Ibu Komariah kini berangsur- angsur hilang dalam dirinya itu, setelah tahu Salsa yang sebenarnya.
"Sungguh Ibu merasa salah menduga padamu, ternyata Kamu wanita yang tangguh!" Ucapnya pada Salsa.
Lantas Salsa pun bercerita dirinya sewaktu hidup susah yang hanya bersama Ibunya itu, "Dulu Salsa dan Ibu hidup berdua tanpa Ayah, Ibu yang banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup sampai Salsa remaja, sehingga pahit akan hidup sudah terbiasa jadinya!" Ucap Salsa menjelaskan pada mereka itu.
Ibu Komariah menggeleng- gelengkan kepala pada Salsa merasa sangat bersedih mendengarnya.
Lalu dia pun menceritakan tentang Anaknya Andreas yang kini hidup bersamanya, "Hingga tiba saat- saat yang membuat Salsa tak akan bisa melupakan kepahitannya sampai mati, Salsa hamil dan tidak direstui menikah hingga Salsa diperkosa itu, tak lama lahirlah Andreas, dan kini dia hidup bersama Salsa, dan demi hidup Salsa pun bekerja hingga kini." Ucap Salsa pada mereka sambil matanya berkaca- kaca mengingatnya.
__ADS_1
Semakin percayalah Ibu Komariah kepada Salsa itu, dirinya kini seakan mendapatkan teman untuk masalah sakit hatinya lantaran penderitaan hidupnya itu.
Merasa tak kuat mendengar dan melihat Salsa bersedih, lantas Ibu Komariah bicara padanya, "Sudah jangan Kamu ceritakan masa lalumu itu, Ibu gak tahan ingin menangis, Sa!" Ucap Ibu Komariah pada Salsa melarangnya.
Salsa pun mengangguk pada Ibu Komariah sambil mengusap air matanya itu.
Tapi Seno mendengarnya merasa bangga pada Salsa, keteguhan dan kepasrahan tentang hidupnya itu membuat dirinya bercermin pada Salsa.
"Sungguh Aku tak ada apa- apanya kepahitan yang Aku alami dibandingkan kepedihan yang Kamu alami, sepertinya Aku harus belajar darimu, Sa!" Ucap Seno pada Salsa merasa salut dan terharu padanya.
Mereka berbincang bertiga dengan akrabnya, tiba- tiba Adiknya datang, lantas menghampiri mereka bertiga itu.
"Assalamualaikum," ucap Dinda pada mereka bertiga sambil berlari pada Ibunya itu, "Waalaikumsalam," jawab Ibu Komariah merasa senang melihatnya datang.
Lalu Seno bicara pada Adiknya itu, untuk memperkenalkan Salsa padanya itu, "Dinda ini Kak Salsa, Ayo salam padanya!" Ucap Seno pada Adiknya Dinda menyuruhnya.
Mereka telah menemukan saudara yang bisa mengerti arti kesedihan dalam penderitaan hidupnya itu.
"Kamu kerja pulang jam berapa?" Tanya Seno pada Salsa ingin tahu.
Wajah berseri- seri Salsa membuat Seno tersenyum padanya, sambil menatap dengan senyumnya lantas Salsa menjawabnya, "Mau apa nanya- nanya itu, Memang Kamu mau menjemputku!" Jawab Salsa pada Seno meledeknya.
Mendengar Salsa meledeknya, wajah Seno memerah menahan malu, tiba- tiba Ibunya Komariah menimpali candaan Salsa itu, "Mana ada nyali Seno menjemputmu, Sa!" Ucap Ibu Komariah pada Anaknya itu Seno, berkelakar padanya.
Mendengar Ibu Komariah bicara seperti itu, maka tertawalah semuanya dengan gembira.
Dan tak lama Akhirnya Salsa pun pamit untuk pulang.
Di perjalanan pulang Salsa tersenyum- senyum sendiri, sambil membayangkan apa yang telah terjadi, bayangan Ibu Komariah dan Seno membekas dalam ingatannya.
__ADS_1
"Sungguh kini Aku merasakan keluarga baru yang sangat menyenangkan, mungkin harus sekarang kebahagiaan itu datang kepadaku!" Begitu pikiran Salsa di benaknya itu.
Dan tak terasa mobil yang ditumpangi Salsa itu tiba juga di rumahnya, sehingga lamunan tentang Seno dan keluarganya hilang semua dalam ingatnnya itu, lantas dia pun turun lalu masuk kerumahnya itu.
Berbeda tempat
Davi merasa sakit hati yang dulu menimpanya disaat ulang tahun Fanny itu, masih membekas dalam hatinya, jadi keinginan untuk balas dendam seakan muncul di dalam pikirannya, membuat rasa amarahnya pun muncul, "Sungguh Aku sangat sakit hati, nanti pasti akan Aku balas atas yang dilakukan Seno padaku itu, tunggu saja pembalasanku!" Ucap Davi pada dirinya merasa sakit.
Dan nampak terlihat Yuli datang langsung menghampirinya sambil wajahnya ditekuk kepadanya itu, "Wah yang lagi kasmaran sedang tidak gembira hari ini, terlihat wajahnya cemberut!" Ucap Yuli pada Davi menyinggungnya.
Davi diam tak menjawabnya, dia palingkan wajahnya ke arah samping karena tdak mau melihat sahabatnya itu Yuli.
"Loh kok buang muka kepadaku, merasa benci bukan?" Tanya Yuli pada Davi setengah marah.
Davi tidak menghiraukan Yuli bicara kepadanya, malah Davi langsung berjalan meninggalkan Yuli sendirian.
Melihat Davi meninggalkannya, marahlah Yuli kepadanya itu, lantas Yuli bicara keras pada Davi dengan sumpah serapahnya, "Dasar lelaki brengsek, ditanya baik- baik malah pergi. Dengar, Jika Kamu berbuat kurang ajar lagi pada Salsa, Aku tak akan segan- segan untuk bicara pada Ayah Sebastio dan Pamannya Anwar, biar nanti Kamu berhadapan dengan mereka, jangan beraninya hanya pada wanita saja!" Ucap Yuli pada Davi sambil teriak kencang padanya itu.
Mendengar Yuli teriak dengan kencangnya, yang membuat orang- orang di sekitarnya itu merasa ingin melihatnya, " Ada apa, Yul?" Tanya Wati pada Yuli merasa penasaran padanya itu.
Yuli menatap orang- orang yang sudah berkerumun mengelilinginya, dan langsung melirik Wati sambil menjawabnya, "Itu Si bedebah Davi, sombong sekali dia itu tidak ingat sewaktu susahnya dulu, dasar lelaki stress!" Jawab Yuli pada Wati menjelaskan.
"Biarkan saja dia berbuat angkuh pada kita, nanti juga pasti ada perlunya sama kita!" Jawab Wati lagi sambil mengajaknya cepat pergi meninggalkan tempat itu, karena tetlihat Satpam menghampirinya itu.
Satpam itu pun berjalan dan langsung bertanya kepada mereka berdua itu, "Siapa yang sudah betani teriak- teriak di area pabrik ini? Ayo jawab, Siapa?" Tanya Satpam itu ingin tahu pada mereka.
Mereka berpura- pura tidak tahu sambil menggeleng- gelengkan kepala pada Satpam itu, lalu Satpam itu bertanya lagi pada mereka, "Cepat bilang siapa yang membuat gaduh disini tadi?" Tanya Satpam itu penasaran.
Semua orang seolah enggan menjawab, satu persatu mereka pun meninggalkan tempat itu, dan Satpam itu pun bingung dibuatnya.
__ADS_1